Hati-hati, Kebiasaan Orang Tua Ini Berpengaruh Buruk Pada Kepribadian Anak

Setiap orangtua tentulah menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi sosok yang berkepribadian baik. Berbagai macam cara pun dilakukan untuk membentuk kepribadian anak agar saat dewasa nanti dia menjadi seseorang yang baik. Tapi, terkadang ada hal-hal buruk yang secara tidak sadar dilakukan oleh orangtua.

Tentu, pengaruhnya tak bisa langsung seketika terlihat, karena saat itu dia hanyalah sekedar mengamati apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

Namun hal ini akan menjadi bom waktu, dan berdampak buruk pada kepribadiannya nanti. Nah, Lalu apa saja kebiasaan buruk orangtua yang akan ditiru oleh anak dan akan berpengaruh pada kepribadiannya nanti?

Saat Orangtua Berbicara Kotor, Maka Anak Akan Menirunya

Entah karena sedang emosi atau karena sebab lainnya, beberapa orangtua berbicara kotor di depan anak. Biasanya hal ini dilakukan orangtua saat sedang marah.

Lepas kontrol saat berbicara di depan anak ternyata dapat berdampak buruk bagi kepribadiannya. Anak akan menganggap bahwa apa yang dilakukan orangtuanya adalah benar dan hal itu akan ditirunya saat dia sudah bisa mengungkapkan isi hati.

Menggunakan Gadget Secara Berlebihan, Terlebih Saat di Depan Anak

Gadget atau gawai sepertinya sudah menjadi kebutuhan orang masa kini. Banyaknya fitur yang ada di perangkat canggih yang satu ini membuat beberapa orang keasyikan untuk terus menggunakannya.

Hal ini sangatlah tidak baik untuk perkembangan anak. Buah hati akan menilai bahwa gadget merupakan sebuah kebutuhan yang harus segera dipenuhi, sehingga dia ingin segera memiliki gadget tanpa tahu tujuan dan manfaatnya.

Bunda Boleh Saja Kecewa, Tapi Mengkritik Diri Sendiri Sebaiknya Tidak Dilakukan

Sebaiknya jika Bunda ingin mengkritik diri sendiri, maka lakukanlah hal itu hanya dengan diri Bunda sendiri. Tidak perlu melakukannya di hadapan orang lain, apa lagi di depan anak.

Sebab hal itu akan menjadikan anak memiliki standar tersendiri yang tidak realistis, sehingga dapat menyebabkan anak mengalami depresi.

Menetapkan Peran Gender Secara Berlebihan pun Tak Baik Untuk Perkembangan Kepribadiannya

Memang laki-laki dan perempuan diciptakan secara berbeda. Hal ini harus Bunda pahami saat mendidik anak-anak. Namun masih ada saja orangtua yang menerapkannya secara berlebihan.

Misalnya saja, anak laki-laki tidak boleh menangis dan anak perempuan harus berlaku feminim. Akibatnya anak laki-laki akan menjadi seorang yang berkarakter keras kepala, dan anak perempuan akan menjadi seorang yang cengeng serta tidak mandiri. Tentu hal itu tidak baik untuk perkembangan kepribadian anak nanti.

Merokok di Depan Anak, Selain Tidak Baik Untuk Kesehatan Juga Berpengaruh Buruk Bagi Perkembangan Kepribadian Buah Hati

Beberapa orang tua sepertinya merasa santai saja saat merokok di depan anaknya. Padahal hal itu sangatlah tidak baik untuk anak, baik secara kesehatan maupun untuk kepribadiannya.

Anak yang sering melihat orangtuanya menghisap rokok akan memiliki anggapan bahwa merokok merupakan hal yang wajar dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Akibatnya anak pun ingin segera bisa merokok tanpa tahu bahaya yang bisa mengiringinya.

Membanding-Bandingkan Anak Akan Membuatnya Kehilangan Rasa Percaya Diri

Terkadang orangtua membanding-bandingkan kemampuan anak yang satu dengan anaknya yang lain, atau membanding-bandingkan kemampuan anaknya sendiri dengan temannya. Kebiasaan ini sangatlah tidak baik.

Anak bisa merasa minder dan kehilangan rasa percaya dirinya dalam melakukan sesuatu yang dinginkannya.

Bertengkar di Depan Anak pun Sebaiknya Dihindari

Dan kebiasaan yang lain yang biasa dilakukan orangtua di depan anaknya adalah bertengkar di depan anak. Memang kemarahan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

Namun jika itu terjadi di depan anak, maka usahakan untuk bisa menahannya. Anak akan meniru setiap perilaku dan kata-kata orangtuanya selama bertengkar. Dan hal itu akan diterapkannya saat dia bersama teman-temannya.

Itulah beberapa kebiasaan buruk orang tua yang bisa sangat berpengaruh pada kepribadian anak nantinya. Untuk itu, sebagai orangtua yang baik kita harus menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut, terutama saat berada di depan anak.

Semoga bermanfaat

Sumber: mengutip.com

Usia Paling Tepat Untuk Mengkhitan Anak Menurut Syariat Islam dan Medis…

Sebagai orangtua yang punya anak laki-laki, kita kerap bertanya, entah kepada tetangga sebelah atau teman hingga terkadang membuat bingung, ada juga yang beralasan karena agama, sosial, dan ekonomi yang belum cukup.

Sebenarnya ini waktu yang tepat dan usia yang baik mengkhitankan anak  dalam syariat islam dan medis. Kebiasaan mengkhitan anak di Indonesia sering dikaitkan dengan budaya dan adat.

Sebagian masyarakat ada yang melarang khitan sebelum bayi berumur di atas satu tahun, ada pula yang mengkhitan anaknya setelah anak menduduki bangku SD.

Secara Syar’ie Kapankah Seharusnya Mengkhitan Anak?
Dalam tinjauan medis, khitan bisa dilakukan kapan saja. Pemilihan usia khitan biasanya dipengaruhi oleh adat istiadat setempat. Di Arab Saudi anak dikhitan pada usia 3- 7 tahun, di India natara 5-9 tahun, di Iran mulai umur 4 tahun.

Di Indonesia tiap–tiap daerah juga berbeda-beda. Anak suku Jawa biasanya dikhitan pada usia sekitar 10-15 tahun, sedangkan suku Sunda biasanya mengkhitan anak di usia 3- 5 tahun.

Abu Hurairah berkata, “Saya mendengar Nabi bersabda: “Fitrah itu ada lima, yaitu: mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari)

Lalu, Kapan Sebaiknya Anak Dikhitan?
Ibnu Abbas mengatakan, “orang-orang tidak mengkhitan anak sebelum berakal.” Al-Maimuni berkata, “Saya pernah mendengar Imam Ahmad berkata, Dahulu Al Hasan Al Bashri memakruhkan khitan anak pada hari ketujuhnya.”

Hanbal mengatakan, “Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata, Tiada masalah bila si anak dikhitan pada hari ketujuh dari kelahirannya. Al Hasan menilai makruh hal ini hanya untuk menghindarkan diri dari tasyabuh dengan orang-orang Yahudi, tetapi sebenarnya tidak menjadi masalah.”

Makhul mengatakan, “Ibrahim mengkhitan anaknya, Ishaq, saat berusia tujuh hari, dan mengkhitan Ismail pada usia 13 tahun. Demikianlah seperti yang disebutkan oleh Al-Khallal.”

