Doomsday Clock, Jam yang Bisa Menandakan Jika Dunia Semakin Dekat Dengan Hari Kiamat

Hari kiamat adalah saat di mana segala sesuatu akan hancur dan manusia akan mati. Walau terkesan menakutkan, tapi itu benar adanya.

Nah, jika hari kiamat tidak ada yang tahu kapan terjadi, maka para ilmuan menetapkan Doomsday Clock.

Doomsday Clock adalah sebuah jam yang menandakan kemungkinan bahwa dunia akan menghadapi beberapa peristiwa bencana.

Bahkan para ilmuan memprediksi jam ini bisa menandakan jika dunia semakin dekat dengan hari kiamat.

Penjelasan ini dilakukan sekelompok ilmuan dari Science and Security Board dan a Board of Sponsors, termasuk 15 pemenang Nobel dalam sebuah konferensi pers internasional di AEST.

Biasanya para ilmuan bertemu dua kali dalam setahun untuk membahas peristiwa dunia yang berdampak pada keamanan global dan memutuskan apakah jam tersebut benar.

Sebab, beberapa berspekulasi jika Doomsday Clock memberitahu dunia dengan suaranya beberapa menit sebelum tengah malam.

Doomsday Clock sebenarnya tergantung di sebuah dinding kantor di The Bulletin di University of Chicago. Berikut catatan bukti yang dikumpulkan oleh para ilmuan.

Pertama, isu kenaikan nasionalisme di seluruh dunia sebelum pelantikannya pada 20 Januari. Apalagi mendengar komentar Presiden Donald Trup tentang senjata nuklir dan isu iklim.

Kedua, 17 menit sebelum tengah mala pada tahun 1991. Saat jatuhnya Tembok Berlin dan mengakhiri Perang Dingin dan penandatangan senjata strategis perjanjian.

Ketiga, pada tahun 1953. Saat Amerika Serikat dan Uni Soviet menguji perangkat nuklirnya. Jam itu waktu menentukan dua menit sebelum tengah malam.

Keempat, pada tahun 2015. Dua menit sebelum tengah malam saat global mengalami perubahan iklim akibat masalah limbah nuklir dan moderinasasi senjata nuklir.

Terakhir, tahun 1984, saat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet selama Perang Dingin.

Jam awalnya mencerminkan ancaman perang nuklir, tetapi ide yang mendukung simbol prediksi mencerminkan bahaya seperti perubahan iklim dan ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Sampat saat ini, ada 78% yang percaya, tapi 11% tidak. Sementara 11% lainnya menyesuaikan sama kejadian setelah itu.

Jadi, apakah Anda juga percaya dengan Doomsday Clock?

KH Said Aqil: Masukkan Anakmu ke Pesantren NU agar tak Jadi Teroris

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, Rabu (22/11/2017) mengisi pengajian di Podok Pesantren Nurul Quran di Desa Mertak Tombok, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di pesantren yang sejak 6 Oktober 2004 itu, Kiai Said menegaskan pentingnya anak dipondokkan atau sekolah di pondok pesantren. “Kalo anak anda tidak mau jadi teroris, paling aman masukkan dia nyantri di Pondok Pesantren NU. Di luar pesantren NU, saya tidak jamin,” demikian KH Said dalam pengajiannya.

Menurut Ketua Umum PBNU ini, semua pesantren Nahdlatul Ulama tidak ada yang mengajarkan terorisme dan kekerasan. Sebab, pesantren NU tidak hanya mengajarkan Alquran dan Hadist, tapi juga akhlakul karimah dengan sanad keilmuan yang jelas.

Terjadinya pengeboman, penyerangan polisi, dan kekerasan bernuansa agama yang marak terjadi adalah karena pemahaman keislaman dan pemahaman Alquran pelakunya yang keliru.

“Tidak cukup mempelajari Alquran dengan hanya membaca tarjamah, tapi juga harus belajar tafsir, takwil, asbabun nuzul, ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu Alquran yang lain,” tandasnya.

Karena itu, Kiai Said mengapresiasi Pesantren Nurul Quran Mertak Tombok yang memfokuskan pembelajaran Alquran untuk para santri-santrinya.

“Di sini selain menghafalkan Alquran, santri juga belajar kitab-kitab kuning, kitab tafsir, kitab hadist dan lain-lain, generasi inilah yang akan menjaga Alquran dengan dada mereka, menjadi hafidz dan ahli Alquran,” tandasnya.

