Bergadang, Bagaimana sih Hukumnya?

“BERGADANG jangan bergadang, kalau tiada artinya. Bergadang boleh saja, kalau ada perlunya,” itu merupakan sepotong syair lagu populer yang dinyanyikan Rhoma Irama. Mengapa tak boleh begadang?

Bergadang identik dengan ‘melek’ di malam hari, tidak tidur atau tidur terlalu larut. Bergadang dalam bahasa arab dikenal dengan nama As-Samar atau As-Sahar. As-Samar berarti bergadang yang disertai dengan perbincangan atau obrolan. Sementara As-Sahar berarti bergadang yang tidak disertai perbincangan atau obrolan.

Bergadang yang identik dengan aktivitas malam pun disinggung dalam Alquran dan juga hadis.

“Katakanlah: Bagaimana pendapatmu jika Allah jadikan malam itu terus-menerus sampai hari kiamat? Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah: Bagaimnana pendapatmu jika Allah jadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat. Siapakah Tuhan selain Allah yang mendatangkan malam padamu sebagai waktu istirahatmu? Apakah kamu tidak memperhatikan?” (Q.S. Al-Qasas : 71-72).

Dalam ayat Alquran di atas Allah menyatakan bahwa sebenarnya malam itu diciptakan oleh-Nya sebagai tempat hamba-hambanya bertafakur sehingga menambah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT.

Adapun keponakan Aisyah RA, Urwah bin Zubair mengatakan, “Aisyah pernah mendengarku setelah ‘isya dan aku sedang berkata-kata. Lalu Aisyah berkata, “Tidakkah kau mengistirahatkan penulismu (malaikat pencatat amal buruk)? Sesungguhnya Rasulullah tidak tidur sebelumnya dan tidak mengobrol setelahnya.”

Nah, bagaiaman sebenarnya hukum bergadang dalam pandangan Islam? Inilah ulasannya.

Makruh

Merujuk kepada Alquran surah Al-Mu’minum ayat 66 dan 67:

“Sungguh, ayat-ayat-Ku selalu dibacakan kepadamu, tapi kamu selalu berpaling ke belakang. Dengan menyombongkan diri dan mengucapkan perkataan keji terhadapnya pada waktu kamu bercakap-cakap pada malam hari.”

Ibnu Abbas pun berkata bahwa sesungguhnya bergadang malam adalah dimakruhkan.

Bergadang hukumnya makruh apabila dilakukan untuk hal-hal yang mubah (contoh: memperbincangankan masalah dunia, singkatnya berbicang tentang hal-hal yang baik). Sementara Rasulullah sendiri lebih menyukai untuk mengakhiri shalat ‘Isya dan mencela bergadang malam.

Haram

Hukum bergadang dalam islam menjadi haram apabila dilakukan untuk hal-hal yang telah nyata larangannya oleh Allah SWT maupun Rasulullah seperti menonton acara televisi yang merusak akhlak, melakukan tindak maksiat, atau memperbincangkan keburukan orang lain. Hal ini juga yang menjadikan bergadang haram karena menggunjing orang lain.

Hukuman Dua Terdakwa Korupsi e-KTP Irman dan Sugiharto Diperberat Jadi 15 Tahun

Mahkamah Agung (MA) memperberat hukuman terhadap dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto.

Kedua terdakwa dalam kasus pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) itu divonis masing-masing 15 tahun penjara.

“Kedua terdakwa hukumannya sama-sama diperberat menjadi 15 tahun,” ujar Juru Bicara Mahkamah Agung Suhadi saat dihubungi, Kamis (19/4/2018).

Vonis kasasi itu diputus oleh tiga Hakim Agung, yakni Artidjo Alkostar, MS Lumme, dan Abdul Latif, pada Rabu, 18 April 2018.

Menurut Suhadi, Irman selaku mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil dan Sugiharto selaku mantan Direktur Pengelolaan Informasi dan Administrasi Ditjen Dukcapil dibebankan denda Rp 500 juta subsider 8 bulan kurungan.

Kemudian, Irman dibebankan uang pengganti sebesar 500.000 dollar Amerika Serikat dan Rp 1 miliar. Jumlah itu dikurangi uang yang telah diserahkan Irman kepada KPK sebesar 300.000 dollar AS.

Apabila tidak dibayar, uang pengganti akan diganti dengan penjara selama 5 tahun.

