Saksi: Perawat Itu Angkat Tangan, Israel Tetap Menembaknya

Petugas medis di perbatasan Jalur Gaza mengungkap pembunuhan yang dilakukan tentara Israel terhadap perawat asal Palestina.

Razan Al-Najar tewas ditembus timah panas yang dilontarkan militer saat bertugas untuk menolong korban terluka dalam aksi demonstrasi yang berujung bentrok.

Kematian Razan Al-Najar sekaligus menandai ke-119 jumlah korban yang telah dibunuh tentara Israel dalam aksi demonstrasi mingguan di Jalur Gaza.

Wanita 21 tahun itu ditembak mati saat berlari menuju sebuah pagar yang diperkuat di kota Khan Younis saat menghampiri korban kekerasan.

“Menggunakan seragam putih, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar diberikan jalan, tapi tetap saja tentara Israel menembaknya di bagian dada,” kata seorang saksi mata, kemarin.

Petugas medis yang bertugas di jalur Gaza mengungkapkan setidaknya 100 warga Palestina terluka akibat terkena tembakan saat melakukan aksi demonstrasi Jumat (5/2).

Berbanding terbalik, tidak ada laporan korban yang berasal dari Israel dalam aksi tersebut.

Sementara terkait penembakan perawat, seorang pejabat Israel mengatakan jika penembak jitu militer hanya ditugasi untuk menembak orang-orang yang menimbulkan ancaman.

Namun, kata ia, mungkin saja peluru yang dilepaskan memantul atau menembus tubuh target hingga mengenai korban lainnya.

Tewasnya Razan Al-Najar tak pelak mendapat tangisan dari keluarganya. Melalui pernyataan resmi, Menteri Kesehatan Gaza turut berkabung atas kepergian Najar dan menyebutnya sebagai seorang martir.

Dalam sebuah wawancara, Razan Al-Najar mengaku akan melihat aksi protes di perbatasan hingga akhir. Najar yang sempat menulis dalam unggahan media sosial mengaku tidak akan kembali atau menyerah. “Tembak saya dengan pelurumu, saya tidak takut,” katanya.

Seperti diketahui, warga Palestina tengah melakukan aksi ‘Great March of Return’ yang merupakan panggilan terhadap warga Palestina terkait hak akan kampung halaman mereka.

Otoritas Israel menganggap aksi yang digelar sejak 30 Maret itu merupakan upaya untuk menerobos tanah yang mereka rampas dari warga Palestina.

Meski demikian, pembantaian yang dilakukan militer Israel terhadap warga Palestina telah mendapat kecaman terhadap dari dunia internasional. Namun, Israel lantas menimpakan masalah jatuhnya korban luka dan jiwa kepada Hamas.

Belakangan, Amerika Serikat (AS) memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang berisi kecaman atas kekerasan yang dilakukan tentara Israel terhadap warga sipil Palestina di Gaza.

Senada dengan Israel, AS juga menyalahkan Hamas atas aksi kekerasan yang terjadi di perbatasan Gaza.

Meninggal Ditembak Tentara Israel, Ini Pesan Terakhir Razan Najjar Untuk Sang Ayah

Tewasnya paramedis relawan Palestina, Razan al-Najjar, menjadi perbincangan dunia.

Najjar mengalami kejadian nahas saat sedang memberikan pertolongan kepada demonstran yang terluka di perbatasan Gaza, Palestina, Jumat (1/5/2018).

Razan Najjar menghembuskan napas terakhir tidak lama setelah peluru dari tentara Israel bersarang di dadanya.

Menurut Juru Bicara Kementerian Ashraf Al-Qudra, Najjar mengenakan jas putih khas petugas medis ketika ia ditembak.

Berdasarkan laporan New York Times, saat itu tentara Israel menembakkan dua atau tiga peluru dari seberang pagar dan mengenai bagian tubuh Najjar.

Pejabat kesehatan Gaza menyebut, Razan Najjar adalah orang Palestina ke-119 yang tewas sejak dimulainya aksi protes pada Maret Lalu.

