Pilihlah Nama Terbaik Untuk Buah Hati Anda

Al-Ism (nama) berasal dari kata al-wasm yang artinya pertanda atau lambang. Hal ini banyak tercantum dalam Al-Quran seperti firman Allah Ta’ala ,

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7)

Ada yang berpendapat kata al-ism berasal dari kata al-sumuw yang artinya al-‘uluw (tinggi).

Akan tetapi tidak masalah menggabungkan dua makna ini terutama ketika nama itu diberikan kepada anak Adam dari kalangan kaum muslimin. Dengan demikian nama tersebut sebagai pertanda yang tinggi (luhur) untuk dirinya.

Hakikat dari nama bayi adalah sebagai identitas dan tanda pengenal yang dapat dibedakan sesuai dengan kemuliannya sebagai anak Adam dan sebagai kaum muslimin.

Oleh karena itu, para ulama sepakat menetapkan wajibnya memberi nama kepada laki-laki atau perempuan. Nama juga memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap akhlak dan cara hidup umat ini.

Keterkaitan Seseorang dengan Namanya
Tidak disangsikan lagi bahwa terdapat keterkaitan antara arti sebuah nama dan orangnya sebagaimana dijelaskan oleh dalil syar’idan atsar, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَسلَمُ سَالَمَهَا اللَّهُ وَ غِفَارُ غَفَرَ اللّهُ لَهَا وَعُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ
“Aslam (nama orang -ed) semoga Allah mendamaikan hidupnya, Ghifaar (nama orang -ed), semoga Allah mengampuninya dan ‘Ushayyah (nama orang -ed) telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau melihat Sahl bin Amr datang pada hari perjanjian Hudaibiyah,

سَهلَ أمْرَكُمْ
“Urusan kalian menjadi sahl (mudah).” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga memberikan kepada Abul Hakam bin Hisyaam dengan julukan (kunyah) Abu Jahal. Sebuah kunyah yang sesuai dengan orangnya dan ia adalah makhluk yang paling berhak mendapatkan kunyah ini.

Demikian juga kunyah Abu Lahab yang diberikan kepada Abdul ‘Izza karena ia akan di tempatkan di dalam neraka yang memiliki lidah api.

Juga perhatikan hadits Sa’id bin Musayyib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Aku pernah menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya kepadaku, ‘Siapa namamu?’

Ia menjawab ‘Namaku huzn (kasar atau sedih).’

Beliau kembali bersabda, ‘Ganti namamu dengan nama Sahl (mudah).’

Ia berkata, ‘Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh ayahku.’ Ibnu Musayyib berkata, Sejak saat itu sifat kasar senantiasa ada di keluarga kami.” (HR. Bukhari)

Maka pilihlah nama yang terbaik untuk buah hati anda.

Sumber: muslimah.or.id

Jika Anakmu Kelak Bertanya Tentang Allah, Jawablah Seperti Ini

Dear Ayah Bunda, inilah JAWABAN MENDASAR PERTANYAAN ANAK TENTANG ALLAH, yang penting Ayah-Bunda ketahui. Like, share dan tandai sebanyak-banyaknya. Semoga menjadi pahala dan dengan cepat terwujudnya generasi muslim bertauhid, dan cerdas.

PERTANYAAN 1: “BU, ALLAH ITU APA SIH?”

Jawablah: “Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, katak, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu dan juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

PERTANYAAN 2: “BU, BENTUK ALLAH ITU SEPERTI APA?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Bentuk Allah itu seperti anu… ini… atau itu….”, karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini: “Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَاجًا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَاجًا ‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qur’an Surat Asy-Syura: 11).

PERTANYAAN 3: “BU, KENAPA KITA TIDAK BISA MELIHAT ALLAH?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Karena Allah itu ghaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang”.

Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat al-Qur’an:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Dzahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur’an Surat Al-Hadid:3).

Dan ini dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan ghaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil al-Qur’an surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Dzat-Sifat-Asma (Nama) dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Dzat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧)

[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Qur’an Surat An-Najm: 16-17). {ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}

Jawablah begini :

“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”

Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris )

“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi, bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

PERTANYAAN 4: “BU, ALLAH ITU ADA DI MANA?”

Jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Nak, Allah itu ada di atas.. di langit.. atau di surga atau di Arsy.”

Jawaban seperti itu menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah… berarti prinsip “Allahu Akbar” itu bohong?

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ

Dia bersemayam di atas ’Arsy.

Ayat di atas adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.

Juga jangan jawab begini (jawaban yang keliru): “Nak, Allah itu ada di mana-mana.”

Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:

“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang shaleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (al-Hadits).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Qur’an Surat Al-Baqarah : 186).

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Qur’an Surat Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Qur’an Surat Al-Baqarah: 115).

“Allah sering lho bicara sama kita.. misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيمٍ

Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Qur’an Surat Al-Baqarah: 213)

Source: elhooda.net

Wanita Ini Beberkan, “Ranking 1 Bukan Kunci Sukses”, Ini Cara Deteksi Kecerdasan Anak Yang Tepat

Mendeteksi Potensi Kecerdasan Anak Melalui Rapor Sekolah

Mungkin bunda selama ini melihat kecerdasan anak berdasarkan ranking, tapi taukah selama ini bunda salah, ada ilmu dan tips yang tepat mendeteksi kecerdasan ana lewat nilai rapor yang ada perhitungannya.

