Ustadz Adi Hidayat Berikan Hadiah Uang 25 Juta Untuk Muhammad Irfan Bahri

Mubaligh Kondang Ustadz Adi Hidayat menyampaikan apresiasinya terhadap Santri ngabdi Pondok Pesantren Darul Ulum, Bandungan, Pakong, Pamekasan, Madura Muhamad Irfan Bahri atas keberaniannya melawan para begal di kawasan Sumarecon Kota Bekasi.

Wujud apresiasi yang diberikan kepada Irfan berupa beasiswa senilai Rp.25 Juta untuk membiayai kelanjutan pendidikanya kedepan.

Berikut ini pernyataan Ustadz Adi Hidayat yang disampaikan melalui Fanspage Facebook Akhyar TV, kamis(31/5/2018).

Saya Adi Hidayat bersama teman-teman di Akhyar TV, dari Istambul mendengar berita bahwa salah seorang adinda kita seorang santri dari Madura bernama Muhammad Irfan Bahri telah menghadirkan prestasi yang luar biasa.

Sehingga diberikan penghargaan oleh Kapolresta Metro Bekasi atas prestasinya mengatasi pembegalan diwilayah Bekasi.

Kami mendengar berita ini sangat berbahagia dan ingin menyampaikan apresiasi atas tindakan adinda yang sungguh luar biasa. Bukan hanya menunjukkan sikap warga negara yang baik.

Tapi juga mengamalkan salah satu hadits Nabi Sholallahu Alaihi Wasallam agar berjuang mengatasi tindakan kriminalitas yang tidak menyerahkan bergitu saja apa yang dimiliki.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati perkenankan kami Adi Hidayat bersama teman-teman Akhyar TV memberikan satu penghargaan kecil untuk beasiswa pendidikan sebesar Rp. 25.000.000, yang mudah-mudahan bisa digunakan untuk prospek pendidikan kedepan.

Ini tentunya bukan dari kami, tapi titipan Rezeki dari Allah Subhanahu Watala yang memberikan gambaran kepada siapapun yang bisa mengamalkan tuntutan Allah dan Rasulnya, Insya Allah menghadirkan pendekatan hal-hal terbaik dari Allah Subhanahu Wataala.

Selamat Adinda Irfan, kami berharap Adinda bisa memenuhi Undangan kami sepulang dari Istambul untuk bisa menerima langsung apa yang Insya Allah, Allah titipkan kepada kami untuk diberikan kepada Adinda.

Assalaamu ‘alaikum Wrohmatullahi Wabarokaatuhu.

Ketika Ber-3, Jangan Asyik Ber-2

SETIAP orang tentu membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Sebab, sebagai manusia memanglah makhluk sosial. Di mana untuk memenuhi kebutuhannya sendiri pun harus ada campur tangan orang lain. Maka, agar kesejahteraan dalam hidupnya terjalin, ia harus bisa menghargai orag lain.

Hal pertama yang harus kita perhatikan ialah menjaga lisan. Jangan sampai lisan ini menyakiti perasaan orang lain. Sebab, menyakiti perasaan lebih berbahaya daripada menyakiti fisiknya.

Bukan hanya menjaga dari perkataan yang tidak baik saja terhadap orang lain. Tetapi, menjaga lisan dari saling berbisik antara dua orang dengan meninggalkan orang lain, juga perlu kita terapkan. Sebab, hal itu akan menyakiti perasaan orang yang tidak diajak berbisik tersebut.

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian terdiri dari tiga orang, janganlah yang dua orang saling berbicara rahasia tanpa menyertakan yang satu lagi, hingga kalian bercampur baur dengan orang ramai, karena hal itu membuatnya bersedih,” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi).

Kita harus tahu bahwa ketika kita bertiga, sedang kita meninggalkan satu orang di antaranya, dan hanya asyik berdua membicarakan sebuah rahasia, itulah perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pembicaraan rahasia itu datangnya dari setan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, padahal pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal,” (QS. Al-Mujadilah: 10).

Jika kita mengaku sebagai orang beriman yang cinta kepada Allah, maka ikutilah apa yang diperintah oleh Allah. Jangan kita melakukan hal yang dilarang oleh-Nya. Jangan pula kita mengikuti jejak setan, yang sudah jelas merupakan musuh nyata bagi kita. Maka dari itu, ketika bertiga, jangan hanya asyik berdua. Cobalah hargai perasaan orang lain.

