Berharga Rp 145 Miliar Perliter kata Jokowi, Ternyata Ini 4 Keistimewaan Racun Kalajengking

Pidato Presiden Joko Widodo soal racun kalajengking baru-baru ini menarik perhatian publik.

Ya, di sela-sela pidatonya, Presiden Jokowi menyelipkan informasi ringan mengenai komoditas yang menjanjikan selain emas, yakni racun kalajengking.

Racun kalajengking disebutnya menjadi salah satu trik cepat kaya saat ini.

Menurut Jokowi, harga racun kalajengking saat ini lebih mahal dibanding harga emas.

“Sekarang saya mau bertanya, apa komoditas yang paling mahal di dunia, pasti banyak yang menjawab emas. Bukan emas,” kata Jokowi.

Iapun menyampaikan informasi yang ia peroleh bahwa racun kalajengking saat ini dihargai sangat mahal, lebih dari seratus miliar per liternya.

“Ada fakta yang menarik yang saya dapat dari informasi yang saya baca.”

“Komoditas yang paling mahal di dunia sekarang ini adalah racun dari scorpion, racun dari kalajengking.”

“Harganya 10,5 juta USD (dolar Amerika Serikat) per liter, artinya berapa, 145 miliar perliter.”

“Jadi Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Wali Kota, kalau mau kaya, cari racun kalajengking,” kata Jokowi disambut tawa hadirin.

Ya, di sela-sela pidatonya, Presiden Jokowi menyelipkan informasi ringan mengenai komoditas yang menjanjikan selain emas, yakni racun kalajengking.

Racun kalajengking disebutnya menjadi salah satu trik cepat kaya saat ini.

Menurut Jokowi, harga racun kalajengking saat ini lebih mahal dibanding harga emas.

“Sekarang saya mau bertanya, apa komoditas yang paling mahal di dunia, pasti banyak yang menjawab emas. Bukan emas,” kata Jokowi.

Iapun menyampaikan informasi yang ia peroleh bahwa racun kalajengking saat ini dihargai sangat mahal, lebih dari seratus miliar per liternya.

“Ada fakta yang menarik yang saya dapat dari informasi yang saya baca.”

“Komoditas yang paling mahal di dunia sekarang ini adalah racun dari scorpion, racun dari kalajengking.”

“Harganya 10,5 juta USD (dolar Amerika Serikat) per liter, artinya berapa, 145 miliar perliter.”

“Jadi Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Wali Kota, kalau mau kaya, cari racun kalajengking,” kata Jokowi disambut tawa hadirin.

Penggalan pidato Jokowi itupun mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa hingga politisi.

Ada yang menyindir, ada pula yang sependapat.

Terlepas dari harganya yang fantastis, apa saja sebenarnya manfaat racun kalajengking?

Dilansir dari Wired.co.uk, racun kalajengking diklaim dapat menyembuhkan penyakit kanker.

Selain itu, racun kalajengking juga bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit lainnya.

Berikut ini manfaat dari racun kalajengking.

1. Penghilang rasa sakit

Para peneliti telah menggunakan senyawa alami yang ditemukan dalam racun kalajengking sebagai obat penghilang rasa sakit.

Harapannya adalah temuan itu akhirnya bisa mengarah pada pengembangan obat baru untuk manusia.

2. Memerangi sel kanker

Racun yang mematikan ini juga bisa digunakan untuk membantu perawatan kanker di masa depan.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, Universitas Washington dan startup Blaze Bioscience telah mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan racun kalajengking tersebut sebagai obat kanker.

3. Mengobati penyakit tulang

Penelitian menunjukkan bahwa racun kalajengking dapat menghalangi keropos tulang dan menjadikannya zat yang berguna untuk mengobati kondisi seperti rheumatoid arthritis dan osteoartritis.

Pada tahun 2011, seorang pria Kuba berusia 71 tahun mengklaim bahwa dia menahan sakit dan nyeri dengan membiarkan kalajengking menyengatnya setidaknya sebulan sekali.

4. Mencegah malaria

Racun kalajengking juga merupakan obat bagi penyakit malaria.

Pada tahun 2011, seorang peneliti dari Universitas Maryland memodifikasi jamur parasit yang berisi zat yang ditemukan dalam racun kalajengking untuk menyerang parasit malaria yang ditemukan di dalam nyamuk.