Salah satu akun facebook membagikan ilmunya untuk para orang tua, supaya bisa melihat potensi yang dimiliki anak bunda.

Pasti bunda juga sering melihat rapor anak seusai pembagian, tapi kadang hanya melihatnya saja, atau jika dapat ranking ya sudah dibiarkan saja.

Padahal mengetahui kemampuan, kecerdasaan, potensi anak sangat penting juga, karena bisa dikembangkan dan didukung agar lebih maju dan lebih sukses nantinya.

Akun facebook bernama Diana Agustin, menuliskan ilmu yang sangat berguna dan bermanfaat bagi bunda yang ingin mejadikan anaknya sukses nanti.

Seperti ini tulisan asli Diana Agustin yang diunggah di akun facebooknya

Akhir bulan Desember adalah penerimaan raport buat para putra-putri kita. 

Saya ikut bahagia di hari yang penuh ceria ini , dan ijinkan saya berbagi tips buat bapak ibu semua.

Tips berikut barangkali memiliki sudut pandang yang mungkin berbeda. Namun jika perspektifnya sama, alhamdulillah.

Yg utama semoga bermanfaat untuk kita semua.

Raport adalah *Progress Report Pembelajaran* laporan perkembangan ananda selama satu semester dalam menempuh seperangkat materi pelajaran dan *BUKAN hasil akhir*

Oleh karenanya saat menerima raport lakukan hal2 berikut :

1. *Tutup raport* terlebih dulu ! Tanyakan kpd ananda Pelajaran apa yg ia sukai dan siapakah guru yg ia sukai.

Ini akan berpengaruh terhadap nilai di dalam raport.

Belajar adalah hasil kerja mental emosional (EQ) yg kemudian mengarahkan kemampuan kognitif nya (IQ) untuk meresponnya untuk memperoleh nilai2 belajar.

2. *Buka raport.* Fokus kepada nilai TERTINGGI yg ada di raport.

Coba cek adakah signifikansi dg pelajaran yg diminati anak dan guru nya yg dia sukai.

Sekali lagi 

*FOKUS lah kepada NILAI TERTINGGI* karena disitulah *KELEBIHAN* ananda. Itulah Anugerah terindah dari Tuhan Alloh yg diberikan. Terima dan Syukuri !

Berikan senyuman dan ucapan dg kalimat yg berisi pujian, apresiasi dan penghargaan dg tulus kpd ananda atas prestasinya.

3. *Perhatikan nilai nilai yg tertinggi dan nilai nilai pelajaran yg rendah.*

Perhatikan pembagian secara sederhana untuk memudahkan memetakan Oka (otak kanan) dan Oki (otak kiri)

kelompok pelajaran *otak kiri* (matematika, IPA/sains, fisika, kimia, biologi, teknik dll)

*Otak Kanan* ( bahasa, seni,IPS,)

Jika Ananda dominannya di Oki maka arahkan nantinya ke jurusan sesuai bidang Otak kiri. Demikian sebaliknya.

Raport Ini juga bermanfaat u deteksi kecerdasan sekaligus penjurusan !!!

Jangan sekali kali memaksakan anak yg dominan di pelajaran otak kanan, misalnya, untuk kuliah / sekolah menengah di jurusan golongan otak kiri semisal Matematika, IPA , kedokteran, teknik dll .

Selain kasihan kepada anak, karena menjadi beban, juga kecerdasan anak memang bukan disitu,akhirnya hasilnya/prestasiny menjadi kurang maksimal.

4. *Tanyakan kepada ananda, nilai pelajaran apa yg rendah, mengapa bisa terjadi dan bagaimana solusinya untuk selanjutnya !*

Ini sekaligus berguna bagi penguatan fondasi jiwa dan mental anak.

Melatih anak agar ia menerima diri apa adanya. Memaafkan diri dan ikhlas atas kekurangan kita sbg hamba Alloh yg lemah, kurang, sehingga memotivasi diri untuk memperbaiki.

Kecerdasan spiritual (SQ) dan keimanan yg kokoh dibangun dg melihat diri bahwa manusia memiliki sekian banyak KELEBIHAN sekaligus KELEMAHANNYA…!

Maka latihlah ananda untuk belajar menerima diri apa adanya.

5. *Jangan sekali kali MEMBANDING BANDINGKAN dg anak lain!* Karena anak anda adalah unik, berbeda dan HANYA SATU DI DUNIA tidak ada duanya.

Alloh sdh memberi Fitroh terbaik ! 
bakat, minat, kecerdasan, modalitas belajar dan potensi yg khas yg berbeda dg anak lain.

So Jangan dibandingkan !!! Karena putra putri Anda Tidak ada bandinganya.

Tulisan dari sahabat berikut ini juga layak untuk diperhatikan :

1. BERHENTILAH anda memamerkan ranking puta-putri anda!

Yang TERPENTING dari Pendidikan itu BUKAN ranking.

