Putri Pemilik Biro Haji dan Umrah Ini Meninggal Saat Shalat di Masjidil Haram

Defti Riskiwati Ande, putri pemilik biro penyelenggara haji dan umroh PT Tiga Utama, meninggal dunia di Mekkah, Arab Saudi. Ela, sapaan akrabnya, menghembuskan nafas terakhir ketika melaksanakan shalat maghrib di Masjidil Haram dalam perjalanan ibadah umrahnya.

Informasi tersebut diketahui dari sebaran unggahan Facebook oleh akun Tomi Lebang, Senin (23/4/2018).

Saat itu, Senin (23/4/2018), Ela tengah menjalankan salat magrib di Masjidil Haram. Ketika sujud rakaat terakhir, Ela tak bangkit untuk duduk tahiyat akhir. Saat itu diketahui, Ela telah menghembuskan nafas terakhir.

Inilah yang ditulis Tomi Lebang dalam unggahan tersebut.

Saya mengenal – meski tak akrab benar – D efti Reskiwati Ande semenjak 20 tahun lalu.

Maklum, kediaman orang tuanya di Kota Makassar, di Jalan Andi Mappanyukki, adalah tempat berkumpul semua kalangan di kota itu: wartawan, suporter PSM, mahasiswa, pelintas jalan.

Rumah besar di kawasan mahal yang lebih dari setengahnya dijadikan masjid.

Khalayak mengenal tempat itu sebagai Majelis Taklim Mappanyukki.

Rumah itu memang kediaman Ande Abdul Latief, sang perintis biro perjalanan haji ONH Plus di Indonesia dan Asia Tenggara.

Saat nama Tiga Utama mulai surut seiring undur dirinya Pak Ande mengurusi ONH Plus, usaha melayani tetamu Allah ini diteruskan oleh anak-anaknya, terutama oleh Ela – panggilan karib Defti Reskiwati Ande.

Karena itulah Ela kerap bepergian ke Tanah Suci.

Seperti kemarin, Ela tengah menunaikan ibadah Umroh di Makkah.

Dan inilah perjalanan terakhirnya ke tanah haram.

Ia masih menunaikan sholat maghrib pada hari Senin 23 April, sampai rakaat kedua.

Saat sedang sujud rakaat terakhir, Ela tak bangkit duduk kembali.

Rupanya, itulah sujudnya yang terakhir di dunia.

Saat tengah sujud itulah, Allah SWT memanggilnya.

Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun.

Selamat jalan kak Ela. Semoga jalanmu dilapangkan, beroleh tempat nan lapang di sisi Sang Pencipta.”

Kabar meninggalnya Ela, putri Ande Abdul Latief, itu juga dibenarkan kakak kandung Ela, Onalis Ande Latief.

Terjebak di Ruang Nakhoda hingga Sempat Hilang, Wakapolres Labuhanbatu Meninggal Dunia

Malang nian nasib Wakil Kepala Polres (Wakapolres) Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kompol Adi Chandra yang sempat hilang setelah kapal yang ditumpangi rombongan polisi karam di perairan Sungai Berombang.

Tim gabungan akhirnya menemukan Kompol Andi Chandra dalam keadaan meninggal dunia, Minggu (22/4/2018) pagi.

Jenazah Kompol Andi Chandra ditemukan tak jauh dari lokasi tenggelamnya kapal di perairan Desa Sei Lumut, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu.

Kapolres Labuhanbatu, AKBP Frido Situmorang, korban selamat dalam tragedi kapal tenggelam tersebut, ikut serta dalam melakukan pencarian di sekitar Tanjung Sarang Elang.

Baca: Senang Jadi Juri Calon Legislatif, Mahfud MD Minta PSI Jadi Partai Manusia

“Ketika kami menghadiri undangan anak Pak Bupati, saat jalan kembali kurang lebih 15 menit dari dermaga, tiba tiba mesin kapal mati. Tak lama air langsung masuk,” kata Frido.

Menurutnya, saat air kedua kali masuk, kapal langsung terbalik, karena arus sedang pasang.

“Perwira yang lain loncat ke air, sementara Kompol Andi Chandra terjebak di dalam ruang nakhoda. Jadi tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, karena air langsung masuk,” ungkap Frido.