Kepergian Najjar tentu menyisahkan duka. Terutama bagi keluarganya. Ribuan orangpun menghadiri pemakaman Najjar. Teman-teman dan rekannya menangis meratapi kepergiannya.

Dilansir dari middleeasteye.net, ayah Najjar, Ashraf, membawa seragam berlumuran darah milik Najjar. Seragam tersebut dipakai Najjar saat gugur bertugas.

“Malaikatku meninggalkan tempat ini, dia sekarang berada di tempat yang lebih baik. Aku akan sangat merindukannya. Semoga jiwamu beristirahat dalam damai, putriku yang cantik,” katanya, dikutip dari middleeasteye.net.

Sebelum meninggal dunia, Najjar ternyata sempat berbicara dengan sang ayah. Dilansir dari Grid.ID, hal tersebut disampaikan oleh ayahnya.

“Kami memiliki satu tujuan, untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang. Dan mengirim pesan ke dunia: Tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja,” ujar ayah Najjar.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh Najjar kepada ayahnya sebelum dia meninggal dunia. Kesedihan Ibu Razan Al-Najjar.

Kesedihan juga dirasakan oleh ibunya, Sabreen. Ia berkata sambil menangis mengenang kematian putrinya.

“Mereka [Israel] tahu Razan, mereka tahu dia seorang paramedis, dia telah membantu mengobati luka sejak 30 Maret,” katanya.

“Putriku adalah sasaran para penembak jitu Israel. Peluru ledak langsung ditembak di dadanya, itu bukan peluru acak,” lanjut Sabreen.

Avaaz Tuntut Uni Eropa Berikan Sanksi kepada Israel

Avaaz, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Eropa menggelar aksi di depan gedung Dewan Uni Eropa (UE) di Brussels. Aksi ini dilakukan untuk memberikan tekanan kepada menteri-menteri luar negeri Eropa yang tengah bertemu di dalam gedung agar memberikan sanksi kepada negara Zionis Israel.

Mereka menyusun 4.500 pasang sepatu di luar gedung tersebut. Angka ini melambangkan jumlah warga Palestina yang dibunuh oleh Israel dalam satu dekade terakhir.

“Kami memiliki pesan kepada para pemimpin Uni Eropa yang mengatakan: ‘Kehidupan orang Palestina penting’,” ujar Fadi Quran, juru kampanye senior untuk Avaaz.

Menurut Quran, satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian adalah dengan memberikan sanksi terhadap Israel.

“Kami percaya bahwa satu-satunya cara untuk bergerak menuju perdamaian adalah dengan memberi sanksi kepada Israel, itulah satu-satunya jalan yang kami miliki dan itulah tujuan kami,” tutur Quran.

Anggota Kongres AS Desak Israel untuk Tidak Hancurkan Kota Palestina

Aktivis Palestina seperti Quran telah memimpin kampanye Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) melawan Israel sejak 2005. Tetapi gerakan itu telah dibangkitkan kembali dalam beberapa bulan terakhir, ketika kekerasan dan ketegangan politik meningkat di wilayah konflik Palestina.

Puncaknya adalah bentrokan keras di perbatasan Israel-Gaza pada hari peresmian kedutaan Amerika Serikat di Yerusalem pada 14 Mei 2018 lalu. Ketika itu 60 warga Gaza dilaporkan dibunuh oleh pasukan IDF, pasukan pertahanan Israel.

Beberapa negara Uni Eropa, yang menentang langkah relokasi kedutaan yang kontroversial, mengutuk penggunaan kekuatan yang berlebihan. Namun mereka tidak menerapkan langkah-langkah khusus untuk menghukum pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Penyelenggara aksi ingin diplomat untuk fokus tidak hanya pada manuver geopolitik yang genting di Timur Tengah, tetapi untuk berempati dengan manusia yang menjadi korban dari konflik selama beberapa dekade.