Ibnu Taimiyyah berkata, “Khitan Ishaq menjadi tuntunan yang diikuti di kalangan anak keturunannya dan khitan Ismail juga menjadi tuntunan yang diikuti di kalangan keturunannya. Akan tetapi, berkaitan dengan khitan Nabi masih diperselisihkan mengenai waktunya kapan hal itu terjadi.” (Zadul Ma’ad)

Ibnul Qayyim mengutip pendapat Kamaluddin bin Al-Adim yang mengatakan bahwa Nabi dikhitan menurut tradisi yang berlaku di kalangan orang-orang Arab dan tuntunan berkhitan ini merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab semuanya.

Usia Khitan Dalam Pandangan Syariat

Telah kita bahas bahwa hukum khitan adalah wajib bagi laki-laki. Lalu kapan khitan harus dilakukan? Dalam masalah ini tidak terdapat dalil shahih yang menjelaskan waktu anak laki-laki mulai dikhitan.

Memang terdapat hadits yang menjelaskan tentang waktu khitan. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَقَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الحسن والحسين ، وختنهما لسبعة أيام
“Rasulullah melaksanakan aqiqah untuk Al Hasan dan Al Husein serta mengkhitan mereka berdua pada hari ketujuh kelahiran“ (H.R Baihaqi 8/324)

Namun derajat hadits ini adalah hadits yang dhaif/lemah. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah dalam kitab beliau Irwaul Ghalil sehingga tidak bisa menjadi landasan dalam berdalil. Demikian juga ada yang menyebutkan sebuah hadits yang berbunyi:

سبعة من السنة في الصبي يوم السابع : يسمى ويختن
“Ada tujuh hal yang termasuk sunnah dilakukan kepada bayi saat umur tujuh hari : diberi nama, dikhitan. …“ (H.R Ath Thabrani dalam Al Ausath I/334)

Namun status hadits ini juga dipermasalahkan. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkomentar dalam Fathul Bari: “Hadits ini dhaif (lemah)”

Sehingga hadits ini juga tidak bisa menjadi dalil. Dengan demikian tidak terdapat penjelasaan dari syariat tentang waktu usia khusus untuk khitan. Meskipun demikian, namun para ulama tetap banyak membahas masalah ini.

Imam Al Mawardi rahimahullah mengatakan, “Waktu khitan ada dua: waktu wajib dan waktu mustahab (waktu yang dianjurkan). Waktu wajib adalah ketika sudah balig (dewasa), adapun waktu yang dianjurkan adalah sebelum balig.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Waktu khitan adalah saat balig karena pada saat itu waktu wajib baginya untuk melaksanakan ibadah yang tidak diwajibkan baginya sebelum balig”

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa secara syariat tidak ada ketentuan waktu khusus pada usia tertentu untuk khitan misal saat umur 5 tahu, 7 tahun, atau 10 tahun. Ada dua waktu pelaksanaan khitan:

Waktu wajib, yaitu saat baligh

Waktu mustahab (dianjurkan), yaitu sebelum balig
Yang dimaksud balig adalah seorang muslim telah mencapai batas tertentu untuk dikenai beban syariat.

Tanda-tanda balig apabila terpenuhi salah satu dari tanda berikut: mengeluarkan mani, tumbuhnya bulu kemaluan, atau telah mencapai usia 15 tahun. Khusus untuk perempuan, ada tanda balig lainnya yaitu keluanya darah haid.

Semakin dini anak dikhitan akan semakin baik, karena akan segera menggugurkan kewajiban. Juga sebagai bentuk bersegera dalam melakukan kebaikan yang merupakan perwujudan perintah Allah Ta’ala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” (Ali Imran : 133).

Khitan merupakan perlambang kesucian, kebersihan, hiasan, keindahan bentuk, dan keseimbangan syahwat. Bila khitan diabaikan, ini sama artinya bahwa manusia tidak berbeda dengan binatang. Dan bila khitan ditinggalkan sama sekali, sama artinya manusia sudah seperti benda mati.

Khitan yang menyeimbangkan antara dua keadaan tersebut. Dengan khitan akan lebih bersih dan indah serta terjaga syahwat.

Hikmah Dibalik Khitan

Apa yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya pasti mengandung kebaikan dan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya pasti mengandung keburukan.

Hal inilah yang harus kita yakini dan tanamkan dalam hati kita dan keluarga. Telah banyak bukti baik secara ilmiah maupun non ilmiah berbagai hal yang termasuk anjuran dan larangan yang bermanfaat bagi manusia, termasuk juga khitan.

Bagi lelaki, karena tidak memungkinkan bersuci dari kencing kecuali dengan berkhitan. Karena sisa air seni berkumpul di bawah kulit (kemaluan), maka tidak aman ketika keluar, sehingga pakaian dan badannya menjadi najis.

Oleh karena itu biasanya Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma sangat ketat terkait dengan masalah khitan. Imam Ahmad mengatakan, “Dahulu Ibnu Umar sangat ketat dalam masalah ini. Diriwayatkan darinya, dia tidak diperbolehkan berhaji dan shalat. Maksudnya kalau dia belum berkhitan. (Selesai ‘Al-Mgni, 1/115).

Sementara hikmah khitan bagi wanita, agar seimbang syahwatnya sehingga menjadi pertengahan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang wanita, apakah dia dikhitan atau tidak?

Maka beliau menjawab, “Alhamdulillah, ya dikhitan. Dan khitannya adalah memotong kulit atas seperti jambul ayam jantan. Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda bagi wanita yang dikhitan:

(أشمي ولا تنهكي ، فإنه أبهى للوجه ، وأحظى لها عند الزوج)
“Potonglah sedikit dan jangan dipotong semuanya, karena ia lebih memancarkan diwajah dan lebih nikmat bagi suaminya.”

Maksudnya jangan berlebih-lebihan dalam memotong. Hal itu karena maksud khitan bagi lelaki adalah membersihkan najis yang tertahan di kulup. Sementara maksud dari khitan wanita adalah agar menyeimbangkan syahwatnya.

Karena kalau dia belum dikhitan, maka kuat syahwatnya. Sehingga dikatakan kepada wanita  yang belum berkhitan, “Wahai wanita yang belum dikhitan, sesungguhnya wanita yang belum dikhitan itu lebih sering mencari lelaki.

Oleh karena itu, didapati kefakhisan (kerusakan) pada wanita Tartar dan wanita kulit sawo (asing) lebih banyak dibandingkan dengan wanita muslimah.

Kalau terlalu berlebihan ketika menghkhitannya, maka syahwatnya melemah, sehingga tidak sempurna keinginan suami. Kalau dipotong tidak berlebihan, maka didapatkan keinginannya (syahwatnya) secara seimbang.

Khitan pada laki-laki dan wanita tentu berbeda mulai dari hukum dan hikmahnya. Keduanya memiliki syariat kebaikan yang sayang jika ditinggalkan.

Tinjaun Medis Tentang Usia Khitan

Pada prinsipinya, dalam tinjaun medis khitan bisa dilakukan kapan saja. Namun perbedaan usia khitan mempengaruhi proses khitan dan penyembuhannya.

Pertama: Usia Kurang dari 5 tahun
Khitan pada anak usia kurang dari lima tahun kebanyakan dilakukan karena indikasi medis. Misalnya pada anak dengan kelainan anatomi pada penis seperti fimosis, parafimosis, atau hipospadia. Pada usia ini, anak belum memiliki keberanian dan belum bisa diajak kerjasama sehingga tidak mungkin dilakukan pemberian bius lokal.