Hakekat dari pendidikan itu adalah menjadikan anak anda:
• mencintai aktivitas membaca untuk mencari pengetahuan
• bisa berpikir logis
• tahu nilai-2 benar & salah
• mampu mengembangkan bakatnya, dan
• punya semangat juang untuk mewujudkan apa yang dia inginkan secara disiplin & konsisten.

2. BERHENTILAH anda menjadikan ranking putra-putri sebagai kunci dari keberhasilan !

Ketika kita menjadikan ranking sebagai bukti keberhasilan pada anak kita, dampak terbesar adalah pada titik itulah kita berfokus. Kenyataannya TIDAK !!

• Saat anak anda mencintai membaca maka mereka menguasai banyak pengetahuan, tidak peduli apakah mereka punya ranking baik atau buruk.

• Saat anak anda bisa bepikir logis maka mereka akan mampu membangun visi dan impian mereka. Visi dan impian mereka itu tidak bisa dinilai per semester atau per semester untuk diperbandingkan antara anak satu dengan anak lainnya.

• Saat anak anda tahu mana nilai yang benar dan mana yang salah maka mereka akan punya integritas

• Saat mereka mengenal bakat mereka yang sesungguhnya maka mereka akan mampu menghasilkan karya dan dedikasi yang terbaik

• Saat anak anda punya semangat juang maka itulah kunci sejatinya kesuksesan hidup.
Dan ini semua tidak bisa diranking.

Jika anda fokus pada ranking maka anda akan kehilangan nilai-nilai yang hakiki dalam pendidikan.

Kalau anda harus kompromi dengan sistem pendidikan sekolah maka “kompromi” anda adalah, usahakan anak anda SELALU naik kelas dan bergairah menjalani aktivitas sekolahnya.

Terakhir, 
Maknai nilai raport anak anda *HANYA* sebagai *SALAH SATU* indikator untuk tahu mana titik lemahnya, mana titik unggul …

Semoga dg raportan yg bapak ibu terima, semakin memotivasi untuk tumbuh kembangnya potensi dan kecerdasan serta bakat minat ananda !

Raportan bukan Raport Amal Baik dan Buruk Hari Akhir, bukan!!!

Buku Raport ananda bukan catatan amal baik dan buruk hari akhir nanti, yg tidak bisa diperbaiki.

Raport bukan hasil akhir, ia adalah catatan hasil belajar ananda yg masih bisa dievaluasi dan diperbaiki !

Semoga Alloh menganugerahkan kesolehan dan berkenan mencerdaskan anak kita semua, yg mana kecerdasannya itu dijaga oleh Nya
Aamiin

*Semoga bermanfaat*

Rumah Yang Selalu Berantakan Oleh Ulah Anak, Ternyata Itu Pertanda Sesuatu Yang Tak Kita Sangka Terjadi!

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan dan kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.

Rumah tampak selalu rapih, bersih dan teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian.

Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata kepada sang ibu :

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?”

Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.

Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak.

Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”.

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

“Sekarang bukalah mata ibu.” Ibu itu membuka matanya. “Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah
buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.”Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) .

Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain.

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.

4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi.

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan.

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.

10. Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi.

Anakmu Bisa Meninggal Karena “Dipukul” Sekali, Inilah 4 Bagian Fatal Yang Pantang Dipukul

Orang tua jangan sembarang memukul anak di bagian ini. Adalah wajar jika dalam kehidupan sehari-hari sesekali anak kita bertingkah, bandel dan sejenisnya. Kadang-kadang orang tua tak dapat menahan emosi dan menghukum anaknya dengan cara keras. Namun harus hati-hati, ternyata 4 bagian ini pantang untuk ditampar atau dipukul

Kisah ini adalah peristiwa nyata. Seorang anak perempuan berusia 8 tahun tiba-tiba merasa nggak enak badan, pusing dan muntah-muntah. Orang tua pun langsung membawanya ke rumah sakit, tapi tidak disangka setibanya di rumah sakit, anak kecil tersebut telahdinyatakan meninggal. Orang tuanya pun bingung, apa yang membuat anak kecil yang sehat-sehat tiba-tiba meninggal. Sang ibu curiga apakah keracunan makanan. Tapi hasil otopsi menunjukkan tidak ditemukan adanya racun dalam sistem pencernaan anak.

Setelah setelah dìperìksa, ternyata penyebab kematìannya ìalah luka dì bagìan dalam otaknya, yang dìsebabkan oleh rangsangan darì luar.

Parahnya, yang menyebabkan luka tersebut adalah “1 tìndakan” darì sang ìbu sendìrì. Sang ìbu tìdak sadar bahwa satu pukulan dì belakang kepala anaknya sore ìtu akan merengut nyawa kecìlnya. Sore ìtu, ìa mengerjakan PR sambìl nonton fìlm kartun. Alhasìl, banyak PR-nya pun salah saat dìperìksa. Sang ìbu yang tak bìsa mengontrol emosì pun memukul sekalì kepala anaknya darì belakang.

Bagìan belakang kepala terdapat batang otak, otak kecìl, medula oblongata dan organ vìtal laìnnya, dì tambah lagì banyak rongga dan susunan tulang yang kompleks, membuat bagìan kepala sangat rentan terhadap serangan darì luar. Jìka mendapat pukul yang keras, tìdak hanya bìsa menyebabkan gegar otak tapì juga komplìkasì sepertì gagal napas.

