Taqi-Salma Resmi Bercerai, Bukti Hubungan Jarak Jauh Tak Sehat Dalam Pernikahan

Pasangan muda Taqi Malik dan Salma FIna Khairunnisa telah dinyatakan resmi bercerai oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat.

Informasi ini dikuatkan melalui postingan Instagram Salmafina bahwa dirinya telah resmi bercerai dengan Taqi Malik, rabu 21 Februari 2018.

Menanggapi percerai pasangan Taqi Salma ini, salah seorang pakar Parenting Nasional Ummi Nafis mengungkapkan bahwa pokok awal perceraian dalam kasus ini adalah komunikasi jarak jauh atau yang sering dikenal dengan Long Distance Relationship (LDR).

Menurut Ummi Nafis, hubungan LDR setelah akad nikah memang sangat rentan untuk terjadinya konflik, karena komunikasi jarak jauh seringkali menimbulkan salah paham.

“Faktor utama yang membuat langgeng sebuah pernikahan adalah proses komunikasi suami istri yang intens dan jika jarak jauh sangat rentan terjadi konflik. Komunikasi yang baik antar suami istri harus bertemu tatap muka” ujar Ummi Nafis kepada Islamedia, rabu(21/2/2018).

Lebih lanjut Ummi Nafis menyarankan kepada para pasangan muda sebelum memutuskan menikah untuk membuat kesepakatan dengan calon pasangannya untuk hidup satu atap dan bukan hubungan jarang jauh.

Selain faktor LDR, Ummi Nafis juga menghimbau kepada para pasangan muda untuk menggunakan media sosial secara bijak, jangan mengumbar problem internal rumah tangga melalui instagram atau media sosial lainnya.

“Saya sering jumpai curhat problem rumah tangga di medsos, ini berpotensi menimbulkan konflik yang lebih besar. Terlebih jika pasangan jarak jauh. Maka bijaklah dan bermedsos, jangan posting permasalahan rumah tangga di medsos” papar Ummi Nafis.

Sumber : islamedia

Suami Suka Mengobral Kata Cerai, Ini Hukumnya

Pertanyaan:
Ada seorang suami yang setiap marah suka mengucapkan kata “cerai” kepada istrinya. Tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali. Itu terjadi sekira 5 tahun lalu.

Saat itu dia sedikit tahu bahwa mengucap cerai saat kondisi marah pun tetap saja terjadi talak. Hanya saja pengetahuan dia tentang cerai ini sebatas permukaan alias krungu-krungunan thok (mendengar selintas lalu).

Selain itu, pada 5 tahun lalu dia mengaku tidak pernah peduli terhadap agama. Shalat saja tidak pernah, apalagi cuma mengucap “cerai” pasti tidak menakutkan baginya.

Lha wong shalat saja tidak ada artinya, apalagi cuma ucapan “cerai” semakin tidak dia anggap fungsi dan efeknya/konsekuensinya. Tapi, itu duluuu…! 5 tahun lalu saat dia masih abangan. Tapi, sekarang dia sudah bertobat dan insaf, bahkan juga bertekad melakoni hidup berumah tangga secara baik dan islami. Nah, keputusan hukum dan solusi apa yang tepat untuk si suami ini?

Jawaban:
Coba kita urai sedikit demi sedikit, dan kita sepakati menggunakan hukum Islam ala fikih klasik. Karena, kalau menggunakan hukum perkawinan Indonesia, jelas tidak jatuh talak. Pasalnya, talak hanya jatuh ketika diucapkan di depan pengadilan.

– Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan:
“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”

– Pasal 65 Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama:
“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”

– Pasal 115 Inpres. Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam:
“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”

***

Ada seorang suami yang setiap marah, dia suka mengucapkan cerai kepada istrinya. Tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali.

Komentar:
Mayoritas ulama menyatakan bahwa talak orang yang marah itu jatuh/jadi, asalkan dia tidak sampai kehilangan akal sehatnya.

قال الدسوقي المالكي: “يلزم طلاق الغضبان ولو اشتد غضبه، خلافاً لبعضهم“

حاشية الدسوقي على الشرح الكبير9/ 65

فتح المعين من كتب الشافعية: “واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان، وإن ادعى زوال شعوره بالغضب“

فتح المعين4/ 9

مطالب أولي النهى من كتب الحنابلة: “ويقع الطلاق ممن غضب ولم يزل عقله بالكلية” مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى 16/6.

Ada beberapa dalil yang sepertinya tidak perlu disampaikan di sini. Poinnya, kebanyakan orang mentalak itu karena marah. Apakah ada orang yang sedang tidak ada masalah apa pun tiba-tiba memanggil istrinya lalu berkata kepadanya, “Kamu saya talak!”. Sepertinya tidak ada.

***

Saat itu dia sedikit tahu bahwa mengucap cerai saat kondisi marah pun tetap saja terjadi talak.

Komentar:
Apakah keawaman suami menjadikan talak tak jatuh? Padahal usut punya usut, ternyata bukan karena awam dan tidak tahu hukum talak, melainkan lebih karena tidak peduli pada hukum pernikahan.

Baiklah, kita abaikan dulu, apakah si suami ini akhirnya bertobat dan rajin mengaji atau apalah. Memang penyesalan selalu muncul di belakang. Kita bicara hukum hitam putihnya dulu, baru kita carikan win solution-nya.

Jika pertanyaannya apakah jahalah (kebodohan/ketidaktahuan) terhadap sesuatu itu menjadikan gugur suatu hal yang dikerjakannya, para ulama membahasnya dalam bab tersendiri tentang jenis-jenis jahalah.

Ada yang jahalah mu’atssirah fi al-ahkam(ketidaktahuan yang berkonsekuensi hukum), ada yang ghairu muatsirah fi al-ahkam(ketidaktahuan yang tidak berkonsekuensi hukum). Tetapi dalam kasus ini, sepertinya bukan karena jahalah si suami terhadap hukum nikah dan talak.

