Jangan Keliru Wahai Suami, Suami, Tidak Perlu Takut Duitmu Habis Bila Diberikan Pada Istri dan Anak. Karena Justru Akan Mempelancar Rejekimu…

Suami adalah tulang punggung keluarga. Ia berkewajiban untuk memberi nafkah pada istri dan anak-anaknya. Namu tak jarang ada suami yang malah irit banget saat memberikan uang pada anak dan istrinya.

Padahal, uang yang diberikan pada istri dan anak-anak itu sedekah yang paling utama. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa sedekah itu adalah jalan untuk memperlancar rejeki.

Maka para suami jangan takut duitnya habis bila diberikan untuk istri dan anak, karena bisa jadi hal itu malah bisa melancarkan rejeki.

Ketahui Pahala Untuk Suami Tiap Kali Beri Nafkah Istri
Ketika memutuskan menikah, maka seorang pria harus siap dengan tanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Mereka berkewajiban memastikan kebutuhan wanita yang dinikahinya ini tercukupi dengan jalan bekerja keras setiap hari.

Hal ini terkadang menjadi salah satu momok menakutkan ketika pria akan mengambil keputusan untuk berkeluarga.

Pengalaman susahnya mengatur hidup sendiri, membuat pria berpikir berulang kali untuk hidup berdua. Terlebih jika sudah memiliki momongan, maka tanggungjawab akan semakin besar.

Namun jika mengacu pada ajaran Islam, memberi nafkah istri tidak sekedar memastikan bahwa mereka bisa makan dan melanjutkan hidup saja. Lebih dari itu, tindakan ini merupakan sebuah ibadah dan memiliki pahala yang amat besar. Setiap kali memberikan istri nafkah, maka suami akan memperoleh pahala. Seperti apa? Berikut ulasannya.

Memberi nafkah istri adalah wajib. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim:

“Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rezki dan pakaian dari kalian”. (HR Muslim)

Pahala ketika memberi nafkah kepada istri lebih besar jika dibandingkan pahala saat memberikan harta untuk perjuangan agama Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa,

“Satu dinar yang engkau belanjakan untuk perang di jalan Allah SWT dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk istrimu, maka yang paling besar pahalanya ialah apa yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari segala jenis sedekah, ternyata yang memiliki pahala paling besar adalah memberi nafkah keluarga. Mulai dari infak di jalan Allah, membebaskan budak, sedekah orang miskin, maka yang dijanjikan pahala paling besar adalah saat memberikan untuk keluarga.

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, pahala yang paling besar adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” (HR Muslim, Ahmad)

Namun, dengan hal tersebut bukan serta merta istri boleh menuntut nafkah yang banyak kepada suaminya. Akan tetapi disesuaikan dengan keadaan umum yang diterima kalangan para isteri di negeri mereka, tanpa berlebih-lebihan ataupun pelit, sesuai dengan kesanggupannya dalam keadaan mudah, susah ataupun pertengahan.

“Dan hendaklah kamu berikan suatu pemberian kepada mereka. Orang yang mampu sesuai dengan kemampuannya dan orang yang miskin sesuai dengan kemampuannya pula, yaitu pemberian menurut yang patut”. [Al Baqarah:236].

Lalu kapan seorang pria berkewajiban memberiikan nafkah kepada istri? Para ulama berpendapat, tanggungjawan memberikan nafkah kepada istri dibebankan setelah berlangsungnya ijab qabul, meskipun istri masih tinggal di rumah orangtuanya dan belum tinggal bersama suami.

Dasar pendapat mereka, diantara konsekuensi dari akad yang sah, ialah sang isteri menjadi tawanan bagi suaminya.

Dan apabila isteri menolak berpindah ke rumah suaminya tanpa ada udzur syar’i setelah suaminya memintanya, maka ia tidak berhak mendapat nafkah dikarenakan isteri telah berbuat durhaka (nusyuz) kepada suaminya dengan menolak permintaan suaminya tersebut.

Meski nantinya istri akan bekerja diluar rumah dan mendapatkan penghasilan sendiri, namun tidak membuat kewajiban suami ini hilang begitu saja. Istri yang bekerja dengan izin suami, harus tetap diberi nafkah. Namun jika mereka bekerja tanpa mendapat izin dari suaminya, maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah.

Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar menjelaskan tentang alasan, mengapa isteri yang bekerja di luar rumah tanpa persetujuan suami tidak berhak tidak mendapat nafkah, ”Pendapat yang benar adalah, wanita yang bekerja tidak berhak mendapat nafkah.

Karena suami mampu mencegahnya dari bekerja dan keluar dari rumah (dengan mencukupi nafkahnya), dan (menetapnya isteri di rumah suami) merupakan hak suaminya.

Kewajiban suami memberi nafkah kepada isteri disebabkan karena status isteri yang menjadi tawanan suaminya dan ia wajib meluangkan waktunya untuk suaminya.

Jika sang isteri bekerja (tanpa izin suaminya) dan mendapatkan uang, maka sebab yang menjadikan suami wajib memberikan nafkah kepadanya telah gugur.” Ahkamuz Zawaj, hlm. 282

Meski dengan kewajiban begitu besar, masih ada saja suami yang tidak bertanggungjawab memberi nafkah istri. Atau harta yang mereka dapatkan mereka simpan tanpa sepengetahuan istri, sementara istri, harus susah payah membagi uang belanja yang tidak cukup.

Tentang suami yang bakhil ini, telah datang banyak nash yang memuat ancaman baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sebagai berikut.

“Cukuplah sebagai dosa bagi suami yang menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” HR Muslim.

Selain itu, Rasulullah juga sabda yang artinya:

“Tidaklah para hamba berada dalam waktu pagi, melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari mereka berdoa, ‘Ya, Allah. Berikanlah kepada orang yang menafkahkan hartanya balasan yang lebih baik,’

Sedangkan malaikat yang lain berdoa, ‘Ya, Allah. Berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya (tidak mau menafkahkannya)’.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dengan pahala yang demikian besar serta ancaman yang tidak main-main, seharusnya membuat para suami berpikir ulang untuk tidak menafkahi istri atau bersikap pelit kepada mereka.

Karena sebenarnya, istri lah salah satu sebab Allah melancarkan rezeki suami. Karena dalam rezeki yang Allah beri kepada suami, selalu ada doa sang istri.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Sumber: momonganak.org

Wahai Istri, Janganlah Engkau Terlalu Mandiri. Sisakan Ruang Ketergantungan Pada Suami, Ini Alasannya

Bolehkah istri mandiri? Saya kira boleh-boleh saja. Namun ada yang mengatakan bahwa seorang istri jangan terlalu mandiri di sisi suami. Sisakan ruang ketergantungan yang bakalan bisa mengembangkan sayap kepahlawanan suami.

Nah, menurut konsultan keluarga, Cahyadi Takariawan, ada bahaya juga lho kalau istri itu terlalu mandiri. Coba deh baca artikelnya dibawah ini.

Suami dan istri itu bersifat “saling”. Mereka menjadi utuh karena keduanya bersatu dalam ikatan cinta. Mereka berdua saling terikat satu sama lain, saling memerlukan satu sama lain, dan bahkan dalam beberapa sisi harus merasa saling tergantung satu sama lain.

Maka ketika ada suami yang terlalu mandiri, semuanya diselesaikan sendiri, lalu apa fungsi istri? Demikian pula ketika ada istri yang terlalu mandiri, semuanya diselesaikan sendiri, lalu apa fungsi suami?

Suami bisa saja menyelesaikan sendiri semua keperluannya. Mencari nafkah, mencuci baju, menyiapkan sarapan, membuat kopi, membersihkan kamar tidur dan semua keperluan hidup lainnya.

Seperti anak kos yang mengerjakan sendiri semua keperluan hidupnya. Namun jika ia selesaikan semuanya sendirian, lalu bagaimana perasaan istri yang tidak bisa memberikan bantuan apapun kepada suaminya? Bukankah ia akan merasa tersisih karena tidak ada yang bisa dikerjakan untuk sang suami?

Demikian pula istri bisa saja menyelesaikan sendiri semua keperluannya. Mencari nafkah sendiri, mencuci baju, menyiapkan sarapan, membuat teh, membersihkan rumah, mengasuh anak dan semua keperluan hidup lainnya.