Kemudian, Sugiharto dibebankan uang pengganti sebesar 450.000 dollar AS dan Rp 460 juta. Jumlah itu dikurangi uang yang telah diserahkan Sugiharto ke KPK. Apabila tidak dibayar, akan diganti dengan dua tahun penjara.

Sebelumnya, Irman dan Sugiharto divonis masing-masing 7 tahun dan 5 tahun penjara oleh hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Keduanya dinilai terbukti melakukan korupsi dalam pengadaan e-KTP. (Abba Gabrillin).

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Di Tangan Artidjo, Hukuman Irman dan Sugiharto Diperberat Jadi 15 Tahun Penjara

Perlu Bantuan Pemerintah! Ratusan TKI di Luar Negeri Terancam Hukuman Mati

Duka belum pupus setelah hukuman pancung yang diterima Zaini Misrin di tangan algojo Arab Saudi, Minggu (18/03/18). Kini lembaga advokasi buruh migran, Migrant Care, memperingatkan pemerintah ihwal pekerjaan rumah yang mendesak untuk diselesaikan, bahwa masih ada sekitar 202 Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri yang terancam hukuman mati.

Mereka tersebar di empat negara yang menjadi tujuan favorit tenaga kerja Indonesia. “Malaysia ada 148 orang, Uni Emirat Arab ada tiga orang, lalu Singapura ada tiga orang, Arab Saudi 21 orang dan Tiongkok 27 orang,” kata Direktur Migrant Care Anis Hidayah kepada Republika. Dan serupa dengan kasus Zaini Misrin yang tidak mendapat bantuan hukum memadai, “ya mereka adalah korban,” tegasnya.

Migrant Care meyakini Zaini Misrin menjalani proses persidangan secara tidak adil. Penerjemah yang disewa untuk Zaini bahkan mendesaknya untuk mengakui tuduhan pembunuhan. TKI asal Madura itu juga mengalami intimidasi dari kepolisian setempat. Terlebih Arab Saudi membiarkan Indonesia dalam gelap, hingga sesaat setelah vonis hukuman mati dijatuhkan.

“Zaini ketika memberikan keterangan dalam proses pemeriksaan BAP dipaksa untuk mengaku membunuh, sehingga proses hukumnya cepat selesai. Meskipun, Zaini tidak pernah mengaku dia melakukan pembunuhan karena realitasnya seperti yang disampaikan ke KJRI, dia tidak membunuh majikannya,” ujar Anis kepada Kompas.

Situasi muram yang dihadapi TKI di luar negeri telah berulangkali dilaporkan oleh Migrant Care. Pada 2015 silam lembaga itu mewanti-wanti sebanyak 281 TKI terancam atau sedang menghadapi hukuman mati. Sebanyak 59 di antaranya telah dieksekusi, sementara 219 masih menunggu putusan pengadilan.

Dalam kasus Zaini Misrin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri mengklaim pemerintah telah melakukan pembelaan melalui jalur hukum dan diplomasi. Namun upaya tersebut terbentur hukum Arab Saudi.

“Seluruh upaya pemerintah terkendala sistem hukum di Saudi yang dalam kasus Misrin ini tergantung dari keputusan ahli waris apakah bersedia memaafkan terpidana atau tidak. Memang seperti itu aturan hukum di sana. Raja Saudi tidak bisa mengampuni,” ujarnya kepada Merdeka.

rzn/yf (republika, kompas, merdeka, detik)

Sekesal Apapun, Jangan Pernah Hukum Anak Dengan Cara Ini Jika Tak Ingin Membuatnya Trauma

Dalam mendidik anak, orang tua tentu pernah menghadapi perilaku buah hati yang tak sesuai. Untuk mengarahkannya, tak jarang hukuman diberikan.

Sebenarnya hukuman bisa saja diberikan kepada anak, asalkan relevan, sesuai dengan usia anak, dan dapat memicu perilaku positif atau yang diinginkan setelah hukuman diberikan.

“Pemahaman yang dangkal terhadap efektivitas hukuman, membuat mereka memberlakukan hukuman yang belum tentu efektif terhadap anak atau bahkan menimbulkan dampak yang lebih negatif terhadap anak,” kata Ine Indriani, M.Psi., Psikolog Anak.

