Miliarder Muda Ini Habiskan Hartanya Untuk Beramal Usai Divonis Kanker, Kematiannya Ditangisi Dunia

Hidup seorang manusia tak ada yang tahu akan bertahan sampai kapan. Hanya Tuhan yang tahu batasan umur makhluknya entah itu manusia, hewan atau tumbuhan sekalipun.

Hal tersebut karena kematian termasuk ke dalam takdir muallaq, takdir pasti dari Allah yang tidak dapat diubah oleh manusia.

Akan tetapi, hal tersebut dapat diubah dengan jalan memperbaiki nasib sebelum ajal datang menjemput.

Nasib yang dimaksud adalah apakah kita akan meninggal dalam keadaan husnul khotimah atau suul khotimah. Hal tersebut dapat diubah oleh kita sendiri.

Seperti yang terjadi pada salah seorang pemuda asal Australia. Pemuda ini bernama Ali Banat berasal dari Greenacre di barat daya Sydney, Australia.

Pemuda ini merupakan pebisnis yang sukses, hidup nyaman dan bergelimang kemewahan.

Kamar tidurnya saja dipagari dengan sepatu Louis Vuitton, satu-satunya merek alas kaki yang dikenakannya, dan gelang seharga $ 60.000 (£ 33.945).

Salah satu mobilnya termasuk Spider Ferrari senilai $ 600.000 (£ 339.237,50).

Dan masih juga daftar kekayaan Ali yang lainnya yang tentunya akan membuat mata semakin melotot jika disebutkan satu persatu.

Namun, hidupnya seketika berubah 180 derajat. Pada bulan Juli 2015, Ali mendapat berita yang tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikirannya.

Pengusaha berusia 33 tahun ini didiagnosis Kanker Karsinoma Kistik Adenoid stadium 4. Bahkan oleh dokter, hidupnya diperkirakan bertahan sampai 7 bulan saja.

Sontak, hal tersebut membuat dirinya syok dan sedih. Tapi kalian tahu apa yang diperbuatnya usai mendengar vonis dokter?

Bukan putus asa dan mengeluh dalam keterpurukan, justru pemuda ini bangkit dan melakukan hal luar biasa.

Semua harta kekayaannya ia sumbangkan ke badan amal yang juga didirikannya. Ia mendirikan badan amal bernama Muslims Around the World (MATW) pada Oktober 2015.

Menurutnya, ketika dia sakit, semua harta kekayaan yang dengan susah payah ia kumpulkan ini tak ada artinya lagi.

“Saat kau tahu bahwa kau sakit atau kau tidak punya banyak waktu untuk hidup, ini adalah hal terakhir yang ingin kau kejar. Dan begitulah cara kita menjalani kehidupan sehari-hari, ” katanya saat diwawancara di program Youtube bertajuk Gifted With Cancer.

Tak hanya itu, menurutnya juga, kanker yang ia derita bukanlah suatu penyakit melainkan sebuah ‘karunia’ dari allah.

Ia pernah diwawancara oleh ‘Living Muslim’, sebuah serial video produksi komunitas Muslim Australia, yang ditayangkan di Facebook pada November 2015 lalu.

“Saya diberi karunia oleh Allah, Alhamdulillah, dengan kanker yang ada di seluruh tubuh saya,” ujar Ali dalam video tersebut.

Video ini sudah ditonton lebih dari 3 juta orang di Facebook. Organisasi MATW miliknya ini telah membantu ribuan orang di sejumlah negara termasuk Togo, Ghana, dan Burkina Faso.

Ali juga tak segan untuk mengunjungi berbagai negara di Afrika. Bahkan ia bekerja keras untuk mencari sponsor sehingga 100% donasi dapat diberikan ke proyek dan tidak ada biaya administrasi sama sekali.

Dengan uang donasi itu, MATW bertujuan untuk membangun desa bagi lebih dari 200 janda, masjid, sekolah ke rumah 600 yatim piatu, rumah sakit mini atau pusat medis, dan bisnis untuk mendukung masyarakat setempat.

Hal tersebut bisa terlihat di Instagram official MATW @matw_project. Bahkan, dana yang tadinya hanya menargetkan $1 juta dolar, atau Rp 10 miliar ini kini sudah melebihi target.

Ali sering memberikan perkembangan terbaru baik dari proyeknya di Afrika hingga kondisi kesehatannya, khususnya lewat video di Facebook dan Instagram, kepada ratusan ribu pengikutnya.

Dalam keadaan hidung yang diberi selang infusan, kantung mata yang mulai menghitam, bibir yang pucat, Ali tetap rajin memberi semangat dalam berbagai video yang diunggahnya di akun @matw_project.

Usai berjuang membantu masyarakat yang kekurangan dan membutuhkan, rupanya Allah masih memberikan kesempatan hidup lebih lama untuk Ali Banat.

