Muslimah Suka Memanjangkan Kuku? Hati-hati, Begini Dampak Menakutkannya…

Di zaman sekarang ini, kita sering melihat banyak wanita yang suka memanjangkan kuku. Mereka suka menyerupakan dirinya dengan hewan-hewan buas, dengan memanjangkan kuku kemudian mereka mengecatnya dengan cat-cat kuku berwarna norak.

Sebagian dari mereka beralasan, karena kuku yang panjang bisa menambah kecantikan. Lantas Bagaimana Hukum Memanjangkan Kuku Bagi Wanita Menurut Islam?

Perlu diketahui, bahwa Islam adalah agama yang sangat mencintai kebersihan. Kebersihan pada kuku pun diperhatikan oleh Islam.

Hal ini tampak dari beberapa hadits nabawi, salah satunya riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, vahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Ada lima macam fitrah , yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)

Jika kuku yang kita miliki tidak bersih, maka makan pun jadi tidak bersih dikarenakan kotoran yang menempel di bawah kuku. Karenanya memanjangkan kuku itu menentang fitrah dan menyelisihi ajaran syariat.

Riwayat lain dari Al Baihaqi dan Ath Thabrani bahwa Abu Ayyub Al-Azdi berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَأَلَهُ عَنْ خَبَرِ السَّمَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« يَسْأَلُ أَحَدُكُمْ عَنْ خَبَرِ السَّمَاءِ ، وَهُوَ يَدَعُ أَظْفَارَهُ كَأَظْفَارِ الطَّيْرِ يَجْمَعُ فِيهَا الْجَنَابَةُ وَالتَّفَثُ ». لَفْظُ الأَسْفَاطِىِّ هَكَذَا رَوَاهُ جَمَاعَةٌ عَنْ قُرَيْشٍ.

“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bertanya pada beliau mengenai berita langit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Ada salah seorang di antara kalian bertanya mengenai berita langit sedangkan kuku-kukunya panjang seperti cakar burung di mana ia mengumpulkan janabah dan kotoran.”

Hukum Memanjangkan Kuku Bagi Wanita maupun Pria adalah makruh menurut kebanyakan ulama. Namun jika memanjangkannya atau membiarkan kuku tersebut panjang selama lebih dari 40 hari, maka hal ini diharamkan.

Pendapat yang mengatakan haram ini dipilih oleh Imam Syaukani dalam Nailul Author. Dalil pembatasan 40 hari untuk batas waktu memotong kuku adalah perkataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dibawah ini.
وُقِّتَ لَنَا فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَنَتْفِ الإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketika, mencukur bulu kemaluan, yaitu itu semua tidak dibiarkan lebih dari 40 malam.” (HR. Muslim no. 258).

Yang dimaksud hadits diatas adalah jangan sampai kuku dan rambut-rambut atau bulu-bulu yang disebut dalam hadits dibiarkan panjang lebih dari 40 hari. (Syarh Shahih Muslim, 3: 133).

Jika ada wanita muslimah yang terlihat kuku panjangnya selalu tampak bersih, itu karena ia rajin membersihkannya.

Dan hal ini tentu saja membutuhkan waktu ekstra dan mengeluarkan biaya lebih untuk perawatan manicure, pedicure dan sebagainya.

Hal seperti ini merupakan salah satu sikap mubadzir yang sangat dilarang oleh Islam. Karena bisa menyita banyak waktu dan menyedot uang untuk hal-hal yang tidak berguna.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,
وأما التوقيت في تقليم الاظفار فهو معتبر بطولها: فمتى طالت قلمها ويختلف ذلك باختلاف الاشخاص والاحوال: وكذا الضابط في قص الشارب ونتف الابط وحلق العانة

“Adapun batasan waktu memotong kuku, maka dilihat dari panjangnya kuku tersebut. Ketika telah panjang, maka dipotong. Ini berbeda satu orang dan lainnya, juga dilihat dari kondisi. Hal ini jugalah yang jadi standar dalam menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencabut bulu kemaluan.” (Al Majmu’, 1: 158).

Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berkata bahwa memotong kuku, mencukur bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak disunnahkan di hari Jumat.

Kuku yang tidak bersih bisa membawa dampak masalah. Apa masalahnya? Imam Nawawi menjelaskan,

“Seandainya di bawah kuku ada kotoran namun masih membuat air mengenai anggota wudhu karena kotorannya hanyalah secuil, wudhunya tetaplah sah.

Namun jika kotoran tersebut menghalangi kulit terkena air, maka wudhunya jadilah tidak sah dan tidak bisa menghilangkan hadats.”

Selain itu, Kuku yang panjang juga bisa menjadi sarang setan dan tempat persembunyian mereka. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendeklah) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (dengan sihir, rayuan, dan godaan melalui) kuku-kuku yang panjang. ” (HR. Ahmad)

Dari hadits di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa secara tidak langsung Rasulullah menganjurkan pada umatnya baik laki-laki maupun perempuan untuk memotong kuku-kuku nya dan juga melarang untuk memanjangkannya (karena itu mudah untuk digoda setan).