Makan Berpahala, Ini Dia Rahasianya!

TAHUKAH Anda kegiatan makan bisa bernilai ibadah? Mengapa? Bukankah makan tidak ada sangkut paut sama sekali dengan ritual ibadah? Itulah hebatnya Islam. Islam mengatur semua lini dari kehidupan manusia. Dari mulai hal kecil samapai hal yang terbesar. Dari mulai hubangan dengan Allah SWT sampai dengan hubungan sesama makhluk. Semua diatur dalam Islam. Karena Islam merupakan agama rahmatan lil alamin. Mantap nggak tuh!

Tunggu dulu, jangan berpikir ‘Iya udah, makan terus aja, toh dapat pahalakan’. Bukan gitu juga, kali! Tetap saja, kita harus melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba. Yang senantiasa taat dan patuh pada perintah dan laranganNya.

Mau tahu, makan kita bisa menjadi sumber pahala? Ini dia syaratnya.

1. Membaca bismillah. Membaca bismillah sudah menjadi kebiasaan kita bukan? Karena setiap apapun yang kita kerjakan pasti diawali dengan mengucapakan bismillah terlebih dahulu.

2. Makan dengan tangan kanan. Yah, kalo pake tangan kiri, apa tidak (maaf) jijik, tuh?

3. Mengambil makanan yang dekat dengan jangkauan tangan.

4. Memulai makan dari pinggir tempat makan (Kalau di Indonesia, paling sering menggunakan piring), tidak dari tengah-tengah.

Rasulullah SAW bersabda, “Ananda, sebutlah nama Allah sebelum makan, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah hidangan yang dekat denganmu,” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

5. Disunnahkan makan dengan menggunakan tiga jari. Ka’ab ibn Malik RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku melihat Rasulullah SAW makan dengan menggunakan tiga jari. Jika selesai beliau akan mengulumnya/menjilatnya (untuk membersihkan makanan yang menempel di jari-jarinya),” (HR. Muslim).

6. Jika makanan yang akan dimakan jatuh, kotoran yang menempel dibersihkan lalu memakannya. Jangan membuangnya.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika sebagian makananmu jatuh, maka ambilah dan buanglah bagian yang kotor dan makanlah bagian yang tidak kotor. Jangan biarkan makananmu untuk setan. Jangan mengusap tanganmu dengan sapu tangan sampai kamu mejilat jari-jarimu, karena kamu tidak tahu dibagian mana makananmu yang ada berkahnya,” (HR. Muslim).

7. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, tentang ajuran cara duduk saat makan adalah dengan berlutut, atau menegakkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri.

8. Mengucapkan alhamdulillah saat selesai makan.

Abu Umamah RA meriwayatkan bahwa jika selesai makan, Nabi SAW biasanya mengucapkan, “Alhamdulilahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira makfiyyin wa la muwadda’in la mustaghnan’anhu rabbana,” (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang tiada terhingga, baik dan penuh berkah. Ya Tuhan kami, kami tidak mampu membalas anugerahMu, tidak mampu meninggalkannya dan tidak mampu menghindarinya),” (HR Al-Bukhari).

Sekarang, sudah tahukan! Bagaimana makan kita bisa menjadi ladang pahala. Iya, dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan balasan yang terbaik. Wallahu a’lam bishawab.

Begini Adab Murid yang Baik terhadap Gurunya

ADAB merupakan suatu persoalan tingkah laku yang mendasar. Sayangnya, hal ini seolah terabaikan. Tak sedikit generasi ‘jaman now’ yang mengabaikan adab baik terhadap orang tua, guru, maupun orang lain di sekitar yang seharusnya mereka hormati.

Tak bisa dipungkiri, beberapa kasus penganiayaan justru dilakukan oleh anak atau murid kepada orangtua atau guru. Padahal, dalam Madarijus Salikin disebutkan bahwa sesungguhmya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Begitu juga sebaliknya, kurang adab atau tidak beradab adalah alamat (tanda) jelek dan jurang kehancurannya.

Adab sangat penting untuk diimplementasikan dalam semua aspek kehidupan, apalagi di di dunia pendidikan. Bagaimana adab seorang murid yang baik terhadap gurunya dalam lingkungan pendidikan di sekolah, khususnya di dalam kelas?