“Lebih dari seribu pasang sepatu di sini melambangkan anak-anak dan saya juga membawa sepatu putri saya, untuk menunjukkan bahwa saya berdiri dengan ayah-ayah itu, ibu-ibu itu, saudara-saudari yang kehilangan anak-anak dan saudara mereka dalam perang ini,” kata Christoph Schott, seorang juru kampanye senior lainnya untuk Avaaz. []

Aparat Zionis Tangkap Penjaga Masjid, Ribuan Umat Yahudi Penuhi Kompleks Al-Aqso

Puluhan ribu pemukim Yahudi, yang dikelilingi oleh perlindungan aparat Zionis, telah menerobos kompleks masjid Al-Aqsa dan berbaris mengelilingi Kota Tua Al-Quds untuk merayakan Hari Yerusalem sejak Minggu malam (13/5) yaitu saat kedutaan negeri adidaya berpindah dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penutupan jalan dan barikade didirikan untuk membatasi ketat warga Palestina agar tidak mengakses jalan menuju Gerbang Damaskus, sebagai salah satu pintu masuk ke Kota Tua.

Bahkan sejumlah penjaga Masjid Al Aqsa (Murabitin) telah ditangkap oleh tentara Zionis dan saat ini sebagian lainnya tengah terluka dan terkapar di rumah sakit Palestina.

Untuk menentang keras deklarasi pengubahan status Yerusalem tersebut, lebih dari 100.000 warga Palestina diperkirakan akan berdemonstrasi di sejumlah titik wilayah pada Selasa esok (15/5), sebagai hari Nakba atau Hari Malapetaka bagi bangsa Palestina.

Sumber: haluannews.com

Selama November, Kejahatan Israel di Al-Quds Meningkat

Pelanggaran yang dilakukan tentara Israel di kota Al-Quds (Yerusalem) dilaporkan telah meningkat pada paruh pertama bulan November. Terutama dengan keputusan-keputsan dan proyek-proyek, mencakup rumah-rumah yang dihancurkan dan penangkapan anak-anak dan wanita.

Laporan yang diterbitkan kementrian penerangan Palestina ini menjelaskan bahwa penjajah Israel mengumumkan dimulainya pelaksanaan rencana aksi terbesar pembongkaran 6 bangunan perumahan di Kafer Aqab, PIC melaporkan pada Ahad (19/11/2017).

Israel juga telah mengumumkan sebuah rencana keamanan yang mulai dilaksanakan untuk mengubah kota tua di al-Quds menjadi kawasan militer permanen Israel. Meliputi pembentukan kesatuan polisi baru beranggotakan 200 polisi khusus di masjid al-Aqsha dan sekitarnya, penempatan pasukan “penjaga perbatasan” di pos-pos permanen di kawasan gerbang al-Amud dan sekitarnya, pemasangan 40 CCTV tercanggih yang CCTV yang sudah dipasang sebelumnya.

Tentara Israel juga menangkap 41 warga, selain pendeportasian salah seorang penjaga masjid al-Aqsha dan penahanan rumah pada wartawan. Sebanyak tujuh warga yang ditangkap adalah wanita dan 19 anak-anak.

Dalam konteks terkait, tentara Israel telah menghancurkan tiga rumah, sebuah bangunan rumah dua tingkat terdiri dari lorong yang sedang dibangun, pertokoan, dua bangunan semi permanen yang satu untuk rumah dan satu untuk kandang ternak, serta meratakan lahan yang digunakan untuk pemeran mobil.

Tentara Israel juga menghancurkan rua rumah dan toko dengan memerintahkan pemiliknya untuk merobohkan sendiri. Dengan terpaksa pemilik bangunan melakukannya karena takut kena denda besar bila yang merobohkan Israel.

Sementara itu lembaga-lembaga Islam di al-Quds memperingatkan pembentukan kesatuan polisi baru Israel yang bertugas khusus di masjid al-Aqsha.

Waketum FPI Tantang Trump: Umat Muslim di Indonesia Siap Tempur!