Sumber: curhatmuslimah.com

Belum Bayar Hutang Puasa Tahun Lalu, Begini Cara Membayarnya

Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“… barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” (QS. al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,

“Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban.” (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146).

Berikut Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan Tahun Lalu dikutip dariviaberita.com:

Waktu Membayar Hutang Puasa

Waktu pembayaran utang (qadha’) puasa Ramadhan terbentang luas selama 11 bulan, terhitung mulai Syawal hingga Sya’ban, sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya. Jadi, kita boleh membayar utang puasa kapan saja dari 11 bulan tersebut.

Tapi keluasan waktu ini hanya berlaku bagi yang meninggalkan puasa karena ada udzur syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syari’at), semisal haid, nifas, sakit, musafir, dan sebagainya.

Namun bagi mereka yang meninggalkan puasa tanpa ada alasan yang bisa diterima oleh syari’at (tanpa ada udzur syar’i), semisal karena malas, maka mereka wajib meng-qadha’nya sesegera mungkin (mubadarah) hingga tertunaikan semua utang puasanya.

Walaupun waktu qadha’ puasa sangat luas, namun kita tetap disunnahkan agar bersegera membayarnya agar segera pula kita terbebas dari utang-utang tersebut.

Tentunya qadha’ puasa tidak boleh dilakukan pada hari-hari terlarang, yakni pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan pada tiga hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13, Dzulhijjah).

Apakah Cara Membayar Hutang Puasa Harus Berurutan
Membayar Hutang puasa boleh dilaksanakan secara berkelanjutan atau berurut-turut, dan boleh pula dilaksanakan secara terpisah-pisah. Jadi, pembayaran utang puasa tidak wajib dibayar secara berurut-urut.

Hukum Menunda Waktu Pembayaran Hutang Puasa
Waktu pembayaran hutang puasa sangat luas, tetapi anehnya masih saja ada yang menyepelekannya/tidak mengindahkannya sehingga kesempatan yang panjang itu disia-siakan begitu saja.

Menanggapi hal ini, para ulama bersepakat bahwa orang semacam ini benar-benar keterlaluan dan dihukumi berdosa karena dia menggampangkan/meremehkan (tasahul) terhadap hukum Allah swt.

Kewajiban yang harus ditunaikannya adalah:

  1. Beristighfar dan bertaubat atas kelalaiannya menunda-nunda pembayaran utang puasa.
  2. Membayar qadha’ puasanya setelah Ramadhan.
  3. Membayar fidyah sebagai sanksi atas sikap tasahul-nya, yakni berupa penyerahan bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (satuan tradisional
  4. Arab, kira-kira sama dengan 6 ons dalam satuan metrik) kepada fakir-miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.
  5. Ini menurut pendapat mayoritas ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Sementara menurut ulama-ulama Hanafiyah, membayar fidyah karena tasahul menunda qadha’ puasa tidaklah wajib.

Cara Membayar Fidiyah

Membayar fidyah memang ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin.

Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi‘i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW.

Yang dimaksud dengan mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa.

Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung.

Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter.

Siapa yang Membayar Fidiyah

  1. Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.
  2. Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.
  3. Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu.
  4. Orang yang menunda kewajiban mengqadha‘ puasa Ramadhan tanpa uzur syar‘i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha‘nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama.
  5. Jika Jumlah Hari Hutang Puasa Tidak Diiketahui, Bagaimana?
  6. Hal ini bisa saja terjadi pada wali yang ingin menggantikan puasa orang tuanya yang telah meninggal atau pada kita sendiri yang mungkin karena sudah terlalu lama tidak membayarnya jadi lupa berapa jumlah hari puasa yang telah ditinggalkan.

Nah untuk ini kita bisa melakukan persamaan pada saat melakukan shalat dan kita lupa, maka agama mengajarkan sebaiknya memilih angka yang lebih sedikit atau yang paling maksimum.

Misalnya saja kita lupa apakah punya hutang puasa ramadhan 5 hari atau 7 hari, maka solusinya adalah memilih yang 7 hari tersebu.

Karena dengan demikian kita lebih berhati-hati pada kewajiban puasa ramadhan yang telah ditinggalkan dan kalau pun ternyata sebenarnya hanya 5 hari maka otomatis ia akan bernilai sebagai puasa sunnah.

Sumber: benankmerah.co

Belum Bayar Hutang Puasa Tahun Lalu, Begini Cara Membayarnya

Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“… barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” (QS. al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,

“Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban.” (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146).

Waktu Membayar Hutang Puasa

Waktu pembayaran utang (qadha’) puasa Ramadhan terbentang luas selama 11 bulan, terhitung mulai Syawal hingga Sya’ban, sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya. Jadi, kita boleh membayar utang puasa kapan saja dari 11 bulan tersebut.

Tapi keluasan waktu ini hanya berlaku bagi yang meninggalkan puasa karena ada udzur syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syari’at), semisal haid, nifas, sakit, musafir, dan sebagainya.