Karena ìtu, orang tua jangan sampaì memukul bagìan belakang kepala anak.Tentu saja, selain bagian belakang kepala, bagian berikut ini juga tidak bisa main-main!

1. Bagian pelipis

Tulang di sekeliling bagian pelipis sangatlah lunak dan fatal apabila dipukul. Kalau buka gegar otak yah patah tulang. Saraf optik yang berhubungan ke mata juga bisa rusak dan menyebabkan kebutaan

2. Bagian pantat

Banyak orang tua pikir kalau pantat itu daging semua, dipukul tidak apa-apa. Tapi tahukah Anda bahwa saraf skiatik (saraf terpanjang dalam tubuh yang memanjang dari sumsum tulang belakang sampai pantat dan daerah pinggul dan di bagian belakang kaki kaki) terletak di pantat? Memukul pantat terlalu keras bukan hanya beresiko merusak saraf ini, tapi juga bisa menyebabkan kelumpuhan.

3. Menarik atau menjambak rambut anak

Menjambak rambut bukan hanya mudah menimbulkan kerontokan, tapi juga kerusakan akar rambut dan kulit kepala.

4. Menjewer telinga

Nah, ini sering sekali nih dilakukan para orang tua. Hati-hati, menjewer terlalu kuat tidak hanya bisa menyebabkan luka pada gendang telinga dan mempengaruhi pendengaran anak, tapi juga mudah menyebabkan perforasi membran timpani yang mempengaruhi perkembangan pendengaran pada bayi.

Selain itu, hidung juga tidak boleh asal dijepit. Pada saluran hidung terdapat banyak selaput lendir dan pembuluh darah, jika dipencet terlalu keras akan menyebabkan berbagai macam masalah pada hidung.

Ingat! Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, malah dapat menyebabkan tekanan psikologis pada anak, mempengaruhi kecerdasan, merenggangkan hubungan dengan orang tua dan jika sudah kelewatan, anak akan menjadi sangar dan tumbuh besar menjadi seperti contoh orang tuanya.

Jika anak berbuat salah, berilah hukuman yang “sepantasnya”. Bicara baik-baik dan jelaskan kepada anak supaya anak mengerti, jangan pakai kekerasan. Semoga kejadian jangan sampai terjadi pada anak dan orang tua manapun

Semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan menambah wawasan para orang tua agar tak sembarangan dalam bertindak terhadap buah hatinya.

Hati-hati, Gangguan Pada Anak Akibat Ayah Jarang di Rumah

“Hore… Ayah pulang..!” kata si kecil sambil berlari menyambut saya di depan pintu.

“Iya… sini,” saya peluk dia. Ia lalu bercerita ceriwis apa saja yang ia lakukan. Kadang sambil membawa mainan kesayangannya.

Sungguh momen-momen seperti ini adalah sesuatu yang paling berharga. Rasanya saat itu segala kepenatan badan hilang ketika melihat senyum dan mendengar celoteh si kecil.

Apakah anda para ayah juga mengalaminya? Jika iya, anda patut bersyukur bahwa tidak ada hambatan psikologis dari anak untuk dekat dengan Anda sebagai ayahnya. Karena ternyata tidak semua ayah bisa mengalami momen-momen berharga begitu.

Ada juga seorang ayah yang ternyata “hilang” dalam kehidupan anaknya. Bukan “hilang” dalam arti pergi jauh atau meninggal, tapi ia ada di rumah, tetapi kehadirannya tidak dirasakan oleh si kecil. Fenomena itu disebut sebagai “fatherless.”

Anak saya pernah mengalami “fatherless” ini. Dan itu membuat saya merasa sangat bersalah padanya. Terasa sekali ada luka di hati saya, bahwa anak saya sendiri ternyata tidak merasakan kehadiran ayahnya.

Ceritanya Begini
Sebagai ayah yang memiliki kewajiban mencari nafkah untuk keluarga, tentu saya akan bekerja keras agar semua kebutuhan keluarga saya dapat tercukupi. Tidak menjadi soal meski harus pergi pagi pulang malam akan saya jalani.

Waktu itu saya berpikir bahwa urusan mendidik anak sudah ada istri yang siap 24 jam mendampingi anak saya. Konsekuensinya memang anak akan sangat jarang berinteraksi dengan saya, tapi tak apalah karena saya bekerja untuk kebaikan mereka juga.

Saya berangkat kerja pagi pas anak-anak belum bangun, agar tidak terjebak macet.

Hilang kesempatan untuk menyapa si kecil pada pagi hari, memang ada rasa yang hilang di hati saat tak bisa menyapa si kecil di awal hari, tapi ya sudahlah karena saya harus bekerja mencukupi kebutuhan mereka. Semoga kelak saat ia dewasa akan mengerti.

Pulang kerja sampai rumah jam sembilan malam. Saya lihat si kecil dah tidur pulas, rasanya kasihan kalau membangunkannya maka saya cukupkan dengan mengecup keningnya.

Habis itu istri cerita kalau si kecil selalu menanyakan saya, “Bund, ayah pulang jam berapa? Aku ingin main sama ayah, kangen bund,” katanya.