Hibah Tanah untuk PBNU

Dalam kesempatan Tabligh Akbar yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Persatuan Guru NU Lombok Tengah periode 2017-2022 ini, Bupati Loteng H Suhaili, FT menyerahkan hibah berupa sebidang tanah yang akan digunakan PBNU sebagai tempat membangun Kantor Pengurus Cabang NU Lombok Tengah.

Penyerahan hibah dilakukan langsung oleh H Suhaili, FT dengan menyerahkan Sertifikat Tanah tersebut kepada KH Said Aqil di hadapan ribuah jamaah yang memadati Tabligh Akbar ini di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Besutan Qori’ Internasional H Sabarudin ini.

Hukum Menghadiahkan al-Fatihah Kepada Orang yang Telah Meninggal Menurut 4 Madzhab

Pertanyaan:
Apa hukum menghadiahkan bacaan al-Fatihah kepada mayit? Apakah pahalanya sampai?

Jawaban:
Sebelumnya kita perlu memahami bahwa ditinjau dari bentuk pengorbanan hamba, ibadah dibagi menjadi 3,

Pertama, ibadah murni badaniyah, itulah semua ibadah yang modal utamanya gerakan fisik. Seperti shalat, puasa, dzikir, adzan, membaca al-Quran, dst.

Kedua, ibadah murni maliyah. Semua ibadah yang pengorbanan utamanya harta. Seperti zakat, infaq, sedekah, dst.

Ketiga, ibadah badaniyah maliyah. Gabungan antara ibadah fisik dan harta sebagai pendukung utamanya. Seperti jihad, haji atau umrah.

Ulama sepakat bahwa semua ibadah yang bisa diwakilkan, seperti ibadah maliyah atau yang dominan maliyah, seperti sedekah, atau haji, atau ibadah yang ditegaskan bisa diwakilkan, seperti puasa, maka semua bisa dihadiahkan kepada mayit.

Imam Zakariya al-Anshari mengatakan,

وينفعه أي الميت من وارث وغيره صدقة ودعاء، بالإجماع وغيره
Sedekah atau doa baik dari ahli waris maupun yang lainnya, bisa bermanfaat bagi mayit dengan sepakat ulama. (Fathul Wahhab, 2/31).

Keterangan lain disampaikan Ibnu Qudamah,

أما الدعاء والاستغفار والصدقة وقضاء الدين وأداء الواجبات فلا نعلم فيه خلافاً إذا كانت الواجبات مما يدخله النيابة

Doa, istighfar, sedekah, melunasi utang, menunaikan kewajiban (yang belum terlaksana), bisa sampai kepada mayit. Kami tidak tahu adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, apabila kewajiban itu bisa diwakilkan. (as-Syarhul Kabir, 2/425).

Sementara itu, ulama berbeda pendapat untuk hukum mengirim pahala ibadah yang tidak bisa diwakilkan kepada mayit, seperti bacaan al-Quran. Kita akan sebutkan secara ringkas,

Pertama, madzhab hanafi

Ulama hanafiyah menegaskan bahwa mengirim pahala bacaan al-Quran kepada mayit hukum dibolehkan. Pahalanya sampai kepada mayit, dan bisa bermanfaat bagi mayit. Dalam

Imam Ibnu Abil Izz – ulama Hanafiyah – menuliskan,

إن الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة ماله له في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته. وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية
Sesungguhnya pahala adalah hak orang yang beramal. Ketika dia hibahkan pahala itu kepada saudaranya sesama muslim, tidak jadi masalah. Sebagaimana dia boleh menghibahkan hartanya kepada orang lain ketika masih hidup. Atau membebaskan tanggungan temannya muslim, yang telah meninggal.

Syariat telah menjelaskan pahala puasa bisa sampai kepada mayit, yang itu mengisyaratkan sampainya pahala bacaan al-Quran, atau ibadah badaniyah lainnya. (Syarh Aqidah Thahawiyah, 1/300).

Kedua, madzhab Malikiyah

Imam Malik menegaskan, bahwa menghadiahkan pahala amal kepada mayit hukumnya dilarang dan pahalanya tidak sampai, dan tidak bermanfaat bagi mayit. Sementara sebagian ulama malikiyah membolehkan dan pahalanya bisa bermanfaat bagi mayit.