Namun cara mengambil racun kalajengking ternyata bukan merupakan perkara yang mudah.

Jika salah mengambilnya, bisa-bisa justru membahayakan nyawa sendiri.

Lantas bagaimana caranya agar racun kalajengking dapat diperah dan diambil tanpa membahayakan jiwa kita?

Alat tersebut menempel pada buntut dan menggunakan listrik untuk menstimulasi kelenjar racun kalajengking.

“Apa yang membuat alat ini begitu spesial adalah keamanan dan kecepatannya. Jika dulunya kita hanya bisa mengambil racun dari 10 kalajengking dalam sehari, kini kita bisa mengambil racun dari 150 dalam sehari,” kata Mouad Mkamel, seorang peneliti di Ben M’sik Hassan II University, Kasablanka, yang memimpin penelitian 2017 silam.

Penggalan pidato Jokowi itupun mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa hingga politisi.

Ada yang menyindir, ada pula yang sependapat.

Terlepas dari harganya yang fantastis, apa saja sebenarnya manfaat racun kalajengking?

Dilansir dari Wired.co.uk, racun kalajengking diklaim dapat menyembuhkan penyakit kanker.

Selain itu, racun kalajengking juga bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit lainnya.

Berikut ini manfaat dari racun kalajengking.

1. Penghilang rasa sakit

Para peneliti telah menggunakan senyawa alami yang ditemukan dalam racun kalajengking sebagai obat penghilang rasa sakit.

Harapannya adalah temuan itu akhirnya bisa mengarah pada pengembangan obat baru untuk manusia.

2. Memerangi sel kanker

Racun yang mematikan ini juga bisa digunakan untuk membantu perawatan kanker di masa depan.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, Universitas Washington dan startup Blaze Bioscience telah mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan racun kalajengking tersebut sebagai obat kanker.

3. Mengobati penyakit tulang

Penelitian menunjukkan bahwa racun kalajengking dapat menghalangi keropos tulang dan menjadikannya zat yang berguna untuk mengobati kondisi seperti rheumatoid arthritis dan osteoartritis.

Pada tahun 2011, seorang pria Kuba berusia 71 tahun mengklaim bahwa dia menahan sakit dan nyeri dengan membiarkan kalajengking menyengatnya setidaknya sebulan sekali.

4. Mencegah malaria

Racun kalajengking juga merupakan obat bagi penyakit malaria.

Pada tahun 2011, seorang peneliti dari Universitas Maryland memodifikasi jamur parasit yang berisi zat yang ditemukan dalam racun kalajengking untuk menyerang parasit malaria yang ditemukan di dalam nyamuk.

Namun cara mengambil racun kalajengking ternyata bukan merupakan perkara yang mudah.

Jika salah mengambilnya, bisa-bisa justru membahayakan nyawa sendiri.

Lantas bagaimana caranya agar racun kalajengking dapat diperah dan diambil tanpa membahayakan jiwa kita?

Alat tersebut menempel pada buntut dan menggunakan listrik untuk menstimulasi kelenjar racun kalajengking.

“Apa yang membuat alat ini begitu spesial adalah keamanan dan kecepatannya. Jika dulunya kita hanya bisa mengambil racun dari 10 kalajengking dalam sehari, kini kita bisa mengambil racun dari 150 dalam sehari,” kata Mouad Mkamel, seorang peneliti di Ben M’sik Hassan II University, Kasablanka, yang memimpin penelitian 2017 silam.

Menjelang Pilkada dan Pilpres, Jokowi Imbau Seluruh Rakyat untuk Tetap Jaga Persatuan

Menghadapi Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Umum Presiden 2019 serentak, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

“Marilah kita menyadari sama-sama bahwa kita ini adalah saudara sebangsa dan se-Tanah Air. Beda pilihan silakan. Ini adalah pesta demokrasi,” kata Jokowi, pada Jumat (11/5/2018) kemarin.

Jokowi mengatakan, jangan sampai perbedaan pilihan dukungan di pilkada maupun pilpres terjadi perpecahan antarsesama. Apalagi, membuat tetangga, teman maupun saudara tak saling sapa hanya karena beda dukungan.