Namun jika ia selesaikan semuanya sendirian, lalu bagaimana perasaan suami yang tidak bisa memberikan bantuan apapun kepada istrinya? Bukankah ia akan merasa tersisih karena tidak ada yang bisa dikerjakan untuk sang istri? Ia tidak bisa merasa menjadi pahlawan bagi istrinya.

Maka, semandiri apapun para istri, sisihkan ruang dalam diri anda untuk tergantung kepada suami. Sehebat apapun diri para istri, sisihkan ruang kemanjaan dalam diri anda untuk dipenuhi oleh suami.

Para istri tidak boleh berprinsip “aku bisa mengerjakan semuanya sendiri”, walaupun kenyataannya anda memang bisa. Batasi kemandirian anda.

Karena hal ini akan membuat anda berada pada posisi saling asing dengan suami. Ketika suasana saling asing, tidak merasa saling memerlukan, tidak merasa saling tergantung sudah mulai muncul antara suami dan istri, mereka akan semakin menjauh satun dengan yang lain.

Hubungan akan semakin renggang karena keduanya merasa bisa menyelesaikan urusan dan keperluan masing-masing. Ada kekosongan dalam jiwa suami, yang merasa tidak bisa menjadi superhero bagi keluarganya. Ada kekosongan dalam jiwa istri, yang merasa tidak diperlukan oleh suami.

Yang dimaksud mandiri bukannya merasa tidak memerlukan suami. Bukan merasa lebih hebat dari suami sehingga anda meremehkan dan melecehkannya. Walaupun kenyataannya anda memang hebat.

Berbeda antara hebat dengan merasa hebat. Walaupun anda memang hebat, jika selalu merasa hebat dan selalu merasa lebih hebat dari suami, justru akan memunculkan jarak yang memisahkan hubungan dengan suami. Apa gunanya kehebatan anda jika justru membuat tidak bahagia dalam kehidupan keluarga?

Apalagi kehidupan suami istri itu bukan untuk bertanding dan bersaing dalam soal kehebatan atau kelebihan. Jika memang istri hebat, mestinya bisa mengormati suami.

Walaupun karier istri lebih hebat dari suami, penghasilan istri lebih banyak dari suami, jabatan istri lebih tinggi dari suami, posisi istri lebih terkenal daripada suami, namun tidak berarti istri boleh bersikap arogan di hadapan suami.

Bahkan suami yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan sekalipun, para istri tidak boleh menghina dan melecehkannya.

Para istri hendaknya menyediakan ruang dalam dirinya untuk memiliki sisi ketergantungan dengan suami. Merasa memerlukan suami untuk membantu menyelesaikan berbagai urusan hidupnya. Dengan cara itu istri telah meletakkan suami sebagai sosok pahlawan dalam keluarga yang berjasa memberikan bantuan yang diperlukannya.

Jiwa kepahlawanan dan rasa tanggung jawab suami menjadi terekspresikan, dan itu membuat suami lebih semangat, lebih giat, lebih memiliki tekat untuk maju dan berkembang.

Suami istri itu harus merasa saling tergantung satu dengan yang lain. Karena justru dengan itulah mereka berdua bisa menikmati indahnya kebersamaan. Bukan bersaing, bukan bermusuhan, bukan rival, bukan bertanding. Namun saling membantu, saling memberi, saling tergantung, dan saling melengkapi. Alangkah indahnya kebersamaan dalam cinta dan kasih sayang.

Hormati dan Muliakan Posisi Suami
Dalam kehidupan berumah tangga, ada posisi yang jelas pada setiap anggotanya. Telah dibahas dalam bagian sebelumnya saat membahas karakter istri salihah yang harus mentaati suami, bahwa suami adalah pemimpin dalam keluarga, atau kepala keluarga.

Sebagai pemimpin ia harus ditaati dan dipatuhi, selama tidak dalam konteks maksiat atau kejahatan dan pelanggaran. Kepemimpinan suami adalah kepemimpinan cinta, kasih dan sayang. Kepemimpinan dalam bingkai sakinah, mawadah wa rahmah.