  • Bila pelajaran telah dimulai hendaklah bagi seorang penuntut ilmu memperhatikan hal-hal berikut;

Menghadirkan hati dan perhatian dengan seksama, intinya konsentrasi mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru. Sikap yang demikian akan membuat pelajaran lebih membekas dan terpahami.

Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaklah seorang murid ketika menghadiri pelajaran gurunya memfokuskan hatinya dan bersih dari segala kesibukan. Pikirannya penuh konsentrasi, tidak dalam keadaan mengantuk, marah, haus, lapar dan lain sebagainya. Yang demikian agar hatinya benar-benar menerima dan memahami terhadap apa yang dijelaskan dan apa yang dia dengar.” (Tadzkiroh Sami’ hal. 96)

Demikian juga Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Apabila engkau bermajelis maka bersemangatlah untuk mendengarkan daripada berbicara. Belajarlah bagaimana mendengar yang baik sebagaimana belajar berkata. Janganlah engkau memutus pembicaraan orang.” (Adab at-Tatalmudz hal. 43)

  • Mengenakan pakaian yang bersih
    Karena kondisi yang bersih menandakan bahwa seorang murid siap menerima pelajaran dan ilmu. Maka jangan salah-kan apabila ilmu tidak meresap dalam dada karena kondisi kita yang kurang siap, pakaian penuh keringat, kepanasan dan sebagainya.

Ingatlah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau sangat bersih pakaian dan keadaan dirinya. Umar bin Khoththob mengatakan: “Ketika kami duduk di sisi Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh.” (HR. Muslim 8, Abu Dawud 4695, Tirmidzi 2610, Nasa’i 8/97, Ibnu Majah 63 dan selainnya.)

  • Duduk dengan tenang
    Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata: “Duduklah dengan duduk penuh adab. Jangan engkau luruskan kakimu di hadapannya, ini termasuk adab yang jelek. Jangan duduk dengan bersandar, ini juga adab yang jelek apalagi di tempat be­lajar. Lain halnya jika engkau duduk di tempat umum, maka ini lebih ringan.” (at-Ta’liq as-Tsamin hal. 181)
  • Bertanya kepada guru

Dahulu dikatakan, “Bertanya dengan baik adalah setengah ilmu.” (Fathul Bari 1/142). Maka, dalam mengajukan pertanyaan, seorang murid pun tetap harus memperhatikan adabnya. . Apabila ada pelajaran yang tidak dipahami maka bertanyalah ke­pada guru dengan baik. Bertanya dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan pergunakanlah bahasa yang santun lagi sopan.

Adakalanya murid yang penuh dengan rasa ingin tahu mendesak guru untuk menjawab pertanyaan dengan sejelas-jelasnya, bahkan sampai berdebat. Dalam keadaan demikian, murid perlu memahami bahwa guru adalah manusia biasa. Ia bisa saja lupa ataupun salah.

Syaikh al-Albani berkata: “Kadangkala seorang alim tidak bisa mendatangkan dalil atas se­buah pertanyaan, khususnya apa­bila dalilnya adalah sebuah istinbat hukum yang tidak dinashkan secara jelas dalam al-Qur’an dan Sunnah. Semisal ini tidak pantas bagi penanya untuk terlalu mendalam bertanya akan dalilnya. Menyebutkan dalil adalah wajib ketika realita menuntut demikian. Akan tetapi tidak wajib baginya acapkali ditanya harus menjawab Allah berfirman demikian, Rosul bersabda demikian, lebih-lebih dalam perkara fiqih yang rumit yang diperselisihkan. (Majalah al-Asholah edisi. 8 hal. 76. Lihat at-Ta’liq as-Tsamin hal. 188)

Maka, adab yang harus dijaga oleh seorang murid adalah tetap menghormati guru.

Meski guru memiliki kelemahan dan kekurangan, tidak ada alasan bagi seorang murid untuk mengejek ataupun mengolok-oloknya. Panggilah guru dengan panggilan yang baik, tidak menyebut hanya namanya saja apalagi mengejeknya.

Allah berfirman:

Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul di antara kamu seperti pang­gilan sebahagian kamu kepada seba-hagian (yang lain) … (QS. an-Nur [24]: 63)

Ayat ini adalah pokok untuk membedakan orang yang punya kedudukan dengan orang yang biasa. Harap dibedakan keduanya. (al-Faqih wal Mutafaqqih, Adab at-Tatalmudz hal. 52)

Ketika seorang murid menghormati guru dengan menjaga adabnya, insya Allah, ia dapat memperoleh keberkahan ilmu yang diberikan oleh gurunya tersebut. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karena kurangnya adab.