Ketika suami menyampaikan alasan bahwa dia masih awam hukum talak, kita bisa katakan sebenarnya dia tidak awam-awam sekali, yang sehingga sampai pada leveljahalah yang menggugurkan suatu hukum.

Ada beberapa indikasi akan hal itu, di antaranya:

1. Tahu Hukum Nikah
Jika seseorang tahu akan hukum nikah, sudah menjadi konsekuensi logis bahwa tahu naleni (mengikat) berarti tahu ngudari (melepas). Seawam-awamnya orang Indonesia, pastilah tahu kalau mau melepas perkawinan ya dengan talak.

Apalagi, lafal talaknya sharih, bukan kinayah. Kalau kinayah masih membutuhkan niat, yang mungkin orang belum tahu terkait hukum dan konsekuensinya.

2. Tahu Lafal Talak
Orang yang bisa mengucapkan talak tentu tahu apa maksud dan tujuan lafal itu diucapkan. Tidak mungkin dia mengucapkan tanpa tahu kegunaan ucapan itu.

3. “Sedikit” Tahu Bahwa Talak Saat Marah Juga Jatuh Talak
Kata “sedikit” itu tidak memengaruhi jatuh atau tidaknya talak. Karena, orang awam sebenarnya tidak harus tahu banyak dalil. Ketika dia sudah mendengar suatu hukum dari orang yang mumpuni maka dia dianggap tahu.

Maka, indikasi paling kuat dalam kasus ini adalah suami tersebut bukan tidak tahu hukum talak dan konsekuensinya, melainkan tidak peduli terhadap hukum Islam. Shalat yang wajib saja ditinggal, apalagi cuma talak (begitu mudah diucapkan).

Apakah jatuh talaknya?

Pertanyaanya kita balik, apakah ada hal lain yang menjadikan talak itu tidak jatuh? Ternyata, sebagaimana penuturan narasumber, dalam kasus di atas tidak ada! Sama sekali tidak ada hal lain yang menjadikan talak tersebut tidak jatuh.

Ketetapan Hukum Fiqih
Suami tersebut telah nyata menjatuhkan talak (bainunah kubra) kepada istrinya.

Nah, masalahnya sekarang si suami itu lumayan rajin ikut mengaji, berjanji ingin menjalani kehidupan secara Islami, dan lain-lain. Keluarganya pun sekarang sudah damai.

Kalau jatuh talak, ntar bakal pisahan dong! Kalau tidak jatuh talak, masak tidak jatuh. Apa alasannya?

Nah, sampai disini kita coba cari win solution-nya.

*) Sampai di sini, para peserta diskusi online tidak kuasa berkomentar lebih lanjut. Hanya emoticon menangis :'( yang bisa diberikan. Pasalnya, secara hukum fikih, istri yang sudah ditalak tiga atau bainunah kubra oleh suaminya maka tidak ada jalan lain selain harus berpisah dengan suami. Mereka bisa kembali apabila si istri sudah menikah dengan lelaki lain dan berhubungan badan dengan suami barunya itu. Jika kemudian dia dicerai oleh suami barunya, barulah suami lama boleh menikahinya kembali.

Wallahu a’lam…

Sumber: babarusyda.blogspot.co.id

Pilihlah Nama Terbaik Untuk Buah Hati Anda

Al-Ism (nama) berasal dari kata al-wasm yang artinya pertanda atau lambang. Hal ini banyak tercantum dalam Al-Quran seperti firman Allah Ta’ala ,

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7)

Ada yang berpendapat kata al-ism berasal dari kata al-sumuw yang artinya al-‘uluw (tinggi).

Akan tetapi tidak masalah menggabungkan dua makna ini terutama ketika nama itu diberikan kepada anak Adam dari kalangan kaum muslimin. Dengan demikian nama tersebut sebagai pertanda yang tinggi (luhur) untuk dirinya.

Hakikat dari nama bayi adalah sebagai identitas dan tanda pengenal yang dapat dibedakan sesuai dengan kemuliannya sebagai anak Adam dan sebagai kaum muslimin.

Oleh karena itu, para ulama sepakat menetapkan wajibnya memberi nama kepada laki-laki atau perempuan. Nama juga memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap akhlak dan cara hidup umat ini.

Keterkaitan Seseorang dengan Namanya
Tidak disangsikan lagi bahwa terdapat keterkaitan antara arti sebuah nama dan orangnya sebagaimana dijelaskan oleh dalil syar’idan atsar, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَسلَمُ سَالَمَهَا اللَّهُ وَ غِفَارُ غَفَرَ اللّهُ لَهَا وَعُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ
“Aslam (nama orang -ed) semoga Allah mendamaikan hidupnya, Ghifaar (nama orang -ed), semoga Allah mengampuninya dan ‘Ushayyah (nama orang -ed) telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau melihat Sahl bin Amr datang pada hari perjanjian Hudaibiyah,

سَهلَ أمْرَكُمْ
“Urusan kalian menjadi sahl (mudah).” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga memberikan kepada Abul Hakam bin Hisyaam dengan julukan (kunyah) Abu Jahal. Sebuah kunyah yang sesuai dengan orangnya dan ia adalah makhluk yang paling berhak mendapatkan kunyah ini.

Demikian juga kunyah Abu Lahab yang diberikan kepada Abdul ‘Izza karena ia akan di tempatkan di dalam neraka yang memiliki lidah api.

Juga perhatikan hadits Sa’id bin Musayyib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Aku pernah menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya kepadaku, ‘Siapa namamu?’

Ia menjawab ‘Namaku huzn (kasar atau sedih).’

Beliau kembali bersabda, ‘Ganti namamu dengan nama Sahl (mudah).’