Pilihan yang dipakai adalah bius total. Anak harus dirawat di rumah sakit sebelum dan pasca khitan. Penanganan khitan dengan operasi hanya boleh dilakukan oleh dokter spesialis bedah. Tentu saja biaya yang diperlukan relatif lebih mahal. Perawatan pasca khitan pada anak usia ini juga perlu lebih hati-hati.

Kedua: Usia 5-15 tahun
Pada usia ini, anak-anak sudah memiliki keberanian. Anak-anak juga sudah bisa diberi pengertian dan diajak kerjasama. Tidak jarang justru anak-anak pada usia ini meminta sendiri untuk dikhitan. Khitan pada usia ini umumnya dilakukan dengan bius lokal.

Prosesnya tentu saja lebih sederhana, lebih cepat, dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah. Proses penyembuhannya pun tidak terlalu lama asalkan anak bisa merawat luka dengan baik.

Ketiga: Usia Diatas 15 tahun
Pada usia ini boleh dikatakan anak sudah mulai dewasa. Pada usia ini hormon testosteron (hormon kelamin laki-laki)  sudah dalam kondisi maksimal sehingga dalam segi ukuran penis sudah membesar, disertai bulu kemaluan yang lebat.

Prosedur khitan pada dewasa sama dengan khitan pada anak-anak. Pada orang dewasa, biasanya sudah tidak terjadi perlengketan antara kulup dan kepala penis sehingga tidak jarang terjadi luka pada kepala penis.

Hal ini berbeda pada penis anak yang banyak terjadi perlengketan. Karena tidak terjadi perlengketan, biasanya setelah khitan bisa langsung digunkan untuk beraktifitas seperti biasa. Kelebihan lain khitan pada usia dewasa adalah persiapan kondisi psikologis yang sudah siap dibandingkan dengan anak-anak.

Namun khitan pada usia dewasa juga terdapat beberapa kesulitan. Pembuluh darah penis lebih banyak pada dewasa daripada anak-anak sehingga perdarahan yang terjadi akan lebih banyak dan proses operasi membutuhkan waktu yang lebih lama.

Selain itu juga  lebih sering terjadi risiko perdarahan setelah khitan yang akan memepengaruhi lamanya proses penyembuhan. Faktor lain yang menyebabkan penyembuhan lama adalah kulit yang lebih tebal sehingga membutuhkan masa penyambungan jaringan yang lebih lama.

Meskipun setelah dikhitan pasien bisa beraktivitas, namun untuk bisa melakukan aktivitas seksual harus menunggu sampai luka benar-benar kering dan tidak ada keluhan seperti nyeri atau bengkak. Waktu yang cukup aman untuk melakukan hubungan seksual biasanya adalah setelah dua minggu.

Sumber: wajibbaca.com

Kehilangan Anak yang Masih 3 Tahun, Kisah Ayah Ini Akan Membuka Mata Anda Lebar-lebar

Kisah ini akan benar-benar membuat Anda menyesal jika selama ini kurang perhatian kepada Anak. Anak adalah segalanya bagi orangtua, apapun akan diberikan kepada anak, semua perhatian dan kasih sayang orang tua tercurahkan untuk anak sejak kecil hingga dewasa.

Jika ada orang tua yang kehilangan anak. sudah pasti membuat hati orang tua merasakan kepedihan seperti kehilangan semangat hidup.

Begitupun dirasakan seorang ayah bernama richard pringle ini, seperti yang dikutip dari style.tribunnews.com.

Richard memiliki anak bernama hunghie, yang masih berusia tiga tahun namun di umurnya yang masih kecil itu ia harus meninggal dunia sebab pendarahan otak.

Sebagai orang tua ia sangat merasa kehilangan, setahun kepergian anaknya ia belajar banyak hal. Richard mengungkapkan bahwa pentingnya orang tua untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan membuat waktu yang berkualitas untuk anak dan keluarga.

Seperti unggahan di facebook, Dia juga meminta kepada seluruh orangtua supaya mengambil foto atau video anak sebanyak mungkin. Karena “suatu hari, mungkin hanya itu yang akan kamu miliki.”

Selain itu, Richard juga menuliskan 10 peraturan ini yang ditujukan untuk para orangtua agar lebih dalam mencurahkan waktunya untuk sang anak.

1. Berikan setiap momenmu dengan anak-anak. Jangan memaksakan di mana kamu berada atau apa yang sedang kamu lakukan. Entah itu siang dan malam, jika kamu sedang bekerja, di mobil ata di rumah, tidak peduli di tempat mana. Setiap saat dengan anak-anak adalah waktu yang bernilai, nikmatilah sepenuhnya.

2. Jangan lupa untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anakmu setiap malam atau setiap hari dengan ciuman. Karena tak tahu kapan terakhir kali kamu akan mengantarkan mereka ke tempat tidur lagi.

3. Kenanglah selamanya, di mana pun kamu berada atau apa yang kamu lakukan dengan anak-anak, ambil semua foto dan video sebisamu. Mungkin saja ini adalah satu-satunya hal yang kamu miliki di masa depan.

4. Waktu terus berputar, jangan habiskan dengan bekerja, berilah anak waktu dengan bermain dengan mereka. Jangan menunggu sampai akhir ketika sudah terlambat.

5. Tulis dalam buku harian semua yang dilakukan anak-anakmu.Hal-hal yang baik dan yang buruk, kemenangan, kegagalan, semuanya.

Istri saya dan saya memulai buku harian setelah kematian Hughie untuk mengenang, apa yang kami lakukan dengan saudara-saudaranya bisa dibaca saat mereka sudah tua.

6. Cinta tak terbatas, tak memiliki batas, tak peduli seberapa banyakmu membuktikannya, akan selalu ada yang lebih banyak di hatimu.

7. Uang tidak masalah, jangan lihat berapa banyak yang kamu habiskan untuk mereka, menghabiskan waktu bersama mereka itu lebih benar-benar berharga.

Momen-momen kecil dan detailnya, akhirnya menjadi yang terbesar. Saya tidak lagi mengingat berapa banyak atau apa yang saya habiskan untuk anak saya tetapi dalam semua kami lakukan bersama.

8. Bangun di pagi hari dan lihat anak-anak adalah sebuah keberuntungan, sarapanlah dengan mereka dan antar ke sekolah, pertandingan sepak bola, atau menonton film.

Waktu tidak berhenti begitu menikmati waktu dengan anak-anak, datang ke hari wisudnya, menikahkannya, menimang cucu adalah kehidupan yang sebenarnya.

9. Nyanyi bersama, meskipun tampaknya sangat sederhana banyak kenangan yang dibuat dengan musik, terlalu banyak kenangan yang muncul dalam pikiran ketika saya mendengarkan lagu-lagu tertentu.

Itu mengingatkan saya ketika kami bepergian bersama di dalam mobil dan menyanyikan lagu-lagu favorit kami.

10. Jadikan setiap momen yang kamu habiskan di sisi mereka sebagai kesenangan seolah-olah itu adalah yang terakhir.

Tak peduli itu sedang tertawa, sedih, dan momen lainnya, habiskan momen terbaik dengan anak-anak dan kamu tidak akan menyesal ketika sudah terlambat.

Richard Pringle berharap postingannya di Facebook ini bisa dibaca oleh seluruh orangtua yang ada di mana pun berada. Agar kesedihannya saat kehilangan Hughie tak juga dirasakan oleh orangtua mana pun.

