Jika Wanita Meninggal Sebelum Menikah, Apakah di Surga Kelak Akan Punya Suami?

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Allamah Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah.

Pertanyaan:
Ketika wanita mukminah meninggal sementara belum menikah, apakah tempat kembalinya kelak di surga? Karena seorang mukminah yang meninggal dan telah bersuami maka

kelak akan bersama suaminya di surga. Namun jika ia pernah menikah dua kali, maka wanita tersebut diberi pilihan untuk memilih salah satu diantaranya. Bagaimana dengan wanita yang belum menikah?

Jawaban:
Jika wanita tersebut belum menikah maka kelak Allah akan menjadikan untuknya seorang suami dari kalangan penduduk surga.

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاء فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا
“Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan,yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya…”(QS. Al-Waqi’ah:35-37)

Terkadang ada yang bertanya kepadaku, “Bukankah salah satu doa untuk jenazah kita berdoa,

اللهم أبدلها زوجاً خيراً من زوجها
“Ya Allah gantikan untuknya seorang suami yang lebih baik dari suaminya.”

Maka doa ini mengandung kemusykilan:

1. Jika jenazah tersebut seorang wanita yang telah menikah bagaimana mungkin kita mendoakan,

اللهم أبدلها زوجاً خيراً من زوجها

“Ya Allah gantikan untuknya seorang suami yang lebih dari suaminya.”

2. Jika jenazah tersebut wanita yang belum menikah, lalu mana suaminya?

Jawaban tentang masalah ini

Tatkala kita medoakan,

اللهم أبدلها زوجاً خيراً من زوجها
Pada jenazah wanita yang belum menikah maka doa ini bermaksud semoga Allah gantikan lebih baik dari suami yang ditakdirkan untuknya seandainya ia masih tetap hidup.

Adapun jika doa tersebut ditujukan kepada jenazah wanita yang sudah menikah maka maksudnya semoga Allah gantikan lebih baik dari suaminya dalam hal sifat-sifat suaminya selama di dunia.

Karena mengganti itu terkadang:

Mengganti secara personal misalnya engkau menjual kambing ditukar dengan unta.
Terkadang mengganti dengan sifat-sifatnya. Seperti halnya engkau mengatakan, “Allah telah mengganti kekufuran dengan keimanan pada orang ini.”
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَات
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit…”(QS. Ibrahim: 49)

Bumi (pengganti) adalah bumi itu sendiri akan tetapi bumi tersebut telah Allah panjangkan. Langit (pengganti) adalah langit itu sendiri akan tetapi telah terbelah.

Sumber: wanitasalihah.com

9 Kewajiban Suami Pada Saat Istri Mengandung

Selama masa mengandung, istri mempunyai beban yang lebih berat daripada biasanya, dari menjaga pola makan, pola istirahat dan tidak melakukan hal-hal yang berat.

Karena dia memikirkan anak yang berada di dalam perutnya dan harus ekstra hati-hati dalam melakukan segala sesuatu agar tidak terjadi apa-apa.

Anda sebagai suami harus mengerti dan memahaminya, pekerjaan berat yang setiap harinya dikerjakan oleh istri kini harus dengan ikhlas dan lapang dada dilakukan oleh suami.

Tentu saja semua ini untuk menjaga kondisi kesehatan istri dan melindungi janin yang dikandung agar dapat nyaman dan rileks untuk menjalaninya.

Oleh karena itu, suami yang hebat adalah suami yang memahami kondisi dan mau berbagi beban istri. Berikut kewajiban suami pada saat istri mengandung.

1. Berikan Rasa Tenteram Pada Masa Kehamilan

Faktor utama yang harus dilakukan di masa istri Anda hamil adalah perasaan tenteram. Hindarkan istri Anda memikirkan suatu masalah yang rumit dan berat.

Jauhkan pula dari kegalauan karena perasaan yang demikian akan menjadikan lemahnya janin yang dikandung dan risiko yang fatal adalah keguguran.

Berikan rasa tenteram yang hangat dan tulus, agar istri Anda dapat tenang dan rileks menjalani masa kehamilannya.

2. Hindari Pekerjaan yang Berat

Faktor lain yang harus diperhatikan adalah pekerjaan yang berat saat masa kehamilan. Jangan sampai istri Anda melakukan pekerjaan yang berat jika istri anda seorang wirausaha atau bekerja di sebuah instansi perusahaan.