“Kita lupa kalau kita ini saudara, yang seharusnya diperkuat Islamiyahnya. Insya Allah, sampai kiamat, kita akan bersatu dalam negara kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Relawan #2019GantiPresiden Sebut Ruhut Lebih Bagus Daripada Jokowi

Relawan #2019GantiPresiden, Mustofa Nahrawardaya, mengunggulkan politisi senior Ruhut Sitompul menjadi calon presiden dibandingkan Joko Widodo untuk diusung di Pilpres 2019.

Menurut dia, Ruhut Sitompul lebih bagus di dalam memainkan ‘trik-trik politik dibandingkan Jokowi. Terbukti, dari Ruhut yang sudah beberapa kali pindah partai politik.

“Saya pikir Pak Ruhut lebih bagus daripada Pak Jokowi. Lebih bagus trik-triknya. Lintas partai bisa kemana-mana. Sekarang kabarnya ke PDIP. Jadi kaosnya gonta-ganti. Sedangkan Pak Jokowi hanya PDI P. Saya pikir Pak Ruhut lebih bagus daripada Pak Jokowi beliau bisa menggantikan nanti dalam 2019,” ujar Mustofa dalam diskusi ‘Politik Tagar Bikin Gempar’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/5/2018).

Penilaian itu disampaikan sebagai upaya meminta masyarakat tidak khawatir karena di Indonesia kekurangan sosok calon presiden. Dia menilai, banyak sosok yang lebih bagus daripada mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Selain itu, dia melihat masyarakat menginginkan adanya perubahan kepala negara. Hal ini terbukti dari ramai diperbincangkan hastag #2019GantiPresiden di media sosial.

Berdasarkan data yang ada, kata dia, selama kurun waktu 1 jam terakhir pada Sabtu pagi, sudah ada 290 twitt Tagar #2019GantiPresiden. Sedangkan #TetapJokowo hanya 60 twitt.

“Terbukti twitt ini membuktikan satu jam saja segitu. Hitung saja kalau 12 jam atau 24 jam dalam sehari hitung saja sejak kemarin saya hari Minggu acara car free day tetap 60 saja tidak akan naik setiap jam saya rata-rata sedangkan 2019 ganti presiden rata-rata di atas 400,” kata dia.

Dia menilai perang tagar itu seperti permainan sepak bola, di mana ada dua klub bermain. Mereka mempunyai aturan, lapangan yang sama serta harus menaati peraturan yang tidak berbeda.

“Itulah tagar jadi siapapun bisa memiliki Tagar. Ini bukan bikinan ini, ini yang disebut bahwa tagar-tagar itu mirip sepak bola tidak mungkin satu pihak mengatakan kan ada bisa mengeluarkan buzzer dua memang dua-duanya tidak bisa,” katanya.

Perempuan Cantik Ini Ternyata Para Paspampres yang Tiap Hari Melindungi Jokowi…

Ternyata tak hanya laki-laki yang masuk dalam satuan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Ada beberapa sosok Srikandi atau perempuan yang diketahui telah menjadi pengawal Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).

Para Srikandi tersebut tampil di depan umum ketika mengawal Jokowi dalam apel khusus tentara perempuan bersama polwan serta jajaran Aparatur Sipil Negara di kawasan Monumen Nasional (Monas), Rabu (25/4/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Pasmpampres perempuan tampil dengan setelan jas hitam dan perlengkapan pengawalan Presiden.

Mereka terlihat tangguh ditambah dengan aksesoris kacamata hitam yang membuat mereka tampil semakin tegas.

Jokowi pun memuji ketangguhan para petugas perempuan yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri).

Pasalnya, para petugas perempuan handal dalam mengkondisikan situasi yang ricuh dengan kemampuan yang mereka miliki.

“Dalam berbagai kesempatan, saya melihat sendiri bahwa korps wanita TNI dan Polwan benar-benar terampil di lapangan, benar-benar bisa membuat situasi yang sulit dapat menjadi tenang dan terkendali,” ujar Jokowi dalam pidatonya.

“Itulah kelebihan perempuan, lembut tapi tegas, itulah yang dibutuhkan bangsa ini,” imbuhnya.

Ditemui, seusai acara, para Paspampres mengaku senang dan bangga dapat mengawal Presiden.

Kepada awak media, mereka mengatakan sehari-hari bertugas mengawal Ibu Negara, Iriana Joko Widodo.

“Kita sehari-hari mengawal Ibu Negara,” ujar Sertu Nancy ketika dijumpai Kompas TV.