Hati-hati, Ini Dia 2 Jenis Fitnah (1)

DEWASA kini kata ‘fitnah’ sudah menjadi sesuatu yang biasa, bahkan dijadikan sebuah tontonan (diumbar) halayak umum. Fitnah kian hari kian meraja rela. Bermunculan bagaikan jamur liar yang amat sulit tuk dibasmi.

Kini fitnah tak lagi sesuatu yang “mahal”, maksudnya sulit dijumpai dan tak banyak pula. Tetapi kini, fitnah menjadi sesuatu yang “murah”, jika Anda ingin “menemukan” fitnah, Anda tinggal menyalakan teve saja.

Fitnah ada dua macam: Fitnah syubhat dan ini yang lebih berbahaya serta fitnah syahwat. Kadang-kadang dua-duanya menjangkit pada se-orang hamba, tetapi terkadang hanya salah satunya.

1. Fitnah Syubhat

Adapun fitnah syubhat, maka hal itu disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu, apalagi jika hal itu dibarengi dengan niat yang rusak dan hawa nafsu, maka akan timbul fitnah yang sangat besar dan maksiat yang keji. Karena itu, katakanlah apa yang kau kehendaki ten-tang kesesatan orang yang niatnya rusak, yang dipimpin oleh hawa naf-su dan bukan petunjuk, dengan kelemahan bashirah-nya. dan sedikit ilmu -yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya- yang ia miliki, dan sung-guh dia termasuk orang-orang yang Allah befirman tentang mereka,

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka,” (QS An-Najm: 23).

Lalu, Allah mengabarkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan menye-satkan dari jalan Allah. Allah befirman,

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan,” (QS Shad: 26).

Fitnah tersebut akan berakhir dengan kekufuran dan nifaq. Dan itu-lah fitnah orang-orang munafik serta para ahli bid’ah, sesuai dengan tingkat bid’ah mereka. Semua itu muncul karena fitnah syubhat, di mana menjadi samar antara yang haq dengan yang batil, antara petunjuk de-ngan kesesatan.

Tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnah ini dengan memurnikan dalam mengikuti Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, berhukum kepada beliau dalam seluruh persoalan agama, baik persoalan yang sepele maupun yang berat, secara lahir maupun batin, dalam aqidah maupun amal perbuatan, dalam hakikat maupun syariat.

Menerima dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seluruh haki-kat iman dan syariat Islam, menerima apa yang ditetapkan bagi Allah tentang sifat-sifat, perbuatan dan nama-nama-Nya, juga menerima apa yang dinafikan daripada-Nya.

Sebagaimana ia juga menerima sepenuhnya dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang wajibnya shalat, waktu-waktu dan bilangannya, ukuran-ukuran nisab zakat dan yang berhak me-nerimanya, wajibnya berwudhu dan mandi karena jinabat serta wajibnya puasa Ramadhan.

Dengan demikian, ia tidak menjadikan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul dalam masalah tertentu dari persoalan agama, tetapi tidak dalam masalah agama yang lain. Sebaliknya, men-jadikan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul dalam segala hal yang dibutuhkan oleh umat, baik dalam ilmu maupun amal, tidak menerima (ajaran agama) kecuali daripadanya, tidak mengambil kecuali daripadanya.

Sebab seluruh petunjuk berporos pada sabda dan perbuat-annya, dan setiap yang keluar daripadanya adalah sesat. Karena itu, ji-ka ia mengikatkan hatinya pada hal tersebut dan berpaling dari yang selainnya, menimbang segala sesuatu dengan apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, jika berkesesuaian dengannya maka ia menerimanya, tidak karena siapa yang menyampaikannya, tetapi karena ia sesuai dengan risalah, dan jika bertentangan ia menolaknya, meski siapa pun yang mengucapkannya, jika semua hal itu yang ia lakukan maka itulah yang akan menyelamatkannya dari fitnah syubhat.

Dan jika ia tidak melakukan sebagian daripadanya, maka ia akan terkena fitnah syubhat tersebut, sesuai dengan tingkat perkara yang ia tinggalkan.