Mendengar hal itu, ada rasa bersalah di hati saya saat mengetahui pertanyaan itu keluar dari bibir si kecil. Saya kecewa dengan diri sendiri, karena saat si kecil membutuhkan kedekatan dengan ayahnya, saya justru tidak hadir disampingnya.

Saya lantas berpikir, “sepertinya bila saya tidak meluangkan waktu khusus untuk bersama si kecil, lama-lama dia akan jauh dariku, dia akan merasa asing dengan ayahnya sendiri, bisa dipastikan dia akan kehilangan sosok ayah yang dibutuhkannya.”

Maka sejak itu saya membuat jadwal setiap hari minimal 30 menit untuk bermain dengan anak,. Waktu pagi saya bangunkan si kecil lebih awal kemudian saya buat kesepakatan dengan si kecil untuk bermain bersama saat saya pulang kerja.

Akhirnya dia sepakat dan pagi itu diakhiri dengan senyuman lucunya, si kecil mengantar saya sampai depan rumah untuk berangkat kerja. Saat selesai kerja saya berusaha untuk sampai rumah lebih awal, jangan sampai dia tidur terlebih dahulu dan tidak ketemu saya. Agar kedekatan saya dengan si kecil selalu terjaga.

Alhamdulillah sejak hari itu, meski sehari hanya 30 menit sampai 1 jam saya selalu bisa bersama dengan anak dan dia merasa senang sekali selalu bisa dekat dengan ayahnya.

Kalaupun suatu ketika karena kondisi pekerjaan yang banyak sehingga saya harus pulang telat, maka saya buat kesepakatan dengannya untuk mengganti waktu bermain bersamanya di akhir pekan dengan durasi waktu yang lebih lama.

Itu sedikit cerita dari pengalaman saya tentang pentingnya kehadiran ayah di rumah untuk membersamai anak. Jangan sampai anak-anak kita kehilangan sosok ayahnya, karena dampaknya begitu mengkhawatirkan.

Akibatnya anak kehilangan sosok panutan, anak lari dari rumah, anak mudah terpengaruh hal-hal buruk, anak memiliki cacat kepribadian, penyimpangan seksual, dan lainnya. Hal itu akan merusak kehidupan anak-anak kita.

Pakar parenting, Elly Risman, mengatakan bahwa kehadiran ayah itu membuat anak menjadi lebih berarti, menjadi lebih tangguh, mempunyai inisiatif. Dari ayahlah, si anak belajar memiliki sikap berani dan siap menghadapi risiko. Itu bisa terbaca dari hal sederhana seperti cara laki-laki (ayah) bermain dengan anak-anaknya.

Permainan seorang ayah lebih bersikap fisik, membuat si anak “bekerja” mengelola kekuatan fisik sekaligus rasa takut dan rasa cemasnya—gulat-gulatan, panco-pancoan, tarik-tarikan, kejar-kejaran—sementara permainan yang dipraktikkan sang ibu lebih cenderung bersifat verbal (kebanyakan ngoceh sih), atau dengan menggunakan alat bantu seperti mainan atau boneka.

Anak kecil itu kalau dipegang sama ibunya, itu hati-hati banget. Kalau dipegang sama ayahnya, dipegang pantatnya dinaikin ke atas. Kalau jatuh lagi, dia tangkap sama tangan kiri. Jadi anak seneng, dia pegang kipas angin, dia pegang bohlam. Tahu enggak, seorang ibu tidak akan melakukan itu.

Alhasil, sang ayahlah yang lebih berperan mengajari bagaimana si anak bisa lepas dari dari bermanja-manja di buaian kasih ibu. Ayahlah yang akan mengajak si anak menghadapi dunia luar dengan lebih berani.

Bermain dengan ayah juga membuat anak pandai membaca emosi sang ayah (dan kelak emosi orang lain lagi) melalui ekspresi wajah, tekanan suara, dan bahasa tubuh lainnya.

Oleh karena itu sesibuk apapun kita, tetap harus memiliki waktu khusus untuk membersamai tumbuh kembang anak-anak, karena sejatinya anak-anak itu adalah gambaran masa depan orang tuanya.

Jika anak-anaknya baik Insya Allah masa depan orang tuanya juga baik. Salam bahagia

Oleh: Yudi Nugraha
Seorang ayah dari tiga orang anak

Sumber: gizidat.com

Kisah Viral: Anak Selalu Rangking 23, Tapi Saat Semua Rapor Dibuka Hal Mengejutkan Terungkap

Beragam kisah inspiratif bermunculan di media sosial. Baru-baru ini muncul sebuah cerita viral baru di media sosial Facebook. Bukan dari akun ternama, atau yang konsisten mendapat banyak like.

Akun facebook itu bernama Winardi Abu Faqih. Postingnya itu diunggah pada Senin (3/7/2017) pukul 08.25 WIB di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Hingga kabar ini diturunkan Pos Belitung (Tribunnews.com network), Selasa (4/7/2017), postingan tersebut sudah dibagikan sebanyak lebih dari 38 ribu kali.

Sedangkan yang komentar sudah ada 10.500 lebih dan 59 ribu lebih like. Postingan Winardi Abu Faqih itu berjudul ‘Anakku ranking ke-23’. Singkat kata, postingan itu berisikan sebuah cerita dan sebuah foto yang menggambarak seorang anak sedang membantu orangtuanya di dapur.