Namun bagi mereka yang meninggalkan puasa tanpa ada alasan yang bisa diterima oleh syari’at (tanpa ada udzur syar’i), semisal karena malas, maka mereka wajib meng-qadha’nya sesegera mungkin (mubadarah) hingga tertunaikan semua utang puasanya.

Walaupun waktu qadha’ puasa sangat luas, namun kita tetap disunnahkan agar bersegera membayarnya agar segera pula kita terbebas dari utang-utang tersebut.

Tentunya qadha’ puasa tidak boleh dilakukan pada hari-hari terlarang, yakni pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan pada tiga hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13, Dzulhijjah).

Apakah Cara Membayar Hutang Puasa Harus Berurutan
Membayar Hutang puasa boleh dilaksanakan secara berkelanjutan atau berurut-turut, dan boleh pula dilaksanakan secara terpisah-pisah. Jadi, pembayaran utang puasa tidak wajib dibayar secara berurut-urut.

Hukum Menunda Waktu Pembayaran Hutang Puasa
Waktu pembayaran hutang puasa sangat luas, tetapi anehnya masih saja ada yang menyepelekannya/tidak mengindahkannya sehingga kesempatan yang panjang itu disia-siakan begitu saja.

Menanggapi hal ini, para ulama bersepakat bahwa orang semacam ini benar-benar keterlaluan dan dihukumi berdosa karena dia menggampangkan/meremehkan (tasahul) terhadap hukum Allah swt.

Kewajiban yang harus ditunaikannya adalah:

  • Beristighfar dan bertaubat atas kelalaiannya menunda-nunda pembayaran utang puasa.
  • Membayar qadha’ puasanya setelah Ramadhan.
  • Membayar fidyah sebagai sanksi atas sikap tasahul-nya, yakni berupa penyerahan bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (satuan tradisional Arab, kira-kira sama dengan 6 ons dalam satuan metrik) kepada fakir-miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.

Ini menurut pendapat mayoritas ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Sementara menurut ulama-ulama Hanafiyah, membayar fidyah karena tasahul menunda qadha’ puasa tidaklah wajib.

Cara Membayar Fidiyah
Membayar fidyah memang ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin.

Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi‘i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW.

Yang dimaksud dengan mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa.

Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung.

Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter.

Siapa yang Membayar Fidiyah

  • Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.
  • Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.
  • Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu.
  • Orang yang menunda kewajiban mengqadha‘ puasa Ramadhan tanpa uzur syar‘i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha‘nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama.

Jika Jumlah Hari Hutang Puasa Tidak Diiketahui, Bagaimana?
Hal ini bisa saja terjadi pada wali yang ingin menggantikan puasa orang tuanya yang telah meninggal atau pada kita sendiri yang mungkin karena sudah terlalu lama tidak membayarnya jadi lupa berapa jumlah hari puasa yang telah ditinggalkan.

Nah untuk ini kita bisa melakukan persamaan pada saat melakukan shalat dan kita lupa, maka agama mengajarkan sebaiknya memilih angka yang lebih sedikit atau yang paling maksimum.

Misalnya saja kita lupa apakah punya hutang puasa ramadhan 5 hari atau 7 hari, maka solusinya adalah memilih yang 7 hari tersebu.

Karena dengan demikian kita lebih berhati-hati pada kewajiban puasa ramadhan yang telah ditinggalkan dan kalau pun ternyata sebenarnya hanya 5 hari maka otomatis ia akan bernilai sebagai puasa sunnah.

Bolehkah Memegang Al-Qur’an Terjemah Tanpa Berwudhu’?

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, dan juga kitab suci umat Islam yang menjadi pegangan dalam kehidupan beragama.

Bahkan Al-Qur’an akan memberikan syafaat di akhirat nanti bagi siapapun yang selalu membacanya. Selain itu, banyak juga rahasia-rahasia yang terkandung didalam Al-Qur’an yang akan selalu abadi.

Oleh karena itu setiap muslim harus meyakini kesucian Al-Quran yang merupakan Kalamullah, serta keagungannya dan keutamaannya di atas segalanya. Karena Al-Quran adalah Kalamullah yang suci, memegangnya pun diharuskan dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar. Sebagaimana firman Allah SWT:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Begitu juga dengan sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak;

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ
“Tidak boleh menyentuh Al–Quran kecuali engkau dalam keadaan suci.”

Adapun yang dimaksud dengan menyentuh Mushaf oleh mayoritas ulama adalah menyentuhnya dengan bagian telapak tangan maupun tubuh lainnya.

Lalu bagaimanakah jika mushaf atau Al-Quran tersebut berupa terjemahan, apakah menyentuhnya harus dalam keadaan suci dari hadats?

Mengingat Al-Quran saat ini telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa yang ada di dunia, salah satunya adalah bahasa Indonesia.

Dalam hal ini, Ulama berbeda pendapat, apakah Al-Quran terjemahan merupakan mushaf dan wajib dalam keadaan suci (berwudhu) ketika memegangnya, atau sebaliknya.