Wakil Ketua Umum DPP FPI Ja’far Shodiq menyuarakan orasinya di aksi bela Palestina 115. Shodiq menantang Presiden AS Donald Trump dan menyatakan, umat Islam Indonesia siap bertempur membela Palestina.

“Kehadiran kita di tempat ini cuma satu, kita ingin tunjukkan pada Donald Trump kepada kawan-kawanya bahwa umat Islam di Indonesia masih siap dan siap untuk bertempur, bertaruh nyawa dengan dia,” kata Waketum DPP FPI Ja’far Shodiq saat orasi di aksi 115, Monas, Jakarta Pusat, Jumat (11/5/2018).

Shodiq mengatakan, saat ini massa aksi masih waras karena memiliki iman dan datang membela Palestina hari ini. Ia menegaskan, jika massa umat Islam siap berperang membela Palestina jika pemerintah tidak mau membela.

“Kita buktikan sekarang, kita buktikan sekarang kenapa? Karena konstitusi negara setiap penjajahan harus dihapuskan. Kalau Pemerintah kita tak mau ikut serta kepada kita serahkan senjata kepada kita, serahkan senjata ke umat Islam,” ungkapnya.

Ia terus menegaskan kedatangan umat islam ke Monas hari ini. Ia juga mengingatkan FPI dan ormas-ormas tetap menunggu arahan Habib Rizieq untuk melakukan kegiatan apapun.

“Jangan ngomong dua periode, 2019 ganti presiden betul? takbir. Sudah cukup, FPI tinggal tunggu komando guru kita di Mekah kapan pulang,” kata Shodiq.

Hingga saat ini orasi masih berlangsung. Takbir terus berkumandang di tengah-tengah orasi.

Sumber: Detik.com

3 Al-Quran Peninggalan Era Khalifah Utsmaniyah Sultan Abdulhamid II Ditemukan di Israel

Tiga Al-Quran peninggalan era Khalifah Utsmaniyah Sultan Abdulhamid II (1876-1908) telah ditemukan di sebuah masjid di kota bersejarah Tayibe, Palestina.Padahal saat ini wilayah Tayibe berada di dalam pendudukan Israel.

Aziz, muazin masjid tersebut, mengatakan kepada Anadolu Agency pada Senin (4/12/17) bahwa Al-Quran tersebut ditemukan saat renovasi di Masjid Omar bin al-Khattab, yang dibangun pada masa pemerintahan Abdulhamid II.

“Kami tidak tahu Al Quran ini ada di sana. Al Quran tersebut tertumpuk di antara sekelompok buku lainnya,” kata Aziz.

Dalam pengantar berbahasa Inggris yang terdapat di dalam Al Quran tua tersebut, Quran ditulis tangan oleh seorang juru tulis bernama Seyyid Mustafa Nazif Efendi pada 1887 sebelum diterbitkan oleh sebuah percetakan di Istanbul dan dikirim ke pembeli di Palestina.

“Saya kaget ketika pertama kali melihat harta karun ini. Al-Quran ini tentu akan memberi kontribusi pada masjid kami, dan kepentingan sejarah kota kami,” ungkap Aziz.

Kitab-kitab itu akan segera ditampilkan dalam sebuah pameran. Menurut Aziz, penemuan ini akan mendatangkan pertanyaan kemungkinan teks antik lainnya ditemukan di masjid era Utsmaniyah lainnya di Palestina.

Menilik sejarah panjang Turki-Palestina-Israel, Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern, saat itu gagal meyakinkan Sultan Abdülhamid II untuk mengizinkan imigran Yahudi mendirikan sebuah “tanah air” Yahudi di Palestina.

Saat itu Palestina merupakan wilayah Ottoman. Namun Herzl akhirnya berhasil mendapatkan dukungan dari Kerajaan Inggris melalui Deklarasi Balfour pada 1917.