Kendati ada posisi yang berbeda antara suami sebagai kepala keluarga dengan istri sebagai pengelola kerumahtanggaan, namun mereka adalah mitra yang saling membutuhkan, saling menguatkan, saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Kendati ada hirarki karena suami sebagai pemimpin, namun suami tidak boleh sewenang-wenang terhadap istri. Suami harus bersikap lembut, bijak dan santun terhadap istri. Karena posisi seperti inilah, suami layak dihormati dan dimuliakan.

Seruan modernitas yang mengajak suami dan istri memiliki kesetaraan dan kesamaan posisi, kadang justru membuat ketidakjelasan dalam manajemen keluarga.

Karena pengaruh arus demokrasi, demokratisasi, kesetaraan gender, dan isu-isu modernitas lainnya, seakan-akan mengajak kita meninggalkan nilai-nilai yang dianggap kuno dan tradisional.

Padahal dalam nilai-nilai tradisional tersebut, terkandung filosofi yang sangat dalam, yang bisa jadi tidak dimiliki oleh pemikiran modern yang serba rasional.

Relasi antara suami dan istri, antara yang memimpin dengan landasan cinta dan yang patuh dengan landasan cinta pula, menempatkan mereka berdua dalam hirarki cinta.

Ada yang memiliki otoritas kepemimpinan dan ada yang memiliki kepatuhan, semuanya dalam bingkai cinta kasih. Bukan kesewenangan, bukan kezaliman, bukan kediktatoran. Dalam relasi seperti ini, terdapat kejelasan manajemen dalam keluarga, yang membuat semua pihak merasa nyaman dan bahagia.

Nadia Felicia melaporkan hasil sebuah studi di Praha, Cheko, yang menunjukkan bahwa pasangan suami istri akan cenderung lebih bahagia dan memiliki lebih banyak anak bila salah satu dari keduanya bersifat dominan dalam kehidupan keluarga.

Pasangan yang salah satunya berkepribadian dominan dan yang lain bersikap penurut,diyakini bisa membantu mempercepat meredakan pertengkaran sekaligus mempermudah kerja sama di antara mereka berdua.

Penelitian dari Charles University di Praha tersebut melibatkan 240 lelaki dan perempuan sebagai responden. Hasil penelitianmenunjukkan, lebih banyak keluarga yang orangtuanya terdiri dari satu dominan dan satu penurut. Jumlah orangtua yang sifat hubungannya mengutamakan kesetaraan tergolong jarang.

Biasanya masyarakat yang terpengaruh modernitas berpendapat,sebuah keluarga yang salah satunya bersikap dominan dan yang lain bersikap penurut dianggap tidak baik untuk kelanggengan hubungan.

Hal itu dianggap sebagai bentuk kekolotan sikap dan terlalu tradisional. Namun, temuan dari penelitian tersebut justru menunjukkan hasil yang sebaliknya.

Kesetaraan hubungan tidak selalu mengarah kepada kelanggengan dan kebahagiaan hubungan. Ide tentang kesetaraan posisi suami istri ternyata justru membuat mudah memicu konflik yang sulit diredakan.

Para peneliti menyatakan, sikap salah satu pihak yang bersikap dominan dan satu lagi bersikap penurut, cenderung menciptakan kohesi dalam hubungan.

Hal ini melahirkan tindakan kooperatif di antara suami dan istri, serta meningkatkan kemampuan pasangan tersebut dalam mengatasi tantangan yang menghadang.

Penelitian ini juga menunjukkan, tekanan berlebihan terhadap masyarakat modern agar pasangan selalu menjunjung kesetaraanbisa mengakibatkan penindasan.

Pasangan yang kedua pihaknya memiliki sikap keras dan kepribadian yang keras cenderung menghasilkan jumlah anak yang sedikit.

Para peneliti juga menemukan, di dalam hubungan yang menjunjung tinggi kesetaraan, konflik kecil pun bisa meningkat dan menjadi besar akibat ada kompetisi yang tidak disadari. Akhirnya keluarga yang mengagungkan kesetaraan justru lebih mudah dilanda konflik dan ketegangan, dan sulit mencapai kebahagiaan.

Maka, jangan terlalu mandiri dalam kehidupan berumah tangga. Sehebat apapun para istri, tetap harus memberikan ruang ketergantungan kepada suami dan menempatkan suami sebagai pemimpin yang ditaati dalam cinta dan kebaikan. Ini yang akan melanggengkan pernikahan.