Fitnah-fitnah di atas, terkadang timbul karena pemahaman yang rusak, atau karena periwayatan yang dusta, atau karena kebenaran yang tegak itu tersembunyi dari orang tersebut, sehingga ia tidak bisa menda-patkannya, atau karena tujuan yang rusak dan hawa nafsu yang diikuti. Dan semua itu karena kebutaan dalam bashirah dan karenanya rusaknya iradah (keinginan).

Hati-hati, Ini Dia 2 Jenis Fitnah (2-Habis)

2. Fitnah Syahwat

Fitnah yang kedua adalah fitnah syahwat. Allah menghimpun kedua fitnah tersebut (fitnah syahwat dan syubhat) dalam suatu firman-Nya.

“(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat dari-pada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu,” (QS At-Taubah: 69).

Maksudnya, bagian tertentu dari dunia dan syahwatnya. Kemudian ayat selanjutnya menyebutkan,

“Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya,” (QS At-Taubah: 69).

Mempercakapkan hal batil di sini adalah syubhat.

Dalam ayat di atas Allah menunjukkan sebab kerusakan hati dan agama, yakni karena menikmati syahwat dan tenggelam dalam kebatil-an. Sebab kerusakan agama itu bisa disebabkan oleh kepercayaan yang batil serta memperbincangkannya, dan bisa juga disebabkan oleh amal yang tidak sesuai dengan ilmu yang benar.

Yang pertama adalah bid’ah dan yang berkaitan dengannya, sedang yang kedua amal perbuatan yang fasik. Yang pertama rusaknya dari sisi syubhat dan yang kedua rusaknya dari sisi syahwat. Karena itu, para salaf berkata, “Berhati-hatilah terha-dap dua jenis manusia: Orang yang menuruti hawa nafsunya sehingga ia terkena fitnah dengannya dan orang yang mencari dunia sehingga dunia membutakannya.” Mereka juga berkata, “Berhati-hatilah dari fit-nah orang alim yang pendosa dan ahli ibadah yang jahil, sebab fitnah mereka adalah fitnah segala fitnah.”

Dan asal segala fitnah adalah mendahulukan akal daripada syara’, serta mendahulukan hawa nafsu daripada akal. Yang pertama merupakan asal dari fitnah syubhat dan yang kedua merupakan asal dari fitnah syahwat. Fitnah syubhat dihalau dengan keyakinan, dan fitnah syahwat dihalau dengan kesabaran. Karena itu, Allah menjadikan kepemimpinan dalam agama berdasarkan dua hal tersebut,

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan (ketika) mereka meyakini ayat-ayat Kami,” (QS As-Sajdah: 24).

Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat diperoleh dengan ke-sabaran dan keyakinan. Dan Allah menghimpun pula dua hal tersebut dalam firman-Nya,

“Dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihat supaya menetapi kesabaran,” (QS Al-‘Ashr: 3).

Maka nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran itulah yang bisa menolak syubhat dan nasihat-menasihat supaya menetapi kesabar-an itulah yang bisa menolak syahwat. Dalam firman-Nya yang lain, Allah juga menghimpun antara dua hal tersebut,

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub yang memiliki perbuatan-perbuatan besar dan ilmu-ilmu yang tinggi,” (QS Shad: 45).

Ibnu Abbas berkata, “Yang memiliki kekuatan dalam mentaati Allah dan pengetahuan tentang-Nya.”

Al-Kalbi berkata, “Yang memiliki kekuatan dalam ibadah dan me-miliki ilmu tentang-Nya.”

Mujahid berkata, “Al-Aydi adalah kekuatan dalam mentaati Allah, sedang al-abshar adalah ilmu tentang kebenaran.”

Sa’id bin Jubair berkata, “Al-Aydi berarti kekuatan dalam beramal, sedangkan al-abshar adalah pengetahuan mereka tentang persoalan aga-ma mereka.”

Dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, maka fitnah syahwat itu bisa ditolak, dan dengan kesempurnaan ilmu serta keyakinan maka fitnah syubhat itu juga bisa ditaklukkan. Dan hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.

Penjual Ayam Asal DI Yogyakarta Bangun Masjid Megah 3 Lantai Bergaya Jawa dan Timur Tengah

“Sejak saya masih kecil, saya sangat ingin membangun masjid, saya mulai menabung sejak SMP. Akhirnya sekarang keinginan tersebut bisa terwujud.”