Ceritanya mengisahkan tentang seorang anak yang selalu dapat ranking ke-23 di kelasnya. Orangtuanya sempat bingung dan heran karena tingkah anaknya dianggap tidak umum.

Pun saat ditanya mengenai cita-cita, si anak malah menjawab tegas ingin menjadi guru TK, kalau tidak Ibu Rumah Tangga. Tapi kemudian orangtuanya sadar ketika mendapati kenyataan diakhir ujian semester.

Anaknya memang kembali dapat ranking 23, tapi si orangtua mendapat keterangan yang mengejutkan dari wali kelas anaknya.

Dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan.

Dalam soal itu tertera: SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI DAN APA ALASANNYA?

Dan jawaban dari semua teman sekelasnya sama, tak ada satu pun yang beda. Mereka serentak menuliskan nama anakku. Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang,selalu memberi semangat, selalu menghibur,selalu enak diajak berteman,dan banyak lagi.

Postingan ini membuat banyak netizen terenyuh dan memuji orangtua maupun si anak.

“Terinspirasi bgt…!!! I do like it…..,” kata Saifullah dalam komentarnya.

“Ngerasa brada dlm cerita tu,” kata Siti Nurhandayani.

“Benar2 cerita yg sngt menginspirasi qta sbg orang tau.. Bner2 salut,” kata Anastasya Kusuma Wardhani.

“Kereeennn banget…merinding bacanya..kok jadi melow..karena saya adalah ayah yang gagal..,” kata Ade Andri.

Penasaran sama postingan aslinya. baca selengkapnya berikut ini:

Anakku ranking ke-23 …

Di kelasnya ada 25 orang murid,setiap kenaikan kelas,anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua,kami merasa panggilan ini kurang enak didengar,namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar,kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter,pilot,arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Tapi anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya.

Didesak orang banyak,akhirnya dia menjawab ,,,
“Saat aku dewasa,cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK,memandu anak-anak menyanyi,menari lalu bermain-main”.

Demi menunjukkan kesopanan,semua orang tetap memberikan pujian,kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.
Dia pun menjawab ,,,
“Saya ingin menjadi seorang ibu,mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur,kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang.”

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Nampak raut muka isteriku pun terlihat canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah,isteriku mengeluhkan ke padaku,apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya
menjadi seorang guru TK?

Anak kami sangat penurut,dia tidak lagi membaca komik,tidak lagi membuat origami,tidak lagi banyak
bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan,dia ikut les belajar sambung menyambung,buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan
lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak
tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.
Kami memang sangat sayang pada anak kami ini,namun kami sungguh tidak memahami akan nilai di
sekolahnya.

Pada suatu minggu,teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa,ada anak yang bernyanyi,ada juga yang memperagakan kebolehannya.
Anak kami tidak punya keahlian khusus,hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia seringkali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan,merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring,mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan,ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami,satunya si jenius matematika,satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya,juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka,namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.

Ketika pulang,jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti,dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus,setiap orang
mendapatkan guntingan kertas berbentuk hewan masing-masing,dan mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester,aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan. Dalam soal itu tertera: SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI DAN APA ALASANNYA?
Dan jawaban dari semua teman sekelasnya sama,tak ada satu pun yang beda. Mereka serentak menuliskan nama anakku.

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang,selalu memberi semangat,selalu
menghibur,selalu enak diajak berteman,dan banyak lagi.

Si wali kelas memberi pujian ,,,
“Anak bapak ini kalau bertingkah laku terhadap orang,benar-benar nomor satu”.

Tak berselang lama aku mencandai anakku dan berkata padanya ,,,
“Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”.

Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab ,,,
“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah,ketika pahlawan lewat,harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia lalu melanjutkan ,,,
“Ayah… Aku tidak mau jadi pahlawan. Aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan saja.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin
menjadi seorang pahlawan,jadi orang-orang hebat,atau orang terkenal. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak ‘terlihat’. Seperti akar sebuah tanaman,tidak terlihat,tapi dialah yang mengokohkan,dialah yang memberi makan dan dialah yang memelihara kehidupan yang lain.

~ ~ ~

Sahabatku,,,
Hidup itu bukan semata-mata untuk menunjukan siapa yang paling penting,siapa yang paling berperan,atau siapa yang paling hebat,tapi sederhana saja,siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain…

Sumber: tribunnews.com

Para Orang Tua Harus Tau! Inilah Bahaya Menidurkan Anak di Dalam Kereta Bayi

Sebagai harta paling berharga, setiap kali sang ibu membawa bayi pergi jalan-jalan pasti membawa banyak barang bawaan, entah cadangan pampers, susu, topi, dll.

Belum lagi ditambah jika bayi Anda masih kecil dan belum bisa jalan, dimana tangan kiri Anda haurs memegang tas perlengkapan bayi dan tangan satunya lagi menggendong bayi.

Tapi sejak ditemukannya kereta bayi, sangat bisa membantu orangtua agar tidak keberatan saat menggendong maupun kehilangan jika bayi tersebut sudah bisa berjalan sendiri.