Ia bisa bertahan hingga tiga tahun lamanya. Pada Selasa (29/5/2018), Ali Banat menghembuskan napas terakhirnya sebelum azan Magrib berkumandang. Ali meninggal tepat di hari ke-13 bulan suci Ramadan.

Berbagai ucapan bela sungkawa pun mengalir dari sahabat, saudara sesama muslim dan juga yang lainnya.

Proses pemakamannya pun disiarkan secara langsung di Facebook MATW project. Sudah hampir 3 juta orang menonton video tersebut.

Ratusan orang juga ikut mendoakan dan mengiringi kepergian Ali Banat ke peristirahatan terakhir.

Please make Dua for our dear brother Ali Banat. (Burial)

Dikirim oleh The Australian Muslim pada 29 Mei 2018

Ibu Hamil dan Menyusui Jika Tidak Puasa Tak Wajib Mengganti Puasanya, Cukup Bayar Fidyah Saja

Hukum Qadha’ dan Fidyah untuk Hamil dan Menyusui [Murdhi’]
Sekedar mengingatkan, Ibnu Katsir di Muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menyebutkan ikhtilaf dan aqwal para ulama tapi kita kemudian tidak memberikan tarjihnya.

Jadi, mari kita sama-sama belajar untuk itu. Kalau tidak bisa tarjih, ya cukup katakan menurut yang saya tahu berdasarkan pendapat ulama anu begini jadi kita harus begini.

Adapun kalau pendapat lain saya tidak tahu. Cukup tanpa menyebutkan ada A, B, C dst tapi kemudian tidak menyodorkan tarjih atau mana yang rajihnya.

Kedua, Al-Ustadz Abdul Hakim Abdat kerap mengingatkan kita untuk melakukan bahts. Tidak berhenti sampai apa kata Syaikh, namun terus menelusuri apa dibalik itu sehingga Syaikh bisa berkesimpulan seperti itu.

Alasannya, jika kita berhenti sampai pada apa kata Syaikh, maka begitu Syaikh meninggal ilmu akan terputus bersamanya dan anak-anak kita hanya akan mewarisi kesimpulannya bukan dasarnya sehingga ketika kelak muncul hal serupa tapi tak sama seiring perkembangan peradaban manusia, kebingungan lah yang ada. Wal ‘iyadzu billah.

Adapun berkenaan dengan mana yang rajih bagi hamil dan murdhi’ apakah (1) qadha atau (2) fidyah atau (3) qadha dan fidyah?

Ada ikhtilaf di kalangan para ulama berkenaan dengan permasalahan ini. Pendapat yang mu’tabar terbagi kedalam tiga:

  1. Wanita yang hamil dan murdhi’ (menyusui) boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib qadha saja
  2. Wanita yang hamil dan murdhi’ boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib membayar fidyah saja tanpa qadha
  3. Orang yang hamil dan murdhi’ boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib qadha dan membayar fidyah

Al-Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur’an membawakan hal ini dengan menyebutkan siapa shahabat yang berpendapat demikian. Ali bin Abi Thalib untuk [1], Ibnu Abbas untuk [2] dan Ibnu Umar untuk [3].

Mari kita mulai pembahasan dari ayat yang ada:

Allah berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan bagi orang yang tidak mampu berpuasa, maka (ia membayar) fidyah (dengan cara) memberi makan orang miskin” (QS. Al-Baqarah: 184)

Pada awal mula diperintahkannya puasa seperti dalam ayat 183-184 ini, orang diberi kebebasan memilih, kalau mau berpuasa silakan kalau tidak berarti harus memberi makan orang miskin sebagai gantinya (lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Namun demikian, hukum yang terkadung di ayat 184 ini kemudian dimansukh dengan ayat berikutnya (185) yang mengatakan:

“Siapapun yang mendapati bulan (Ramadhan) maka ia harus berpuasa.” Silakan lihat penjelasan mansukhnya ayat 184 oleh ayat 185 ini di buku Shifat Shoum Nabi oleh Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali.

Allah berfirman:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“… maka barangsiapa yang sakit atau sedang safar, (dia boleh tidak berpuasa) dan membayarnya di hari yang lain. Allah mengendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu …” (QS. Al-Baqarah: 185)

Berdasarkan kedua ayat ini maka disimpulkan bahwa semua kaum muslimin wajib berpuasa, dan keringanan untuk tidak berpuasa hanya berlaku bagi orang yang sakit dan orang yang dalam keadaan safar. Dan sebagai kompensasinya, mereka harus membayarnya di hari lain (qadha’).

Namun kesimpulan ini terlalu dini, karena ada riwayat Abu Dawud dan Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabbal, bahwa hukum “bagi yang tidak mampu maka (ia membayar) fidyah kepada orang miskin” tetap berlaku, hanya berlakunya itu adalah bagi pria yang sudah tua, wanita yang sudah tua serta wanita hamil dan murdhi’. Kedua riwayat ini shahih adanya.