Hal tersebut dikatakan oleh Suciati Saliman Riyanto Raharjo saat peresmian masjid Suciati Saliman yang berada di jalan Gito Gati, Pandowoharjo, Sleman, DI Yogyakarta pada Minggu (13/5/2018).

Suciati begitu dia dipanggil sejak tahun 1966, yang saat itu duduk di bangku SMP mulai merintis usaha pemotongan ayam manual di rumahnya.

Dengan berbekal menjual sebanyak 5 ekor karkas ayam kampung di Pasar Terban, Yogyakarta dia mengawali usahanya.

Falsafah hidupnya yang percaya bahwa Urip Iku Urup membuatnya semakin teguh untuk bisa bermanfaat bagi sesamanya.

“Saya percaya bahwa apabila kita bisa selamat di dunia, maka nanti di akhirat juga akan mendapatkan keselamatan. Saya sangat ingin membangun masjid agar bisa bermanfaat bagi semua orang,” terangnya.

Atas keteguhan niatnya, tidak disangka usaha Suciati semakin hari semakin pesat.

Hingga akhirnya rumah pemotongan ayam manual yang dimiliki di rumahnya berkembang menjadi rumah potong ayam modern yang dia beri nama RPA Saliman di kawasan Pendowoharjo, Sleman.

Tidak berhenti disitu, tahun 2009, dia juga mulai mendirikan rumah potong ayam di Jombang, Jawa Timur.

Suciati pun mulai menabung dan menabung.

Tidak sekedar untuk membangun masjid, dia juga mulai rutin untuk memberikan sedekah setiap Jumat, memberikan santunan kepada anak Yatim, khitanan massal setiap tahun, serta memberikan umroh gratis kepada anak buahnya.

Dalam pembangunan masjid, Suciati mengaku tidaklah gampang. Adanya kendala pembebasan lahan dan ketidaksetujuan warga setempat juga dia dapati.

“Alhamdulillah, masjid yang saya impikan bisa mulai dibangun pada 2 Agustus 2015. Dan tepat hari ini, tanggal 13 Mei 2018 diresmikan. Semoga nantinya masjid ini bisa digunakan oleh umat, nanti akan kita buka selama 24 jam. Agar semua bisa salat malam maupun dhuha disini,” ucapnya.

Bambang Harmianto, selaku Ketua Pembangunan Masjid mengungkapkan jika di masjid Suciati sendiri terdiri dari 3 lantai dan basemen lantai dengan memadukan antara desain Timur Tengah dan Jawa.

“Untuk luas tanah 1716 meter. Sedangkan bangunan 1217 meter. Selain sebagai masjid, nanti warga atau siapa saja bisa melakukan pernikahan disini, pengajian juga bisa, atau perkumpulan muslimahan. Kita atapnya meniru joglo, dan ada bedog yang menjadi khas Jawa. Untuk yang lain kita juga gunakan desain masjid Nabawi,” ungkapnya.

Mengenai fungsi masing-masing lantai, Bambang mengungkapkan jika di basemen nantinya bisa untuk prasmanan di lantai 1 untuk gedung pertemuan, lantai 2 untuk salat jemaah laki-laki, sedangkan lantai 4 untuk jemaah perempuan.

“Kita niatnya basemen untuk parkir, tapi Alhamdulillah di seberang jalan ada yang menawarkan seluas 350 meter, jadi untuk parkir kita alihkan disana. Untuk masjid nanti akan muat untuk 1.000 jamaah,” jelasnya.

Dia juga menambahkan telah membangun lift untuk para orang tua, difabel maupun yang sedang sakit. Agar semua orang bisa melakukan ibadah di masjid Suciati.

“Untuk Ramadhan, kita juga sudah siapkan pasar Ramadhan, agar warga bisa berjualan dan memanfaatkannya nantinya. Ini semua adalah bentuk kepedulian ibu Suciati terhadap sesamanya,” jelasnya.

Hati-hati, 8 Kebiasaan Ini Menolak Datangnya Rezeki

Allah SWT telah menjamin setiap umatnya atas rezeki yang ia dapatkan setiap saatnya. Setiap insan telah memiliki takaran rezekinya masing-masing. Bahkan seekor cicak di dinding dan cacing di bawah tanah pun telah mempunyai rezekinya masing-masing.