Untuk itu, hindari jenis hukuman yang seperti ini, ya, agar tak menimbulkan trauma dan mereka jadi sensitif:

1. Memarahi anak didepan teman-temannya. Hal ini membuat anak merasa malu sehingga menimbulkan rasa rendah diri.

2. Menggunakan kekerasan fisik (memukul, menjewer, menggunakan benda). Hal ini termasuk kekerasan pada anak.

3. Mengurung anak di dalam ruangan gelap atau tertutup
Hal ini dapat menimbulkan trauma lain pada anak atau menimbulkan reinforcement karena anak punya waktu sendiri di kamar.

4. Menghukum dengan tidak memberikan makan
“Makan adalah hak semua orang untuk tumbuh kembang anak. Sebaiknya hindari menghukum dengan berkaitan dengan makan.”

5. Menghukum dengan memaki dan membanding-bandingkan anak
Hal ini menimbulkan rasa rendah diri, anak punya persepsi bahwa dirinya nakal.

6. Menghukum dengan tugas rumah yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kapasitas anak
Misalnya, menghukum anak usia 6 tahun dengan menyetrika, menyapu, mengepel, atau memasak.

7. Menghukum anak dengan harus belajar berjam-jam tanpa henti
“Hal ini membuat anak menjadi tidak suka dengan pelajaran dan melebihi kapasitas kemampuan fisik dan mentalnya.”

8. Menghukum anak dengan tidak memperbolehkan masuk ke dalam rumah selama berjam-jam
Melanggar hak anak dan tidak relevan, serta menimbulkan rasa tidak aman.

9. Menghukum dengan membuang mainan-mainan anak
“Menimbulkan trauma pada anak. Akibatnya, anak akan melihat bahwa membuang barang-barang yang sudah dibeli atau masih bagus adalah hal yang boleh dilakukan.”

10. Menghukum dengan menakut-nakuti atau mengancam dengan hal yang tidak benar
Mengatakan ‘Kalau kamu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, Pak Polisi akan ke rumah, dokter akan menyuntik’.

“Ini menimbulkan rasa cemas pada anak. Jika anak tahu orang tua berbohong, anak belajar bahwa berbohong adalah hal yang boleh dilakukan dan juga belajar manipulasi.”

Lalu bagaimana cara memberi hukuman yang hasilnya efektif pada anak?

Lakukan 5 hal berikut:

1. Tegurlah anak terlebih dahulu.

2. Berikan apresiasi kalau anak kemudian melakukan hal positif atau sesuai harapan.

“Terkadang karena terlalu fokus dengan perilaku negatif, orang tua atau sekolah mengabaikan perilaku positif yang telah dilakukan anak meskipun hanya kecil.”

3. Berikan hukuman yang relevan dan sesuai dengan usia anak.

Misalnya, bila anak melanggar aturan di rumah, dia tidak boleh menonton channel televisi tertentu pada jam tertentu.

4. Berikan hukuman sesuai usia anak.

5. Bahas bersama mengenai kesalahan yang ia buat dan bahas mengenai apa yang akan dilakukan anak kemudian.

Sumber: intisari.grid.id

5 Cara Menghukum Anak yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam…

Sebagai orang tua, tentu kita pernah kesal kepada anak kita. Bukan hanya kesal, tapi juga marah. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita punya batasan bagaimana kita meluapkan kekesalan kita kepada anak.

Misalnya, ketika memberikan hukuman. Islam sudah mengatur bahwa ada beberapa hal yang tidak boleh dilanggar ketika mara pada anak. Berikut di antaranya:

1. Memukul Wajah
Rasulullah SAW melarang memukul muka berdasarkan sabda Baginda yang artinya, “Jika salah seorang dari kamu memukul, maka hendaknya dia menghindari (memukul) wajah.”

2. Menampakkan Kemarahan yang Sangat
Ini juga dilarang karena bertentangan dengan amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

3. Memukul di Dalam Keadaan Sangat Marah
Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut kerena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah SAW dan Baginda berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada apa yang kami siksakan terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini.”

4. Bersikap Terlalu Keras dan Kasar
Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang diajarkan oleh Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terhalang dari sifat lemah lembut, maka dia akan terhalang dari mendapat kebaikan.”

5. Memukul Dengan Benda Keras Sehingga Berbekas
Ini juga dilarang oleh Rasulullah SAW. Sekeras-kerasnya paling hanya gunakan rotan dan tidak boleh meninggalkan cedera dan bekas pada kulit. Menghukum dengan rotan dibolehkan dengan tujuan untuk memberikan peringatan kepada anak.

Sumber: islampos.com