Sebaiknya yang harus Anda lakukan adalah mengantar jemput dan jangan biarkan istri Anda naik angkot atau naik motor sendirian dalam melakukan rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Pada saat di rumah jangan bebani pekerjaan yang berat dan membosankan, segera Anda mengambil alih pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan istri seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, dan lain sebagainya.

3. Berikan Asupan Makan yang Sehat

Makanan yang sehat adalah asupan gizi yang penting bagi janin yang dikandung. Pada masa kehamilan, anjurkan mengonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, dan ikan laut yang banyak mengandung protein dan zat besi.

Hindari makanan yang berlemak karena akan berdampak buruk pada istri dan juga janin yang dikandungnya.

4. Menuruti Keinginan Istri/Mengidam

Banyak hal yang terkadang aneh pada masa istri Anda hamil seperti meminta sesuatu hal yang sulit didapatkan.

Namun demikian Anda harus berusaha untuk mewujudkannya karena itu adalah pembawaan dari janin yang dikandung.

Jangan sekali-kali meremehkan permintaan istri yang demikian karena akan berdampak buruk pada istri dan janin yang dikandung.

5. Anjurkan Istirahat yang Cukup

Pada masa istri mengandung istirahat yang cukup adalah faktor penting untuk kelangsungan janin yang dikandungnya.

Sebagai suami, Anda harus memberikan ruang yang cukup agar istri Anda dapat menikmati istirahat dengan nyaman dan tenang.

Aturlah pola tidur istri Anda dengan baik minimal 8 jam sehari, jangan tidur sampai larut malam atau terlalu lama tidur di siang hari.

6. Ajak Jalan-jalan Santai

Pada masa kehamilan, ada beberapa saraf atau sendi yang tegang. Oleh karena itu, ajaklah sang istri jalan-jalan santai di pagi atau sore hari. Biasakan melakukan hal ini setiap hari.

7. Hindari Asap Rokok

Jika Anda adalah perokok aktif sebaiknya tidak merokok di dekat istri karena asap yang dikeluarkan oleh rokok banyak mengandung zat- zat berbahaya.

Ini akan berdampak buruk bagi istri dan juga janin yang dikandungnya. Lebih baik lagi jika Anda berhenti merokok.

8. Menyiapkan Sarapan

Menyiapkan sarapan adalah tugas istri, namun pada saat istri sudah mendekati masa kehamilan dia sulit menjalankan kewajibannya.

Peran Anda sekarang sebagai suami untuk menjalankannya. Bangun pagi untuk membuatkan sarapan bagi istri tercinta adalah hal yang sangat mulia saat istri mengandung.

9. Menghindari Percekcokan

Beberapa istri akan mudah emosional saat mengandung. Ini wajar dikarenakan hormon yang kadang-kadang tidak stabil membuat perasaannya sensitif, peka, dan mudah marah.

Anda sebagai suami harus menyadarinya dan jangan sampai ikut emosi menanggapi istri.

Sumber: keluarga.com

Duhai Suami-Istri, Hindarilah Nusyuz Sebelum Menyesal

DALAM menjalin rumah tangga antara suami istri tentu tidak selamanya akan berjalan dengan baik. Pasti pertemuan antara hal yang tidak menyenangkan di antara keduanya akan terjadi. Salah satu yang berbahaya di kalangan suami istri ialah nusyuz. Apa itu nusyuz?

Nusyuz ialah meninggalkan kewajiban bersuami-istri. Misalnya nusyuz dari pihak suami ialah bersikap kasar dan keras terhadap istri, tidak mau menggaulinya, dan tidak memberikan hak-haknya. Nusyuz dari pihak istri misalnya meninggalkan rumah tanpa seizing suami.

Allah SWT berfirman, “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya…” (QS. An-Nisa’: 34).

Tindakan di atas sekedar memberi pelajaran. Jika terpaksa memukul, hendaklah pukul dengan ringan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama (nasihat) telah ada manfaatnya, jangan menggunkan cara lain yang dapat menyusahkan istri.

Allah berfirman, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya,” (QS. An-Nisa: 128).

Suami yang mulanya baik dan sehat, tiba-tiba terserang gangguan jiwa sehingga sering marah-marah, memukul istri dan berbuat hal-hal yang aneh, yang membuat kehidupan rumah tangga seperti di neraka. Bolehkah istri meninggalkan suaminya dan meminta cerai?

Hal itu boleh untuk dilakukan. Istri dapat mengajukan pencerainnya kepada pengadilan agama. Tetapi sungguh tega si istri yang meninggalkan suaminya yang sedang sakit ingatan dan perlu perawatan.