Apalagi seorang manusia yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dengan akal dan pikiran yang dimilikinya.

Tentulah Allah SWT telah membuka pintu rezeki-Nya. Tinggal bagaimana manusia tersebut mampu mencari kunci untuk membuka pintu-pintu rezeki tersebut.

Namun ternyata, ada beberapa hal kebiasaan sehari-hari manusia yang tidak disadari jusrtu dapat menyebabkan ditolaknya rezeki. Inilah kebiasaan-kebiasaan manusia yang disinyalir dapat memboikot pintu rezekinya dilansir dari laman Sholiha.

Kebanyakan Mengeluh
Kebiasaan kurang bersyukur menyebabkan banyak keluhan-keluhan terucap atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Hal tersebut tentu menghambat datangnya rezeki.

Materialistis Alias Matre
Kebiasaan bersikap matre dapat membuat manusia mendewakan harta di atas segala-galanya. Hal ini tentu saja bisa menjerumuskan manusia tersebut pada syirik, dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT

Makan Makanan Haram
Ternyata mengonsumsi makanan haram tersebut bisa menjadi salah satu kebiasaan yang tanpa disadari dapat menolak rezeki dari Allah Allah SWT. tubuh yang tumbuh dengan makanan haram, maka tidak akan malu untuk melakukan perbuatan yang diharamkan pula ketika mencari rezeki.

Dengan kesibukan mereka berfokus kepada dunia, membuat mereka lupa menabung amalan kebaikan untuk di akhirat kelak.

Padahal kebiasaan yang demikian ini menjadi salah satu hal yang tanpa disadari bisa menolak rezeki. Bagaimana Allah akan memberikan rezeki-Nya sementara kita tidak pernah mengingat-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya.

Tak Menjaga Badan
Kebiasaan mengabaikan kesehatan badan ini menandakan bahwa ia tidak menjaga karunia dan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Kebanyakan Gosip
Ketika bergosip, berarti orang tersebut telah menghabiskan waktu untuk mencela dan mempergunjingkan kehidupan orang lain.

Ternyata kebiasaan ini tanpa disadaari bisa menjaadi salah satu tanda bahwa kita menolak rezeki dari Allah SWT.

Penggerutu dan Suka Marah
Orang yang gemar menggerutu biasa selalu merasa tidak puas dan tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain.

Bahkan ia bisa marah-marah sepanjang waktu karena merasa tidak puas dengan kondisi yang tengah dialami.

Riya dan Suka Pamer
Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang suka memamerkan harta, benda dan amalan kebaikan yang dilakukannya. Hal ini dilakukan demi untuk mendapatkan pujian dari sesama manusia.

Ia melakukan sedekah, shalat, haji dan ibadah lainnnya semata-mata hanya untuk ditunjukkan kepada manusia. Padahal seharusnya semua perbuatan tersebut harus diniatkan untuk ditujukan kepada Allah SWT.

Itulah bebrapa kebiasaan yang tidak disadari oleh seseorang namun dianggap bisa menghambat datangnya rezeki. Meski terlihat sepele, namun kebiasaan tersebut berpengaruh besar dalam segi kehidupan.

Menyakitkan Hati, Akibat dari Maksiat (1)

MAKSIAT merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Orang yang melakukannya senantiasa tidak peduli mengenai adanya Allah SWT sebagai Tuhan yang selalu menyaksikan apa yang ia lakukan. Hingga, akibat dari sikapnya itu membuat hatinya menjadi sakit.

Hati yang lurus menjadi bengkok akibat maksiat. Hati terus merasakan sakit sehingga makanan pun tak berguna baginya, padahal makanan tersebut sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup dan kesehatan badannya. Pengaruh dosa di dalam hati sama dengan pengaruh penyakit pada badan. Bahkan dosa merupakan penyakit hati yang tiada obatnya melainkan dengan meninggalkan dosa itu sendiri.

Orang-orang yang meniti jalan menuju ridha Allah telah sepakat, bahwa hati tidak akan menghasilkan cita-citanya kecuali ia telah sampai kepada Tuhan yang menguasainya. Ia tidak akan sampai kepada Tuhan yang menguasainya, kecuali ia dalam keadaan sehat dan selamat. Dan ia tidak akan sehat dan selamat kecuali penyakitnya telah dimusnahkan.