Sumber: wajibbaca.com

Cara Memotivasi Anak dan Remaja Agar Sholatnya Tidak Bolong-bolong

Banyak anak maupun remaja yang sudah melakukan shalat tapi masih Bolong-bolong. Shubuh alpha, Dzuhur dan Ashar shalat, Maghrib Isya bolong lagi. Jadi shalatnya hanya kalau berjamaah di sekolah bareng teman-teman saja.

Bagaimana cara memotivasi mereka agar shalatnya tidak bolong-bolong lagi? Berikut ini beberapa tips yang bisa dicoba:

1. Bandingkan Dengan Password atau PIN
Cobalah lihat email, pastilah memiliki password untuk memasukinya, demikian juga akun sosial media, dan bahkan untuk mengambil uang di ATM pun diperlukan PIN sebagai kuncinya.

Nah, sama seperti password tersebut, Sahabat Ummi bisa menjelaskan pada anak kita, terutama yang sudah remaja, bahwasanya shalat itu mirip password atau PIN untuk memasuki pintu surga.

Sebuah password takkan berfungsi jika tidak sempurna bukan? Misalnya passwordnya adalah 24434, tapi yang dilakukan hanyalah 2443, maka tidak akan berfungsi sebagaimana seharusnya.

Demikian pula shalat, semestinya dilakukan 5 waktu, namun yang dikerjakan hanya 3 atau 4 waktu, maka amat disayangkan, meskipun lebih baik daripada tidak shalat, namun bisa jadi shalat yang dilaksanakan tersebut tidak berfungsi sempurna, rugi bukan?

2. Bandingkan Dengan Gelas Bolong
Apakah gelas yang bolong di bagian dasarnya dapat dimanfaatkan? Seberapa banyak pun air yang diisikan ke dalam gelas tersebut akan bocor bukan?

Demikian juga dengan shalat yang bolong-bolong, seharusnya shalat bisa membuat hati kita tenang, terjauh dari perbuatan keji dan mungkar.

Tapi jika dilakukan dengan malas, tidak disiplin bahkan bolong-bolongnya begitu sering, jangan-jangan manfaat shalat tersebut takkan bisa kita rasakan.

3. Jelaskan Bahwa Satu-satunya Amalan Wajib yang Tidak Bisa Ditinggalkan Dalam Kondisi Apapun Hanyalah Shalat
Puasa bisa ditinggalkan bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan, tapi shalat tidak bisa ditinggalkan, yang ada hanyalah keringanan.

Bagi yang sedang sakit, bisa shalat dalam kondisi duduk bahkan berbaring. Bagi yang sedang di perjalanan, bisa menjamak shalat atau mengqashar shalat, yakni menggabungkan 2 shalat dalam satu waktu atau menyingkat jumlah rakaat shalat.

Bukankah ini menandakan shalat begitu penting hingga tak bisa ditinggalkan sama sekali kecuali bagi yang kehilangan kesadaran, kehilangan kewarasan, atau kehilangan nyawa?

Semoga tips singkat tersebut dapat membantu menyemangati anak agar menyempurnakan shalatnya menjadi 5 waktu sehari semalam.

Amin ya robbal alamin

Sumber: ummi-online.com

18 Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak yang Sering Dilakukan

Memberikan pendidikan terbaik bagi anak adalah tugas dan tanggung jawab setiap orangtua. Setiap orangtua akan melakukan segala cara mendidik anak yang baik untuk membuat anaknya cerdas, memiliki budi pekerti yang luhur dan berkepribadian yang baik.

Namun, secara tidak sadar orangtua melakukan banyak kesalahan mendasar dalam mendidik anak. Kesalahan-kesalahan itu justru akan membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.

Tentu hal ini sangat tidak diharapkan oleh para orangtua. Oleh karena itu orangtua perlu mengetahui dan sebisa mungkin menghindari 18 kesalahan orang tua dalam mendidik anak berikut ini:

1. Berbohong Kecil dan Sering
Banyak orangtua melakukan kebiasaan ini. Pada saat orangtua sedang sibuk dan anak terus mengganggunya, terkadang orangtua akan membohongi anak agar tidak lagi mengganggu mereka.

Kebiasaan ini dapat menyebabkan anak tidak percaya kepada orangtua dan akan mengajari anak untuk berbohong.

Ingat! Apapun yang dilakukan oleh orangtua, anak akan menirunya. Tentunya kita tidak ingin anak kita menjadi seorang pembohong bukan?

2. Mengancam Anak
Untuk membuat anak menurut terkadang orangtua mengancam anak. Perlakuan ini dapat membuat anak menjadi kecil hati dan dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri.

3. Orangtua Tidak Mempercayai Anak
Banyak orangtua tidak mempercayai anaknya karena menganggap anaknya masih kecil. Sikap ini dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan anak kepada orangtua dan juga dapat membuat anak tidak mau mengungkapkan keinginannya kepada orangtua.

Hal ini tentunya dapat mengakibatkan renggangnya hubungan antara anak dan orangtua.

4. Memberikan Kasih Sayang yang Berlebihan
Setiap orangtua pasti menyayangi anaknya. Namun, terkadang banyak orangtua tidak menyadari bahwa mereka telah memberikan kasih sayang yang berlebihan kepada anak.

Banyak orangtua justru melindungi dan membiarkan karakter buruk pada diri anak, membiarkan kenakalan anak, serta cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak.

Hal ini akan membuat anak semakin sulit untuk dikendalikan dan membuat anak menjadi pribadi yang manja. Orangtua yang bijak sebaiknya mengekspresikan dan menempatkan kasih sayang sesuai kebutuhan dan pada tempatnya.

5. Orangtua Tidak Kompak
Anak tentunya akan menjadi bingung jika pernyataan dari ayah dan ibunya saling bertentangan. Seorang anak tentunya belum mengerti dan memahami dengan benar arti benar dan salah.

Orangtua yang tidak kompak akan menyebabkan anak membuat sebuah penilaian dalam benaknya bahwa salah satu orangtuanya tidak sayang kepadanya.

Hal ini tentunya dapat mempengaruhi perkembangan mental anak karena anak cenderung selalu mencari perlindungan kepada orang yang melindunginya (ayah atau ibu).

6. Menyerahkan Tanggung Jawab Mendidik Anak Kepada Pengasuh Atau Pembantu
Banyak orangtua yang terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mendidik anak. Kebanyakan dari mereka kemudian mempercayakan pendidikan anak kepada pengasuh atau pembantu. Hal ini tentunya dapat berpengaruh buruk terhadap anak.

Pendidikan anak yang terbaik adalah pendidikan yang langsung diberikan oleh kedua orangtuanya. Mempercayakan pendidikan anak kepada pengasuh atau pembantu akan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi renggang.

7. Membiarkan Campur Tangan Orang Lain (Kakek, Nenek, Tante dan Lain Sebagainya) Dalam Mendidik Anak
Kakek, nenek dan tante tentunya sangat menyayangi anak kita. Namun, terkadang mereka juga lupa bahwa tidak selamanya seorang anak harus disayang dan dimanja.

Mereka sering memanjakan anak kita dan melindungi kesalahannya. Hal ini tentunya akan membuat anak kita menjadi pribadi yang manja, tidak bertanggung jawab dan cenderung mencari perlindungan kepada orang lain jika mendapatkan masalah.