Dalam Minah al-Jalil, al-Qarrafi membagi ibadah menjadi tiga,

  1. Ibadah yang pahala dan manfaatnya dibatasi oleh Allah, hanya berlaku untuk pemiliknya. Dan Allah tidak menjadikannya bisa dipindahkan atau dihadiahkan kepada orang lain. Seperti iman, atau tauhid.
  2. Ibadah yang disepakati ulama, pahalanya bisa dipindahkan dan dihadiahkan kepada orang lain, seperti ibadah maliyah.
  3. Ibadah yang diperselisihkan ulama, apakah pahalanya bisa dihadiahkan kepada mayit ataukan tidak? Seperti bacaa al-Quran. Imam Malik dan Imam Syafii melarangnya. (Minan al-Jalil, 1/509).

Selanjutnya al-Qarrafi menyebutkan dirinya lebih menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau menyatakan,

فينبغي للإنسان أن لا يتركه، فلعل الحق هو الوصول، فإنه مغيب
Selayaknya orang tidak meninggalkannya. Bisa jadi yang benar, pahala itu sampai. Karena ini masalah ghaib. (Minan al-Jalil, 7/499).

Ada juga ulama malikiyah yang berpendapat bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit. Hanya saja, ketika yang hidup membaca al-Quran di dekat mayit atau di kuburan, maka mayit mendapatkan pahala mendengarkan bacaan al-Quran. Namun pendapat ini ditolak al-Qarrafi karena mayit tidak bisa lagi beramal. Karena kesempatan beramal telah putus (Inqitha’ at-Taklif). (Minan al-Jalil, 1/510).

Ketiga, Pendapat Syafiiyah

Pendapat yang masyhur dari Imam as-Syafii bahwa beliau melarang menghadiahkan bacaan al-Quran kepada mayit dan itu tidak sampai.

An-Nawawi mengatakan,

وأما قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي، أنه لا يصل ثوابها إلى الميت، وقال بعض أصحابه: يصل ثوابها إلى الميت
Untuk bacaan al-Quran, pendapat yang masyhur dalam madzhab as-Syafii, bahw aitu tidak sampai pahalanya kepada mayit. Sementara sebagian ulama syafiiyah mengatakan, pahalanya sampai kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 1/90).

Salah satu ulama syafiiyah yang sangat tegas menyatakan bahwa itu tidak sampai adalah al-Hafidz Ibnu Katsir, penulis kitab tafsir.

Ketika menafsirkan firman Allah di surat an-Najm,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
“Bahwa manusia tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari apa yang telah dia amalkan.” (an-Najm: 39).

Kata Ibnu Katsir,

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم
“Dari ayat ini, Imam as-Syafii – rahimahullah – dan ulama yang mengikuti beliau menyimpulkan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit. Karena itu bukan bagian dari amal mayit maupun hasil kerja mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/465).

Selanjutnya, Ibnu Katsir menyebutkan beberapa dalil dan alasan yang mendukung pendapatnya.

Keempat, Pendapat Hambali

Dalam madzhab hambali, ada dua pendapat. Sebagian ulama hambali membolehkan dan sebagian melarang, sebagaimana yanng terjadi pada madzhan Malikiyah. Ada 3 pendapat ulama madzhab hambali dalam hal ini,

  1. Boleh menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada mayit dan itu bisa bermanfaat bagi mayit. Ini pendapat yang mayhur dari Imam Ahmad.
  2. Tidak boleh menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada mayit, meskipun jika ada orang yang mengirim pahala, itu bisa sampai dan bermanfaat bagi mayit. Al-Buhuti menyebut, ini pendapat mayoritas hambali.
  3. Pahala tetap menjadi milik pembaca (yang hidup), hanya saja, rahmat bisa sampai ke mayit.

Al-Buhuti mengatakan,

وقال الأكثر لا يصل إلى الميت ثواب القراءة وإن ذلك لفاعله
Mayoritas hambali mengatakan, pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit, dan itu milik orang yang beramal. (Kasyaf al-Qana’, 2/147).

Sementara Ibnu Qudamah mengatakan,

وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك
Ibadah apapun yang dikerjakan dan pahalanya dihadiahkan untuk mayit yang muslim, maka dia bisa mendapatkan manfaatnya. (as-Syarhul Kabir, 2/425).

Ibnu Qudamah juga menyebutkan pendapat ketiga dalam madzhab hambali,

وقال بعضهم إذا قرئ القرآن عند الميت أو اهدي إليه ثوابه كان الثواب لقارئه ويكون الميت كأنه حاضرها فترجى له الرحمة
Ada sebagian ulama hambali mengatakan, jika seseorang membaca al-Quran di dekat mayit, atau menghadiahkan pahala untuknya, maka pahala tetap menjadi milik yang membaca, sementara posisi mayit seperti orang yang hadir di tempat bacaan al-Quran. Sehingga diharapkan dia mendapat rahmat. (as-Syarhul Kabir, 2/426).