Sayyid Al-Alawi Ibnu Sayyid Al-Abbas dalam kitabnya Faidhul al-Khabir (halaman 23 dan 26) menjelaskan bahwasanya terjemah secara bahasa adalah berarti memindah.

Sedang terjemah secara istilah ada dua pengertian yaitu: Terjemah Ma’nawiyah Tafsiriyah, yakni mengurai dan menjelaskan sebuah ucapan dengan menggunakan bahasa yang lain tanpa terikat dengan susunan huruf dan tetap menjaga naskah yang asli dengan runtutannya, dan Terjemah Harfiyah, yakni mengganti kata yang asli dengan kata lain yang memiliki arti sama dengan bahasa yang berbeda.

Maka terjemah semacam ini tidak merubah arti yang asli. Karena perubahan hanya pada rangkaiannya dengan merubah dari satu bahasa ke bahasa yang lain.

Sayyid Al Alawi Ibnu Sayyid Al Abbas juga menyatakan bahwa hukum Al-Quran yang diterjemahkan dengan terjemah Ma’nawiyah Tafsiriyah adalah sebagaimana tafsir. Maka hukum menyentuh dan memegangnya dalam keadaan tidak memiliki wudhu adalah boleh.

Adapun menurut Syekh Nawawi Al-Bantany Al-Jawi, salah satu Ulama Nusantara yang kealimannya di akui oleh dunia, dalam kitabnya Nihayah Al-Zain mengatakan bahwa terjemah Al-Quran yang ditulis dibawah garis adalah tidak dihukumi seperti tafsir dan hukum yang belaku adalah hukum mushaf.

Maka haram menyentuh dan membawanya dalam kondisi tidak memiliki wudhu. Hal ini sebagaimana telah difatwakan oleh Sayyid Achmad Dahlan.

Bahkan sebagian Ulama menyatakan bahwasanya penulisan terjemah Al-Quran adalah haram secara mutlak, baik ditulis dibawah garis atau tidak.

Maka dari itu, seyogyanya setelah penulisan Al-Quran, dituliskan juga tafsirnya lalu dituliskan terjemah dari tafsir tersebut.

Jika itu yang terjadi, maka hukum yang berlaku adalah hukum tafsir. Sedangkan hukum menyentuh dan membawa tafsir bagi orang yang tidak memiliki wudhu adalah makruh, jika jumlah huruf tafsir lebih banyak daripada huruf Al-Quran.

Namun, jika huruf tafsir tidak lebih banyak (lebih sedikit atau sama) dari Al-Quran, maka hukumnya adalah haram, sebagaimana dipaparkan oleh Imam Abdurrahman Ibnu Muhammad Ibnu Husain Ibnu ‘Amr Ba’alawi didalam kitabnya Bughyah Al-Mustarsyidin.

Jadi kesimpulannya, hukumnya boleh memegang atau menyentuh terjemahan Al-Quran tanpa wudhu, apabila terjemah Al-Qur’an tersebut merupakan terjemah Ma’nawiyah Tafsiriyah, dengan syarat huruf terjemahnya lebih banyak daripada huruf Al-Qur’an. Namun, ada sebagian Ulama yang menyatakan makruh.

Namun apabila huruf terjemah tidak lebih banyak (lebih sedikit atau sama) dari Al-Quran, maka hukumnya adalah haram memegangnya tanpa mempunyai wudhu.

Dan apabila terjemah Al-Qur’an tersebut merupakan terjemah Harfiyah, maka hukum menyentuh dan memegangnya dalam keadaan tidak memiliki wudhu juga haram.

Puasa Tidak Diterima Jika Belum Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan?

Di zaman yang serba broadcast seperti sekarang ini, mungkin banyak di antara kita yang pernah mendapat broadcast hadits berikut ini menjelang datangnya bulan Ramadhan,

“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut, dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan, “Ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril adalah, “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

  1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
  2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri
  3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata hadits tersebut tidak jelas asal-usulnya.

Ya. Hadits yang menyebutkan bahwa puasa kita tidak akan diterima ketika kita tidak bermaaf-maafan adalah hadits yang bisa jadi disebarkan oleh pembuat hadits yang ingatannya rusak, sehingga makna hadits berubah.

Atau hadits tersebut dikait-kaitkan dengan tradisi yang biasa dilakukan sebelum bulan Ramadhan.

Artinya, bukan berarti puasa kita akan sia-sia ketika kita belum bermaaf-maafan. Tetapi, bukan berarti juga kita lantas menyepelekan proses bermaaf-maafan ini. Rasulullah bersabda,

“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi,” (HR. Bukhari, no. 2449).

Baik itu akan masuk bulan Ramadhan atau tidak, dalam hadits tersebut disebutkan bahwa meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan, paling baik dilakukan dengan segera, kenapa?

Karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Ketika kita belum meminta maaf atas kezaliman yang kita lakukan pada orang lain dan ajal sudah menjemput.

Memaafkan kesalahan orang lain adalah amalan yang mulia. Allah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain, seperti dalam firman Allah,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh,” (QS. al-A’raf: 199).