Sumber: momonganak.org

Jika Ingin Bahagia, Jangan Menikahi Wanita yang Selalu Merasa Cantik, Ini 4 Alasannya Kamu Akan Terkejut…

Perempuan cantik dan yang ‘merasa’ cantik alias membanggakan sekali kecantikannya sudahlah tentu memiliki karakter yang berbeda.

Perempuan cantik jika ia bersyukur maka ia akan rendah hati, akan tetapi yang ‘merasa’ cantik biasanya memiliki karakter tinggi hati dan membawa banyak masalah.

Waspadalah wahai para pria, jangan sampai salah memilih istri karena akan membawamu ke neraka dunia.

Ini beberapa alasan perempuan yang membanggakan kecantikannya sangat berbahaya jika dinikahi. Itu sebabnya Rasulullah menyatakan untuk menjadikan agama seorang wanita sebagai prioritas untuk dipilih sebagai istri.

1. Tuntutan Tinggi
Karena merasa cantik, maka setelah diperistri tuntutannya akan sangat banyak. Minta diperbolehkan berkarir di luar rumah, minta pembantu, minta mobil mewah, rumah mewah, perhiasan. Alhamdulillah kalau suaminya mampu memanjakannya dengan kemewahan, bagaimana kalau suaminya pas-pasan?

Biasanya tipe perempuan seperti ini takkan mau tahu, ia akan menuntut terus apa yang diinginkannya karena ia merasa layak dilayani atas kecantikan yang dimilikinya.

2. Merendahkan Suami
Perempuan yang ‘merasa’ cantik sering kali rela dinikahi oleh pria yang secara fisik biasa-biasa saja atau bahkan cenderung kurang, yang penting ‘kantongnya tebal’. Sehingga ia dengan bebas merendahkan fisik suaminya.

“Kamu tuh… tampang pas-pasan gitu, beruntung punya istri cantik seperti aku!”

3. Haus Pujian dan Pengakuan
Perempuan yang merasa cantik biasanya butuh pujian dan pengakuan, sehingga ia akan banyak memposting foto yang memamerkan kecantikannya di sosmednya misalnya.

4. Mudah Tergoda Pria Lain
Banyak ditemukan kasus para istri yang mudah tergoda rayuan pria selain suaminya. Hal ini disebabkan kurangnya penghargaan terhadap suaminya dan tentunya buruknya pemahaman perempuan tersebut terhadap ajaran agama.

Mengapa perempuan yang merasa cantik mudah tergoda? Karena ia merasa suaminya penuh kekurangan sedangkan dirinya sendiri memiliki banyak kelebihan.

Astaghfirullah… semoga kita tidak termasuk golongan perempuan yang dilaknat seperti ini. Cantik tidaklah salah, kecantikan adalah anugerah. Tapi tak pantas kiranya jika anugerah tersebut malah berubah menjadi hina akibat ketinggian hati kita.

Wallaahualam.

Sumber: ummi-online.com

Negara Ini Rakyatnya Rata2 Gajinya 84Juta Rupiah Per Bulan, Tapi Mereka Tidak Bisa Kaya…

Benarkah masyarakat Swiss itu kaya raya, hanya karena negaranya digolongkan sebagai negara kaya di dunia?

Jawabannya tidak sama-sekali. Tetapi, penduduk Swiss, adalah masyarakat yang teramat-sangat sejahtera. Antara kaya raya dan sejahtera, banyak perbedaannya.

Contoh, seorang sarjana S1 lulusan dari universitas (jalur sains) atau Fach-hochschule (jalur politeknik) ketika memasuki dunia kerja akan mendapatkan gaji sekitar CHF6.000-an (Rp84 juta) per bulan. Banyakkah jumlah itu?

Jika gaji itu dipakai untuk hidup di Indonesia pastilah banyak sekali. Tetapi, jumlah itu sangat pas-pasan untuk hidup di Swiss.

Apalagi jika karyawan sarjana tadi sudah beristri dengan dua anak. Pasti ia menjadi sangat kekurangan.

Biaya hidup di Swiss teramat tinggi, sehingga gaji sebesar itu terasa pas-pasan. Contoh untuk sewa rumah. Di Swiss, seperti juga di Jerman, semua ukuran rumah diukur sesuai takaran layak kemanusiaan.