Ia berkata, ‘Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh ayahku.’ Ibnu Musayyib berkata, Sejak saat itu sifat kasar senantiasa ada di keluarga kami.” (HR. Bukhari)

Maka pilihlah nama yang terbaik untuk buah hati anda.

Sumber: muslimah.or.id

Amalan dan Doa Supaya Istri Patuh dan Tunduk Pada Suami dan Sebaliknya

Bagi suami mempunyai seorang istri yang tidak mau menuruti perkataannya adalah masalah yang sangat besar, terlebih posisi suami adalah sebagia kepala rumah tangga.

Bagi para suami yang menginginkan agar istrinya nurut saya akan membagi kan sebuah amalan doa. Tak hanya untuk suami doa ini juga bisa diamalkan oleh sang istri agar suaminya menurut apa yang dikatakannya

Kenapa saya membagikan doa ini, tak lain adalah demi menjaga keharmonisan sebuah hubungan rumah tangga, misalnya jikalau suami ingin selingkuh dengan orang lain maka doa ini diperlukan agar suami menurut kepada istri yang sahnya.

Kemudian lagi jika pasangan kita bekerja diluar kota dan jarang sekali ketemu maka itu dapat menjadikan suatu masalah dalam kehidupan rumah tangga, misal hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga. Hal ini menjadikan rusaknya jalinan cinta kasih dalam rumah tangga yang telah di bangun selama ini

Untuk itulah saya akan membagikan Doa supaya Istri Luluh pada Suami atau Sebaliknya silahkan diamalkan dengan sebaik mungkin. Silahkan membacakan ayat ini pada Ubun-Ubun nya waktu dia tidur:

“Allahumma sakh-khirhaa lii, wabaariklii fiihaabihaqqi Muhammadin wa alihi” 3x

(sembari Menahan nafas…… lantas tiupkan ke Ubun-Ubun nya)

Kerjakan hal tsb tiap-tiap malam dengan Ikhlas Serta Penuh Kesabaran.

Semoga amalan doa supaya istri patuh dan tunduk pada suami bermanfaat untuk kita semua.

Sumber: joguno.com

Tips Bila Mertua ‘Rese’ Karena Terlalu Ikut Campur Urusan Rumah Tangga

Punya orangtua kedua ‘mertua’ memang gampang-gampang susah. Selain perbedaan karakter, sikap, prinsip, budaya dan jenjang usia, membangun hubungan yang harmonis antara mertua dengan menantu memang bukan perkara sepele.

Butuh dari sekedar basa-basi dan pemberian fasilitas untuk menciptakan hubungan yang baik antar keduanya.

Anda yang mungkin sekarang ini sedang berpolemik dengan mertua juga mungkin paham betul bagaimana kondisi sebenarnya.

Bagi si mertua, ada hal-hal krusial mengenai pernikahan anaknya yang harus diberi tahu dan dicampuri agar rumah tangga si anak kesayangan dirasa sejalan dan lancar dengan apa yang diinginkannya.

Di sisi lain, bagi si menantu, ada batasan dimana orangtua kedua ini dianggap terlalu mengambil bagian padahal tidak diminta pendapat atau pertolongan.

Ujung-ujungnya, terjadi ‘perang dingin’ antar keduanya yang bahkan sampai pada sikap tidak ingin bertemu jika tidak terpaksa. Atau cukup bertemu saat lebaran atau natalan atau perayaan keluarga besar saja.

Ini yang dianggap keliru oleh psikolog Ayoe Sutomo ketika ditanya perihal mertua yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga Anda dan pasangan.

“Sebenarnya masalah ini normatif terjadi pada setiap pasangan. Ada pasangan yang masih santai dan ‘nerima’ saja orangtua ikut campur soal urusan pengasuhan anak, ada yang juga tidak.

Pada prinsipnya, sebagai anak menantu kita diwajibkan jangan cepat ‘baper-an’. Anggap saja omongan mertua sebagai masukan positif. Toh, sekedar di’iya’kan tidak masalah demi menghormati mertua yang juga jadi orangtua kita,” terang Ayoe.

Tentang sejauh mana keterlibatan orangtua atau mertua dalam urusan rumah tangga anaknya. Ayoe mengungkapkan jika itu sah-sah saja dilakukan asal dalam koridor menyampaikan yang baik dan tidak bersifat memaksa.

Si menantu menurut Ayoe, harus dapat berpikir positif dan penuh kasih sayang. Tujuannya agar gesekan tidak mudah terjadi. Menantu juga disarankan tidak terlalu sensitif dan cepat ‘ngambek’ apalabila orangtua memberi masukan.

“Kadangkala cara bicara orangtua tidak selalu seperti yang kita harapkan. Bisa saja memang sudah karakter atau kondisi kesehatan yang membuat saat mertua bicara jadi terkesan marah atau membentak. Sebaliknya, mertua juga hanya memberi saran atau pendapat jika diminta. Perlu digarisbawahi, Anda tetap harus menghormati masukan dari mertua, lo!,” ujar Ayoe.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika mertua terlalu ikut campur urusan rumah tangga Anda?

Komunikasi via Suami
Anda harus bisa berkata jujur pada pasangan hal apa saja yang membuat Anda tidak nyaman dengan perlakuan atau sikap mertua.

Jangan sampaikan langsung pada mertua, tapi jadikan suami sebagai jembatan komunikasi untuk menyaring perkataan yang menyinggung dan lain sebagainya. Ini penting demi mencegah konflik yang lebih besar.

Posisikan Diri Anda Sebagai Sahabat dan Anak
Pernikahan membuat Anda pun harus bisa beradaptasi dengan mertua yang juga merupakan orangtua Anda. Jangan keburu malas, bête atau menghindar. Pahami aturan kebiasaan mertua.