Palestina Desak Dewan Hak Asasi PBB Bentuk Tim Penyelidik terkait Tindakan Israel di Gaza

Palestina mendesak Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk membentuk komisi yang dapat melakukan penyelidikan independen terkait dugaan pembunuhan dan penyerangan oleh militer Israel terhadap warga Palestina sepanjang dilakukannya aksi protes di Jalur Gaza sejak 30 Maret 2018 lalu.

Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan, proses penyelidikan akan dimulai pekan depan. Diharapkan, penyelidikan lebih lanjut dapat disetujui dalam pertemuan darurat dewan hak asasi manusia, sekaligus dikeluarkannya resolusi yang mengesahkan hal itu.

“Israel tampaknya tak bisa menahan diri, tidak mendengarkan siapapun dan melanjutkan pembantaian ini,” ujar Mansour, Jumat (20/8/2018).

Tentara Israel menanggapi aksi protes tersebut dengan kekerasan. Hingga Jumat (20/4/2018), jumlah warga yang tertembak dan tewas mencapai 32 orang, sementara lebih dari 1.600 lainnya terluka.

Kondisi Terkini Palestina: Jurnalis Tewas dan Serangan Brutal Israel di Gaza

Terjadi bentrokan lagi di jalur Gaza antara tentara Israel dengan warga yang melakukan protes. Bahkan, salah seorang jurnalis bernama Yasser Murtaja (30 th) tewas ketika melipus aksi ini, Sabtu (7/4).

Murtaja sendiri adalah seorang videografer dari Media Ain, Pelestina. Media ini merupakan media televisi lokal. Ia berada di sana untuk meliput aksi massa yang memang eskalasasinya meningkat sepekan terakhir. Pawai akbar itu bertajuk “Pawai Akbar Kepulangan’ untuk menuntut Israel mengembalikan hak mereka kembali ke tanah leluhur mereka di Palestina.

Dalam sebuah foto yang beredar. tampak Marja terbaring luka dan dibawa dalam tandu. Ia terluka di bagian perut karena peluru tajam. Meskipun ia memakai rompi bertuliskan PRESS, Marja tetap saja terkena tembakan.

Murtaja pun tidak terselamatkan dan menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Romping pelindung berwarna biru tua pun menjadi saksi peluru tajam yang menembus tubuhnya.

Salah seorang saksi, Ashraf Abu Amra menuturkan, saat itu ia dan Marja berada di garis yang biasanya digunakan untuk wartawan. Tentu saja garis itu harusnya aman. Dalam perang, wartawan dan petugas medis biasanya terjaga dari garis ini.

“Kami mengambil gambar para pemuda yang membakar ban mobil. Kira-kira kami berada sekitar 250 meter dari pagar (pembatas aman,” tuturnya seperti dikutip dari Reuters.

Lalu pasukan Israel datang, tambahnya, dan melepaskan tembakan. Kami berlari hendak memfilkan kejadian itu, lalu tiba-tiba Yaser jatuh.

“Saya teriak, kamu tidak apa-apa, Yaser. Dia terdiam dan hanya ada darah mengalir dari tubuhnya,” jelasnya.

Selain Yasir Murtja, ada tiga jurnalis lain yang juga menjadi kebutralan tentara Israel. Sampai berita ini ditulis, pihak Isreal masih belum memberikan konfirmasi terkait kejadian ini dan ini menimbulkan desakan dari pelbagai pihak.

Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Abul-Gheit, misalnya menggelar rapat darurat untuk membasa serangan Israel yang membabibuta di jalur Gaza ini. Rencananya, hasil pertemuan tersebut akan mendesak PBB bersikap atas tindakan Israel ini.

Betapa tidak, dalam aksi protes yang harusnya berlangsung damai ini, Israel malah menggunakan pendekatan militer. Tercatat hampir 16 orang tewas dan 1.500 orang terluka dalam insiden ini.

Sepekan ini eskalasi memang meningkat, apalagi bertepatan dengan Nakba, atau hari Bencana. Sebuah hari yang menandai perpindahan ratusan ribu warga Palestina dalam konflik terbentuknya negara Israel 70 tahun yang lalu.