Adapun penyakit hati adalah nafsu. Dan mengobati nafsu tidak akan berhasil kecuali dengan cara tidak menuruti ajakan nafsu tersebut. Karena menuruti ajakan hawa nafsu tersebut adalah penyakit hati, sedangkan obat penawarnya adalah tidak menuruti ajakannya.

Jika penyakit itu telah berakar di hati, maka hal itu akan menyebabkan dia berada di antara mati dan hidup. Barangsiapa dapat menahan diri dari ajakan nafsunya, maka surga-lah tempatnya kelak. Demikian pula hatinya di dunia ini juga akan mendapatkan surga.

Sudah barang tentu kenikmatan di dunia berbeda dengan kenikmatan yang ada di surga. Tapi, kenikmatan yang ada di dunia dan di akhirat saling berkaitan. Masalah ini memang sesuatu yang tidak bisa diterima akal kecuali bagi orang yang hatinya telah merasakan kedua nikmat tersebut.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka,” (QS. Al-Infithar: 13-14).

Anda jangan menyangka hal itu terbatas pada kenikmatan dan siksa di akhirat saja, tetapi kenikmatan dan siksa itu akan mereka rasakan di ketiga alam, yakni alam dunia, barzah dan akhirat. Sehingga, sebagian mereka ada yang mendapatkan kenikmatan dan ada pula yang mendapatkan siksa.

Apakah kenikmatan itu hanya kenikmatan hati saja? Dan adakah siksa yang lebih dahsyat dari ketakutan, kegundahan dan kesusahan, dada yang sempit, berpalingnya seseorang dari Allah dan akhirat serta ketergantungan seseorang kepada selain Allah dan putusnya hubungan dengan-Nya? Ketahuilah, setiap orang yang tergantung dan cinta kepada selain Allah, maka Allah akan menimpakan siksa yang sangat buruk kepadanya.

Setiap orang yang mencintai sesuatu bukan karena Allah, maka di dunia ini akan diberikan siksa tiga kali. Pertama, ia akan disiksa sebelum memperoleh sesuatu yang dicintai tadi sampai ia memperolehnya. Kedua, jika barang tersebut telah ia dapatkan, pada saat itu ia akan disiksa dengan rasa khawatir bila barang tersebut lenyap dari tangannya, maka semakin bertambahlah penderitaannya. Ketiga, penderitaan inilah yang ia derita di dunia ini.

Adapun azab di alam barzah adalah suatu azab yang menyertai sakitnya perpisahan yang tidak mungkin dapat kembali lagi. Sakitnya tidak mendapatkan banyak kenikmatan yang disebabkan kesibukannya melakukan kemaksiatan.

Senang Sih, Tapi Ahmad Dhani Ternyata Tak Mengetahui Alasan Mulan Jameela Berhijab

BELUM lama ni, penyanyi Mulan Jameela (38) memutuskan diri untuk berhijab. Ia pun menggunakan pakaian tertutup.

Keputusan bekas anggota grup vokal Ratu itu untuk berhijab diketahui setelah ibu lima anak itu bersama sang suami, musisi Ahmad Dhani (46), pulang dari Yerussalem.

Dhani yang ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2018) lalu mengaku sangat senang.

Bahkan, pentolan grup Dewa 19 itu mendukung penuh langkah Mulan yang berhijab dan kemungkinan akan berhijrah, layaknya beberapa selebritis tanah air belakangan ini.

Dhani menjelaskan bahwa berhijabnya Mulan, membuatnya merasa lega dan membukakan pintunya untuik mengarah ke tempat yang tepat di akhirat nanti.

“Yah Mulan berhijab, selain karena diri sendiri, karena memang keluarganya berhijab. Jadi insya Allah lah,” ungkapnya.

Selain karena keluarga, Dhani pun mengaku dirinya tidak mengetahui apakah Mulan mendapatkan hidayah untuk berhijab atau karenal hal lain.

“Saya ngga tau sih kenapa dia pakai hijab,” ujar Ahmad Dhani.

“Soal Mulan hijab, kalau cantik iya. Saya selalu bilang, dia kalau pakai hijab memang terlihat lebih cantik,” kata Ahmad Dhani.

Melihat sang istri berhijab, selain menganggap Mulan lebih cantik, bekas suami musisi dan penyanyi Maia Estianty itu mengungkapkan bahwa Mulan semakin memesona.

“Pastinya makin sayang dong, namanya juga istri,” ucapnya.