Anda harus peka dan menyesuaikan diri dengan orangtua. Ada yang suka diajak ngobrol, ada yang suka dipuji, ada yang suka ditemani masak, ada yang suka diajak belanja atau sekedar jalan-jalan, ada yang suka perhatian lebih dan lainnya.

Punya alasan kuat kenapa Anda melakukan hal yang ‘berseberangan’ dengan prinsip orangtua
Bila kaitannya soal anak, Anda harus memiliki alasan kuat yang positif kenapa memilih sikap atau keputusan tersebut. Contohnya soal pengasuhan anak, cara merawat anak, cara mengatur rumah tangga.

Sampaikan dan buktikkan dengan hasil yang baik dan benar agar lambat laun mertua dapat mempercayai pilihan sikap Anda.

Sumber: nova.grid.id

Apakah Pasangan Bercerai bisa Hidup Bersama di Surga? Ini Jawabannya…

TANYA

Apakah pasangan suami istri yang bercerai bisa hidup berdampingan di surga?

JAWAB

Prinsip dasar dan fakta tentang surga adalah ‘Hal apapun yang diinginkan para penghuninya pasti ada.’

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS Az Zukhruf: 71).

Oleh karena itu, jika seseorang menikahi seseorang ketika hidup di dunia, namun pernikahan mereka berakhir dengan perceraian. Lalu mereka berdua menikah dengan orang lain, maka pertanyaan siapa yang masing-masing akan bersama di surga, adalah salah satu yang bisa memiliki lebih dari satu jawaban yang mungkin.

Surga memiliki banyak tingkatan, yang lebih tinggi jauh lebih baik daripada yang lebih rendah. Tingkat tertinggi disebut Al-Firdaus.

Penghuni di setiap tingkat akan diakuinya berdasarkan kualitas iman dan perbuatan baik mereka.

Mereka yang berusaha lebih keras beribadah kepada Allah ketika di dunia dan berjihad untuk Islam, tidak akan sama tingkatnya dengan mereka yang melakukan jauh lebih sedikit daripada mereka.

Akibatnya, prinsip dasar di balik apakah seseorang akan berada bersama dengan orang lain di surga, bergantung pada apakah keduanya sama-sama memiliki tingkat kepercayaan dan perbuatan baik selama kehidupan dunia ini atau tidak.

Pasangan Cerai

Kedua, sejauh menyangkut pasangan suami istri, jika seorang istri atau suami ingin dipertemukan kembali di surga bersama mantan pasangan mereka, maka ini akan tergantung pada apakah yang terakhir juga ingin dipertemukan kembali dengan mereka.

Dalam skenario seperti itu, jika satu pasangan ingin dipertemukan, tapi yang lain tidak mau, maka Allah Yang Maha Tinggi akan memberkati keduanya dengan keinginan hati mereka, dan mereka akan sangat bahagia.

Artinya, pasangan yang ingin dipertemukan kembali dengan mantan mereka, akan diberi pasangan yang jauh lebih baik daripada yang ingin mereka persatukan kembali. Dan mantan pasangan mereka juga akan diberikan seseorang yang lebih baik daripada pasangan yang mereka cerai dari kehidupan di dunia juga.

Keyakinan yang mendasari seorang Muslim tentang kehidupan di Surga memiliki beberapa prinsip dasar, yang tidak boleh kita lupakan:

– Setiap orang yang masuk Surga akan mendapatkan apapun yang mereka inginkan atau sesuatu (atau seseorang) lebih baik dari itu, dan mereka akan sangat bahagia.

– Tidak ada yang akan ditangani secara tidak adil. Bahkan ketidakadilan senilai atom akan dilakukan pada siapa pun.

– Tidak akan ada perasaan atau emosi negatif di antara penghuni surga. Hanya akan ada cinta timbal balik.

Sebagai pengganti di atas, kita harus percaya bahwa bahkan jika mantan pasangan kita berada di tingkat yang sama dengan surga seperti kita, tapi mereka menikah dengan orang lain, dan kita juga sudah menikah dengan orang lain, tidak akan ada niat buruk , sakit hati, sakit, cemburu, kepahitan, dendam, atau perasaan sulit antara kita semua.

Semua orang di surga akan tinggal bersama dengan harmoni yang sempurna dan abadi dan tidak saling mencintai satu sama lain.

Mereka juga akan lebih dari senang dan bersyukur atas apa pun yang akan Allah berikan kepada mereka di surga, karena karunia-karunianya akan melebihi apa pun yang mereka inginkan atau bayangkan!

Dan Allah Maha Mengetahui. Saya harap ini menjawab pertanyaan Anda.

Suami, Begini Cara Mendinginkan Kemarahan Istri Dengan Mesra Seperti Nabi Muhammad

Kita belajar dari salah seorang Khulafaur Rasyidin yang jadi satu cahaya dari 2 orang yang di pilih Allah. Dialah sayyidina Umar bin Khattab.

Seorang yang di gambarkan oleh Rasulullah sebagai pribadi yang kuat dan mengentarkan hati siapapun yang mendengar namanya. Bahkan syaitan pun terbirit-birit bila Umar datang.

Imam As Samarqandi meriwayatkan sebuah kisah bahwa seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab.

Laki-laki tersebut ingin menceritakan kepada amirul mukminin tentang istrinya yang selalu cemberut dan bermuka masam. Ketika sampai di depan pintu rumah Umar, lelaki tersebut mendengar istri Umar, Ummu Kultsum sedang mengomel.

Seketika itu pula lelaki itu berbalik dan membatalkan niatnya. Namun Umar mengetahui dan memanggil lelaki itu dari balik jendela. Lelaki itu lalu menceritakan niatnya. Mendengar cerita lelaki itu Umar bin Khattab berkata:

“Aku dengarkan baik-baik omelan istriku, dan tidak sedikitpun aku menentangnya karena aku memiliki alasan khusus yaitu:

Pertama, istriku adalah penghalang antara aku dan neraka. Hatiku selalu berteduh kepadanya sehingga aku terhindar dari perbuatan haram.