8. Orangtua Menakuti Anak
Banyak orangtua melakukan kebiasaan ini untuk menenangkan atau membuat anaknya berhenti menangis. Kebiasaan ini sebenarnya merupakan kebiasaan yang tidak baik.

Menakuti anak akan membuat anak membenci sesuatu dan kebencian itu dapat tertanam dalam benak anak hingga anak dewasa.

9. Orangtua Berjanji Tapi Tidak Menepatinya
Tindakan orangtua tidak menepati janji akan menyebabkan anak tidak mempercayai mereka. Hal ini tentunya akan sangat fatal akibatnya jika anak meniru apa yang kita lakukan. Ingat! Apapun yang kita lakukan anak akan menirunya.

10. Orangtua Bersikap Berat Sebelah
Secara tidak sadar biasanya orangtua cenderung memihak salah satu anak didepan anak lainnya. Tindakan ini adalah tindakan yang tidak baik dilakukan karena dapat membuat salah satu anak menjadi iri.

Jika ingin memuji atau menunjukan kesalahan salah satu anak, sebaiknya tidak dihadapan anak lainnya.

11. Orangtua Merasa Bersalah Jika Tidak Bisa Menuruti Keinginan Anak
Orangtua tidak perlu merasa bersalah jika tidak bisa memberikan atau menuruti keinginan anak. Menuruti keinginan anak secara terus menerus justru tidak baik bagi anak.

Orangtua sebaiknya memikirkan terlebih dahulu segala sesuatunya sebelum menuruti keinginan anak. Timbang dan pikirkanlah terlebih dahulu apa yang sebenarnya dibutuhkan anak, bukan yang diinginkan anak.

12. Orangtua Marah Secara Berlebihan
Tindakan marah yang berlebihan didepan anak sangat tidak baik bagi perkembangan mental anak. Marah bukan merupakan cara mendidik anak yang baik. Memarahi anak tidak akan menyelesaikan apapun, justru akan membuat keadaan makin buruk.

Jika anak melakukan sebuah kesalahan, yang harus dilakukan oleh orangtua bukan memarahinya, melainkan harus membuat anak mengerti tentang kesalahannya dan membuatnya tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

13. Orangtua Mengharap Perubahan Anak yang Instan
Anak bukanlah robot atau mesin yang dapat disetting dengan mudah sesuai keinginan kita. Mengharapkan sebuah perubahan yang instan dari diri anak justru akan membuat anak sulit melakukannya dan cenderung menyalahkan diri mereka sendiri.

Hal tersebut tentunya akan berpengaruh buruk bagi perkembangan mentalnya. Jika orangtua menginginkan sesuatu dari diri anak, usahakan agar anak mengerti apa yang kita harapkan dari mereka.

Kemudian, kita harus membimbing mereka dengan sabar sambil tetap memberikan arahan yang jelas dan mudah dimengerti oleh anak.

14. Pendengar yang Buruk
Setiap anak mengharapkan kedua orangtuanya menjadi tempat curhat yang dapat memahami kecemasan, kegelisahan dan keluh kesah mereka.

Namun, terkadang orangtua tidak menyadari keinginan anak ini. Kebanyakan orangtua (terutama orangtua yang sibuk) sering tidak sabar mendengarkan keluh kesah anak.

Bahkan, beberapa orangtua justru memarahi sang anak karena menganggapnya hanya menghabis-habiskan waktu mereka. Tindakan ini tentunya akan membuat anak tidak percaya kepada orangtua dan membuat hubungan orangtua dan anak menjadi renggang.

15. Kebiasaan Orangtua Mengungkit Masa Lalu
Kebiasaan ini dapat menyebabkan anak menjadi sakit hati dan cenderung berusaha untuk mengulangi kesalahan-kesalahannya sebagai tindakan balasan terhadap sakit hatinya.

Jika orangtua tidak menginginkan anak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, jangan pernah mengungkit kesalahan dimasa lalu.

Usahakan membuat anak mengerti dan memahami kesalahan yang pernah mereka lakukan dan bimbing anak untuk memperbaiki kesalahannya, sambil terus mengarahkan anak pada nilai-nilai yang benar.

16. Orangtua Suka Membandingkan
Kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain, sama sekali bukanlah kebiasaan yang baik. Kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain akan membuat anak merasa iri dan benci terhadap orang yang menjadi pembanding.

Sementara itu, anak yang digunakan sebagai pembanding akan menjadi besar kepala dan tinggi hati.

Jangan pernah sekalipun membandingkan anak karena setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Motivasilah anak untuk terus maju dan berikan arahan terbaik agar anak tidak melakukan kesalahan yang tidak mereka mengerti atau pahami.

17. Memberikan Hukuman Fisik
Banyak orangtua memberikan hukuman fisik seperti menjewer telinga atau memukul, jika anak melakukan kesalahan.

Tindakan ini justru akan mendidik anak menjadi kejam dan arogan. Nantinya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan, suka menyakiti orang lain, dan suka membangkang.

18. Membiarkan Anak Menjadi Korban Televisi
Media tentunya memberikan pengaruh yang luarbiasa besar dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk anak. Anak adalah pribadi yang belum dapat membedakan dengan benar semua informasi yang mereka terima.

Membiarkan anak menonton televisi dan kecanduan menonton televisi akan berdampak buruk terhadap kepribadian anak. Orangtua harus membatasi dan memilihkan program televisi yang pantas dan baik untuk ditonton anak.

Usahakan selalu mendampingi anak menonton televisi dan jelaskan kepada mereka setiap informasi yang mereka dapatkan.

Itulah 18 kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang disadari atau tidak hal itu dapat mempengaruhi perkembangan mental dan kepribadian anak.

Diharapkan setelah mengetahui dan memahami kesalahan-kesalahan tersebut para orang tua bisa menjadi lebih baik lagi dan bijaksana dalam mendidik anak-anaknya.

Sumber: cikimis.com

Wahai Ayah, Dengarkanlah Cerita Istri dan Anakmu

Wahai kaum ayah, apa yang biasa Anda lakukan sepulang kerja? Apakah Anda telah memiliki waktu khusus untuk berbincang bersama istri dan anak-anak?

Tidak sedikit para ayah yang langsung tidur atau asyik sendiri dengan gadgetnya begitu sampai rumah, ketika istrinya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini suami malah menolak mendengarkan, apalagi ketika anak minta gendong, ada saja ayah yang langsung marah-marah karena merasa dirinya sudah terlalu capek di kantor.

Padahal ada banyak kebaikan yang bisa diperoleh ketika seorang pria mau meluangkan waktu untuk keluarganya.

Berikut ini beberapa alasan mengapa para ayah sebaiknya meluangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita dari istri dan anaknya sekalipun dianggapnya menjemukan:

1. Sunah Rasulullah shalallaahu ‘alaihissalam
Rasulullah bukanlah seorang yang tidak ada pekerjaan, beliau memiliki luar biasa banyak agenda setiap harinya, akan tetapi beliau tidak pernah lupa untuk berbincang dan bercanda dengan istrinya.

“Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.” (HR. Thabrani)

Bahkan sekalipun berbincang sehabis shalat Isya’ adalah hal yang dibenci oleh Rasulullah, akan tetapi hal ini tidak berlaku jika dipergunakan untuk ngobrol bersama istri, Imam Bukhari menjelaskan bolehnya begadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).

Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh.

Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau pengantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

2. Membawa keberkahan
Jika Anda memiliki proyek di kantor atau usaha bisnis, bisa jadi ridho istri dan anak Anda lah yang menjadikan semua hal tersebut lancar dan mudah Anda jalankan. Jangan terlalu sombong segala kesuksesan Anda adalah karena kehebatan diri sendiri.

Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita dari bibir istri dan anak setiap harinya, ketika mereka merasa bahagia karena didengarkan dan diperhatikan, in syaa Allah ridho mereka itu bisa melancarkan dan memberi keberkahan untuk pekerjaan Anda.

3. Hak istri dan anak
”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah bathil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.” (HR. Thabrani)

Sumber: ummi-online.com

Wahai Ibu, Ajari Anak Gadismu Pekerjaan Domestik

Alih-alih sayang anak, banyak orangtua yang tidak mengajari anak perempuannya cara melakukan pekerjaan rumah tangga. Banyak anak perempuan yang tumbuh remaja kemudian dewasa tanpa mengerti tugas kerumahtanggaan.

Jangankan memasak, menghidupkan kompor saja bingung bagaimana caranya. Akhirnya banyak hal yang tidak bisa dilakukannya, atau malas ia lakukan, seperti mencuci baju, mencuci piring, menyeterika, menyapu lantai dan mengepel.

Tidak masalah jika Anda sebagai orangtuanya bisa hidup selama-lamanya mengerjakan segala hal untuk membantu anak gadis Anda. Akan tetapi bagaimana jika Anda meninggal dunia? Apakah putri kecil yang selalu Anda layani tersebut bisa beradaptasi dengan cepat? Sedangkan ia telah terbiasa memerintah orang lain untuk melayaninya.

Mari kita lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Bukannya beliau tidak cinta putrinya, akan tetapi justru karena mencintai putrinya, beliau lebih memilih mengajarkan dzikir-dzikir yang bisa menghilangkan rasa lelah dalam melakukan pekerjaan rumah tangga daripada memberikan pelayan untuk putrinya tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Datang Fatimah kepada Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Ucapkanlah: “Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung. Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih. Aku berlindung kepada- Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya. Engkau- lah awal dan tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau-lah yang akhir dan tiada sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin dan tiada sesuatu di bawah- Mu. Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan.” (HR. Tirmidzi)

Tidak ada salahnya mengajari anak gadis kita keterampilan mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga sejak ia kecil, ajarilah dengan cara yang menyenangkan, misalnya mencuci baju bersama, menyeterika baju bersama, menjahit baju bersama, menyapu dan mengepel lantai bersama.

Biarkan putri kecil kita belajar melayani keperluan dirinya sendiri, sehingga suatu saat nanti ketika ia dewasa, ia telah memiliki banyak keahlian untuk hidup mandiri dan bahkan membina rumah tangga.

Sumber: ummi-online.com

Tak Banyak Yang Tau! Inilah 10 Ciri Istimewa Anak Pembawa Rezeki Untuk Orangtuanya, Nomor 8 Istimewa!

Tak hanya anak yang baik dan patuh pada orang tua, ini ciri istimewa anak pembawa rejeki untuk orangtuanya. Beruntunglah jika ciri ini terdapat pada anak anda.

Semua pasti berharap mempunyai anak yang baik dan patuh pada orang tua. Itu semua tak lepas dari peran penting sebagai orang tua.

Bagaimana sikap orang tua untuk mendidik anaknya sebagaimana bisa menjadikan anak yang serupa dengan ciri-ciri ini…

Anugrah terindah ketika seseorang sudah menikah adalah seorang anak, anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah buat pasangan suami istri, bersyukurlah bagi semua pasangan yang sudah dikarunia sang anak, sebab masih banyak diluar sana saudara-saudara kita yang belum diberikan karunia anak oleh Allah.

Oleh sebab itu jangan pernah sekali-kali mensia-siakan sang anak. Tahukah anda bahwa anak itu rezeki.

Banyak anak banyak rezeki, itulah ungkapan yang sering kita dengar. Hal itu menyatakan bahwa anak yang diamanahkan Allah kepada kita adalah rezeki bagi orangtuanya.

Tetapi mengapa banyak orang yang tetap susah rezekinya meski mempunyai banyak anak? Karena rezeki Allah yang membagi, mungkin memang orangtuanya sendiri yang menghalangi rezeki mereka sekeluarga, sebagaimana dikutip dari sahabatbunda.com

Berikut ini Ciri-Ciri anak pembawa rezeki yakni diantaranya:

1. Cinta pada Allah dan RasulNya

Anak yang mencintai Allah dan RasulNya artinya selalu menurut apa yang diperintahkan dan menjauhi laranganNya, tidak menyekutukanNya dengan apapun serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladannya.

Sejak dini anak ini telah menjadi anak yang mudah dibimbing menuju agama dan tidak keras hatinya. Kondisi itu terus menerus bertambah seiring bertambahnya umur anak tersebut.

Mudah menerima pelajaran agama. Anak-anak ini akan dilimpahi rezeki yang bisa diberikan langsung padanya atau lewat orangtuanya.

2. Gemar membaca Al Quran

Beruntunglah para orangtua yang mempunyai anak yang menjadikan Al Quran sebagai bacaan wajibnya. Tidak pernah malas disuruh ngaji. Bahkan ngaji menjadi salah satu kegemarannya. Dimudahkan menghafal surah-surah dalam Alquran.

3. Suka berbuat amal saleh dan kebajikan

Anak ini mengerjakan kewajibannya sebagai hamba Allah sejak dini, seperti shalat, puasa, zakat dan mempunyai akhlak yang baik.

Anak yang membawa rezeki begitu mudah tergerak hatinya untuk melakukan amal saleh. Hatinya begitu peka pada lingkungan, mudah berbuat baik serta gampang diarahkan.

4. Berbakti pada orangtua

Anak yang menempatkan orangtuanya di atas segala-galanya. Paham betapa pentingnya peranan orangtua bagi kehidupannya.

Dia tidak akan dapat membalas jasa orangtuanya. Bakti itu ditunjukkan dengan menghormatinya, mematuhi perintahnya, tidak menyakiti hatinya, dan selalu berbuat baik kepada kedua orang tua.

Bahkan apabila orangtuanya berbeda keyakinan / agama dengan dirinya pun tetap tidak mengurangi rasa hormat padanya.

5. Suka menuntut ilmu bermanfaat.

Anak yang selalu haus ilmu yang bermanfaat bagi dirinya, agama dan masyarakatnya. Dengan keinginan sendiri dia melengkapi diri dengan bacaan bermanfaat, les, kursus di sela waktu luangnya, ikut terlibat dalam aktivitas sosial, kegiatan kepemudaan, remaja mesjid atau klub-klub olahraga yang bermanfaat.

6. Mampu mengingatkan orangtuanya.

Sejatinya orangtualah yang harus mengingatkan anak agar senantiasa berada di jalan yang benar. Namun orangtua juga manusia biasa yang penuh kelemahan dan kesalahan.

Anak yang baik akan mengingatkan orangtuanya bila cenderung melakukan dosa / maksiat dengan cara yang ma’ruf.

Hal itu dilakukan semata-mata sebab rasa cintanya pada mereka dan tak ingin mereka terus-menerus melakukan maksiat dan jadi penghuni neraka nantinya.

7. Senantiasa minta doa dan restunya.

Apapun yang hendak dilakukannya, sejak dari kecil bahkan setelah dewasa, sukses dan sudah berkeluarga kebiasaan meminta doa restu orangtuanya tidak pernah dilupakannya.