Dengan demikian, maka kesimpulan lanjutannya adalah:

Semua kaum muslimin yang mendapati bulan ramadhan wajib berpuasa. Kewajiban ini dikecualikan bagi:

  • Musafir dan orang sakit, keduanya boleh tidak berpusa tetapi harus menggantinya di lain hari (qadha)
  • Orang tua, wanita hamil dan menyusui (murdhi’), mereka boleh tidak berpuasa tetapi harus menggantinya dengan cara memberi makan orang miskin sejumlah harinya (fidyah)

Sampai disini jelaslah permasalahan. Namun jika demikian kesimpulannya, kenapa ada pendapat yang mengatakan harus qadha -baik menyendiri hanya qadha ataupun dibarengi dengan fidyah- ?

Jawabnya, qadha dan fidyah adalah ibadah, dan al-aslu fil ‘ibadati at-tauqifiyyah. Jadi, mana dalilnya kalau qadha ikut berperan dalam bolehnya wanita hamil dan murdhi untuk tidak berpuasa? Kalau memang ada dalil tentu kita nyatakan demikian, kalau tidak ada dalil berarti kembali pada kesimpulan di atas.

Mereka yang berpendapat qadha sangat bertanggung jawab, apa yang diyakini berpijak pada dalil sebagi berikut:

Hadits riwayat An-Nasa’i dari Anas bin Malik: “Sesungguhnya Allah mengangkat (kewajiban) dari musafir setengah sholat dan dari wanita hamil serta menyusui (kewajiban) puasa.”

Hadits ini shohih adanya. Hadits ini juga merupakan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.

Dari hadits ini, mereka beristidlal bahwa posisi musafir dan wanita hamil serta menyusui ini sama karena adanya dilalah iqtiran di sana.

Dengan demikian maka kompensasinya sama yaitu harus mengganti di lain hari karena musafir apabila tidak berpuasa ia harus menggantinya di lain hari (qadha).

Mereka juga menggunakan qiyas dengan orang sakit. Oleh karena orang sakit apabila tidak berpuasa harus menggantinya di lain hari (qadha’), maka demikian juga halnya dengan wanita hamil dan menyusui.

Dengan demikian, jelaslah dalil/alasan pendapat tentang wajibnya qadha’ bagi wanita hamil dan menyusui.

Lalu pendapat ketiga bagaimana, yaitu tentang wajibnya qadha dan fidyah? Ini lebih mudah, mereka mencoba menggabungkan kedua pendapat di atas. Dan ini benar.

Dalam arti, ketika kita menjumpai seolah ada beberapa dalil/pendapat yang terkesan bertentangan, solusi pertamanya adalah kita coba thariqatul jam’i, kita coba gabungkan. Kalau ternyata tidak bisa karena memang jelas kontradiksinya dalam kondisi bagaimanapun baru kita lakukan tarjih (adu unggul).

Penggabungan ini dirinci dalam beberapa kondisi. Namun apapun kondisinya itu semuanya berpulang pada benar tidaknya istidlal tentang wajibnya qadha bagi wanita hamil dan menyusui tersebut.

Jika benar, maka pendapat penggabungan itu mungkin lebih tepat. Jika ternyata tidak, maka kita kembali ke semula, yaitu hanya fidyah.

Berarti masalahnya, benarkah istidlal mereka yang berpendapat wajibnya qadha?

Jawabnya, dengan istidlal seperti tersebut di atas, maka konsekuensinya mereka harus membuktikan bahwa semua riwayat Abu Dawud, Baihaqy, dan Daruqhutni tentang membayar fidyah itu adalah dho’if/lemah.

Kenapa? Karena istidlal ini kontradiksi dengan kedua riwayat itu, yakni dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sekiranya riwayat-riwayat ini memang dho’if, tentu yang rajih adalah pendapat wajibnya qadha, sebab qiyas dengan orang sakit adalah benar dan dilalah iqtiran dengan musafir juga jelas.

Namun ternyata tidak demikian kenyataanya. Semua riwayat itu shahih, dan jelas bertentangan dengan istidlal mereka yang mengatakan wajibnya qadha.

Perincinnya:

[1] Riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas: “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa, serta wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir keadaan keduanya, untuk berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya”.

[2] Riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu Umar: “Seorang wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha”.

“Berbukalah dan berilah makan orang miskin setiap harinya dan tidak perlu mengqadha.”

Dalam jalan lain dikatakan bahwa anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy, dan sedang hamil. Dia merasa kehausan ketika puasa Ramadhan, maka Ibnu Umar pun menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin.

[3] Riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Umar bahwa beliau ditanya tentang wanita hamil yang khawatir akan kandungannya: “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.”

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa pendapat wajibnya qadha dengan istidlal seperti tersebut di atas adalah tidak tepat, kecuali -sekali lagi kecuali- kalau riwayat-riwayat perinci tersebut tidak shohih alias dho’if.