Frido menjelaskan mereka menaiki kapal Kepolisian Perairan (Polair) bertipe C3, kapasitas penumpang 11 orang, untuk menghadiri undangan pesta dari Bupati Labuhanbatu, Pangonal Harahap, di Kelurahan Sei Berombang.

Baca: Tak Jadi Timses Prabowo, Mahfud MD: Saya Tidak Diajak Lagi, Kan Sudah Kalah

Menambahkan pernyataan Kapolres Labuhanbatu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting, menyatakan Kompol Andi Chandra telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

“Jenazah ditemukan sekira pukul 10.00 WIB,” kata Rina.

Rina menjelaskan pencarian sempat dihentikan pada Sabtu (21/4/2018) malam, karena cuaca buruk.

Kemudian, dipimpin Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang, pencarian korban kembali dilakukan sekira pukul 07.30.

Pencarian korban melibatkan TNI, Direktorat Polisi Perairan Polda Sumut, Brimob Polda Sumut, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Labuhanbatu, nelayan, serta warga setempat.

Baca: Lama Tak Ada Kabar, Begini Kondisi Personel Klantink

“Kompol Andi ditemukan tidak jauh dari lokasi karamnya kapal Polair Polres Labuhanbatu yang di tumpangi Kapolres Labuhanbatu beserta pejabat utama pada Sabtu,” ungkap Rina.

Lebih lanjut, jasad perwira polisi melati satu itu dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan autopsi dan selanjutnya akan diserahterimakan kepada pihak keluarga.

Diduga kapal yang ditumpangi tujuh anggota Polri itu menabrak tunggul kayu di perairan Desa Sei Lumut.

Akibatnya kapal mengalami kebocoran, hingga akhirnya tenggelam.

Seruan kalimat takbir berkumandang saat jenazah Kompol Andi Chandra ditemukan.

“Allahu Akbar,” kumandang tim penyelamat saat mengangkat jenazah Kompol Andi Chandra ke atas kapal karet milik BPBD Labuhan Batu.

Pejabat baru

Kompol Andi Chandra baru empat bulan menjabat Wakapolres Labuhan Batu.

“Ia tamatan Sespimmen (Sekolah Pimpinan Menengah). Sebelumnya bertugas di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang,” kata Kombes Rina Sari Ginting.

Andi Chandra lahir 20 Oktober pada 37 tahun yang lalu.

Awalnya ia menjadi perwira pertama di Polda Riau, pangkat Inspektur Dua (Ipda), 18 Desember 2003.

Dia menjadi Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Polres Kampar, Polda Riau, pada 7 Februari 2004.

Pada 30 Agustus 2006, dia menjadi perwira pertama di Akpol, Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol).

Baca: Masih Ingat Bintang Iklan Ibu Jempol RCTI Oke? Begini Kondisinya Sekarang

Kemudian menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 16 September 2009.

Setahun kemudian menjadi perwira pertama di Polda Lampung.

Pada 23 September 2010, dia menjadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Way Kanan Polda Lampung.

Lima bulan kemudian, menjabat Kepala Urusan Standarisasi Sub Bidang Pembinaan Pertanggungjawaban Profesi (Subbidwabprof) Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Lampung.

Pada 13 Oktober 2011, Andi Chandra menjadi Kapolsek Candi Puro di Lampung Selatan.

Baca: Kunjungi Korban Kapal Meledak, Begini Perintah Sandi untuk Manajemen RSUD Koja

10 Februari 2012, dia menjadi perwira pertama di Lembaga Pendidikan Kepolisian.

Pada 20 April 2017, dia menjadi perwira menengah Lemdiklat Polri dalam rangka Pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Tingkat Menengah (Sespimmen) 2017.

23 Tahun Menolak Islam, Akhirnya Meninggal Sebagai Muslim

Jika ayahnya kemudian mengikuti jalan hidup anaknya masuk Islam, bagaimana jalan hidup Abdur Rahim Green sendiri? Ia lahir dengan nama Anthony Vatswaf Galvin Green pada 1962.