Sebab dia paham restu orangtua adalah merupakan tiket untuk mempercepat dan memudahkan rezekinya.

8. Senantiasa melibatkan orangtua dalam setiap keputusan penting yang akan dibuatnya.

Sebelum ujian, hendak mendaftar ke sekolah yang lebih tinggi, memilih calon pendamping, hendak menikah, hendak memulai usaha dan sebagainya.

9. Tak pernah lupa mendoakan orangtuanya.

Anak yang shaleh/shaleha tidak pernah lupa menyertakan orangtuanya dalam setiap doa-doanya. Dia ingin Allah menjaga, mengasihi, memberi kekuatan, kesehatan pada mereka seperti halnya yang dilakukan orangtuanya saat dirinya kecil.

Dia memohon agar Allah menjaga hatinya untuk tetap senantiasa berbuat baik pada keduanya.

10. Selalu menceriakan hati orangtuanya.

Anak-anak ialah rezeki dan keceriaan hati orangtuanya. Anak yang senantiasa menyenangkan dan menceriakan hati orangtua, selalu membuat bangga orang tua adalah anak yang membawa rezeki.

Anak ini sangat menjaga nama baik dirinya, orangtua dan keluarga besarnya. Prestasi dan ukiran nama baik menjadi tolak ukurnya.

Bukan anak yang memancing rasa susah, kegalauan, kesedihan, ratapan, umpatan bahkan keluarnya sumpah orangtua padanya.

Itulah 10 ciri anak yang membawa rezeki bagi orangtuanya. Anak itu karunia dan rezeki Ilahi, diberikan pada orang-orang yang terpercaya untuk menjadi orangtua. Tidak semua orang diberi rezeki ini bukan?

Solusi agar anak dapat memenuhi ciri-ciri anak pembawa rezeki orangtua.

Mempunyai anak shaleh/shaleha dan membawa rezeki itu harus diupayakan.
Mulai dari proses pembuatanya yang menyertakan Allah di dalamnya.
Ucapan bismillah saat melakukan hubungan suami isteri dan doa yang dipanjatkan padaNya agar bila hubungan tersebut menghasilkan janin, akan diiringi rahmatNya.
Proses kelahiran, membesarkan dan mendidiknya dengan ilmu agama dan ilmu yang bermanfaat.
Senantiasa memantau perkembangan anak, menggiring ke jalan yang benar dan menariknya segera bila tercebur dalam kemaksiatan.
Senantiasa ada saat anak membutuhkannya. Sehingga setelah tua nanti anak akan selalu ada juga untuk dirinya.
Mendidik dengan pujian dan penghargaan serta meminimalkan hukuman.
Menjadikan diri teladan terpuji buat anak. Jangan menyebut-nyebut kebaikan dan jasa kepada anak. Karena itu sudah semestinya dan menjadi tanggung jawab orangtua. Berusaha melindungi anak dari pengaruh luar yang membahayakan.
Berikan apa yang terbaik bagi tumbuh kembangnya. ASI sejak lahir sampai 2 tahun, makanan bergizi, merangsang kreativitasnya dan sosialisasinya.
Apabila ingin mempunyai anak saleh dan membawa rezeki, mulailah dari diri anda terlebih dahulu.

Jadilah manusia shaleh/shaleha yang akan menjadi contoh dan teladan bagi mahluk kecil yang murni jiwanya itu. Masa kecil anak hanya sekali, jadikan masa itu terindah baginya.

Semoga dengan artikel ini dapat menjadi ilmu orang tua dalam mendidik sang anak, semoga bermanfaat…

**

Sumber : wajibbaca.com

Ibu, Jangan Pukul Anak yang Lambat Atau Ngeyel Saat Kamu Perintah. Nanti Kamu Menyesal

Kita tentu akan sependapat bahwa tingkah anak, apalagi yang usianya masih balita, memang terkadang bisa bikin naik pitam. Anak sudah dibiling satu kali, tetap saja ia mengulangi perbuatannya lagi. Lalu kadang juga ia tak menurut.

Situasi seperti itu tak jarang membuat para ibu menjadi jengkel dan marah. Tak sedikit yang kemudian memukul anaknya agar ia bisa diam. Agar ia patuh. Tapi ternyata tak seperti itu lho Bunda.

Seorang anak tentu akan bertingkah seperti halnya anak-anak yang lain. Penuh dengan kepolosan dan tanpa beban dalam pikiran.

Mereka asik dengan dunianya, walau terkadang hal-hal yang melakukan merupakan hal yang tidak baik untuk mereka lakukan. Di sinilah peran orang tua begitu berpengaruh bagi tingkah laku anak untuk masa depannya.

Biasanya akibat salah dalam mendidik, seorang anak merasa tertekan dan tidak menyukai dunia yang sedang ia alami. Seperti halnya tingkah orang tua, terutama ibu yang memperlakukan keras kepadanya.

Hal inilah yang membuat anak merasa tertekan dan bahkan membenci orang yang telah melahirkannya sendiri.

Hal yang biasa terlihat dalam kehidupan kita ialah seorang ibu yang begitu mudahnya memukul kepada anak, ketika anak melakukan kesalahan. Tentu saja, anak tersebut menangis dan tak mau dekat dengannya.

Bahkan ironisnya, ketika sudah tahu anak tersebut menangis, sang ibu malah lebih menambah pukulannya dengan begitu keras, hingga anak tak mampu lagi menahan tangisnya.

Ternyata, mungkin karena emosi sang ibu yang tak tertahankan karena melihat tingkah anaknya yang begitu hiperaktif, maka tak jarang pula ibu yang melaknat anaknya sendiri.

Perbuatan inilah yang sudah termasuk dalam kategori dosa besar. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi pemberi kesaksian dan syafaat pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim).

Maka dari itu, sejengkel apa pun kita menghadapi anak, kita harus bisa mengontrol diri. Jangan biarkan emosi menguasai diri Anda. Anda tak mau kan, kalau-kalau anak Anda sendiri tak mau mengakui Anda sebagai ibu?

Nah, maka dari itu, mendidik anak ke arah yang baik itulah yang harus dilakukan, bukan berarti kita menerapkan sistem kekerasan pada anak. Boleh saja kita melakukannya, tapi kita harus tahu kadarnya.

Jangan sampai, pukulan itu yang tadinya membuat anak untuk mengerti, malah membuat anak semakin melunjak, hingga tingkahnya tak terkendali.

Menurut saya memang kita sebaiknya tidak memukul anak saat usia anak kurang dari 10 tahun. Tapi ada pula yang berpendapat bahwa memukul anak itu diperbolehkan dalam situasi dan kondisi tertentu lho Bunda. Tujuannya untuk memberikan pendidikan pada anak.

Tapi kata orang memukul juga kadang diperbolehkan. Saat situasi yang bagaimana orang mesti memukul anak?

Saya kutip dari tulisan Dewi Arum yang dimuat di kompasiana, bahwa ‘hukum pukul hanyalah bagian kecil dari konsep dasar hukuman dalam lingkup ganjaran. Namun yang menjadi persepsi umum adalah bahwa hukuman adalah hukum pukul.

Mereka lupa dengan bentuk hukuman lainnya. mereka telah mempersempit definisi yang sebenarnya sangat luas; dan memperluas apa yang sempit, yakni hukum pukul itu sendiri.

Mereka menggeneralisir suatu bagian kecil; padahal dalam konsepnya, penggunaan bagian kecil itu diatur dengan syarat dan batasan tertentu; dengan tetap memperhatikan kondisi yang melingkupinya dan aturan yang mengaturnya.