Nah, ternyata nusyuz ini dapat berkahir dengan tidak menyenangkan. Maka dari itu, hindarilah nusyuz sebelum Anda menyesal. Jalankan kewajiban Anda sebagaimana mestinya. Penuhi hak suami atau istri. []

Suami Berzina dan Minta Dilayani, Haruskah Istri Menjauh?

Ingin disebut suami yang baik tapi selalu berzina dengan wanita lain daripada istri. Lalu lancang minta jatah ke istri. Wahai suami camkan baik-baik ini.

Mengutip islam, zina adalah perbuatan buruk yang sangat dicela agama. Disebut sebagai fahisyah (perbuatan keji) dan jalan yang buruk untuk melampiaskan syahwat dan mendapatkan keturunan.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Hukuman bagi pezina di dunia sangatlah berat. Bagi yang bujangan, dicambuk seratus kali dengan disaksikan orang banyak lalu diasingkan selama setahun.

Sementara bagi yang sudah menikah, walaupun baru sekali seumur hidup, maka hukumannya adalah dirajam, yaitu dilempari batu hingga mati.

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nuur: 2)

Para ulama berkata, “Ini adalah hukuman di dunia bagi pezina perempuan dan laki-laki yang masih bujang, belum menikah. Jika sudah menikah walau hanya sekali maka keduanya dirajam dengan batu hingga mati. Begitulah yang tertera dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jika belum ditegakkan qishah terhadap keduanya di dunia dan mati tanpa bertaubat maka keduanya disiksa di neraka dengan cambuk api.” (Dinukil dari Al-Kabair, Imam al-Dzahabi)

Di dalam al-Kabair juga disebutkan, “Sebagaimana yang tertera dalam Zabur: Para pezina akan digantung pada kemaluan mereka di neraka dan akan disiksa dengan cambuk besi.

Maka jika mereka menjerit kesakitan karena cambukan maka Malaikat al-Zabaniyah berkata, “Kemana suara ini saat engkau tertawa-tawa, bergembira, dan bersuka ria serta tidak merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dan tidak malu kepada-Nya.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits mimpinya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam tidurnya yang berasal dari Samurah bin Jundub, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam didatangi Jibril dan Mikail ‘Alaihimas Salam, beliau berkisah:

Kami berangkat pergi sehingga sampai di suatu tempat semacam ‘Tannur’ (tungku api) yang atasnya sempit sedangkat bagian bawahnya luas.

Di dalamnya terdengar suara gaduh dan jeritan-jeritan. Kami menengoknya ternyata di dalamnya terdapat banyak laki-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka terjilat api dari bawahnya mereka melonglong oleh panasnya yang dahsyat.

Aku bertanya, “Siapa mereka itu, wahai Jibril?” Ia menjawab, “Mereka adalah para pezina laki-laki dan perempuan, beginilah adzab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat.” Kita memohon kepada Allah ampunan dan kesejahteraan.

Tentang tafsir bahwa Jahannam memiliki tujuh pintu dalam QS. Al-hijr: 44,

لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ
“Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” Atha’ rahimahullah berkata, “Pintu yang paling hebat siksa, panas, dan jilatannya serta paling busuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi pezina yang melakukan zina sesudah mengetahui keharamnnya.

Makhul al-Dimasyqi berkata, “Para penghuni neraka mencium bau busuk lalu mereka berkata: Kami tidak pernah mendapati bau yang lebih busuk dari bau ini. Kemudian dikatakan kepada mereka: ini adalah bau kemaluan para pezina.”

Ibnu Zaid –salah seorang ulama tafsir- berkata, “Sesungguhnya bau busuk kemaluan pezina benar-benar menyiksa penghuni neraka.”

Sesudah mengetahui buruknya kedudukan zina dan dahsyatnya siksa bagi pezina, apakah ada seorang muslim yang masih berani berzina?

Jika Suami Terjerumus ke Dalam Zina
Pezina muhshan (orang yang pernah menikah) diancam di dunia dengan hukuman yang lebih berat daripada yang bujangan.

Hal ini karena kekufurannya terhadap nikmat Allah, masih memilih yang haram sesudah merasakan yang halal. Lalu apabila suami tejerumus ke dalam zina, apakah istrinya tidak boleh lagi melayaninya?

Walaupun hina perbuatan zina dan berat siksa bagi seorang muhshan yang sudah terjerumus ke dalamnya, tidak lantas istrinya haram baginya karena zina tersebut.

Karena hukum asal, tidak diharamkan. Jika ingin mengeluarkan dari hukum asalnya, maka harus ada dalil lain yang menerangkan dengan tegas tentang keharamannya.