Dan biasanya kereta bayi juga memiliki satu kait kecil atau keranjang dimana kita bisa menyimpan barang bawaan sang bayi.

Namun tahukah kamu, bahwa sebenarnya kereta bayi tidak baik bagi perkembangan tulang bayi sendiri? Khususnya bisa merusak tulang belakang bayi.

Tulang pada bayi masih sangat lunak, jika diposisikan di tempat yang salah akan mengubah bentuk aslinya.

Bayi yang kurang dari 6 bulan tidak dianjurkan untuk duduk di kereta bayi, karena pada masa ini tulang bayi masih rapuh, kalau jalanan tidak rata, kereta bayi akan berguncang dan tulang belakang bayi kemungkinan akan rusak akibat benturan.

Jadi jangan tempatkan bayi di kereta sampai ia mampu menopang berat kepalanya sendiri.

Dan ada beberapa hal penting lainnya yang berhubungan dengan kesehatan tulang bayi, yaitu jangan membiarkan bayi terlalu lama tertidur dalam gendongan lenganmu, cepat tidurkan di atas kasur yang memiliki permukaan rata.

Jangan terlalu cepat menginginkan bayi bisa tengkurap atau merangkak, karena pada dasarnya semua perkembangan bayi ada tahapnya sendiri, usia 3 bulan mulai bisa tengkurap, usia 6 bulan duduk, dan usia 9 merangkak.

Jika dibiarkan terus menerus dalam posisi yang salah, lama kelamaan akan berakibat skoliosis serta dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi.

Jadi saat ini para bunda sudah mengerti bukan bahwa tidak semua peralatan bayi itu aman bagi perkembangan bayi sendiri? Alangkah baiknya jika kita mengerti secara teori tentang pertumbuhan sang bayi.

Sumber: ijinshareya.com

Sekesal Apapun, Jangan Pernah Hukum Anak Dengan Cara Ini Jika Tak Ingin Membuatnya Trauma

Dalam mendidik anak, orang tua tentu pernah menghadapi perilaku buah hati yang tak sesuai. Untuk mengarahkannya, tak jarang hukuman diberikan.

Sebenarnya hukuman bisa saja diberikan kepada anak, asalkan relevan, sesuai dengan usia anak, dan dapat memicu perilaku positif atau yang diinginkan setelah hukuman diberikan.

“Pemahaman yang dangkal terhadap efektivitas hukuman, membuat mereka memberlakukan hukuman yang belum tentu efektif terhadap anak atau bahkan menimbulkan dampak yang lebih negatif terhadap anak,” kata Ine Indriani, M.Psi., Psikolog Anak.

Untuk itu, hindari jenis hukuman yang seperti ini, ya, agar tak menimbulkan trauma dan mereka jadi sensitif:

1. Memarahi anak didepan teman-temannya. Hal ini membuat anak merasa malu sehingga menimbulkan rasa rendah diri.

2. Menggunakan kekerasan fisik (memukul, menjewer, menggunakan benda). Hal ini termasuk kekerasan pada anak.

3. Mengurung anak di dalam ruangan gelap atau tertutup
Hal ini dapat menimbulkan trauma lain pada anak atau menimbulkan reinforcement karena anak punya waktu sendiri di kamar.

4. Menghukum dengan tidak memberikan makan
“Makan adalah hak semua orang untuk tumbuh kembang anak. Sebaiknya hindari menghukum dengan berkaitan dengan makan.”

5. Menghukum dengan memaki dan membanding-bandingkan anak
Hal ini menimbulkan rasa rendah diri, anak punya persepsi bahwa dirinya nakal.

6. Menghukum dengan tugas rumah yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kapasitas anak
Misalnya, menghukum anak usia 6 tahun dengan menyetrika, menyapu, mengepel, atau memasak.

7. Menghukum anak dengan harus belajar berjam-jam tanpa henti
“Hal ini membuat anak menjadi tidak suka dengan pelajaran dan melebihi kapasitas kemampuan fisik dan mentalnya.”

8. Menghukum anak dengan tidak memperbolehkan masuk ke dalam rumah selama berjam-jam
Melanggar hak anak dan tidak relevan, serta menimbulkan rasa tidak aman.

9. Menghukum dengan membuang mainan-mainan anak
“Menimbulkan trauma pada anak. Akibatnya, anak akan melihat bahwa membuang barang-barang yang sudah dibeli atau masih bagus adalah hal yang boleh dilakukan.”

10. Menghukum dengan menakut-nakuti atau mengancam dengan hal yang tidak benar
Mengatakan ‘Kalau kamu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, Pak Polisi akan ke rumah, dokter akan menyuntik’.

“Ini menimbulkan rasa cemas pada anak. Jika anak tahu orang tua berbohong, anak belajar bahwa berbohong adalah hal yang boleh dilakukan dan juga belajar manipulasi.”

Lalu bagaimana cara memberi hukuman yang hasilnya efektif pada anak?

Lakukan 5 hal berikut:

1. Tegurlah anak terlebih dahulu.

2. Berikan apresiasi kalau anak kemudian melakukan hal positif atau sesuai harapan.

“Terkadang karena terlalu fokus dengan perilaku negatif, orang tua atau sekolah mengabaikan perilaku positif yang telah dilakukan anak meskipun hanya kecil.”