Adapun qiyas dengan orang sakit, tidak bisa dilakukan karena telah datang riwayat yang jelas dan menerangkan tentang kedudukan dan kondisi wanita hamil dan menyusui ini.

Sekali lagi juga, jika semua riwayat itu dlo’if tentu qiyas ini benar adanya. Dan segera kita katakan bahwa yang wajib adalah qadha’.

Dengan demikian, tampaklah cahaya terang bagi kita dan jernihlah segala kekeruhan yang ada, walhamdulillah, bahwa yang rajih berdasarkan dalil-dalil yang ada adalah bagi wanita hamil dan menyusui diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan mereka harus menggantinya dengan membayar fidyah kepada orang miskin sejumlah hari di mana mereka tidak berpuasa.

Tidak ada kewajiban qadha’ bagi mereka karena tidak ada dalil yang mendasarinya.

Hadits Ibnu Umar di atas juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan apakah wanita hamil berbuka karena khawatir terhadap dirinya atau anaknya atau keduanya, semuanya sama cukup dengan membayar fidyah.

Ustadz Adi Hidayat Berikan Hadiah Uang 25 Juta Untuk Muhammad Irfan Bahri

Mubaligh Kondang Ustadz Adi Hidayat menyampaikan apresiasinya terhadap Santri ngabdi Pondok Pesantren Darul Ulum, Bandungan, Pakong, Pamekasan, Madura Muhamad Irfan Bahri atas keberaniannya melawan para begal di kawasan Sumarecon Kota Bekasi.

Wujud apresiasi yang diberikan kepada Irfan berupa beasiswa senilai Rp.25 Juta untuk membiayai kelanjutan pendidikanya kedepan.

Berikut ini pernyataan Ustadz Adi Hidayat yang disampaikan melalui Fanspage Facebook Akhyar TV, kamis(31/5/2018).

Saya Adi Hidayat bersama teman-teman di Akhyar TV, dari Istambul mendengar berita bahwa salah seorang adinda kita seorang santri dari Madura bernama Muhammad Irfan Bahri telah menghadirkan prestasi yang luar biasa.

Sehingga diberikan penghargaan oleh Kapolresta Metro Bekasi atas prestasinya mengatasi pembegalan diwilayah Bekasi.

Kami mendengar berita ini sangat berbahagia dan ingin menyampaikan apresiasi atas tindakan adinda yang sungguh luar biasa. Bukan hanya menunjukkan sikap warga negara yang baik.

Tapi juga mengamalkan salah satu hadits Nabi Sholallahu Alaihi Wasallam agar berjuang mengatasi tindakan kriminalitas yang tidak menyerahkan bergitu saja apa yang dimiliki.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati perkenankan kami Adi Hidayat bersama teman-teman Akhyar TV memberikan satu penghargaan kecil untuk beasiswa pendidikan sebesar Rp. 25.000.000, yang mudah-mudahan bisa digunakan untuk prospek pendidikan kedepan.

Ini tentunya bukan dari kami, tapi titipan Rezeki dari Allah Subhanahu Watala yang memberikan gambaran kepada siapapun yang bisa mengamalkan tuntutan Allah dan Rasulnya, Insya Allah menghadirkan pendekatan hal-hal terbaik dari Allah Subhanahu Wataala.

Selamat Adinda Irfan, kami berharap Adinda bisa memenuhi Undangan kami sepulang dari Istambul untuk bisa menerima langsung apa yang Insya Allah, Allah titipkan kepada kami untuk diberikan kepada Adinda.

Assalaamu ‘alaikum Wrohmatullahi Wabarokaatuhu.

Bahaya Kertas Cokelat yang Sering Digunakan Untuk Membungkus Makanan, Ini Penjelasannya

Kertas berwarna cokelat atau yang sering disebut dengan kertas minyak ini pasti sudah tak asing lagi.

Nah, kertas ini sering kamu jumpai untuk membungkus makanan. Mulai dari nasi, gorengan hingga jajanan tertentu.

Kertas ini dipilih karena harganya yang relatif murah dan simpel menggunakannya. Jika diperhatikan kertas ini juga dilapisi plastik tipis di satu sisinya.

Namun, tak disangka kertas yang dipakai banyak penjual nasi untuk membungkus makanan ini bisa mengganggu kesehatan.

Sejumlah penelitian menemukan kertas ini memiliki kandungan BPA yang berbahaya bagi tubuh.

BPA atau bisphenol A merupakan bahan kimia yang sering digunakan sebagai pembuat wadah makanan, bukan hanya plastik tapi juga kertas.

Nah, awalnya kandungan BPA digunakan pada wadah makanan kaleng. Hal tersebut dilakukan agar kaleng tidak mudah karatan. BPA ini mulai digunakan untuk melapisi kertas.

Hal itu bertujuan agar kertas lebih tahan terhadap panas. Bahaya penggunaan kertas minyak juga pernah disampaikan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Lisman Suryanagara, Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dengan kertas nasi yang dipakai untuk membungkus makanan.