Menimbang Pendapat
Seperti yang disampaikan al-Qarrafi, bahwa kajian masalah ini termasuk pembahasan masalah ghaib. Tidak ada yang tahu sampainya pahala itu kepada mayit, selain Allah.

Kecuali untuk amal yang ditegaskan dalam dalil, bahwa itu bisa sampai kepada mayit, seperti doa, permohonan ampunan, sedekah, bayar utang zakat, atau utang sesama mannusia, haji, dan puasa.

Sementara bacaan al-Quran, tidak ada dalil tegas tentang itu. Ulama yang membolehkan mengirimkan pahala bacaan al-Quran kepada mayit mengqiyaskan (analogi) bacaan al-Quran dengan puasa dan haji. Sehingga kita berharap pahala itu sampai, sebagaimana pahala puasa bisa sampai.

Sementara ulama yang melarang beralasan, itu ghaib dan tidak ada dalil. Jika itu bisa sampai, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat akan sibuk mengirim pahala bacaan al-Quran untuk keluaganya yang telah meninggal dunia.

Beberapa keluarga tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Khadijah, Hamzah, Zainab bintu Khuzaimah (istri beliau), semua putra beliau, Qosim, Ibrahim, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Zainab, mereka meninggal sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tidak dijumpai riwayat, beliau menghadiahkan pahala bacaan al-Quran untuk mereka.

Saran
Melihat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah menghadiahkan pahala amal badaniyah kepada mayit, kita bisa menegaskan bahwa masalah ini termasuk masalah ikhtilaf ijtihadiyah fiqhiyah, dan bukan masalah aqidah manhajiyah (prinsip beragama).

Sehingga berlaku kaidah, siapa yang ijtihadnya benar maka dia mendapatkan dua pahala dan siapa yang ijtihadnya salah, mendapat satu pahala.

Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.
“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari 7352 & Muslim 4584)

Kaitannya dengan ini, ada satu sikap yang perlu kita bangun, ketika kita bersinggungan dengan masalah yang termasuk dalam ranah ijtihadiyah fiqhiyah, yaitu mengedepankan sikap dewasa, toleransi dan tidak menjatuhkan vonis kesesatan. Baik yang berpendapat boleh maupun yang berpendapat melarang.

Masing-masing boleh menyampaikan pendapatnya berdasarkan alasan dan dalil yang mendukungnya. Sekaligus mengkritik pendapat yang tidak sesuai dengannya. Sampai batas ini dibolehkan.

Dan perlu dibedakan antara mengkritik dengan menilai sesat orang yang lain pendapat. Dalam masalah ijtihadiyah, mengkritik atau mengkritisi pendapat orang lain yang beda, selama dalam koridor ilmiyah, diperbolehkan.

Kita bisa lihat bagaiamana ulama yang menyampaikan pendapatnya, beliau sekaligus mengkritik pendapat lain. Namun tidak sampai menyesatkan tokoh yang pendapatnya berbeda dengannya.

Terkadang, orang yang kurang dewasa, tidak siap dikritik, menganggap bahwa kritik pendapatnya sama dengan menilai sesat dirinya. Dan ini tidak benar.

Bedanya Pernikahan dan Perkawinan, Ini Dalilnya

Deskripsi masalah:
Dalam tradisi masyarakat islam tak asing lagi sering kita jumpai dan kita dengar kata-kata walimatul’ Ursyi dan pernikahan pun juga perkawinan.

Bahkan terkadang kita menyaksikan sendiri manakala akad berlangsung kata-kata tersebut diungkapkan MC bahkan oleh wali nikah sendiri/bapak penghulu: “Saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu dengan …”

Pertanyaanya:
1. Adakah/apa perbedaan antara pernikahan dan perkawinan?

2. Sahkah dalam akad jika Wali nikah hanya mengatakan أنكحتك tanpa وزوجتك.

Jawaban:
Antara التزويج perkawinan dan النكاح pernikahan adalah bersifat sinonim atau muradif serupa tapi tidak sama, surupa dalam pengertian beda dalam lafadh dengan bahasan sebagai berikut:

Kesamaannya perkawinan adalah adalah hubungan antara lain jenis yaitu jenis laki-laki dan perempun yang mencakup semua makhluk selain malaikat, yang bersifat umum, baik makhluk itu berupa manusia, hewan bahkan juga tumbuh tembuhan.

Oleh karena itu dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ada istilah perkawinan langsung dan ada perkwinan yang tidak langsung.