Kedua, ia menjaga hartaku ketika aku pergi. Ketiga, ia selalu mencuci pakaianku. Keempat, ia membesarkan dan mendidik anak-anakku. Kelima,ia selalu membuatkan masakan untukku.”

Rasulullah juga punya cara tersendiri untuk mengatasi istrinya yang sedang marah. Rasulullah saw biasa memijit hidung Aisyah jika ia marah dan kemudian beliau berkata,

“Wahai Aisy, bacalah doa: Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR.Ibnu Sunni)

Sumber: reportaseterkini.net

Tips Membangun Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah Hingga ke Surga Kelak

Dalam setiap acara pernikahan pasti akan adanya sebuah doa yang diucapkan untuk kedua mempelai; semoga sakinah mawadah wa rahmah.

Sebuah doa yang dimaksudkan agar keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai selalu berada dalam kondisi ketenangan penuh cinta dan kasih sayang di antara suami istri dan setiap anggota keluarga lainnya.

Ada lagi satu doa yang sering dipanjatkan pada setiap acara pernikahan di lingkungan masyarakat. Doa ini biasanya diucapkan oleh sang pembawa acara dengan kalimat “semoga langgeng sampai kaken-kaken ninen-ninen”.

Artinya berharap keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai diberi kelanggengan sampai keduanya lanjut usia menjadi kakek dan nenek.

Siapa pun pasti berharap tali pernikahan yang diikat untuk sekali seumur hidup, tak pernah putus di tengah jalan. Siapa pun pasti berkehendak ikatan suami istri yang dilakoninya akan terus berlanjut sampai ajal menjemput.

Keluarga dan rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga yang tenang, tenteram, penuh kasih sayang di antara sesama anggota keluarga sampai dengan semuanya dipisahkan oleh kematian.

Bila kita mau membaca dan memahami ajaran Al-Qur’an dengan seksama semestinya kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang ditawarkan oleh Islam tidaklah sebatas sampai kematian memisahkan semuanya.

Islam justru menawarkan kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang abadi sejak masih di dunia hingga di akhirat kelak. Di dalam Al-Qur’an Surat At-Thur ayat 21 Allah menyatakan:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
“Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikutinya dengan keimanan maka Kami pertemukan mereka dengan keturunannya dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal mereka.”

Dengan ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan berbagai kitab tafsir, Allah ingin memberitahukan perihal anugerah, kasih sayang dan kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya.

Bahwa orang-orang mukmin bila anak keturunannya ikut beriman kepada Allah maka Allah akan mempertemukan anak-anak keturunan itu dengan orang tuanya pada satu tempat dan derajat yang sama yakni surga.

Meski pun para anak keturunan tersebut tidak melakukan amalan yang mencapai derajat sebagaimana yang dicapai orang tuanya.

Perlakuan ini diberikan oleh Allah untuk memuliakan para orang tua yang mukmin itu agar mereka merasa bahagia dapat berkumpul kembali dengan anak-anaknya.

Lebih jauh dari itu Imam Ahmad As-Shawy meriwayatkan bahwa kelak ketika seorang ahli surga telah memasuki surga ia akan menanyakan keberadaan orang tua, istri dan anak-anaknya.

Kepadanya diberitahukan bahwa mereka tidak mendapatkan apa yang didapatkan oleh si ahli surga tersebut. Maka ia berkata kepada Allah, “Saya beramal untuk diri saya dan juga untuk mereka.”

Maka dengan anugerah dan kemurahan Allah mereka yang derajatnya lebih rendah diangkat untuk dipertemukan dengan ahli surga yang derajatnya lebih tinggi.

Apa yang diberitakan Al-Qur’an di atas adalah sebuah kebenaran yang pada saatnya nanti akan terjadi. Sebuah keluarga besar, setelah sekian tahun lamanya dipisahkan oleh kematian, di akhirat kelak bisa kembali bertemu dan berkumpul pada satu tempat yang mulia dengan catatan setiap anggotanya memiliki keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk itu semestinya setiap pasangan pengantin yang baru membangun rumah tangga semestinya tidak hanya memiliki keinginan terwujudnya rumah tangga yang langgeng di dunia tanpa perceraian, namun lebih dari itu mesti bercita-cita agar keluarganya akan tetap langgeng dan terus hidup bersama bukan saja di dunia tapi juga di akhirat kelak.

Karenanya usaha-usaha untuk menjaga dan melestarikan keimanan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga menjadi wajib dilakukan sebagai modal utama demi terwujudnya keluarga sakinan yang langgeng dari dunia hingga akhirat.

Sumber: congkop.com

Inilah Kewajiban Seorang Istri Pada Suami Yang Jarang Diketahui (Kitab Mar’atus Shalihah)

Dalam berumah tangga, Tak hanya suami yang memiliki kewajiban kepada istrinya, tetapi sang istri juga memiliki kewajiban kepada sang suami yang tidak boleh dilupakan. Karena hubungan pernikahan adalah ikatan dua orang yang saling member dan saling menerima. Rasulullah bersabda,

“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud kepada suaminya karena Alla telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad]

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah jika seorang wanita beriman itu meninggal dunia lantas ia benar-benar memperhatikan kewajiban terhadap suaminya sampai suami tersebut ridha dengannya, maka ia dijamin masuk surga. Bisa juga makna hadits tersebut adalah adanya pengampunan dosa atau Allah meridhainya.

Begitu pula ada hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Berikut kami akan menyajikan beberapa kewajiaban seorang istri terhadap suaminya yang dinukil dari kitab Kitab Mar’atus Shalihah.