Lisman menambahkan, zat kimia yang ada di kertas tersebut berdampak negatif bagi tubuh.

Selain itu, bisa memicu berbagai penyakit seperti kanker, kelenjar getah bening dan gangguan reproduksi hingga mutasi gen.

Menurutnya, bahan yang umum digunakan sebagai bungkus makanan dari masa ke masa antara lain adalah keramik, kaca, plastik, alimunium foil, hingga yang berbahan dasar kertas.

Nah, lebih baik jika kamu membeli makanan dan dibungkus kertas ini. Langsung pindahkan saja ke piring yang biasa.

Heboh! Non Muslim Ini Bilang “Puasa Kentut”, Polisi Tak Terima Agamanya Dilecehkan

Sebuah video menghebohkan beredar di Twitter, Jumat (1/6/2018). Pasalnya, seorang wanita yang ditilang polisi karena melanggar lalu lintas marah-marah.

Tak hanya menghina polisi, ia juga melontarkan kata-kata yang dinilai melecehkan agama polisi.

Ketika polisi minta wanita tersebut tidak emosi karena saat ini bulan puasa, ia justru melontarkan cacian “puasa kentut.” Hal itu membuat beberapa polisi yang mendengar caciannya merapat.

“Ibu jangan menghina ranah agama lho,” kata polisi mengingatkan.

“Ah, cepetan,” sergah wanita tersebut.

“Ibu, itu ranah agama lho,” kata polisi lainnya.

“Penghinaan itu,” sahut polisi lainnya.

“Jangan bilang puasa kentut, Bu!”

“Ibu agamanya apa? Saya tanya. Ibu hati-hati, Bu,” lantas wanita itu menyebut agamanya. Ternyata dia non muslim.

Video tersebut diunggah akun Twitter @mpuanon, Jumat (1/6/2018) pukul 16:59. Belum ada keterangan kejadian tersebut kapan dan di mana. Netizen pun meminta wanita tersebut diusut.

MpuAnon
@mpuanon
Puasa kentut?
Ketika Agama Polisi dilecehkan.

4:59 PM – Jun 1, 2018
648
960 people are talking about this
Twitter Ads info and privacy
“Cari sampe ketemu…..!!!” kata @kangsemproel.

“Nampak jelas perusak toleransi dan kebhinekaan sesungguhnya.. Mayoritas sdh menahan diri, minoritas mestinya tau diri..” kata @DeWitarsa

“Hanya di Indonesia dimana minoritas bisa seenaknya menghina mayoritas, didepan penegak hukum lagi! Dan kita yg dihina diminta utk terus toleransi oleh mereka. Ga salah ini? Tuntut ibu itu atas penghinaan ini!” kata @Iqeza

“Harus diusut yg bilang puasa itu kentut. Pelecehan thd Islam!” kata @ariefarafa

“Sbg muslim, sy tidak terima ibadah suci sy dihina” kata @fikoyMS

“Puasa itu syariat Islam, seenaknya saja dibilang kentu* Semoga ia diproses secara hukum & mendapat ganjaran yg setimpal atas mulut kotor & kasarnya” kata @Maarrni

“Parah.. jangan didiamkan yg seperti ini.. kok bangsa Indonesia seperti terjajah di negara sendiri oleh mereka2.. #JanganDiam” kata @UmiHaryani5

lihat video sdi bawah ini

Foto-foto Perawat Razan Al-Najjar Sebelum Tewas Ditembaki Tentara Israel, Salut Untuk Kegigihannya

Kematian perawat Palestina, Razan Al Najjar semakin menambah panjang jumlah korban akibat konflik yang terjadi. Terlebih lagi, Razan adalah seorang tenaga medis yang berasal dari Kementerian Kesehatan Palestina.

Menangani pasien luka akibat serangan tentara Israel sudah menjadi tugasnya sehari-hari. Seperti yang terlihat dalam potret, dilansir dari laman CIR_Palestine, Razan tampak sigap saat menolong korban luka.

Meski korban terlihat dalam kondisi mengenaskan dengan darah memenuhi tubuhnya, Razan tetap cekatan untuk menolongnya.

Wajah cantiknya tampak khawatir dan sedih saat melihat korban luka yang ditanganinya. Namun ia tetap serius menangai Pasien yang juga saudara satu negaranya itu agar lekas membaik.Razan saat sedang menolong korban luka
Razan saat menolong korban luka

Bahkan dalam salah satu potret, Razan terlihat berlari. Hal itu konon dilakukannya pada saat ingin menolong korban luka di perbatasan Gaza.

Razan sedang berlari saat menolong korban luka

Rentetan serangan roket dan mortir yang menghujani langit Palestina seolah tak menyurutkan semangat Razan dalam menolong korban.