3. Berikan hukuman yang relevan dan sesuai dengan usia anak.

Misalnya, bila anak melanggar aturan di rumah, dia tidak boleh menonton channel televisi tertentu pada jam tertentu.

4. Berikan hukuman sesuai usia anak.

5. Bahas bersama mengenai kesalahan yang ia buat dan bahas mengenai apa yang akan dilakukan anak kemudian.

Sumber: intisari.grid.id

Bahaya! Jangan Pukul Anak-Anak Di 3 Bagian Tubuh “INI”. Inilah Alasan Ilmiahnya.

Orang tua jangan sembarang memukul anak di bagian ini. Adalah wajar jika dalam kehidupan sehari-hari sesekali anak kita bertingkah, bandel dan sejenisnya. Kadang-kadang orang tua tak dapat menahan emosi dan menghukum anaknya dengan cara keras. Namun harus hati-hati, ternyata 4 bagian ini pantang untuk ditampar atau dipukul

Kisah ini adalah peristiwa nyata. Seorang anak perempuan berusia 8 tahun tiba-tiba merasa nggak enak badan, pusing dan muntah-muntah. Orang tua pun langsung membawanya ke rumah sakit, tapi tidak disangka setibanya di rumah sakit, anak kecil tersebut telahdinyatakan meninggal. Orang tuanya pun bingung, apa yang membuat anak kecil yang sehat-sehat tiba-tiba meninggal. Sang ibu curiga apakah keracunan makanan. Tapi hasil otopsi menunjukkan tidak ditemukan adanya racun dalam sistem pencernaan anak.

Setelah setelah dìperìksa, ternyata penyebab kematìannya ìalah luka dì bagìan dalam otaknya, yang dìsebabkan oleh rangsangan darì luar. Parahnya, yang menyebabkan luka tersebut adalah “1 tìndakan” darì sang ìbu sendìrì. Sang ìbu tìdak sadar bahwa satu pukulan dì belakang kepala anaknya sore ìtu akan merengut nyawa kecìlnya. Sore ìtu, ìa mengerjakan PR sambìl nonton fìlm kartun. Alhasìl, banyak PR-nya pun salah saat dìperìksa. Sang ìbu yang tak bìsa mengontrol emosì pun memukul sekalì kepala anaknya darì belakang.

Bagìan belakang kepala terdapat batang otak, otak kecìl, medula oblongata dan organ vìtal laìnnya, dì tambah lagì banyak rongga dan susunan tulang yang kompleks, membuat bagìan kepala sangat rentan terhadap serangan darì luar. Jìka mendapat pukul yang keras, tìdak hanya bìsa menyebabkan gegar otak tapì juga komplìkasì sepertì gagal napas. Karena ìtu, orang tua jangan sampaì memukul bagìan belakang kepala anak.Tentu saja, selain bagian belakang kepala, bagian berikut ini juga tidak bisa main-main!

1. Bagian pelipis

Tulang di sekeliling bagian pelipis sangatlah lunak dan fatal apabila dipukul. Kalau buka gegar otak yah patah tulang. Saraf optik yang berhubungan ke mata juga bisa rusak dan menyebabkan kebutaan

2. Bagian pantat

Banyak orang tua pikir kalau pantat itu daging semua, dipukul tidak apa-apa. Tapi tahukah Anda bahwa saraf skiatik (saraf terpanjang dalam tubuh yang memanjang dari sumsum tulang belakang sampai pantat dan daerah pinggul dan di bagian belakang kaki kaki) terletak di pantat? Memukul pantat terlalu keras bukan hanya beresiko merusak saraf ini, tapi juga bisa menyebabkan kelumpuhan.

3. Menarik atau menjambak rambut anak

Menjambak rambut bukan hanya mudah menimbulkan kerontokan, tapi juga kerusakan akar rambut dan kulit kepala.

4. Menjewer telinga

Nah, ini sering sekali nih dilakukan para orang tua. Hati-hati, menjewer terlalu kuat tidak hanya bisa menyebabkan luka pada gendang telinga dan mempengaruhi pendengaran anak, tapi juga mudah menyebabkan perforasi membran timpani yang mempengaruhi perkembangan pendengaran pada bayi.

Selain itu, hidung juga tidak boleh asal dijepit. Pada saluran hidung terdapat banyak selaput lendir dan pembuluh darah, jika dipencet terlalu keras akan menyebabkan berbagai macam masalah pada hidung.

Ingat! Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, malah dapat menyebabkan tekanan psikologis pada anak, mempengaruhi kecerdasan, merenggangkan hubungan dengan orang tua dan jika sudah kelewatan, anak akan menjadi sangar dan tumbuh besar menjadi seperti contoh orang tuanya. Jika anak berbuat salah, berilah hukuman yang “sepantasnya”. Bicara baik-baik dan jelaskan kepada anak supaya anak mengerti, jangan pakai kekerasan. Semoga kejadian jangan sampai terjadi pada anak dan orang tua manapun

Semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan menambah wawasan para orang tua agar tak sembarangan dalam bertindak terhadap buah hatinya.

sumber :bundacerdas.co