Kitab Mar’atus Sholihah adalah salah satu kitab yang membahas tentang etika dan pedoman berumah tangga. Kitab lain yang menjelaskan serupa antara laun Kitab QUrrptul ‘Uyun dan ‘Uqud al-Lujain. Kitab ini adalah karya seorang ulama dari Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Ia adalah KH. Masruhan al-Maghfuri al-Maraqi al-Samaroni, pendiri pondok al-Maghfur.

Dalam kitab ini, Musonif berkata : Kalian sudah pasti faham, kalau suami itu pada awalnya adalah orang lain, tetapi setelah sempurnanya ijab qobul, di baiat dengan syahadat dan di saksikan oleh para saksi, kemudian ke dua belah pihak menjadi “khuququzzaujiah”. Yang awalnya haram menjadi halal, dari seluruh badan dan madu dari suami ataupun istri semuanya menjadi halal. Begitu juga yang tadinya tidak ada hukumnya menjadi ada hukumnya…

Setengah dari kewajiban seorang istri terhadap suami yang harus di ketahui oleh istri adalah ;

1). Menghadapi permasalahan apapun lebih baik di musyawarahkan bersama antara suami dan istri.
~Permasalahan sekecil apapun jangan di diamkan (disepelekan) tanpa ada sebuah penyelesaian, biasakanlah untuk memusyawarahkannya dan mencari jalan keluar dengan baik antara suami istri agar tercipta keluarga yang rukun dan harmonis.

2). Ketika seorang istri mau pergi keluar rumah harus meminta ijin terlebih dahulu. Ketika keluar juga harus seperlunya.
~Umumnya perempuan itu suka menyepelekan ketika suami sedang tidak ada dirumah kemudian bepergian kesana kemari sedang tetangga-tetangganya tau bahwa suaminya sedang bepergian dari itu di khawatirkan akan mengakibatkan berita-berita yang tidak enak (berita buruk yang mencemarkan nama baiknya dan suaminya). Maka dari itu seorang suami ketika sedang bepergianpun harus selalu mengawasi istrinya (memberi perhatian/menanyakan kabar ) terlebih dalam urusan ibadahnya istri.

3). Di saat suami sedang bepergian, harus menjaga dunia dan jiwanya dari bermacam-macam resiko
~Ada sebuah kisah: ada seorang istri sedang di tinggal bepergian oleh suaminya. Tiba-tiba Ayah kandungnya jatuh sakit, istri tersebut di jemput oleh salah seorang familynya untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit, namun si istri tidak berani meninggalkan rumah dan pergi menjenguk Ayahnya. Kemudian terpaksa menyuruh orang untuk menemui (soan) kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan maksud untuk menanyakan hal tersebut, Boleh atau tidak keluar dari rumah dengan maksud untuk menjenguk Ayahnya yang sedang sakit, namun suaminya sedang tidak ada di rumah dan jawabnya tidak di perbolehkan. Ke esokkan harinya kembali menanyakan hal tersebut kepada Nabi sebab Ayahnya sekarang dalam keadaan kritis dengan menyuruh orang untuk menanyakannya. Namun jawaban Kanjeng Nabi tetap tidak mengizinkan dan begitu seterusnya sampai Ayahnya meninggal dunia. Sampai hendak melayatpun tidak bisa, harus menunggu suaminya sampai kembali dari bepergian terlebih dahulu. Sampai jenazah Ayahnya di kubur si istri tidak bisa melihatnya. Saat suaminya telah pulang kemudian si istri di panggil Kanjeng Nabi dan Beliau dawuh (sabda) demikian; Hai perempuan,, Muji syukurlah kamu kepada Allah SWT, Sebab Ayahmu telah di terima semua amalnya dan di hapuskan dari semua dosa-dosanya,sebab baktimu pada suamimu ( di saat ditinggal bepergian oleh suamimu kau tetap menjaga amanahnya dan berbakti pada suamimu).

4). Jika ada tamu laki-laki dan bukan muhrimnya, Istri tidak boleh menemuinya (sendirian) kecuali ada wakil darinya (muhrimnya) untuk mewakili menemui tamu tersebut.
~ Dikhawatirkan ketika ada tamu laki-laki yang bukan muhrim, dalam keadaan seorang istri sendirian di dalam rumah maka akan mengakibatkan fitnah (meskipun tidak melakukan hal-hal tercela)

5). Bila berbicara apapun pada suami harus dengan sopan (andab ashor) dan lemah lembut yang bisa
menarik hati suami.

6). Jangan sampai memasang wajah cemberut di depan suaminya, jadi harus dengan wajah yang berseri dan
penuh senyum didepan suaminya (sumeh).

7). Jika dipanggil oleh suaminya istri harus menjawab dengan segera, dan dengan jawaban yang lembut “dalem”

8). Ketika di beri hadiah oleh suami berbentuk apapun, trimalah dengan kedua tangan dan dengan expresi yang menarik (manja).

9). Ketika dibelikan apa saja oleh suami, jangan sampai mencela pemberiannya apalagi dengan wajah yang tidak suka dan tak menghargai pemberiannya.

10). Semua rahasia antara suami dan istri atau dengan orang lain (yang itu adalah rahasia) harus di simpan dengan rapat.

11). Ketika seorang suami mau bepergian atau pulang dari bepergian, Istri di biasakanlah untuk bersalamandan mencium tangan suaminya, begitu juga supaya istri mengantar suaminya sampai ke depan pintu, juga ketika suaminya pulang dari sholat jum’at istri di biasakan untuk bersalaman.

12). Jika seorang suami ketiduran dalam keadaan lupa bahwa dia belum sholat, supaya dibangunkan dengan
tutur kata yang halus. Begitu juga ketika suami lupa dengan janji-janjinya atau lupa dalam hal apa saja.