Diberitakan sebelumnya, sebuah baku tembak pada Selasa malam dimulai dengan rentetan roket dan mortir ke Israel dari Gaza, yang mendorong Israel untuk menanggapi dengan serangan terhadap 65 situs militan di Gaza.

Itu adalah serangan terburuk sejak perang 2014 di Gaza dan diikuti berminggu-minggu demonstrasi mematikan dan bentrokan di sepanjang perbatasan, dimulai pada 30 Maret.

Razan ditengah kerumunan warga Palestina

Kurang lebih ada ratusan warga Palestina yang tewas dalam serangan itu. Termasuk Razan, yang harus gugur ketika dirinya sedang bertugas di kerumunan warga Palestina.

Namun nahas, meski telah memakai seragam putih yang menandakan petugas medis, tentara Israel tetap tak pandang bulu menembaki ke arah pengunjuk rasa tersebut.

Dan salah satu peluru tersebut nyatanya mengenai dada Razan. Najjar terluka parah sebagai akibatnya, dan menyerah pada luka tembaknya yang parah tak lama kemudian. Namun klaim yang diajukan oleh pihak militer Israel justru berbeda.

Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “ribuan perusuh” berkumpul di lima lokasi di sepanjang perbatasan, “membakar ban yang berdekatan dengan pagar keamanan dan berusaha merusak infrastruktur keamanan”.

Mereka juga mengklaim adanya tembakan yang ditembakkan ke kendaraan militer dan seorang Palestina menyeberang ke Israel, menanam granat dan kembali ke Gaza.

Hal itu membuat tentara Israil mengatakan bahwa mereka berhak bertindak “sesuai dengan aturan keterlibatan”.

Serbuan warga Palestina di jalur Gaza

Razan Al-Najjar

Saksi: Perawat Itu Angkat Tangan, Israel Tetap Menembaknya

Petugas medis di perbatasan Jalur Gaza mengungkap pembunuhan yang dilakukan tentara Israel terhadap perawat asal Palestina.

Razan Al-Najar tewas ditembus timah panas yang dilontarkan militer saat bertugas untuk menolong korban terluka dalam aksi demonstrasi yang berujung bentrok.

Kematian Razan Al-Najar sekaligus menandai ke-119 jumlah korban yang telah dibunuh tentara Israel dalam aksi demonstrasi mingguan di Jalur Gaza.

Wanita 21 tahun itu ditembak mati saat berlari menuju sebuah pagar yang diperkuat di kota Khan Younis saat menghampiri korban kekerasan.

“Menggunakan seragam putih, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar diberikan jalan, tapi tetap saja tentara Israel menembaknya di bagian dada,” kata seorang saksi mata, kemarin.

Petugas medis yang bertugas di jalur Gaza mengungkapkan setidaknya 100 warga Palestina terluka akibat terkena tembakan saat melakukan aksi demonstrasi Jumat (5/2).

Berbanding terbalik, tidak ada laporan korban yang berasal dari Israel dalam aksi tersebut.

Sementara terkait penembakan perawat, seorang pejabat Israel mengatakan jika penembak jitu militer hanya ditugasi untuk menembak orang-orang yang menimbulkan ancaman.

Namun, kata ia, mungkin saja peluru yang dilepaskan memantul atau menembus tubuh target hingga mengenai korban lainnya.

Tewasnya Razan Al-Najar tak pelak mendapat tangisan dari keluarganya. Melalui pernyataan resmi, Menteri Kesehatan Gaza turut berkabung atas kepergian Najar dan menyebutnya sebagai seorang martir.

Dalam sebuah wawancara, Razan Al-Najar mengaku akan melihat aksi protes di perbatasan hingga akhir. Najar yang sempat menulis dalam unggahan media sosial mengaku tidak akan kembali atau menyerah. “Tembak saya dengan pelurumu, saya tidak takut,” katanya.

Seperti diketahui, warga Palestina tengah melakukan aksi ‘Great March of Return’ yang merupakan panggilan terhadap warga Palestina terkait hak akan kampung halaman mereka.

Otoritas Israel menganggap aksi yang digelar sejak 30 Maret itu merupakan upaya untuk menerobos tanah yang mereka rampas dari warga Palestina.

Meski demikian, pembantaian yang dilakukan militer Israel terhadap warga Palestina telah mendapat kecaman terhadap dari dunia internasional. Namun, Israel lantas menimpakan masalah jatuhnya korban luka dan jiwa kepada Hamas.

Belakangan, Amerika Serikat (AS) memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang berisi kecaman atas kekerasan yang dilakukan tentara Israel terhadap warga sipil Palestina di Gaza.

Senada dengan Israel, AS juga menyalahkan Hamas atas aksi kekerasan yang terjadi di perbatasan Gaza.

Jika Mati di Bulan Ramadhan Apakah Otomatis Husnul Khatimah? Ini Penjelasannya

Pertanyaan:
Apakah mati di bulan ramadhan akan khusnul khatimah?