Orang-orang memanfaatkan momen sebelum Ramadhan untuk bermaaf-maafan, mungkin karena berpikir bahwa Ramadhan adalah bulan suci, bulan untuk mensucikan diri dari dosa-dosa, termasuk dosa dan kesalahan pada teman atau keluarga.

Akan tetapi, mengatakan bahwa bermaaf-maafan adalah syarat agar puasa diterima tidaklah benar.

Seperti hal nya ibadah-ibadah yang lain, puasa kita di bulan Ramadhan akan diterima oleh Allah, ketika terpenuhi dua syarat, yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Katsir pernah membahas tafsir surat Al Lail dan mengatakan,

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 583).

Nah, salah satu pertanda amalan puasa di bulan Ramadhan diterima oleh Allah adalah kita menjadi lebih baik setelah Ramadhan atau minimal menjaga kebaikan yang sudah dilakukan. Jika tanda puasa kita tidak diterima yaitu sebaliknya.

Awal Ramadhan atau Bulan Puasa 2018 Versi Muhammadiyah, PBNU & Kemenag, Niat Berbuka dan Sahur

Sebentar lagi, seluruh umat Islam di dunia akan menyambut Ramadhan. Kendati demikian, penentuan awal Ramadhan di Indonesia baru mencapai tahap pembahasan.

Menilik dari tahun sebelumnya, Muhammadiyah biasanya cenderung menetapkan Ramadhan satu hari lebih awal dibandingkan pemerintah dan NU.

Tahun ini, Muhammadiyah melalui Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sudah terlebih dahulu menetapkan awal Ramadhan 1439 H atau Puasa 2018 jatuh pada Kamis, 17 Mei 2018.

Hal ini disampaikan melalui keterangan resmi yang diterima Tribunnews.com beberapa waktu lalu. Awal Ramadhan 1439 H.

“Ijtima’ akhir bulan Sya’ban terjadi pada Selasa Kliwon, 29 Sya’ban 1439 H – 15 Mei 2018 pukul 18.50′.28″ WIB.

Tinggi Hilal di Yogyakarta (saat terbenam Matahari) : -00°, 02′, 50″ (Hilal belum wujud),” tulis pernyataan tersebut.

“1 Ramadhan 1439 H jatuh Kamis Pahing, 17 Mei 2018,” bunyi keterangan tersebut.

Sementara itu, awal puasa versi pemerintah dan NU baru akan ditentukan melalui Sidang Isbat yang digelar Selasa (15/5/2018) sore ini.

Kementerian Agama akan menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menetapkan awal bulan ramadhan 1439 H.

Rukyatul Hilal akan dilakukan di 95 titik yang tersebar di 32 Provinsi di Indonesia.

“Hasil Rukyatul Hilal dan Data Hisab Posisi Hilal awal Ramadan akan dimusyawarahkan dalam sidang isbat untuk kemudian diambil keputusan penentuan awal Ramadan 1439H,” terang Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) A Juraidi di Jakarta.

Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belum memutuskan karena menunggu sidang Isbat.

Kendati demikian, PBNU telah memprediksi penetapan Ramadhan 1439 H jatuh pada Kamis, 17 Mei 2018.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan astronomi sebagaimana tercantum dalam almanak resmi Lembaga Falakiyah PBNU.

Secara resmi, keputusan penetapan awal puasa 2018 oleh pemerintah telah diumumkan setelah shalat Maghrib oleh Menteri Agama, Lukman Hakim.

“Berdasarkan hasil sidang Isbat, 1 Ramadhan ditetapkan pada Kamis, 17 Mei 2018,” papar Lukman pada acara konferensi pers yang disiarkan secara langsung.

Antusiasme menyambut Ramadhan sudah sangat terasa.

Salah satu momen yang paling dinanti ketika Ramadhan adalah saat-saat sahur dan berbuka.

Buka puasa pun harus dijadikan momen untuk bersyukur pada Allah AWT karena diberi kelancaran menunaikan puasa selama Ramadhan.

Rasa syukur dapat diamalkan dengan melafalkan niat doa buka puasa.

Adapun doa buka puasa yang disunahkan untuk dilafalkan adalah sebagai berikut.

Doa Buka Puasa 1

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin

Artinya:
Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmat MU, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih.

Doa Buka Puasa 2

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Dzahaba-dz Dzoma’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

Artinya:
Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.

Doa Sahur
Dalam kitab-kitab hadits, tidak ada doa khusus ketika makan sahur. Pun dalam kitab-kitab fiqih terkemuka (Misalnya Fiqih Sunnah, Fiqih Islam wa Adillatuhu, Fiqih Empat Madzhab), hanya dicantumkan doa berbuka namun tidak dicantumkan doa sahur.