Sumber : islami.co

Perkenalkan Mohammed Ayash; Bocah Gaza Pencipta Masker Anti-Gas Air Mata

MOHAMMED Ayash hanyalah seorang bocah. Namun siapa sangka, berkat masker anti-gas air mata ‘buatannya sendiri,’ Ayash kini menjadi terkenal. Ayash mengenakan masker unik ini saat mengikuti aksi protes, bersama keluarganya di perbatasan Gaza, menuntut diakhirinya pengepungan dan Hak Kembali bagi para pengungsi Palestina.

Berikut adalah wawancara antara presenter TV Aljazeera dengan Muhammad Ayash.

Jurnalis Aljazeera: Seperti api dalam jerami, rekaman anak Palestina Mohammed Ayash menyebar, menjadi ikon baru bagi perjuangan Palestina melawan pendudukan Israel. Dia membuat masker anti gas air matanya sendiri untuk melindungi diri dan mengurangi dampak gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel terhadap demonstran Palestina yang mengambil bagian dalam Aksi Pawai Hak Kembali. Ayash muncul di rekaman yang duduk di dekat pagar perbatasan mengenakan masker buatan sendiri dan menaruh sepotong bawang di dalamnya, untuk mengurangi dampak gas air mata.

Jurnalis Aljazeera: Mohammed Ayash, bagaimana ide membuat masker anti gas air mata dan menaruh bawang di dalamnya muncul di pikiranmu?

Mohammed Ayash: Terus terang, ayah saya terluka saat Intifada Palestina Pertama, dan dia memberi tahu saya tentang itu. Saya mencoba membuatnya sendiri, dan saya berhasil. Saya tidak menyangka bahwa rekaman saya akan menyebar seperti ini.

Jurnalis Aljazeera: Rekaman Anda telah menyebar, dan Anda menjadi sangat terkenal di antara orang-orang sebagai anak yang berani membela hak Anda sendiri. Apakah keluargamu di rumah tahu Anda akan pergi ke tempat yang berisiko ini?

Mohammed Ayash: Iya.

Jurnalis Aljazeera: Apa yang mereka katakan kepadamu?

Mohammed Ayash: Mereka senang saat mereka melihat foto saya.

Jurnalis Aljazeera: (Tertawa). Apakah kamu tahu di tempat Anda pergi, tentara penjajah Israel akan menembakkan peluru ke arahmu. Apakah kamu tidak takut?

Mohammed Ayash: Tidak. Saya tidak merasa takut pada mereka. Malah mereka merasa takut pada kita.

Jurnalis Aljazeera: Bagaimana bisa mereka merasa takut padamu? Padahal kamu tidak memiliki senjata. Mereka bisa menembakmu kapan saja.

Mohammed Ayash: Mereka (tentara Israel) pengecut. Ketika Anda mendekati mereka, mereka menjadi takut.

Jurnalis Aljazeera: Mereka takut pada seorang anak kecil sepertimu? Bagaimana bisa?

Mohammed Ayash: Mereka pengecut. Mereka tidak punya tanah di negara kita. Mereka berasal dari negeri lain. Mereka ingin merebut Yerusalem. Adapun Trump adalah orange kurang waras, yang memberinya wewenang untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Padahal Yrusalem adalah ibu kota abadi Palestina.

Jurnalis Aljazeera: Apa alasan dan tujuanmu pergi ke aksi pawai?

Mohammed Ayash: Tujuan saya adalah merebut kembali tanah saya, tanah leluhur saya, dan kenangan keluarga saya.

Jurnalis Aljazeera: Bisakah kamu melakukan ini dengan ancaman semua senjata dan penembak jitu Israel?

Mohammed Ayash: Saya bisa. Bahkan jika saya terbunuh, ada orang lain untuk melanjutkan perjuangan.

Jurnalis Aljazeera: Terima kasih Mohammed Ayash.

Sumber : islampos