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah mengajarkan prinsip kepada manusia bahwa sebab mereka masuk surga adalah amal. Seringkali Allah menyebut penjelasan, kalian masuk surga karena amal yang kalian kerjakan. Diantaranya,

Firman Allah,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Itulah surga yang diberikan kepada kalian disebabkan amal yang telah kalian kerjakan.” (QS. az-Zukhruf: 72)

Allah juga berfirman,

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Mereka dipanggil, “ltulah surga yang diberikan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. al-A’raf: 43).

Dan masih banyak ayat yang semisal dengan ini. Karena itu, waktu yang mulia maupun tempat yang mulia, tidak bisa menyebabkan penghuninya jadi mulia.

Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhuma. Sehingga keduanya ibarat keluarga dekat.

Imam Malik membawakan riwayat dari Yahya bin Said, bahwa Abu Darda pernah menulis surat kepada Salman, yang isinya meminta Salman untuk pindah dan tinggal di tanah yang disucikan (negeri Syam).

Kemudian Salman membalas surat ini dengan mengatakan,

الأَرْضُ الْمُقَدَّسَةُ لا تُقَدِّسُ أَحَدًا ، وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْمَرْءَ عَمَلُهُ
“Sesungguhnya tanah suci itu tidak mensucikan siapapun. Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya.” (al-Muwatha’, Imam Malik, no. 1464).

Dulu Mekah dihuni orang musyrikin. Ketika mereka tinggal di sana, bukan berarti mereka menjadi lebih suci. Dan ketika mati menjadi husnul khotimah.

Yang meninggal di bulan ramadhan, tidak semuanya orang baik. Ada juga orang jahat yang meninggal di bulan berkah ini. Meskipun demikian, kita tidak menyebut, dia meninggal dengan baik.

Meninggal Dalam Kondisi Puasa
Beda antara meninggal di bulan ramadhan dengan meninggal ketika sedang puasa. Karena meninggal dalam kondisi sedang beramal soleh, termasuk husnul khotimah. Termasuk meninggal ketika sedang menjalankan ibadah puasa.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang orang yang meninggal dalam kondisi beramal,

مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Siapa yang menyatakan Laa ilaaha illallah ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan ikrar ini, maka dia masuk surga.

Siapa yang berpuasa dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan puasa ini, maka dia masuk surga.

Siapa yang sedekah dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan sedekah ini, maka dia masuk surga. (HR. Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Lain dengan Meninggal Hari Jumat
Meninggal di hari jumat, memiliki keistimewaan khusus, mengingat adanya jaminan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak akan ditanya di alam kubur.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

Sementara kita tidak menjumpai dalil yang menyatakan bahwa mati ketika bulan ramadhan, termasuk khusnul khatimah atau mendapat jaminan tertentu.

Kentut di Dalam Air Bisa Membatalkan Puasa? Ini Jawabannya

Pertanyaan yang tak kalah populer selalu ditanyakan ketika bulan suci ramadan tiba yakni, apakah kentut di dalam air bisa membatalkan puasa?

Pemahaman yang beredar di kalangan masyarakat kita bahwa bila orang berpuasa lalu berendam di air lalu ia kentut di dalamnya maka puasanya batal.

Alasannya, hal demikian memungkinkan masuknya air ke tubuh, baik melalui telinga, hidung atu dubur.

Pertanyaan: Bagaimana hukum orang yg sdg menjalankan ibadah puasa trus mandi di kolam renang dan buang angin di dalam kentut?

Jawaban:
Menyelam di kolam ketika puasa tidak apa-apa (boleh), dengan catatan air tidak masuk kedalam tubuh, aman dari masuknya air.

Imam Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Al-Majmu’ syarh al-Muhadzdzab mengatakan:

“Boleh bagi orang yang berpuasa menyiramkan air (ketubuhnya) dan menyelam didalam air (berendam didalam air), berdasarkan riwayat Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam, ia berkata:

“menceritakan kepadaku orang yang menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pada musim kemarau menyiramkan (membasuh) kepalanya dengan air karena cuaca yang sangat panas dan dahaga sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa”.

Juga boleh memakai celak mata berdasarkan riwayat dari Anas “sesungguhnya ia memakai celak sedangkan ia berpuasa” dan karena mata bukanlah lubang tembus, maka tidak batal puasanya dengan sesuatu yang masuk kedalamnya”

Adapun mengenai kentut didalam air (kolam), itu membatalkan puasa.

Hal ini juga dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian).

Sedangkan didalam al-Fatawa Al-Hindiyah fiy Madzhab al-Imam A’dham Abu Hanifah (madzhab Hanafiy) disebutkan bahwa kentut didalam air hukumnya makruh bagi orang yang berpuasa.

Yang lebih bagus adalah lebih hati-hati agar puasa kita benar-benar terpelihara.