Dengan standar menurut hukum setempat yang memang harus dipatuhi, harga sewa rumah ukuran 80-100 m2 adalah CHF2.000 per bulan (Rp28 juta)

Sebagai keluarga yang hidup di negara dengan kesejahteraan tinggi, keluarga itu juga harus membayar asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan dana pensiun bagi (jaminan hari tua) di hari tua. Satu keluarga inti dengan empat kepala, harus keluar sekitar CHF1.200 (Rp 16,8 juta) per bulan.

Sisa gaji dipakai untuk hidup sehari-hari. Contoh harga bensin setara Pertamax CHF1,5 (Rp21.000) per liter. Makan siang di rumah makan biasa CHF 20 (Rp280.000) per orang.

Sebotol air mineral 600 ml Rp 30.000. Tarif kereta api cepat kelas dua berjarak 150 Km CHF 56 (sekitar Rp 800.000) sekali jalan. Dan seterusnya.

Berbeda dengan orang-orang yang sudah menduduki jabatan tertentu. Misalnya manajer, guru besar di universitas, atau kelas menengah lain yang pendapatannya bisa 3-4 kali lipat dari karyawan tadi.

Namun meski gajinya lebih tinggi, masyarakat kelas menengah itu juga tidak kaya-raya, karena pajak yang luar biasa tingginya. Semakin tinggi gaji, pajaknya pun semakin besar.

Menariknya, meski kondisi ekonominya pas-pasan, seorang karyawan biasa tidak akan kekurangan. Sebab, negara melalui Gemeinde atau kantor pemerintah kota akan memback-up sang karyawan tadi habis-habisan dari hasil pajak orang-orang yang bergaji 4-5 kali dari dia.

Ada tunjangan anak, tunjangan sosial, dll. Hidup mereka menjadi bergairah. Bahkan keluarga itu bisa menikmati liburan.

Di Swiss, produktivitas SDM dipacu dengan gaji. Semakin tinggi gajinya, kelak pensiun yang didapatkan pun akan tinggi.

Semua warga (tak peduli PNS, karyawan swasta, maupun petani) semua akan menerima tunjangan sosial-kesejahteraan di hari tua. Besar tunjangan bernama AHV yang diambil dari pajak itu sekitar CHF2.500 per bulan

Bagi yang memiliki gaji, dana pensiun dari pemerintah pasti di atas AHV. Dengan uang tersebut, minimum seseorang bisa bertahan hidup walau pas-pasan.

Tetapi, negara via pemerintah daerah akan memberikan tunjangan lain (sesuai kemampuan pemerintah daerah), hingga seseorang tetap bisa hidup layak pada akhirnya.

Jangan lupa, di Swiss kita bersekolah sejak SD sampai S1, S2, S3 sekalipun semua gratis. Kita ingin meraih tiga kali doktor pun, tidak akan keluar biaya sepeser pun.

Jadi sebenarnya orang Swiss tidak kaya raya, melainkan hidupnya sejahtera. Sebab. setiap individu, swasta dan negara bekerja bahu-membahu menegakkan kesejahteraan. Mereka tidak hidup dalam kemewahan ala selebritas kaya raya.

Salam hangat dari Swiss. Mari kita perbaiki Indonesia. Tidak perlu caci-maki. Berpikirlah dan bertindaklah untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumber: intisari.grid.id

Inilah Gerbang Tempat Penaklukan dan Terbunuhnya Dajjal. Kisah Akhir Zaman Yang Patut Diketahui…

“Sesungguhnya Isa Bin Maryam Akan Membunuh Dajjal Di Bab Lud (Gerbang Lod).” (Hr Ahmad, Turmudzi, Dan Nu’Aim Bin Hamad).

Pada akhir zaman nanti akan turun Dajjal ke muka bumi ini. Rasulullah SAW bersabda, “Ketika sedang tidur, aku bermimpi melakukan tawaf di Ka’bah. Lalu, ada seorang berambut lebat yang meneteskan air dari kepalanya, lalu aku tanyakan siapakah ini? Mereka menjawab, ‘Ibnu Maryam AS’.”