Pekawinan langsung adalah perkawinan yang tanpa adanya alat bantu, sedangkan perkawinan tidak langsung adalah sebaliknya yaitu perkawinan yang perlu adanya alat bantu.

Seperti halnya tumbuh-tumbuhan yang baru berkembang dengan melalui alat bantu anging dan tumbuhan yang lainya seperti pohon salak perlu alat bantu maka tentu tidak berbuah hal tersebut manakala tidak dibantu (dikawinkannya) maka tidak mungkin dapat manghasilkan buah.

Sedangkangkan Nikah lebih khusus kepada manusia yang mana pengertian nikah sebagai berikut:

Perkataan nikah dalam bahasa arab diambil dari kata

نكح، ينكح، نكحا، نكاحا
Yang mempunyai arti menggabungkan, watha’ atau perjanjian.

Sedangkan penhertian pengertian Nikah menurut syara’: Adalah suatu perjanjian (ijab -Qabul) antara seorang laki-laki dan perempuan untuk menghalalkan hubungan badaniyah sebagai suami istri yang mengandung syarat-syarat dan rukun-rukun yang telah ditentukan syariat Islam.

Dalil tentang nikah dengan arti kawin:

فانكحوا ماطاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم الا تعدلوا فواحدة
“Maka kawinilah wanita- wanita(lain)yang kamu senangi, dua, tiga ataupun empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilalah seorang saja.” (QS. an-Nisa’ : 3)

Allah berfiman dalam ayat yang lain:

وأنكحوا الايامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوافقرآء يغنيهم الله من فضله والله واسع عليم
“Dan kawinilah orang yang sendirian diantara kamu, orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunianya. Dan Allah maha luas pemberianya lagi maha mengetahui.” (QS. an-Nur : 23)

Sedangkan dalil at-tazwij dengan ma’na kawin adalah sebagai berikut:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال:قال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم :يامعشر الشباب من استطاع منكم الباءة “فليتزوح” فإنه أغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء(متفق عليه)
“Dari Abdillah bin Mas’ud ra.ia berkata Rasullah saw, bersabda kepada kita: “Wahai para kaula muda (pemuda) barang siapa yang mampu dari kamu sekalian suatu biaya, maka hendaklah kawin. Karena sesungguhnya kawin itu adalah dapat menjaga pandangan mata, dan menjaga farji. Dan barang siapa tidak berkemampuan kawin maka hendaklah ia berpuasa, maka sesungguhnya puasa itu baginya sebagai obat.”

Dari pengertia berikut dalil diatas dapat ditarik kesimpulam bahwa التزويج والنكاح adalah serupa tapi tidak sama yakni serupa dalam arti dan beda dalam lafadh.

Dengan kata lain kalau nikah khusyushiyah kepada manusia sedangkan kawin adalah umum mencakup semua makhluk selain malaikat.

Sahkah jika dalam akad nikah wali hanya mengucapkan أنكحتك tanpa وزوجتك?

Jawabannya: sah karena dalam arti mengawinkan tetapi lebih utama menambah وزوجتك untuk taukid/ mengokohkan.

Demikian penjelasan atara perkawina dan pernikahan

والله تعالى أعلم بالصواب

Shalat Jenazah bagi Bayi yang Keguguran, Bagaimana?

KITA mungkin sering mendengar atau pun melihat seorang ibu yang kehilangan bayinya karena keguguran. Lalu, bagaimana jika bayi yang keluar dari perut ibu sebelum mencukupi waktunya dan setelah terlihat bentuknya?

Bayi yang keluar (keguguran) sebelum berumur empat bulan, maka tidak perlu dimandikan maupun dishalatkan. Akan tetapi, cukup dibungkus dengan secarik kain dan dikebumikan. Hal ini sudah menjad kesepakatan di antara jumhur ulama.

Jika bayi itu dilahirkan (keguguran) setelah berumur empat bulan atau lebih dan sudah dapat bergerak, maka harus dimandikan dan dishalatkan. Demikian menurut kesepakatan dari para ulama. Akan tetapi, jika belum dapat bergerak, maka tidak perlu untuk dishalatkan. Demikian menurut pendapat ulama hanafi, maliki, Al-Jauzy dan Hasan, yang didasarkan pada hadits riwayat dari Jabir, di mana Nabi bersabda,

“Jika bayi keguguran itu telah bergerak, maka ia harus dishalatkan dan diwarisi.” (HR. An-Nas’I, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan At-Tirmidzi)