Bila manfaat yang diharapkannya tidak bisa terjadi, maka hukuman ini pun hendaknya ditiadakan sebagai satu bentuk hukuman dan proses pendisiplinan dalam dunia pendidikan.

Dalam bukunya Risaalatu Riyaadhatu Shibyaan, Syamsudin Al-Bani memaparkan cara yang harus dipenuhi ketika hendak memberikan hukum pada anak, yaitu memukul anak kecil :

Pertama, Pukulan diberikan dengan jeda; yakni tidak dilakukan secara terus menerus.

Kedua, Ada fase antara satu pukulan dengan pukulan lain untuk meringankan rasa sakit.

Ketiga, Jangan memukul lengan agar tidak menambah rasa sakit.

Keempat, Jangan memukul ketika pendidik sedang marah sebagaimana ketika Nabi saw melarang seorang hakim mengadili ketika ia sedang marah. Larangan ini pun berlaku untuk pendidik anak.

Umar bin Abdul Aziz pernah memerintahkan asistennya untuk memukul seseorang, ketika perintah tersebut akan dilakukan, Umar bin Abdul Aziz malah memerintahkan untuk menghentikan dan membuat orang-orang heran.

Beliau berkata, “Aku sedang marah dan aku tidak suka memukul ketika sedang marah.”

Pukulan pun harus dihentikan di kala anak merasa ketakutan. Hal ini menandakan bahwa hukum yang ada telah bekerja dampaknya hingga tidak diperlukan lagi.

Jangan memukul sebelum anak berumur sepuluh tahun. Sedang dalam hadits riwayat Tirmidzi dinyatakan berumur tiga belas tahun. Ismail bin Said berkata, Ahmad ditanya tentang masalah memukul anak dalam urusan shalat. Ia berkata, ‘jika sudah baligh –yakni berusia sekitar sepuluh tahun’.

Atsram mengungkapkan, ‘anak dihukum sesuai kesalahannya dan jika pukulan tersebut memang diperlukan. Anak kecil yang belum berakal jangan dipukul sampai ia berumur tiga belas tahun

Diriwayatkan dari Anas bahwa nabi saw. bersabda, “perintahkan anak kalian shalat di kala berusia tujuh tahun dan pukullah –bila tidak melakukannya- di kala mereka berusia tiga belas tahun” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang dari kalian memukul pelayan, lalu ia menyebut nama Allah, maka angkat tanganmu! –yakni hentikan” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah adab dan ketentuan memukul anak dalam islam.. Semoga bermanfaat yaa.

Sumber: momonganak.org

Benarkah Kecerdasan Anak Diwarisi Dari Ibu?

Selain asupan gizi, kualitas pendidikan, rajin, hingga disiplin, kecerdasan anak juga dipengaruhi oleh faktor genetika. Boleh dibilang, kecerdasan Si Kecil kelak akan mencerminkan kecerdasan orangtuanya.

Meskipun begitu, faktor gen yang diwarisi ibu lebih berperan penting dalam menentukan kecerdasan anak-anaknya. Rasanya memang sedikit tidak adil di telinga kaum lekaki, tapi memang begitulah faktanya.

Melansir Independent, menurut penelitian ahli dari University of Washington, wanita cenderung mentransmisi gen kecerdasan ke anak yang terbentuk dari kromosom X.

Nah, wanita sendiri memiliki dua kromosom X, sedangkan pria hanya memiliki satu kromosom X. Artinya, wanita dua kali berpeluang mewariskan kecerdasan pada anak ketimbang pria.

Lalu, bagaimana jika ayah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu? Menurut sebuah riset yang dipublikasikan oleh Psychology Spot, meskipun ayah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi, tapi kesempatan untuk mewarisinya pada anak kecil sangat kecil. Pasalnya, jika gen kecerdasan diwarisi dari gen ayah dan ibu, maka gen ayah akan gugur dan tidak aktif.

Berawal Dari Riset Tikus
Sebuah studi dalam laboratorium pernah menggunakan tikus sebagai alat percobaannya. Para ahli meyakini kalau kecerdasan merupakan salah satu condition gen yang hanya dimiliki oleh gen ibu. Nah, studi yang dimodifikasi secara genetik itu pun membuktikan hal tersebut.

Dari enam tikus yang digunakan dalam percobaan, hanya tiga tikus saja yang disuntikkan gen ibu, tiga lainnya disuntikkan gen yang dibawa oleh ayah.

Hasilnya, tikus yang disuntikkan gen ibu menunjukkan memiliki otak yang berkembang dan lebih besar dengan tubuh yang lebih kecil. Ukuran otak inilah yang membuat tikus-tikus jadi lebih pintar.

Nah, karena merasa manusia enggak bisa disamakan dengan tikus, peneliti di Glasgow, Skotlandia, memilih melakukan riset yang lebih manusiawi untuk mengeksplorasi kecerdasan.

Sejak dari 1994 dan dilakukan tiap tahunnya, peneliti mewawancarai 12.686 orang yang berusia 14 sampai 22 tahun. Hasilnya, tim peneliti menemukan prediktor kecerdasan terbaik adalah IQ dari gen Sang Ibu.

Ada juga penelitian menarik lainnya dari Unversity of Washington, AS. Dair penelitian ditemukan bahwa ikatan emosional yang baik antara ibu dan anak amat penting bagi pertumbuhan beberapa bagian otak. Contohnya area hippocampus, yaitu area yang berhubungan dengan memori, belajar, dan respons stres.

Nah, setelah peneliti melakukan analisa antara hubungan ibu dan anak selama tujuh tahun, mereka menemukan temuan yang menarik.

Ternyata, jika seorang anak mendapatkan dukungan emosional dan intelektual dengan baik, maka area hippocampusnya lebih besar 10 persen daripada anak-anak yang kurang mendapatkan dukungan dari ibunya.

Tidak Mutlak Karena Genentik
Meskipun kecerdasan anak berkaitan erat dengan faktor genentik, tapi bukan berarti pintar-tidaknya seorang anak mutlak dipengaruhi oleh faktor tersebut. Ada penelitian yang menyebutkan hanya 40-60 persen kecerdasan yang diperkirakan berasal dari warisan gen.

Kata ahli psikiatri dari Utrecht University Medical, Belanda, secara umum orangtua yang sangat cerdas akan menghasilkan anak yang cerdas pula.

Namun, hal ini enggak mutlak, bisa saja kedua orangtua memiliki kecerdasan yang rendah, tapi ternyata menghasilkan anak yang memiliki IQ tinggi, atau sebaliknya. Kok bisa?

Selain genetik, kecerdasan anak sisanya bergantung pada lingkungan. Jadi, lingkungan punya pengaruh pada kecerdasan, meskipun pengaruh ini akan menjadi lebih kecil jika anak tumbuh semakin dewasa.

Ahli dari Melbourne University’s Graduate School of Education juga berpendapat senada. Katanya, anak enggak hanya berbagi gen saja, mereka juga berbagi keluarga dan lingkungan.

Dengan kata lain, dengan siapa anak bergaul, makanan apa yang mereka makan, kualitas pendidikan, dan hal lainnya, turut serta memengaruhi kecerdasan anak.

So, Ibu harus menjadi wanita yang cerdas dan pastikan anak tumbuh di lingkungan yang baik, ya. Tujuannya jelas, agar Si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan membanggakan.

Sumber: halodoc.com