Vatswaf lahir di Dar es Salaam, Tanzania. Ayahnya seorang administrator kolonial di Kerajaan Inggris dan ibunya berasal dari Polandia.

Ayahnya, Gavin Green, seorang yang tidak percaya adanya Tuhan, sementara ibunya penganut Katolik Roma taat. Anthony Vatswaf dibesarkan dalam iman Katolik Roma sejak usia muda.

Vatswaf mengikuti pendidikan di sekolah berasrama di biara Katolik Roma, St Martin Ampleforth, di Gilling Castle, dan kemudian Ampleforth College. Ketika berusia 11 tahun, ayahnya bertugas di Kairo, dan Vatswaf ikut bersama orang tuanya jika liburan sekolah.

Ia belajar sejarah di Universitas London, tapi tidak menyelesaikannya karena kekecewaan yang berkembang dengan apa yang dianggap sebagai ajaran Eurocentric dari sistem pendidikan Inggris.

Pada usia muda, Vatswaf mulai mempertanyakan keyakinan Katolik Roma, walaupun pada usia 19 tahun masih dengan “penuh semangat” membela keimanannya itu. Kemudian ia mempelajari Buddhisme selama hampir tiga tahun, meskipun tidak pernah secara resmi memeluk itu.

Pada tahun 1987, Vatswaf pertama kali tertarik pada Islam, dan mempelajari Al Quran. Vatswaf kemudian memeluk Islam pada tahun 1988, dan sejak itu menjadi praktisi dakwah. Ia pun mengganti namanya dengan Abdur Rahim.

Abdur Rahim merupakan presenter di Peace TV. Ia terlibat dalam kegiatan pendidikan dan media pada stasiun TV itu. Ia pun menjadi Ketua iERA (the Islamic Education & Research Academy). Rahim aktif memberikan ceramah di luar negeri, termasuk pada konferensi perdamaian yang diadakan di Mumbai.

Ia juga aktif di London Central Mosque and Islamic Cultural Centre. Sebagaimana Dr Zakir Naik, Dr Bilal Philips, Khalid Yasin, dan Yvonne Ridley, Rahim juga memberikan banyak kuliah tentang Islam di seluruh dunia dan juga berdakwah di Hyde Park yang terkenal di London.

Ia memiliki sepuluh anak dari dua istri. Rahim pernah ditanya dalam wawancara, apakah hukum Inggris melarang bigami.

Ia menjawab: “Benar. Namun beberapa orang Inggris melakukan bigamis. Tetapi mereka yang mempraktikan bigami dapat menjalankan pernikahannya sebagaimana ketentuan hukum perkawinan (Islam). Anak-anak yang lahir sah, istri (kedua) pun berhak mendapat mewarisi harta.”

Pada tahun Rahim dilarang ikut dalam penerbangan yang singgah di Brisbane karena ia terdaftar dalam “aktivis yang masuk dalam daftar cegah” oleh pemerintah Australia.

Ini karena ia pernah berceramah yang isinya dianggap ekstrim bagi dunia Barat, yakni “Muslim dan Barat tidak bisa hidup damai bersama-sama dan bahwa kematian saat berperang jihad adalah salah satu cara paling pasti untuk masuk surga dan disenangi Allah.”

Kalangan Muslim Australia berpendapat, Pemerintah sudah terlalu jauh dengan menghentikan seorang pria yang sekarang telah berlaku moderat.

Pada satu wawancara radio berikutnya di Australia, Rahim menyatakan bahwa ia sudah lama meninggalkan pandangan ekstremis apa pun, dan menambahkan bahwa ia secara konsisten mengutuk aksi teroris.

Istiqomah Baca Surat Al-Ikhlas, Sahabat Nabi Ini Didatangi 70 Ribu Malaikat Saat Meninggal Dunia

Rasulullah Muhammad SAW pada suatu ketika bersabda: ”Demi Allah yang jiwaku digenggaman-Nya, sesungguhnya:
QUL HUWALLAHU AHAD itu tertulis di sayap Malaikat Jibril.
ALLAHHUS SOMAD itu tertulis disayap Malaikat Mikail.
LAMYALID WALAM YUULAD tertulis pada, sayap Malaikat Izra’il
WALAM YAKULLAHU KUFUWAN AHAD tertulis pada sayap Malaikat Israfil”

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Ketika saya {Rasulullah SAW} Isra’ ke langit, saya melihat Arasy di atas 360,000 pilar dan jarak jauh antara satu pilar ke satu pilar yang lain ialah 300.000 tahun perjalanan”.