Sertu Nancy juga mengisahkan betapa bangganya orangtua mereka ketika melihat anaknya mengawal presiden.

“Nelpon orang tua, nanti nonton TV ya ada kita nanti tampil untuk pengawalan presiden, respon orangtua bangga, ya sudah nanti stand by di depan saja TV dari pagi,” ujar Sertu Nancy.

“Setelah acara telepon terus kirim foto kita pas lagi tampil di TV itu,” imbuhnya.

Selain untuk menjaga keamanan presiden, pengawalan Paspampres perempuan ini juga untuk menyemarakkan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April lalu.

Sekjen PPP Anggap Jokowi Belum Dijamin Menang Pilpres 2019 meski Elektabilitas Naik

Sekjen PPP Arsul Sani menilai, elektabilitas Presiden Joko Widodo sebesar 55,9 persen dalam Survei Litbang “Kompas” belum menjamin mantan Gubernur DKI itu terpilih kembali dalam Pilpres 2019. “Angka tersebut bagi saya belum menjamin keterpilihan kembali Pak Jokowi,” kata Arsul melalui pesan singkat, Senin (23/4/2018). Bahkan, kata Arsul, meskipun elektabilitas Jokowi mencapai 60 persen, hal itu juga belum menjamin kembali terpilih. (Baca juga : Survei Kompas: Jokowi 55,9 Persen, Prabowo 14,1 Persen) Menurut dia, Jokowi membutuhkan konsistensi elektabilitas dalam tiap survei hingga menjelang hari pencoblosan. Arsul menyatakan, agar elektabilitas tidak menurun, Jokowi beserta partai koalisi harus memastikan tak ada kebijakan yang mengurangi dukungan masyarakat terhadap pemerintahan. Selain itu, faktor calon presiden penantang Jokowi juga perlu dipastikan. Jika sudah pasti, maka hal itu akan memudahkan Jokowi untuk memeta kekuatan dan kelemahan lawan.

“Apalagi saat ini belum ada kejelasan apakah Pak Jokowi akan berkontestasi lagi dengan Pak Prabowo atau malah dengan capresnya (yang diutus Prabowo). Selain itu, belum jelas juga siapa pasangan calon yang akan saling berhadapan,” lanjut dia. (Baca juga : Survei Kompas: Kepuasan Pemerintahan Jokowi Meningkat Jadi 72,2 Persen) Survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Presiden Joko Widodo mengalami kenaikan. Sementara elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menjadi penantang terkuat petahana justru mengalami penurunan. Dikutip dari Kompas, responden yang memilih Jokowi apabila pilpres digelar saat ini mencapai 55,9 persen.

Angka itu meningkat dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, elektabilitas Jokowi masih 46,3 persen. (Baca juga :

Fadli Zon Tetap Yakin Prabowo Jadi Presiden meski Elektabilitas Turun) Sementara itu, potensi keterpilihan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto 14,1 persen, turun dari hasil survei enam bulan lalu yang merekam angka 18,2 persen. Survei ini dilakukan pada 21 Maret-1 April 2018 sebelum Prabowo menyatakan kesiapannya maju sebagai calon presiden di Rakornas Partai Gerindra, 11 April lalu. Naiknya elektabilitas Jokowi dan turunnya potensi keterpilihan tokoh-tokoh penantangnya bisa dijelaskan dari dua sisi. Pertama, naiknya kepuasan terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Kedua, masih kaburnya kepastian calon penantangnya untuk maju dalam Pemilu 2019. Survei tatap muka ini dilakukan kepada 1.200 responden secara periodik oleh Litbang Kompas pada 21 Maret-1 April 2018. Populasi survei warga Indonesia berusia di atas 17 tahun. Reponden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi Indonesia dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen, margin of error plus minus 2,8 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.

Survei Terbaru Litbang Kompas: Kepuasan Publik Terhadap Pemerintahan Jokowi Meningkat

Survei Litbang Kompas menunjukkan kepuasan publik terhadap pemerintahan Joko Widodo meningkat.

Survei ini dilakukan pada 21 Maret-1 April 2018, bertepatan dengan 3,5 tahun pemerintahan berjalan.

Dikutip dari Kompas, Senin (23/4/2018), sebanyak 72,2 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan di empat bidang pemerintahan, yakni politik dan keamanan (polkam), hukum, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.