Dengan demikian, doa sebelum makan sahur sama dengan doa sebelum makan. Yakni:

بِسْمِ اللَّهِ
Bismillah

Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah”

Membaca basmalah ini berdasarkan hadits shahih:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala. Dan jika ia lupa, hendaklah ia membaca ‘Bismilaahi awalahu wa aakhirahu’” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Sedangkan doa yang lebih populer namun dipersoalkan keshahihannya adalah:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allohumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar

Artinya:
“Ya Allah, berkahilah untuk kami apa yang Engkau karuniakan kepada kami dan peliharalah kami dari adzab neraka” (HR. Imam Malik dalam Al Muwatha’)

Lalu, bagaimana hukum dari membaca doa sebelum berbuka puasa dan sahur? Membaca doa berbuka puasa dan sahur adalah sunnah, dan tidak ada kaitannya dengan sah atau tidaknya puasa.

Artinya, apabila dibacakan akan mendapat pahala, dan jika tidak dilakukan pun tidak apa-apa.

Namun, alangkah baiknya membaca doa berbuka puasa untuk menambah pahala, dan puasa dipenuhi keberkahan.

Ini Doa Nabi Muhammad Saat Menyambut Bulan Ramadhan

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan datang menghampiri kita. Ramadahan merupakan bulan paling mulia dan dianjurkan memperbanyak amal baik.

Umat Islam, baik laki-laki ataupun perempuan, diwajibkan puasa di siang harinya dan dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah di malam harinya.

Oleh sebab itu, pada malam Ramadhan, umat Islam meramaikan masjid dengan ibadah untuk menghidupkan malam Ramadhan.

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW sangat menunggu kedatangan Ramadhan dan mempersiapkan diri agar bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan.

Beliau juga memunajatkan doa-doa tertentu dalam rangka menyambut Ramadhan.

Atas dasar itu, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mensunnahkan membaca doa ketika melihat hilal atau mengetahui tanda awal Ramadhan:

يستحب أن يدعو عند رؤية الهلال بما رواه طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى الهلال قال اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله
Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmani was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh

Artinya, “Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.”

Doa ini dianjurkan untuk dibaca ketika melihat hilal sebagaimana dikisahkan Thalhah Ibn ‘Ubaidillah bahwa Nabi SAW saat melihat hilal membaca doa di atas.

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan masih banyak hadis lain yang menjelaskan do’a Nabi SAW ketika masuk Ramadhan atau melihat hilal.

Berdasarkan hadis tersebut, disunnahkan membaca do’a yang dilafalkan Nabi itu ketika melihat hilal Ramadhan atau setelah diumumkan bulan Ramadhan telah tiba.

Dengan membaca do’a tersebut, harapannya umur kita dipanjang oleh Allah SWT, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dalam keadaan beriman dan dikarunia kesehatan.

Wallahu a’lam

Sumber: nu.or.id

Heboh, Guru Besar ITS Terduga Afiliasi HTI Samakan Kata “Ijazah” dan “Mukjizat”

Guru Besar ITS Surabaya Daniel M Rosyid kembali bikin geger jagat media sosial. Setelah sebelumnya diduga berafiliasi HTI karena mendukung HTI, guru besar yang tidak paham Bahasa Arab namun “sok-sok an” bicara agama dan membela HTI.

Daniel dianggap tidak bisa membedakan “ijazah” dan “mu’jizat”. Daniel menyebut kata “ijazah” memiliki akar kata yang sama dengan mu’jizat. Hal ini ia ungkapankan dalam sebuah tulisannya berjudul “Meme Pembubaran HTI” yang tayang di Jawa Pos, Rabu (09/05/2018).

Daniel bilang bahwa kata “Ijazah” sama dengan kata “Mukjizat”. Ia pun berkesimpulan bahwa sarjana yang dididiknya dan mendapat ijazah bisa membuat banyak mukjizat di masyarakat.

“Saya sudah lama berkeyakinan bahwa universitas adalah lembaga yang istimewa karena memberikan gelar sarjana bahkan doktor. Lembaga lain tidak punya hak semacam itu. Gelar itu disebutkan ijazah. Ijazah ini kosa kata Arab yang memilik akar kata yang sama dengan mukjizat. Setiap sarjana yang kami didik di ITS diharapkan dapat membuat banyak mukjizat bagi masyarakatnya,” tulis Daniel.

Penyamaan dua kata tersebut mendapat respon dari masyarakat di dunia maya. Salah satunya dari Rois Syuriah PCI NU Australia New-Zeland Nadirsyah Hosen.

“Ini klarifkasi Guru Besar ITS yg meme nya beredar luas. Beliau Profesor bidang Teknologi Kelautan. Sayangnya, beliau bilang ijazah dan mukjizat memiliki akar kata yg sama dlm bahasa Arab. Mari kita tanya yg ahli bahasa Arab: apa benar اجازة dan معجزة itu dari kata yg sama?” tulis Gus Nadir di akun Twitternya.

“Gaya kemeruh sang prof di bidang agama yg jauh dari keahliannya memiliki pattern yg serupa dg sejumlah orang dari golongan muslim tertentu …” tulis akun bernama A Fatih Syuhud.

Akun bernama Pasca H Winanda bermaksud membela dengan mengatakan kesalagan kecil. Namun, langsung dibantah oleh akun bernama Hardi Ahmad.