“Kemudian, aku berpaling dan melihat seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah, berambut keriting, matanya buta sebelah, dan matanya itu seperti buah anggur yang masak (tak bersinar). Mereka mengatakan, ‘Ini Dajjal’. Dia adalah orang yang paling mirip dengan Ibnu Qathn, seorang laki-laki dari Khuza’ah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lainnya disebutkan, “Lalu, turunlah Isa bin Maryam di menara putih di bagian timur Damaskus. Isa menemukan Dajjal di Pintu Lod, kemudian membunuhnya.” (HR Abu Daud)

Dari Mujami bin Jariyah al-Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Isa bin Maryam akan membunuh Dajal di Bab Lud(Gerbang Lod).” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Nu’aim bin Hamad).

“Tidak ada satu orang kafir pun yang masih hidup, semuanya terbunuh. Lalu, Isa berhasil menyusul Dajjal di Pintu Lod dan membunuhnya. Lalu, beberapa kaum Muslimin diselamatkan Allah ke hadapan Isa bin Maryam. Ia mengusap wajah mereka dan memberitahukan kepada mereka tentang kedudukan mereka di surga.” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Dalam hadis di atas diungkapkan bahwa Dajjal akan dikalahkan Nabi Isa AS di Gerbang Lod. Di manakah letaknya? Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, Lod atau Gerbang Lod adalah kota yang terletak di dekat Baitul Maqdis atau Elia di Palestina dekat Ramalah.

“Dahulu, rombongan kafilah dari Syam (Suriah) yang menuju Mesir singgah di kota ini, begitu juga sebaliknya,” ujar Dr Syauqi.

***

Kini, Lod merupakan salah satu kota yang berkembang di dataran Sharon, yaitu 15 km di tenggara Tel Aviv, Israel. Lod yang dalam bahasa Arab adalah al-Ludd itu, konon menjadi tempat tinggal Suku Benyamin.

Kota seluas 12.226 km per segi itu sudah muncul sejak Periode Kanaan. Temuan tembikar di daerah tersebut menunjukkan Kota Lod telah eksis sejak 5600 hingga 5250 sebelum Masehi.

Dan sejak saat itu, Lod menjadi hunian bangsa Yahudi hingga penaklukan yang dilakukan oleh Romawi pada 70 Masehi. Kota ini dikenal sebagai pusatnya pemikir dan pedagang Yahudi.

Menurut peneliti sejarah, Martin Gilbert, Raja Dinasti Hasmonean Jonathan Maccabee dan saudara laki-lakinya, Simon Maccabaeus, memperluas daerah kekuasaannya di bawah kendali Yahudi, termasuk menaklukkan Kota Lod.

Pada 43 M, Gubernur Romawi untuk Suriah Cassius menjual penduduk Lod sebagai budak. Selama Perang Romawi-Yahudi I, Prokonsul Suriah, Cestius Gallus, menghancurkan kota tersebut dalam perjalanannya menuju Yerusalem pada 66 M. Dua tahun berikutnya, kota ini diduduki oleh Kekaisaran Vespasian.

Selama Perang Kitos, tentara Roma mengepung Kota Lod dan mengganti namanya menjadi Lydda. Pada saat itu, terjadi pemberontakan Yahudi dipimpin oleh Julian dan Pappus.

Lydda kemudian dikuasai dan banyak Yahudi yang dieksekusi. “Pembunuhan Lydda” sering digunakan sebagai kalimat pujian di dalam Talmud.

Romawi berhasil menguasai kota yang 75 persen penduduknya adalah bangsa Yahudi pada 70 M. Pada abad ke-3, Kekaisaran Septimius Severus mengangkat status Lod menjadi sebuah kota yang disebut dengan Colonia Lucia Septimia Severa Diospolis. Diospolis berarti kota para dewa.

Ketika diduduki oleh Kekaisaran Romawi, kebanyakan penduduknya menganut agama Kristen. Saat itu, Romawi memang tengah melakukan Kristenisasi besar-besaran di daerah kekuasaannya.

Namun, pada abad ke-6 M, kota itu kembali berganti nama menjadi Georgiopolis untuk menghormati seorang prajurit Kekaisaran Diocletian, St George. Gereja dengan nama yang sama juga dibangun di kota tersebut untuk mengenangnya.