Baca: Surati Jokowi, Petani Minta Presiden Lihat Langsung Konflik Lahan Sawit Way Kanan

Dibandingkan dengan setahun lalu, peningkatan kepuasan publik mencapai 9,1 persen.

“Di balik sejumlah catatan kritis di bidang polkam dan ekonomi, kepuasan terhadap pemerintah meningkat karena indikator-indikator di bidang hukum dan kesejahteraan menuai apresiasi,” kata peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan.

Indikator bidang polkam yang mendapat catatan kritis terutama terkait ancaman konflik dan kebebasan berpendapat.

Sementara, indikator ekonomi yang sedikit mengalami pelemahan terkait masalah swasembada pangan, lapangan kerja, harga barang, dan nilai tukar rupiah.

“Namun, terjadi peningkatan apresiasi dalam pembangunan pasar tradisional dan pemerataan pembangunan,” urai Bambang.

Sementara itu, kepuasan yang meningkat di bidang hukum terjadi karena meningkatnya apresiasi terhadap pemberantasan korupsi, penuntasan kasus hukum, dan aparat yang dinilai makin adil.

Indikator yang meningkat di bidang kesejahteraan sosial adalah kepuasan terhadap kinerja pemerintah dalam menangani persoalan pendidikan dasar dan kesehatan masyarakat.

Survei Pilpres 2019: Prabowo Masih Jadi Lawan Terberat Jokowi

Menjelang Pemilihan Umum Presiden tahun 2019, Masyarakat Indonesia diprediksi tak akan mendapat suguhan calon presiden (Capres) alternatif di perhelatan pemilu presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Hal tersebut dikemukakan oleh Managing Director Cyrus Network, Eko Dafid Afianto.
Cyrus Network memotret top of mind calon presiden di benak publik sejauh ini hanya berkutat di dua nama, yakni Jokowi dan Prabowo Subianto.

Meski selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo cukup jauh, namun hingga saat ini Prabowo masih merupakan satu-satunya penantang terkuat Jokowi.

“Dalam simulasi kami munculkan banyak nama alternatif calon presiden, tapi angka mereka tidak lebih dari 3 persen. Sisanya, sebagian besar pemilih yang tak mendukung Jokowi tetap menyandarkan harapan kepada Prabowo,” kata Eko.

Eko menuturkan, munculnya berita-berita tentang kesiapan menjadi calon presiden dan safari politik mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belum bisa menggegser pilihan konstituen oposisi terhadap Prabowo.

Begitu juga dengan kemunculan nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, tetap saja tak mampu menggeser dominasi Jokowi dan Prabowo.

Survei Cyrus Network dilakukan terhadap 1.230 responden di 123 desa/kelurahan di 34 provinsi di Indonesia. Survei dilakukan dengan cara tatap muka dengan tingkat keyakinan survei sebesar 95% dengan margin of error sebesar 3%.

Tiba di Agats, Jokowi Presiden Pertama yang Injak Tanah Asmat…

Presiden Joko Widodo, Kamis (12/4/2018) siang, tiba di Kota Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia pertama yang menginjak tanah Asmat.

Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana tiba di Pelabuhan Agats sekitar pukul 12.40 WIT.

Jokowi yang mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung beserta rombongan datang menggunakan helikopter milik TNI Angkatan Darat.

Menurut rencana, Kepala Negara akan menghadiri sejumlah acara di kabupaten yang baru saja diserang kejadian luar biasa campak dan gizi buruk itu.

Pertama, Jokowi dan Iriana akan menemui ibu-ibu dan anak-anak di Gedung Serba Guna Widya Mandala.

Jokowi akan meminta masukan mereka terkait peningkatan kualitas hidup di sana.

Setelah itu, Jokowi dan rombongan akan meninjau salah satu proyek infrastruktur di Agats berupa instalasi penampungan air bersih dan jembatan.

Jokowi juga dijadwalkan mengunjungi salah satu museum di Agats.

Terakhir, Jokowi dan Iriana direncanakan mampir ke salah satu pasar tradisional yang baru dibangun pemerintah.

Presiden beserta rombongan mengendarai sepeda motor listrik untuk menghadiri satu per satu acara. Motor listrik adalah moda transportasi utama di kabupaten ini.

Presiden beserta rombongan akan bertolak dari Asmat ke Timika pada Kamis sore.