“Kesalahan kecil? Wah bahaya Pak, kalau berpendapat kalau ini kesalahan kecil. Astaghfirullaah. Beliau dianggap guru besar (bukan agama), kalau membahas yang begitu mbok tanya ahlinya. Persis kalau Gus @na_dirs membahas tentang kelautan dan fatal bahasannya karena bukan disiplinnya. Maaf,” tulis Hadi.

Bagaimana sebenarnya?

Kedua kata tersebut memang kosakata bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ijazah maknanya ‘surat tanda tamat belajar; sijil’; dan ‘izin yang diberikan oleh guru kepada muridnya untuk mengajarkan ilmu yang diperoleh si murid dari gurunya’. Sedangkan kata mukjizat dalam KBBI maknanya kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia’.

Kata mu’jizah berasal dari akar kata ‘a-j-z (عجز). Menurut Ibn Faris memiliki dua makna etimologis; (1) lemah dan (2) bagian akhir. Makna etimologis kata mu’jizah (معجزة) kembali pada makna yang pertama. Karena mu’jizah (معجزة) merupakan bentuk derivasi dari a’jaza (أعجز) yang berarti ‘melemahkan’.

Kata ijazah dalam KBBI menyerap kata bahasa Arab ijāzah (إجازة). Kata bahasa Arab ini berasal dari akar j-w-z (جوز). Menurut Ibn Faris, akar kata tersebut memiliki tiga makna etimologis; (1) memotong; (2) berada di pertengahan; dan (3) berjalan. Menurut Ibn Faris, kata ijāzah masuk dalam kategori makna etimologis yang ketiga. Ibn Faris menafsirkan kata ajāza (أجاز), bentuk verba dari ijāzah (إجازة), dengan nafadza (نفذ) yang berarti ‘memberikan jalan’ (Kamus Maqayisul Lughah).

Sama atau beda?

Astagfirullah! Maaher Thuwailibi Sebut Polisi ‘Monyet Berseragam Bencong’

Belum sehari berlalu, kerusuhan di Mako Brimob Depok, Selasa (08/05/2018) beragam komentar, spekulasi, hinaan, bahkan fitnah berhamburan di media sosial. Bukannya berbela sungkawa atas gugurnya sejumlah petugas karena bejatnya tahanan teroris, ada seorang ustadz yang justru berkomentar nyinyir.

Ustadz Maaher At-Thuwalibi melalui tulisannya di Facebook tampak mendukung ISIS dan menyebut polisi dengan sebutan “Monyet Seragam Bencong”.

Memang dia tak mengatakan secara jelas menghina polisi dan mendukung kelompok teroris. Namun, publik akan mengerti bahwa maksud tulisan statusnya ditujukkan untuk insiden yang terjadi di Mako Brimob Depok.

“Info Hangat Yang Viral Di ‘Alam Ghaib’ Sejak Tadi Malam,” demikian Ustadz Maheer memberi judul tulisan yang hanya 4 paragraf tersebut.

“Terjadi pertempuran hebat antara sejumlah pasukan menyerupai pahlawan melawan gerombolan monyet berseragam bencong yang dianggap “mujtahid” oleh “mufti” tower cileungsi. Antara pasukan mirip pahlawan dan gerombolan monyet berseragam bencong itu terjadi baku hantam dan rebutan “bambu runcing”,” katanya kemudian.

Ustad Maher mengatakan, satu orang diantara pasukan berjubahkan pahlawan dari bumi lancang kuning gugur dijemput makhluk surgawi ke alam keabadian abadi. Sementara ada 16 ekor monyet yang katanya berseragam bencong dikabarkan tewas mengenaskan.

Dia kemudian bersyukur, dan peristiwa yang diceritakannya itu dikaitkan dengan pesta demokrasi yang diduga pula olehnya sebagai settingan.

“Walhamdulillah, walaupun banyak diantara media bencong mengabarkan tidak ada korban dan hanya “sekedar luka”. Hakikat berita ini, Allahu a’lam. Apakah fakta ini benar dan real adanya, ataukah settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan, ataukah ada kaitannya dengan anjloknya nilai harta berharga di negeri boneka. Wallahu ‘Aliimu A’lam,” tulisnya.

Ucapan syukur yang tanpak ditujukkan karena meninggal sejumlah petugas kepolisian diungkapkan lagi di paragraf ketiga. Bahkan ia menyebut kehidupan monyet-monyet hanya akan melahirkan malapetaka dan bahaya bagi peradaban dunia.

“Yang pasti, saya hari ini turut senang dan gembira. Wallahi saya sangat senang. Minimal, berkuranglah populasi monyet berseragam bencong di negeri ini yang eksistensinya hanya menjadi malapetaka dan marabahaya untuk kehidupan manusia dan peradaban dunia,” katanya.

Selanjutnya, Ustad Maheer menegaskan, jika memang benar kerjadian (Mako Brimob) yang disebutnya peperangan antara mujahid dan pasukan moyet, ia lantas mengajak bergembira. Sebaliknya, jika tidak bergembira disebut dia sebagai orang munafiq.