Namun jika suami tersebut terus-menerus (kecanduan) zina, maka wajib bagi istrinya untuk menjauhinya dan meminta cerai kecuali ia benar-benar bertaubat. Karena Allah Ta’ala berfirman,

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. Al-Nuur: 3)

Lelaki, Makin Tinggi Ilmu dan Iman, Makin Takut Beristri Lebih dari 1?

LELAKI, semakin tinggi ilmu dan imannya maka semakin takutlah untuk beristri lebih dari satu. Sebab, ilmu dan iman itu telah menunjukkan padanya bahwa betapa berat tanggung jawab seorang suami atau pemimpin rumah tangga.

Ia tak akan sanggup membayangkan, bagaimana kelak dirinya dipermalukan di akhirat bila di dunia ia tak mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya. Semakin takwa, maka semakin takutlah ia akan azab Allah. Satu saja kesalahan yang diperbuat istrinya, kelak ia akan ditanya. Bila istrinya terzolimi, maka kelak ia akan mempertanggung-jawabkan kezolimannya.

Bilamana seorang lelaki menganggap memiliki lebih dari satu istri itu indah, laksana surga yang bertaburan bidadari bermata jelita. Maka, bisa jadi ia memandang berdasar nafsu semata. Bukan dengan iman, bukan dengan ilmu apalagi takwa.

Bilamana semua tahu betapa beratnya menjadi seorang pemimpin, yang dipundaknya ditanggungkan segala tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, bukan sekadar tanggung jawab di dunia, namun sampai ke akhirat. Tentu tidak ada yang sanggup menjadi pemimpin.

Namun, takdir Allah menggariskan bahwa suami adalah pemimpin bagi istrinya, maka hanya rahmat Allah yang membuat para lelaki mampu menikah. Dan bertanggung jawab atas istrinya.

Hanya ketakwaan yang menuntun pada ridho-Nya, sedang nafsu dan syahwat sesat hanyalah jerat-jerat syaitan menuju neraka.

Janganlah Engkau Menjelek-jelekkan Istrimu

Angka perceraian di negeri ini kian meningkat. Data tahun 2013 menunjukkan pengurangan angka pernikahan tapi angka perceraian meningkat dibanding tahun 2012 (nasional.republika.co.id, 14/11/2014). Data ini seharusnya cukup untuk dijadikan pelajaran dan pengalaman bagi keluarga Indonesia untuk membina keutuhan rumah tangga.

Banyak faktor yang mendorong terjadinya perceraian, mulai dari ekonomi, hingga ego masing-masing. Terbukti, kasus perceraian terjadi mulai dari kalangan bawah hingga kalangan menengah ke atas. Apalagi, di kalangan selebriti, perceraian seolah menjadi bagian dari gaya hidup.

Padahal dalam Islam, perceraian adalah perkara yang boleh dilakukan namun sangat dibenci oleh Allah. Belakangan ini, kasus perceraian lebih banyak diajukan oleh istri (nasional.republika.co.id, 7/4/2016). Sangat kecil kemungkinan istri menggugat suami jika istri suaminya tidak bermasalah. Oleh karena itu, termasuk tugas suami untuk berbuat baik kepada keluarganya, terkhusus terhadap istri dan anak.

Rasulullah pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya,” (HR. Tirmidzi).

Suami dan istri hendaknya berlomba-lomba untuk kesempurnaan keimanannya dengan berbuat baik kepada satu sama lain, sehingga akan tercipta suasa cinta penuh kebahagiaan.

Pasangan suami istri yang beriman akan menahan untuk tidak menghina, mencaci, atau mengatakan perkataan yang buruk.

Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seseorang, “Apa hak istri salah seorang di antara kita?”

Beliau menjawab, ‘Wa la Tuqobbih (janganlah engkau menjelek-jelekkannya),” (HR. Ahmad).

Jika hal itu dilakukan, maka tidak akan ada tempat bagi egoisme, apalagi buruk sangka yang merupakan akar dari segala keburukan.

Juga pengondisian suasana keimanan di masyarakat yang dibentuk oleh aturan yang diterapkan oleh negara. Kita bukan hanya butuh kuliah saat sebelum menikah, tapi butuh akan aturan yang bisa memupuk keimanan kita. Karena orang yang beriman insyaAllah akan menjaga diri dari apa yang Allah benci, salah satunya perceraian.

Wallahu’alam bish shawab.