13). Ketika makan di usakan untuk bersama-sama. Bila diantaranya (suami atau istri) lupa tidak membaca “ Bissmillahirrohmanirrokhim” supaya di ingatkan, apabila ingatnya di tengah-tengah sedang menyantap makanannya supaya di tambah dengan “Bismillahirrohmanirrokhim awwaluhu wa akhirohu” .

14). Apabila suami sedang makan kemudian tidak habis (sisa), dianjurkan si istri untuk menghabiskan.

15). Bila ada nasi yang berceceran, di anjurkan untuk di ambil kemudian di makan. Siapa tau itu sebenarnya yang membawa berkah.

16). Pakaian seorang suami sesungguhnya bukanlah kewajiban seorang istri untuk mencucinya. Tetapi apabila tidak ada atau suami tidak punya waktu untuk mencuci sendiri karena kesibukannya maka lebih baik istrilah yang mencucikan pakaian suaminya.

17). Jangan sampai seorang istri itu membantah pada suami, bila ada ketidak sanggupan tidak berkenan ataupun kesalahan pada perintah suami ingatkanlah dengan baik-baik musyawarah yang baik dan dengan di sertai tutur kata yang halus dan lembut.

18). Bila suaminya kedatangan tamu dan si suami ada di rumah, maka istri cepat-cepatlah keluarkan apa-apa yang ada dirumah (hidangan/jamuan) untuk segera di suguhkan.

19). Supaya bersih, rapi dan rajin mengatur dapur, kamar badan juga pakaian (istri).

20). Tidak usah untuk meminta di belikan pakaian pada suami, tetapi lebih utama untuk menunggu di belikan oleh suami.

21). Pangkat, dunia atau kelebihan dari suaminya jangan di ceritakan kepada orang lain.

22). Jangan membanding-bandingkan suaminya dengan suami tetangga ataupun dengan orang lain. (mengunggulkan orang lain melebihkan orang lain di depan suami).

23). Jangan sampai seorang istri memerintah suami, menyuruh pada suami yang suami tidak berkenan untuk melakukannya atau menyuruh yang tidak pantas untuk di kerjakan oleh laki-laki.

24). Seorang istri tidak baik apabila bersikap terlalu royal (boros) juga tidak baik terlalu pelit (sedang-sedang saja).Tidak perlu royal karena siapa sih yang mau menilai dari kotoran yang dia keluarkan?, mau makan dengan lauk gule atau tempe gembus, keluarnya juga sama saja .

25). Jangan sampai menyembunyikan makanan, atau apapun yang itu adalah hak seorang suami.

26). Apabila dalam berumah tangga, suami dan istri sedang cekcok (bertengkar) jangan sampai pertengkaran mereka di dengar oleh anak-anaknya.~ Ini yang sering terjadi pada kebanyakan keluarga, bertengkar hebat dan di liat oleh anak-anaknya di dengarkan oleh anak-anaknya . yang demikian sebenarnya merusak metal anak-anak dan tidak mendidik, akhirnya anak-anak tidak tau bagaimana cara menghargai dan menghormati ke dua Orang Tuanya. Bila sudah demikian seorang anak tidak bisa menghargai dan menghormati kedua Orang Tuanya sendiri trus bagaimana bisa dia (anak) bisa menghargai dan mengormati dirinya sendiri terlebih kepada orang lain.

27). Seorang istri jangan sampai terbiasa hutang, kecuali bila dalam keadaan dhorurot (terpaksa sekali) itupun atas seizin suaminya.

28). Lebih utama seorang istri dalam melaksanakan sholat fardhu berjama’ah (menjadi makmum suami) sebab sholat berjama’ah itu menyimpan begitu banyak berkah dan pahala.

29). Seorang istri tidak boleh melakukan sodaqoh sunnah kecuali atas izin dari suaminya, namun bila zakat wajib itu harus memaksa apalagi bila suaminya lupa tidak menunaikannya istri wajib untuk mengingatkannya.

30). Bila sedang bermusyawarah, ketika suami sedang bicara meskipun bicaranya tidak lancar (karna belum terbiasa) seorang istri tidak boleh memotong pembicaraan suaminya.

31). Saat bersikap dengan keluarga (family), bapak dan ibu dari suami dalam bersikap harus disamakan dengan ketika dia bersikap pada keluarganya (family) bapak ibunnya sendiri.

32). Seorang istri tidak boleh melaksanakan puasa sunnah kecuali atas izin dari suaminya, kecuali bila puasa wajib itu boleh memaksa meskipun suami tidak mengizinkan.

33). Tidak boleh berdandan kecuali hanya untuk menyenangkan (membahagiakan) suaminya, khususnya ketika sedang makan bersama.

34). Seorang istri supaya bisa untuk membedakan masakan apa yang pas untuk di makan ketika sedang musim dingin atau musim panas, dan masakan yang menjadi kesukaan suami.

35). Jangan menolak ketika suami memanggil apalagi ketika suami menginginkan untuk berkumpul (jimak/bercumbu).
Tambahan; Ketika seseorang (laki-laki dan perempuan) memutuskan untuk berumah tangga keduanya harus mengerti tentang tugas dan kewajiban masing-masing (suami dan istri) , apa tugas sebagai istri dan apa tugas sebagai suami dengan demikian Insya-Allah akan lebih kokoh pondasi berumah tangga.

Suami ataupun istri keduanya harus siap dengan hal-hal baru yang di jumpai pada pasangannya entah itu kebaikan ataupun keburukan karna sejatinya tidak ada yang sempurna dalam diri manusia. Seperti siap untuk belajar mengenal pasangannya seumur hidup dengan ilmu Allah yang begitu luas.
Dan untuk para suami ingatlah bahwa baik buruk istrimu dan dermaga keluargamu itu adalah kewajibanmu untuk mengarahkan dan membawanya kepada sakinah mawaddah warrohmah.