Dalam hadits ini terlihat adanya syarat gerak dari bayi yang mengalami keguguran untuk dapat dishalatkan jenazahnya.
Imam Ahmad dan Sa’id berpendapat, bahwa bayi keguguran harus dimandikan dan dishalatkan. Dari Mushirah, Nabi bersabda,

“Bayi yang keguguran itu dishalatkan, maka ia akan memohonkan ampunan dan rahmat bagi kedua orang tuanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Aksi Sedekah Brutal Sebabkan Orang Ini Keluar dari Kebangkrutan

KITA tidak pernah bisa menebak bagaimana jalan takdir kita. Sebab, segala bentuk takdir memang menjadi kuasa Allah. Sekeras apapun kita berusaha jika Allah belum mengijinkan, tentu tidak akan pernah terjadi. Bahkan Allah mampu melakukan sesuatu yang di luar nalar manusia. Termasuk menjadikan seseorang kaya dan miskin dalam waktu yang singkat.

Takdir Allah yang tak diduga-duga pula terjadi pada seorang pengusaha yang kaya raya. Sebut saja namanya Timbul. Dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu mengumpulkan harta yang banyak dari usahanya. Karena tergiur dengan usahanya yang semakin pesat, Timbul mempunyai inisiatif untuk membangun usaha baru bersama teman barunya.

Sayangnya, dalam perjalanan bisnisnya, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Mitra kerjanya mengkhianati dan menipu Timbul sehingga usahanya menjadi hancur.

Aset yang dia bangun bertahun-tahun habis, bahkan meninggalkan hutang hingga minus 5 milyar. Timbul harus menanggung beban hutang di bank yang digunakan untuk menambah modal usaha di awal-awal merintis dulu.

Perjalanan yang menyesakkan bagi Timbul itu memberikan pelajaran yang sangat berharga baginya. Dari peristiwa itulah akhirnya Timbul belajar banyak hal. Termasuk belajar bangkit dari keburukan yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Timbul lalu mencari referensi cara mengatasi kebangkrutannya dalam kondisi habis-habisan saat itu. Setelah masa pencarian itu, akhirnya Timbul melakukan langkah-langkah seperti ini:
Langkah pertama yang dilakukan Timbul adalah memohon maaf kepada Allah SWT dan orang tua dengan rendah hati atas semua kesalahan, kelalaian dan kesombongannya saat berada diatas. Tak hanya itu, Timbul pun kembali menyambung tali silaturahim yang sempat terputus ketika ia menjadi orang yang kaya raya.

Langkah kedua yang dilakukan Timbul adalah minta maaf. Ia mulai meminta maaf kepada orang-orang yang pernah ia sakiti selama ini. Selain minta maaf, Timbul pun memohon saran dan solusi dari kebangkrutannya. Atas ijin Allah, temannya merekomendasikan untuk sedekah brutal, merutinkan salat dhuha dan tahajjud.

Akhirnya setelah mendapatkan saran tersebut Timbul mulai melakukan aksi gilanya yaitu sedekah brutal. Dia menyedekahkan semua aset yang ada kecuali aset yang digunakan untuk bertahan hidup, serta keperluan sehari-hari menafkahi anak istri. Timbul juga rutin salat dhuha 4 rakaat, 2 rakaat tiap kali salam, serta salat tahajjud di sepertiga malam yang akhir.

Atas ijin Allah, perlahan dalam waktu tiga tahun Timbul sudah bisa menyelesaikan bebannya. Mulai tahun keempat Timbul sudah mulai surplus dan tahun berikutnya surplus bermiliar-miliar. Itulah kisah keajaiban sedekah yang dirasakan Timbul.

Masyaallah, jika Timbul saja sudah membuktikan bagaimana keajaiban sedekah. Lalu bagaimana dengan Anda?

Cara Membiasakan Diri Beradab Islami Dalam Aktivitas Sehari-Hari

Tentunya sebagai muslim harus senantiasa berusaha untuk membiasakan diri beradab secara islami agar mendatangkan banyak manfaat dan pahala.

Berikut beberapa kebiasaan yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Saling Bersilaturahim Dalam Rangka Mempererat Tali Persaudaraan
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin diperpanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. Muslim)

2. Menghiasi Lisan Dengan Dzikrullah
Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah masing-masing kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, istri yang membantunya untuk urusan akhirat.” (HR. Ahmad) Menurut penelitian al-Al Bani Hadits ini shahih.