Kriteria Istri Kedua

CANTIK. Muda. Berpendidikan. Berpenghasilan. Demikian rata-rata kriteria perempuan yang akan dijadikan istri kedua, entah ia masih gadis ataupun janda. Berbeda dengan istri pertama yang sederhana, polos, lugu; biasanya istri kedua bertolak belakang dari istri pertama.

Benarkah?

Polemik Poligami

Persoalan poligami akan selalu pro kontra, tak akan pernah ada kata sepakat, apalagi bila pendapat lelaki dan perempuan dibenturkan. Perempuan beranggapan lelaki mau enak sendiri, lelaki beranggapan perempuan tidak memahami syariat. Persoalan semakin pelik jika poligami sudah melibatkan kontak emosi terlalu jauh; seorang suami yang tidak dapat curhat kepada istrinya lalu menemukan perempuan lain yang kebetulan cocok menjadi teman curhatnya. Atau, seorang suami menemukan istri yang selama ini diimpikannya, hal yang tidak didapatkannya dari istri pertama.

Secara alamiah, lelaki memiliki instink petualang, melebihi perempuan. Perempuan paling energik dan sangat bebas sekalipun, seiiring posisinya sebagai istri dan ibu pada akhirnya akan mengakhiri masa adventuringnya. Mendekam di rumah menikmati fitrah sebagai istri, ibu, pendidik, pengasuh, tukang masak dan seterusnya. Lelaki, walau bertanggung jawab terhadap kebutuhan nafkah keluarga; tetap memiliki semangat berpetualang. Ada lelaki yang teap suka main bola, naik gunung, jalan-jalan, hang out dengan teman-temannya, nonton keluar. Walau ia seorang family man sekalipun, sisi adventuring itu tidaklah hilang.

Bila kebiasaan adventuring ini mendapatkan pelepasan semestinya, biasanya ia tidak membutuhkan lagi petualangan cinta. Misal, ia aktif di organisasi, yayasan, sibuk mengejar karir, terlibat aktif mengasuh anak-anak maka energinya akan tersalur. Namun dalam kejenuhan dan keterdiaman, lelaki bisa memulai petualangan cinta.

Lha, apa hubungannya dengan poligami?

Poligami ala Rasulullah Saw dan orang-orang shalih.

Rasulullah saw menikah lagi setelah bunda Khadijah wafat. Pernikahan beliau rata-rata mengambil janda yang sudah tua. Pernikahan dengan perempuan muda nan cantik antara lain terjadi terhadap Aisyah dan Shofiyyah. Meski demikian, visi misi pernikahan beliau tidaklah bergeser dari kepentingan dakwah dan tentu sesuai syariah.

Sultan Murad menikahi Huma Khatun (Ibunda Al Fatih) sebagai istri ketiga, juga karena alasan politik. Selain alasan politik, Sultan Murad mampu mengkondisikan istri-istrinya untuk taat kepada Allah. Bacaan al Quran senantiasa menemani hari-hari mereka; begitupun pertempuran-pertempuran jihad mengisi hari-hari Sultan Murad.

Poligami sekarang

Sebetulnya, tidak ada keharusan lelaki harus menikah lagi dengan perempuan yang lebih tua. Harus janda. Beranak banyak. Jelek pula. Tidak ada satu ayatpun dalam Quran dan Hadits yang melarang lelaki menikahi perempuan disebabkan kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Apakah haram menikahi perempuan pintar? Tidak. Apakah haram menikahi perempuan cantik? No. Apakah haram menikahi perempuan muda? Haram menikahi perempuan berpenghasilan dan kaya? Tidak dan tidak.

Silakan saja mencari istri pertama yang pintar, kaya, cantik, muda. Silakan mencari istri kedua yang seperti itu juga. Ketiga dan keempat juga dengan kriteria yang sama.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya adalah bila visi misi bergeser.

Dulu, menikah dengan istri pertama dalam kondisi serba kekurangan. Maklum, baru lulus kuliah. Penghasilan hanya berapa ratus ribu. Kontrakan rumah petak yang banjir dan bau. Yang dicari adalah perempuan yang tahan banting; mau bagaimanapun rupa dan bentuknya. Mau bagaimanapun asal keluarga dan kondisi keuangannya.

Dua puluh tahun kemudian, atau lima belas tahun, atau malah baru sepuluh dan lima tahun; ketika kondisi keuangan membaik. Si pemuda culun yang sederhana dulu berubah menjadi lelaki yang gagah dan berkharisma. Keuangan membaik dengan status mapan dan kedudukan terhormat; suami dengan istri dan sekian anak, rumah disini, kendaraan ini.