***

Kota ini menjadi salah satu lokasi yang penting setelah penaklukan bangsa Arab terhadap Palestina oleh pasukan tentara Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid pada 636 M. Selama penaklukan yang dilakukan kaum Muslim, Lod menjadi markas Provinsi Filastin, meskipun selanjutnya dipindahkan ke Ramla.

Pada awal abad ke-11 M, tepatnya tahun 1099, Tentara Salib merebut kota ini dari bangsa Arab dan menamainya menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut kembali dari Tentara Salib pada 1191 oleh pasukan Saladdin. Penjelajah Yahudi Benjamin Tudela mengatakan, saat Saladdin menaklukkan Lod, sebanyak 1.170 ke -luarga Yahudi tinggal di sana.

Di bawah Kesultanan Ottoman (Turki Usmani), Gereja Saint George dibangun pada 1870. Pada 1892, stasiun kereta untuk pertama kalinya dibangun di seluruh kota.

Pada pertengahan abad ke-19 M, pedagang Yahudi berimigrasi ke kota tersebut, namun kembali mengungsi pada 1921 setelah tejadi Kerusuhan Jaffa. Pada tahuntahun ini, Lydda berada di bawah administrasi mandat Inggris di Palestina sebagai keputusan Liga Bangsa-Bangsa yang diikuti dengan Perang Dunia I.

Selama Perang Dunia II, Inggris mengatur pos-pos pasukannya di dalam dan sekeliling Lydda serta stasiun keretanya. Setelah peresmian negara Israel pada 1948, bandar udara Lod diubah namanya menjadi Bandara Ben Gurion.

Hingga 1948, Lydda menjadi permu kiman bangsa Arab dengan populasi sekitar 20 ribu penduduk dan sebanyak 18.500 jiwa adalah Muslim, sisanya Kristen.

Pada 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa mem bagi Palestina kepada dua bangsa: Yahudi dan Arab. Sedangkan, Lydda diminta untuk dilepaskan dari bangsa Arab.

Namun, bangsa Arab menolak rencana tersebut. Maka, setelah menyatakan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, Israel menyerang dan merebut beberapa daerah Arab di luar yang diberikan PBB, termasuk Lydda. Dua bulan berikutnya, pasukan pertahanan Israel memasuki Lydda. Menurut tentara Israel, sebanyak 250 bangsa Arab, baik pria, wanita, maupun anak-anak terbunuh.

***

Selama 1948, populasi di Lydda meningkat menjadi 50 ribu jiwa, yang sebagian besar merupakan pengungsi Arab. Namun, sekitar 700 hingga 1.056 orang diusir atas perintah komando tinggi Iseael dan dipaksa berjalan sepanjang 17 km menuju garis Legiun Arab pada hari terpanas tahun itu. Banyak yang meninggal karena kelelahan dan dehidrasi dalam perjalanan tersebut.

Kota Lydda kemudian dikuasai oleh tentara Israel. Beberapa ratus keturunan Arab yang tinggal di kota itu tidak diizinkan menempati rumah-rumah mereka. Mereka segera kalah jumlah akibat masuknya imigran Yahudi dari berbagai daerah pada Agustus 1948. Sebagian dari mereka adalah Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab.

Maka, seperti awal mula berdirinya kota tersebut, Kota Lydda kembali menjadi Kota Yahudi. Imigran Yahudi terus berdatangan, awalnya dari Maroko dan Tunisia, lalu dari Ethiopia, dan kemudian dari Uni Soviet.

Di dalam Kota Lod terdapat sebuah dinding setinggi tiga meter yang dibangun untuk memisahkan distrik Yahudi dari distrik bangsa Arab.

Pertumbuhan daerah Arab sangat minim, sementara Pemerintah Israel telah mendorong pembangunan di daerah Yahudi. Beberapa layanan, seperti lampu jalan dan pengumpulan sampah hanya dilakukan di distrik Yahudi.

Hal itu mengingatkan kita ketika Berlin terbagi dua oleh Tembok Berlin karena berlakunya dua kekuatan di sana, yaitu Amerika Serikat di Berlin Barat dan Uni Soviet di Berlin Timur.

Sumber: republika.co.id