Sumber: Kompas.com

Presiden Jokowi ‘Sah’ Diangkat Menjadi Panglima Perang Suku Asmat

Suku Asmat, Papua memberi gelar khusus untuk Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi. Tidak tanggung-tanggung, gelar Panglima Perang pun disematkan. Pemberian gelar ini dilakukan saat Jokowi tiba di Pelabuhan Agats, Asmat, Papua, Kamis (12/4).

Saat turun dari helikopter kepresidenan, Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi disambut upacara adat suku Asmat. Upacara penyambutan ini sekaligus mengukuhkan Jokowi sebagai Kambepit atau Panglima Perang Asmat. Pemberian gelar ini dilakukan tetua adat adat Asmat.

“Besar harapan kami, Bapak Panglima Perang membawa masa depan yang lebih baik,” kata Wakil Bupati Asmat, Thomas E Safano saat menerjemahkan pesan dari tetua adat Suku Asmat di Pelabuhan Agats, Asmat, Papua, Kamis (12/4/2018).

Dalam pemberian gelar ini, Jokowi juga menerima dayung berhias dan noken khas suku Asmat. Dayung tersebut dimaksudkan sebagai simbol kepemimpinan panglima perang dalam mendayung perahu rakyat suku Asmat.

“Kami serahkan noken dan dayung berhias ini. Dayung adalah simbol kepemimpinan. Agar Bapak Presiden dapat mendayung kapal republik ini ke arah yang lebih baik,” ucap Thomas.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengunjungi Kabupaten Asmat, Papua pada Kamis (12/4/2018). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kunjungan kerja Jokowi ke tanah Cendrawasih.

Sejumlah kegiatan akan dilakukan Jokowi bersama Ibu Negara Iriana Jokowi di Asmat. Di antaranya menemui ibu-ibu dan anak-anak Asmat di gedung Serbaguna Widya Mandala.

Kemudian Jokowi akan meninjau proyek instalasi penampungan air bersih dan jembatan. Terakhir Jokowi dan rombongan akan meninjau sejumlah pasar tradisional yang ada di Agats Asmat Papua.

Sumber: Liputan6.com

Soal Jokowi Bagi-bagi Sembako, Mensos: Kami Bantu Rakyat kenapa Ngomel-ngomel

Soal pembagian sembako yang dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo saat kunjungan kerjanya ke daerah yang kemudian banyak dikritik pihak-pihak tertentu, Menteri Sosial Idrus Marham mempertanyakan komentar tersebut.

Pembagian sembako, menurut Ketua Koordinator Bidang Kelembagaan Partai Golkar ini sudah berlangsung sejak Jokowi menjadi presiden. Pembagian sembako, menurut Idrus, dilakukan demi kepentingan rakyat, sehingga tidak bisa dihentikan meskipun menjelang pemilu presiden.

“Aneh juga kalau kami bantu rakyat ada yang ngomel. Itu justru perlu dipertanyakan, mereka berjuang untuk apa? kalau kami bantu rakyat kenapa ngomel-ngomel,” kata Idrus di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, (9/4/2018).

Program sembako ini, lanjut Idrus, adalah program pemerintah yang anggarannya dialokasikan lewat Kementerian Sosial.

“Ada anggaran di Kemensos. Saya tanggung jawab,” ujarnya.

Karena program ini ditujukan untuk rakyat, maka saat pembagiannya tidak masalah jika melibatkan aparatur sipil negara atau kepolisian.

“Kenapa baru sekarang mau menghadapi pemilu, baru pada ngomel. Kenapa gak dari awal,” katanya.
Sebelumnya, sebuah video yang menayangkan suasana pembagian sembako di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah menjadi viral. Di video tersebut nampak warga berbaris antre sementara sejumlah personel polisi membagikan sembako yang dimuat di dalam tas berwarna merah dan putih. Selain itu, beredar pula kupon pembagian sembako kala Jokowi berkunjung ke Sukabumi, Jawa Barat.

Sementara itu, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko membenarkan soal adanya pembagian sembako. Menurut dia, anggaran untuk sembako berasal dari pos bantuan presiden. Adapun pengerahan polisi, kata Moeldoko, demi menjaga ketertiban.

“Karena ini ada massa besar, jangan-jangan nanti ada yang pingsan, meninggal, kan ini bisa terjadi,” ujarnya.

Sumber : islampos.com