Ketika hasratnya untuk memiliki istri kedua muncul, biasanya ia tidak lagi memilih seperti istri pertama yang apa adanya. Setidaknya yang kedua hadir disaat posisinya mapan, maka ya, haruslah perempuan yang lumayan. Lumayan parasnya. Lumayan pendidikan dan keuangannya. Perkara istri pertama sakit hati dan anak-anak tak mengerti dengan pilihan sang kepala keluarga; itu urusan kesekian.

Membenci syariat?

Jika perempuan menolak poligami, jangan serta merta mengatakannya; nggak mau patuh ya sama perintah Allah? Nggak mau taat syariat ya? Mau menolak isi Quran?

Maka, meski hati patah dan sakit luarbiasa, pilihan poligami terpaksa dijalankan. Apapun konsekuensinya. Kalau nanti istri pertama sakit-sakitan, dikira tidak ikhlas. Kalaupun menerima dengan hati lapang, sepanjang jalan pernikahan pastilah akan tumbuh beragam persoalan yang kadang-kadang, tertuding lagi perempuan. Ini gara-gara istri pertama gak mau mengalah. Ini gara-gara istri kedua ngelunjak.

Lelaki adalah Qowwam

Lelaki adalah peimpin bagi dirinya, istri, anak-anaknya. Keluarganya. Ummatnya. Pernikahan haruslah membangun mahligai yang sakinah mawaddah warrahmah. Seharusnya, lelaki yang memiliki logika lebih dari perempuan memprediksi apa yang akan terjadi ke depan.

Menikahi istri kedua berusia 25 tahun saat istri pertama 45 tahun, apa dampaknya? Bila istri pertama merelakan, apa yang harus disiapkan suami? Apa kesepakatan yang harus ditegakkan antara istri pertama dan kedua? Bagaimana tentang maisyah? Bila istri kedua memiliki pegnhasilan besar, seorang pengusaha atau wanita karir; bukan berarti kewajiban nafkah sang Qowwam teralihkan, bukan?

“Nanti pembagian nafkah bagaimana?” istri pertama bertanya cemas, mengingat kebutuhan anak-anak.

“Tenang, dia bekerja dan berpenghasilan kok,” jawab suami, menjelaskan si kedua

Lantas, dimana sikap ke qowwamannya jika ia memilih istri yang mapan dan merasa tidak punya kewajiban menafkahi?

Tak Bisa Berbagi Hati

Rasulullah saw memang lebih mencintai Aisyah. Aisyah dan Shafiyyah pun pernah berselisih. Aisyah dan Hafsah pun pernah berselisih. Tak akan pernah persoalan hati dan emosi dapat ditimbang dengan rasio.

Meski, pengakuan beberapa lelaki menyatakan, cinta terhadap istri pertama dan kedua bukan seperti membagi hati (seperti mencintai anak 1, 2, 3, 4 dst tetap sama besarnya); kecenderungan itu pastilah ada.

Cenderung terhadap istri pertama yang telah berkorban waktu, tenaga, hati, pikiran dan semua yang dimiliki. Atau cenderung terhadap istri kedua yang cenderung ‘baru’; baru sebagai teman, baru sebagai kekasih, baru sebagai pasangan.

Percayalah, kecenderungan itu pasti muncul.

Siapkah laki-laki jujur dan menanggung konsekuensinya?

Beberapa berjanji, tak akan meninggalkan anak-anak ketika memiliki istri yang berikut; nyatanya tak selalu kondisi ekonomi stabil. Keharusan mencari nafkah bagi dua istri menyebabkan waktu semakin tersita. Dua dapur dan dua keluarga tentu membutuhkan lebih banyak supplai finansial. Belum lagi perselisihan yang menguras emosi. Antar kedua istri, antar kedua keluarga, antar anak-anak. Ujung-ujungnya, poligami yang disalahkan; tuh kan, anak-anaknya nakal. Keluarga morat marit. Bapaknya kawin lagi sih!

Lalu bagaimana?

Bila, memang poligami akan dilakukan, bisakah seorang suami menceritakan secara jujur apa yang nanti akan terjadi; keuangan, waktu, urusan ranjang, kecenderungan hati, anak-anak dan seterusnya?

Bila berkomitmen akan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi, bisakah ia menepati janji-janjinya?

Dan bila ingin seperti Rasulullah Saw, bisakah istri kedua adalah gadis-gadis yang sudah sangat matang dalam kesendirian. Janda-janda beranak banyak yang kurang mampu. Perempuan-perempuan tak cantik yang memang tidak dilirik laki-laki.