Diceraikan dan Diusir Suami dari Rumah, Perempuan Ini Menangis Lihat Perlakuan Mertuanya

Pernikahan adalah ikatan suci antara pria dan wanita yang terjadi karena cinta. Semakin lama, harusnya jalinan asmara semakin erat terjalin.

Tapi banyak pasangan yang memilih berpisah karena merasa tak cocok lagi. Perbedaaan pendapat dan cara berpikir menjadi alasan kuat jika suami istri ingin cerai, apalagi jika ada orang ketiga.

Seperti kisah berikut ini, ketika seorang wanita diusir oleh suaminya. Dilansir dari Erabaru, wanita ini telah menikah sembilan tahun dengan suaminya.

Berikut kisah selengkapnya yang bikin sedih dan mikir tentang mertua. Sudah sembilan tahun aku menikah dengan mantan suami, kami memiliki anak perempuan berusia tujuh tahun.

Karena selalu bertengkar, sehingga menyebabkan hubunganku dengan suami jadi tidak harmonis, hingga akhirnya sepakat bercerai.

Setelah perceraian, anak menjadi hak asuhku rumah milik sumi (rumah dibeli mendiang ayah mertua semasa hidup atas nama mantan suami).

Saat perceraian, kami membuat kesepakatan, bahwa aku dan putriku. Untuk sementara tetap tinggal di rumah sebelum mendapatkan tempat tinggal baru.

Sementara dia tinggal di luar dan dia setuju dengan kesepakatan itu. Sebelum bercerai, aku hanya tinggal di rumah merawat anakku.

Sekarang aku terpaksa harus mencari pekerjaan untuk keperluan akau dan anakku sehari-hari. Dan aku pun mendapat pekerjaan sebagai sales.

Namun, aku tak menyangka, kurang dari dua bulan, mantan suami pulang ke rumah dan mengatakan bahwa dia akan menikah, menyuruh kami pindah dalam tempo seminggu.

Aku benar-benar tidak menyangka secepat itu dia mau menikah, dan tidak menduga setega itu dia mengusir kami!

Bukannya tidak mau pindah, aku bilang kepadanya untuk membantu mencarikan dulu. Sebuah rumah kontrakan yang sederhana sekalian bayarin dulu uang sewanya.

Nanti akan aku ganti setelah gajian, tapi dia menolaknya, malah langsung mengusirku dan anaku.

Aku pun tidak ada tempat bernaung dan tidak tahu harus kemana, terpaksa aku ke rumah tua ibu mertua.

Dan untungnya ibu mertua menerima kedatangan kami, dan menyuruh kami untuk sementara tinggal dulu di rumahnya.

dan mengatakan bahwa putranya yang salah, meminta saya untuk tidak menanggapinya.

Namun, belum dua minggu tinggal di rumah mertua, mantan suami tiba-tiba datang. dan ia langsung berkata dengan nada kasar begitu melihat aku berada di rumah ibunya.

Dia meminta uang sama ibunya, katanya mau ganti mobil saat menikah nanti. tapi ibunya tidak memberinya dengan alasan tidak punya uang.

Mendengar itu, ia pun bilang mau menjual rumah tua ibunya, kemudian menyuruh ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Namun, ibunya tidak setuju, dan dia mulai marah-marah di rumah ibunya.

Dia mengatakan bahwa pacarnya sekarang sedang hamil, dan akan segera melahirkan. Bayi yang dikandungya berkelamin laki-laki.

Jika ibu mertua tidak ingin keluarganya tidak punya keturunan, maka dia akan menyuruh pacarnya.

Untuk menggugurkan anak itu, mendengar ancaman anaknya, ibu mertua pun terpaksa menyetujuinya.

Saat itu, hatiku pun seketika mendingin, ternyata mantan suami telah lama selingkuh dan tak disangka ibu mertua juga setuju menjual rumahnya demi cucu laki-lakinya.

Sambil menahan air mata, aku pun pergi. Dan tak disangka, ibu mertua menyusulku sambil membawa sekantong makanan dan dimasukkan ke ransel putriku sambil berkata, menyuruhku mencari kontrakan.

Aku langsung berpaling dan pergi setelah mendengar kata-katanya. Kemudian aku menginap sementara di sebuah motel, saat sedang merapikan barang-barang putriku.

Aku membuka barang dari ibu mertua, selain sejumlah makanan. Aku melihat sebuah buku tabungan, dan ketika aku buka, ada 260.000 yuan atau sekitar 500 juta rupiah berikut kartu ATM beserta no PIN nya yang tertulis di atasnya.

Saat itu, saya pun mengerti, ibu mertua sengaja menyerahkan buku tabungan dan ATM ini kepadaku dan sekilas aku merasa telah salah paham kepadanya.

Dan saya merasakan seberkas kehangatan dalam perkawinan yang gagal ini, dan tak disangka kehangatan ini dari ibu mertuau.

Entah aku harus merasa sedih atau terharu, dan tanpa disadari, air mataku pun mengalir.