“Jika berita bahwa pasukan monyet berseragam bencong tewas ini adalah benar dan real adanya (yakni bukan permainan atau settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan), lalu ada orang yang tidak gembira dengan kenyataan ini, maka ketahuilah dia MUNAFIQ! Walaupun tentunya bisa jadi mereka akan lebih brutal dari zaman pemerintahan “raja-berkharisma” sebelum ‘negeri seribu satu sampah’ dipimpin boneka kayu peliharaan si tua bangka,” ujarnya.

Berdasarkan pantaun, tulisan Ustad Maaher sudah tidak bisa dilihat. Namun, screnshoot tulisannya sudah beredar di grup-grup, baik WatsApp maupun Grup Facebook.

Untuk lebih jelas, berikut ini tulisan lengkap Ustad yang pernah menuduh Ketum PBNU Kiai Said sebagai ahli bid’ah tersebut.

INFO HANGAT YANG VIRAL DI ‘ALAM GHAIB’ SEJAK TADI MALAM

Terjadi pertempuran hebat antara sejumlah pasukan menyerupai pahlawan melawan gerombolan monyet berseragam bencong yang dianggap “mujtahid” oleh “mufti” tower cileungsi. Antara pasukan mirip pahlawan dan gerombolan monyet berseragam bencong itu terjadi baku hantam dan rebutan “bambu runcing”.

Kabar sementara yang beredar, satu orang diantara pasukan berjubahkan pahlawan dari bumi lancang kuning gugur dijemput makhluk surgawi ke alam keabadian abadi. 16 ekor monyet berseragam bencong dikabarkan tewas mengenaskan – walhamdulillah-. Walaupun banyak diantara media bencong mengabarkan tidak ada korban dan hanya “sekedar luka”. Hakikat berita ini, Allahu a’lam. Apakah fakta ini benar dan real adanya, ataukah settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan, ataukah ada kaitannya dengan anjloknya nilai harta berharga di negeri boneka. Wallahu ‘Aliimu A’lam.

Yang pasti, saya hari ini turut senang dan gembira. Wallahi saya sangat senang. Minimal, berkuranglah populasi monyet berseragam bencong di negeri ini yang eksistensinya hanya menjadi malapetaka dan marabahaya untuk kehidupan manusia dan peradaban dunia.

Jika berita bahwa pasukan monyet berseragam bencong tewas ini adalah benar dan real adanya (yakni bukan permainan atau settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan), lalu ada orang yang tidak gembira dengan kenyataan ini, maka ketahuilah dia MUNAFIQ! Walaupun tentunya bisa jadi mereka akan lebih brutal dari zaman pemerintahan “raja-berkharisma” sebelum ‘negeri seribu satu sampah’ dipimpin boneka kayu peliharaan si tua bangka.

Sulis Penganut Syiah? Inilah Jawaban Darinya

Seorang penggemar penyanyi Cinta Rasul Sulis menyeletuk melalui jejaring sosial atas unggahan tentang kehidupan rumah tangga Sulis. Di situ sang penggemar menyeletuk bahwa rekan duet Hadad Alwi itu penganut Syiah. Benarkah Sulis penganut Syiah?

Lulusan Psikologi Universitas Paramadina itu pun langsung menjawabnya dengan tegas pernyataan tersebut.

“Saya tidak pernah merasa mbak ini bertanya apapun kepada saya sehingga kok bisa menyimpulkan saya syiah itu dr mana?” kata Sulis pada Selasa (25/4/2018).

Sulis meminta sang warganet itu untuk hati-hati bila menilai orang, jangan sampai karena lidah salah dan merugikan orang tersebut.

“Semoga bukan bermaksud fitnah terhadap saya. Saya seorang Islam yang cinta Ibu Pertiwi tanpa bermazhab apapun. Mencintai siapa yang dicintai Nabi adalah keharusan bagi saya,” kata Sulis.

“Kalau dengan kecintaan saya terhadap sholawat lalu dikatakan sebagai seorang syiah lalu dimana keimanan kita bahwa ayat Qur’an memerintahkan kita untuk bersholawat sebagaimana yang Allah juga bersholawat pada baginda Nabi? Wallahu a’laam. Sebaiknya mbaknya tabayun terlebih dulu sebelum berbicara di media umum..salaam,” ungkap ibu satu anak ini.

Akun penanya tersebut meminta maaf dan mengaku hanya dapat info itu dari media-media. “Memang saya kurang tahu makanya saya mencari tahu dan alhamdulillah mbaknya sendiri yang balas. Saya hmpir ga percaya karena saya dari kecil ngefans banget sama mbak. Saya sempat kecewa dengar berita miring tsb. Terima kasih sudah menjelaskannya sendiri kepada saya. Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah dari fitnah-fitnag yang lain. Aamiin.”

Sulis pun menjawab, “Amiin ya Allaah Yaa Sami’addu’aa. Ini untuk pelajaran bagi saya sendiri juga. Bila kita berkomentar mengenai keyakinan orang lebih baik kita bertabayun, sehingga kita kelak tidak dituntut di akhirat. Afwan wa jazakallaah. Semoga sukses selalu untuk mbaknya,” ungkap Sulis.