Semoga bermanfaat

3 Penyebab Kenapa Wajah Istri Terlihat Lebih Tua Dibanding Suami Setelah Lama Menikah

Benar kata orang-orang cari suami usianya yang lebih tua terpaut minimal 5 tahun. Kalau beda tipis, jangan marah kalau tiba-tiba suami dibilang adiknya.. Huaaaa, hati rasanya tercabik-cabik sambil cari kaca 😀

Saya nggak mengeneralisir ya, tapi umumnya wajah suami awet muda. Pernah donk, pas baru-baru pindah. Masa papanya bocah dibilang omnya kakak. Apa? Semuda itukah wajah papanya bocah, hahahahaha..

Kalau istrinya usianya lebih tua atau lebih muda tapi happy terus mungkin tetap awet muda. Tapi, kalau sedikit-sedikit ngomel entah sama anak atau suami ya terima nasib wajahnya lebih dewasa, hihi..

Setelah cerita ngalor ngidul habis senam ibu-ibu, kesimpulannya. Para istri jangan doyan marah kalau mau awet muda. Anak telat bangun, senyum aja, anak nangis, senyum aja jangan dibawa emosi. Atau uang belanja kurang senyum aja, jangan sewot, hehe…

Ibu pekerja mungkin lebih beruntung karena dipenuhi canda tawa saat di kantor. Buat ibu rumahan kayak saya, sepertinya harus pintar-pintar mencari acara biar happy terus. Kalau suntuk di rumah, bahaya nanti anak suami jadi sasaran amarah 😀

Baiklah kalau istri wajahnya lebih dewasa dibanding suami. Tapi, wajah cepat menua nggak cuma karena marah-marah saja. Kalau menurut saya, ada hal lain yang membuat istri wajahnya lebih tuasenior dibanding suami. Apa saja?

1. Kebanyakan Gula
Hampir semua ibu-ibu doyan nggak doyan, lapar nggak lapar makan sisa makanan anak-anak. Makan siang nggak habis, mamanya yang ngabisin. Itu baru satu anak, bagaimana kalau lebih dari satu.

Nasi itu kan karbohidrat yang kandungan gulanya tinggi. Berkali-kali makan bagaimana coba. Belum lagi camilan anak-anak yang manis. Anak nggak habis, mamanya yang makan. Adoooh…tong sampah banget ya.

Selain itu, rata-rata perempuan suka makanan yang manis-manis. Padahal gula itu bisa merusak kolagen dan elastin yang bertanggung jawab pada kekenyalan kulit. Jadilah kulit lebih cepat keriput.

2. Kurang Olahraga
Udah di rumah seharian, marah-marah, makan banyak gula, nggak sempat perawatan kulit, adududu…. Kok kesannya tersiksa banget sih. Itu cuma lebay dikit aja. Tapi benar deh, kebanyakan istri sibuk berat. Baik itu ibu rumahan atau karir.

Mungkin yang senang olahraga hanya beberapa persen. Padahal, olahraga itu juga bagus buat kulit. Selain itu, kalau tubuh bugar nggak gampang capek jadinya nggak gampang marah-marah. Kulit jadi awet muda kan 🙂

Biar saya kelihatan seperti usia 17 tahun, mulai rajin olahraga ah. Wajah berseri, senyum merona, dan segar bugar. Kalau udah begitu siapa yang nggak kelihatan muda, hihi..

3. Kulit Kering
Berbahagialah kaum hawa yang kulitnya berminyak. Kulit berminyak memang jadi lebih mudah berjerawat atau berkomedo. Tapi, kulit jadi awet muda.

Saya pernah baca kenapa pria lebih awet muda. Ini karena pada pria lebih banyak minyak alami (sebum) di kulitnya, yang memungkinkan pria lebih banyak berkeringat. Rambut yang tumbuh kayak jenggot atau kumis itu juga ada manfaatnya lho.

Memang sih sebagian besar pria berjenis kulit berminyak memiliki masalah jerawat. Pori-pori kulit akan menjadi tertutup dengan sebum dan jika kena keringat dan bakteri, jerawat gampang banget munculnya.

Sebum yang berlebihan di kulit itu akibat pengaruh hormon.

Perempuan dengan jenis kulit berminyak pastinya merasa kesal. Udah berjerawat, muka mengkilap.. Aduh, nggak banget deh. Padahal punya kulit berminyak itu beruntung banget.

Orang-orang yang kulit berminyak ini yang nggak cepat terlihat tua. Kalau para istri takut dengan mimpi buruk penuaan dini, kulit berminyak inilah jangan dikeringkan dengan perawatan macam-macam.

Meski membuat penampilan kurang oke, pada saat yang sama, kulit berminyak ini bisa memelihara dirinya sendiri dengan menghasilkan minyak alami kulit ‘sebum.’

Kalau kelembaban kulit seimbang, kulit jadinya nggak akan mengalami dehidrasi atau kekeringan. Kulit kering itu bikin gampang keriput 😀

Padahal, waktu lagi abegeh paling males sama muka dan rambut berminyak. Sampai beli produk pembersih wajah dan sampo buat rambut berminyak. Lah kok sekarang pas gede rambut dan kulit jadi kering, huhu..

Di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Kulit berminyak memang bikin repot tapi membahagiakan saat dewasa 😀

Kembali ke wajah lebih tua, sebenarnya sih solusinya kayaknya bahagia. Wajah jadi berseri-seri, keriput nggak kelihatan. Cemberut, ngomel-ngomel bikin kulit tertarik, dahi mengernyit, udah deh si keriput makin kelihatan 😀

Ada yang mau nambah lagi apa yang bikin istri lebih cepat tua? Mohon maaf tulisannya rada-rada bagaimana. Tulisan ini campur aduk pendapat pribadi sama mengingat-ingat teori dari artikel yang pernah dibaca.

Mari perbanyak senyum dan buang pikiran negatif.

Sumber: mamabocah.com