3. Berkata Baik Atau Diam
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jangnlah ia mengganggu tetangganya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari)

4. Membaca Basmallah Setiap Akan Melakukan Sesuatu
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi Shallalahu ‘alaihi wassalam suka mendahulukan yang kanan dalam setiap perbuatannya. Seperti bersuci, menaiki kendaraan dan memakai sandal. (HR. Bukhari)

5. Menutup Seluruh Aurat
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Bahwa Asma Binti Abu Bakr masuk menemui Rasulullah SAW dengan mengenakan kain yang tipis, maka Rasulullah SAW pun berpaling darinya. Beliau bersabda “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita jika telah baligh tidak boleh menampakkan darinya kecuali ini dan ini, beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya”. (HR. Abu Dawud)

Meski Telah Meninggal, Orang Tua Kita Butuhkan Hal ini

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak soleh yang mendoakan.” (HR. Muslim no. 1631).

Berdasarkan hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa anak soleh yang mendoakan mampu menyelamatkan orang tua ketika sudah meninggal. Namun, tak hanya itu, anak soleh akan berusaha membahagiakan orang tuanya dengan berbagai cara.

Berikut hal yang harus dilakukan ketika orang tua telah meninggal yang dijelaskan Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah, di antaranya:

1. Membaca Al-Qur’an

Menurut Ahmad bin Hambal dan segolongan dari sahabat Syafi’i berpandangan pahala ini akan sampai kepada orang yang telah meninggal. Maka setelah selesai membaca Qur’an, yang membacanya mengucapkan, “Ya Allah, sampaikanlah pahala seperti pahala bacaanku itu kepada si fulan”.

2. Sedekah

Ibunya Saad bin Ubadah telah meninggal dunia, lalu ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah ibuku telah wafat, dapatkan aku bersedekah atas nama ibuku?” Beliau SAW menjawab, “Iya.” (HR Ahmad, an-Nasa’i dan lain-lain).

3. Puasa

Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW. Dia bertanya, “Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia sedangkan ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah aku wajib mengqodho’ atas namanya?”

Nabi SAW menjawab “Jika ibumu memiliki utang, apakah akan engkau bayarkan untuknya?”

Lelaki itu menjawab, “Memang.”

Lalu Nabi SAW berkata, “Nah, maka utang kepada Allah lebih layak untuk dibayar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan bosan-bosan ya sahabat melakukan kebaikan untuk orang tua yang telah meninggal, karena setelah meninggal hanya amal kebaikan yang dibutuhkan. Wallahu a’lam.

Bagaimana Hukum Menyingkap Pakaian ketika Sujud?

Mayoritas dari kita mungkin masih sering mendengar pernyataan dari guru atau bahkan orang tua mengenai wajibnya menempelkan dahi, utamanya pada saat sujud. Dalam ketentuan islam yang berlaku memang diwajibkannya menempelkan dahi pada alas sujud, disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَم
قَالَ: ( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ، وَلا نَكْفُتَ الثِّيَابَ وَلاالشَّعَرَ : الجَبْهَة، وَاليَدَيْنِ ، وَالرُّ كْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ،)

Artinya: dari Ibnu Abbas Bahwa bahwa Rasulullah bersabda aku diperintahkan untuk sujud diatas tujuh anggota badan, beliau tidak menyingkap pakaian dan rambut : yaitu dahi, kedua tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari kaki.

Dahi menjadi bagian utama yang bahkan disebutkan paling awal dalam hadits diatas. Hal ini menunjukkan bahwa sahnya sholat dapat dilihat dari benarnya sujud yang merupakan rukun sholat ini. Lafadz (أُمِرْتُ )yang berarti “Aku (muhammad) diperintahkan” disini mengandung pengertian bahwa Allah ‘Azza wa Jalla yang memerintahkan, sehingga hukum dari pengerjaannya adalah wajib.

Tambahan dari imam Bukhari bahwa perintah ini berlaku bagi seluruh umat bukan hanya bagi Rasulullah saja, dinukil dalam riwayat lain melalui Syu’bah dari ‘Amr bin Dinar adalah penggunaan redaksi yang berbeda pada lafadz ( أُمِرْتُ menjadi أمرنا ) yang berarti “kami diperintahkan”. Sedangkan lafadz وَلا نَكْفُتَ الثِّيَابَ وَلاالشَّعَر mengandung pengertian tidak mengumpulkan atau tidak menggumpalkan rambut dan pakaian ketika sujud.