Bisakah sang istri pertama tetap perempuan yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih terhormat?

Atau mau jujur bahwa dalam petualangan kali ini, pernikahan disimbolkan demikian; istri pertama untuk keprihatinan, istri kedua untuk bersenang-senang. Kalau demikian halnya, janganlah membawa nama sunnah rasulullah saw sebagai alasan poligami.

Sebab sunnah Rasulullah juga berbareng dengan kewajiban untuk menghargai ibu dari anak-anak; perempuan yang berbakti terhadap suami, istri yang sehari-hari menyisihkan seluruh kepentingan pribadinya untuk suami tercinta.

Suami, Begini 9 Cara Bilang Cinta pada Istri

CINTA di antara suami istri bukan hanya dirasakan. Tapi perlu juga diucapkan. Antara perasaan dan ucapan akan memberikan dua hal dan hasil yang berbeda.

Nah, banyak pasangan, utamanya suami yang menganggap enteng soal bilang cinta pada istrinya. Mentang-mentang sudah jadi pasangan sah, bilang cinta dianggap norak dan biasa saja.

Tapi sesungguhnya tidak begitu. Jika kita sulit mengucapkan cinta, maka ada beberapa hal yang selalu bisa kita gunakan untuk mengucapkan perasaan tersebut dengan cara lain, pada istri kita.

1. Katakanlah, “Terima kasih.” Mengatakan terima kasih adalah salah satu cara yang paling indah untuk menunjukkan rasa terima kasih. Berterima kasih untuk hal-hal besar dan kecil atau hanya berterima kasih padanya ketika ia berjalan di samping Anda.

2. Biarkan istri Anda tahu dia dihargai. Sebuah komentar seperti, “Kau melakukan begitu banyak hal untuk keluarga ini dan aku menghargai hal itu,” bisa mengingatkan istri Anda bahwa ia sangat luar biasa.

3. Bilanglah bahwa ia cantik. Seorang istri tidak selalu merasa menarik, yang membuatnya penting bagi Anda untuk memberitahu istri Anda bahwa dia masih sanggup membuat Anda senantiasa bergetar setiap kali melihatnya.

4. Pujilah dia. Pujilah istri Anda karena telah menjadi seorang ibu yang penuh kasih dan pasangan yang luar biasa.

5. Beritahu istri Anda bahwa Anda bangga padanya. Ini adalah cara yang indah untuk mengangkat semangat dan untuk membantu membina rasa percaya dirinya.

6. Nyatakan kebutuhan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan dia. Ajaklah istri Anda berkencan atau meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang dia ingin lakukan. Meraih tangannya saat berjalan-jalan adalah cara lain untuk membiarkan dia tahu bahwa menghabiskan waktu bersamanya adalah prioritas bagi Anda.

7. Ingatkan istri Anda bahwa Anda selalu berada di sampingnya setiap setiap kali dibutuhkan. Tidak peduli seberapa sibuknya Anda, tunjukanlah pada istri Anda bahwa Anda akan selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan – dan untuk menghiburnya.

8. Beritahu istri Anda bahwa Anda sudah merasa cukup dengannya. Ini akan membantu memperkuat ikatan pernikahan Anda. Plus, hal itu akan membuat istri Anda merasa betapa pentingnya dia bagi Anda.

9. Katakanlah, “Aku mencintaimu”, setidaknya sekali sehari. Tidak ada cara yang lebih besar untuk mengekspresikan cinta Anda daripada benar-benar mengucapkan kata-kata itu. Jangan menunggu sampai besok. Besok mungkin sudah terlambat. Katakanlah, “Aku mencintaimu” hari ini. Katakan itu sekarang.

Dilamar jadi Istri ke 2, Bolehkah Menolaknya?

SAAT seorang laki-laki meminang wanita, maka wanita itu memiliki hak untuk menerima atau menolaknya. Seorang wanita boleh menolak pinangan laki-laki baik bersifat syari atau pun pribadi. Karena jika pinangan laki-laki terhadap wanita itu dipaksakan, bisa jadi akan timbul masalah di kemudian hari.

Lalu bagaimana jika seorang wanita dipinang menjadi istri ke dua sedang yang melamar adalah pria shalih?

Dilansir oleh Rumah Fiqih, dalam syariah Islam, seorang ayah dilarang untuk untuk memaksakan jodoh untuk anak wanitanya. Apalagi sekadar seorang calon suami, di mana lamarannya itu sangat tergantung dari penerimaan pihak calon istri. Maka calon istri punya hak dan wewenang sepenuhnya untuk menerima sebuah lamaran atau menolaknya. Baik dengan alasan yang masuk akal bagi pelamar maupun tidak. Sebab bisa saja faktor penolakannya itu merupakan hal yang tidak ingin disebutkan secara terbuka.