Dalam konteks ini memang memicu sedikit ketidak setujuan dari beberapa kalangan. Selama ini bahkan ajaran yang berlaku di masyarakat adalah diharuskannya telapak tangan dan dahi kita untuk menempel langsung pada tempat sujud tanpa adanya sesuatu yang menghalangi. Sehingga membiarkan sehelai kain (utamanya mukenah bagi perempuan) dianggap tidak sah, ini menurut pendapar Ibnu Al Mundzir yang meriwayatkan dari Al Hasan bahkan berpendapat bahwa sholat tersebut harus diulang.

Beberapa kasus dapat kita sandingkan penerapannya. Karena zaman Rasulullah pernah terjadi sahabat yang sholat dengan tidak menyingkapkan kainnya saat sujud, faktor penyebabnya adalah kala itu di siang hari dengan cuaca yang sangat panas. Dan beberapa kisah lain yang merupakan riwayat Sahal bin Sa’ad, menceritakan bahwa biasanya saat orang-orang sholat bersama nabi, mereka mengikat sarung ke pundak karena terlalu kecil, kekhawatiran yang muncul adalah takutnya aurat akan terbuka.

Alternatifnya adalah memilih untuk mengumpulkan kain dengan cara mengikat dan mengencangkannya. Kesesuaian kasus ini dapat dipahami sebagaimana kondisi yang terjadi. Sementara itu, kasus yang berbeda adalah jika rambut tidak disingkapkan maka khawatir akan ikut sujud bersama kepala dan menutupi dahi.

Hikmah dibalik tidak menyingkapkan kain saat sholat memang berlaku untuk anggapan agar tidak dinilai sombong karena ketidak inginan kita menempelkan kain atau apa apa yang menempel pada diri ikut menempel juga ditempat sujud. Namun menyingkap juga salah satu usaha untuk rukhsoh, memberi keringanan dalam meningkatkan kekhusyukan.

Menghindarkan atau menjauhkan sujud dengan hal-hal yang dapat mengganggu khusyuknya sujud, seperti melindungi dahi dengan menyiapkan kain sebagai alas sujud, tujuannya untuk mengurangi ketidak tenangan akibat panasnya kondisi. Yang dapat dipahami disini adalah meletakkan dahi ke tanah menjadi hukum asal. Lantas mengenai hukum dibentangkannya kain sebagai alas sujud merupakan sebab yang dikaitkan dengan kondisi yang berlangsung.

Karena memperhatikan penyempurnaan sujud sebagai rukun sholat ini juga penting. Sebagai manusia kita diperintahkan mengikuti sunnah nabi dan menjalankan atas apa yang trlah diperintahkan Allah. Penilaian kekhusyukan di pandangan manusia mungkin juga akan berbeda di pandangan Allah SWT. Wallahu ‘alam bis showwab.

Duhai Suami-Istri, Hindarilah Nusyuz Sebelum Menyesal

DALAM menjalin rumah tangga antara suami istri tentu tidak selamanya akan berjalan dengan baik. Pasti pertemuan antara hal yang tidak menyenangkan di antara keduanya akan terjadi. Salah satu yang berbahaya di kalangan suami istri ialah nusyuz. Apa itu nusyuz?

Nusyuz ialah meninggalkan kewajiban bersuami-istri. Misalnya nusyuz dari pihak suami ialah bersikap kasar dan keras terhadap istri, tidak mau menggaulinya, dan tidak memberikan hak-haknya. Nusyuz dari pihak istri misalnya meninggalkan rumah tanpa seizing suami.

Allah SWT berfirman, “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya…” (QS. An-Nisa’: 34).

Tindakan di atas sekedar memberi pelajaran. Jika terpaksa memukul, hendaklah pukul dengan ringan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama (nasihat) telah ada manfaatnya, jangan menggunkan cara lain yang dapat menyusahkan istri.

Allah berfirman, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya,” (QS. An-Nisa: 128).

Suami yang mulanya baik dan sehat, tiba-tiba terserang gangguan jiwa sehingga sering marah-marah, memukul istri dan berbuat hal-hal yang aneh, yang membuat kehidupan rumah tangga seperti di neraka. Bolehkah istri meninggalkan suaminya dan meminta cerai?

Hal itu boleh untuk dilakukan. Istri dapat mengajukan pencerainnya kepada pengadilan agama. Tetapi sungguh tega si istri yang meninggalkan suaminya yang sedang sakit ingatan dan perlu perawatan.

Nah, ternyata nusyuz ini dapat berkahir dengan tidak menyenangkan. Maka dari itu, hindarilah nusyuz sebelum Anda menyesal. Jalankan kewajiban Anda sebagaimana mestinya. Penuhi hak suami atau istri. []