Adapun hadits yang menyebutkan akan terjadi fitnah bila seorang wanita menolak lamaran laki-laki yang shalih, tentu harus dipahami dengan lengkap dan jernih. Hadits itu bukan dalam posisi untuk menetapkan bahwa sebuah lamaran dari laki-laki yang shalih itu haram ditolak. Tidak demikian kandungan hukumnya.

Sebab kalau demikian, bagaimana dengan lamaran seorang laki-laki shalih kepada seorang puteri raja atau pembesar, di mana kedua tidak sekufu atau memang tidak saling cocok satu dengan yang lain? Apakah puteri raja itu berdosa bila menolak lamaran dari seorang yang tidak disukainya?

Bahkan di dalam syariah Islam, seorang wanita yang sudah menikah namun merasa tidak cocok dengan suaminya, masih punya hak untuk bercerai dari suaminya. Apa lagi baru sekadar lamaran dari laki-laki yang sudah punya istri pula.

Dari Ibnu Abbas ra.: Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: Wahai Rasulullah, “Aku tidak mencelanya (Tsabit) dalam hal akhlaknya maupun agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran (karena tidak mampu menunaikan kewajibannya) dalam Islam.” Maka Rasulullah SAW berkata padanya, “Apakah kamu mengembalikan pada suamimu kebunnya?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah SAW berkata kepada Tsabit, “Terimalah kebun tersebut dan ceraikanlah ia 1 kali talak.” (HR Bukhori, Nasa’y dan Ibnu Majah. Nailul Authar 6/246)

Agar tidak menjadi fitnah, tentu ada cara penolakan yang halus dan lembut, tanpa menyinggung perasaan, namun si pelamar itu bisa menerima intisarinya, yaitu penolakan. Sehingga fitnah yang dikawatirkan itu tidak perlu terjadi.

Karena 6 Alasan Ini, Istri Boleh Meminta Cerai

Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. Bahkan Allah mengancamnya dengan tidak memberikan surga pada wanita yang meminta cerai pada suaminya. Ini selaras dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah SAW bersabda, “Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan)

Adapun jika kondisi rumah tangga itu berubah, maka seorang wanita dibolehkan meminta cerai dengan beberapa syarat dan ketentuan. Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta cerai dari suaminya. Berikut penjelasnnya.

Pertama.

Apabila suami dengan sengaja dan jelas dalam perbuatan dan tingkah lakunya telah membenci istrinya, namun suami tersebut sengaja tidak mau menceraikan istrinya.

Kedua.

Perangai atau sikap seorang suami yang suka mendzalimi istrinya, contohnya suami suka menghina istrinya, suka menganiaya, mencaci maki dengan perkataan yang kotor.

Ketiga.

Seorang suami yang tidak menjalankan kewajiban agamanya, seperti contoh seorang suami yang gemar berbuat dosa, suka minum bir (khomr), suka berjudi, suka berzina (selingkuh), suka meninggalkan shalat, dan seterusnya

Seorang suami yang tidak menjalankan kewajiban agamanya, seperti contoh seorang suami yang gemar berbuat dosa, suka minum bir (khomr), suka berjudi, suka berzina (selingkuh), suka meninggalkan shalat, dan seterusnya

Keempat.

Seorang suami yang tidak melaksanakan hak ataupun kewajibannya terhadap sang istri.Seperti contoh sang suami tidak mau memberikan nafkah kepada istrinya, tidak mau membelikan kebutuhan (primer) istrinya seperti pakaian, makan dll padahal sang suami mampu untuk membelikannya.

Kelima.

Seorang suami yang tidak mampu menggauli istrinya dengan baik, seperti seorang suami yang cacat, tidak mampu memberikan nafkah batin (jimak), atau jika dia seorang yang berpoligami dia tidak adil terhadap istri-istrinya dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau, jarang, enggan untuk memenuhi hasrat seorang istri karena lebih suka kepada yang lainnya.

Keenam.

Hilangnya kabar tentang keberadaan sang sang suami, apakah sang suami sudah meninggal atau masih hidup, dan terputusnya kabar tersebut sudah berjalan selama beberapa tahun. Dalam salah satu riwayat dari Umar Radhiyallahu’anhu, jangka waktu itu kurang lebih 4 tahun. wallahu a’lam.