Pada tiap-tiap pilar itu terdapat padang pasir yang jumlahnya 12.000 dan luasnya setiap satu padang itu seluas dari Timur hingga ke Barat. Pada setiap padang itu terdapat 80.000 malaikat yang mana kesemuanya membaca surat Al-Ikhlas.

Setelah mereka selesai membaca Surah tersebut maka berkata mereka: ”Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan ini kami berikan kepada orang yang membaca surah Al-Ikhlas baik lelaki maupun perempuan”.

Riwayat Anas bin Malik juga merekam kisah berkaitan surat Al-Ikhlas; suatu ketika 70.000 Malaikat diutus datang kepada seorang sahabat di Madinah yang meninggal. Kedatangan para Malaikat itu hingga meredupkan cahaya matahari. 70.000 Malaikat itu diutus hanya karena almarhum sering membaca surat ini.

Anas bin Malik yang saat itu bersama Nabi Muhammad SAW di Tabuk merasakan cahaya matahari redup tidak seperti biasanya dan Malaikat Jibril datang kepada Nabi untuk memberitakan kejadian yang sedang terjadi di Madinah.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka tubuhnya tidak akan membusuk didalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para Malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi Titian Siratul Mustaqim lalu menuju ke Surga.” (HR Qurthuby).

Aktor Senior Deddy Sutomo Dikabarkan Meninggal Dunia

Aktor senior Deddy Sutomo dikabarkan meninggal dunia, Rabu (18/4/2018).

Kabar itu disampaikan oleh rekan sesama aktor, Tio Pakusadewo.

Tio memposting foto KTP alm Deddy di akun Instagramnya, @pksdw.

Tertulis di KTP itu, nama Deddy Sutomo, lahir di Jakarta 26 Juni 1941.

Tio juga mengungkapkan kesedihannya di caption yang ia tulis.

“Selamat Jalan Bapakku, Guruku, Sahabatku..
kesayanganku…

Sedih.. sedih.. sedih,” tulisnya.

Kabar duka itu juga disampaikan oleh pemilik akun Instagram @arbe6666.

Ra Lilur (Cucu Syaikhona Kholil Bangkalal) Pamit Tidur Sebelum Wafat

Kabar meninggalnya Ra Kholilurrahman atau Ra Lilur cicit dari Waliyullah Syaikhona Mohammad Kholil bin Abd Latif Bangkalan, Madura, membuat masyarakat Indonesia berduka.

Ulama yang terkenal nyentrik itu menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 22.00 WIB, Selasa (10/4) malam. Kabar wafatnya Ra Lilur cukup menggemparkan pulau garam, sebab sebelumnya tidak ada kabar yang menjelaskan Ra Lilur sakit.

Ra Imam, Sapaan KH Imam Buchori yang merupakan kerabat Ra Lilur menuturkan, sebelum almarhum menghembuskan nafas terakhirnya, sempat meminta Agar lampu di dalam kamarnya dimatikan. Dia juga meminta agar ditinggalkan sendiri karena berdalih ingin tidur.

“Minta tidur, Man (Paman, red), menyuruh Bik Mus mematikan semua lampu dan ditutup di tempat ini. Karena terlalu lama (tidur, red) dan tidak bergerak, Bik Mus langsung nelpon Bir Aly, dan Bir Aly nelpon saya, ternyata sudah meninggal pukul sepuluh tadi, Man,” kata KH Imam kepada KH Zubair dengan bahasa Madura.

Kepergian Ra Lilur meninggalkan duka yang mendalam, terutama di kalangan masyarakat Madura yang memang mengagumi sosoknya.

“Kita kehilangan satu lagi seorang Ulama panutan di Madura,” ujar salah seorang yang ada di lokasi pemakaman

Ribuan warga berkumpul untuk mengantar janazah ulama Khos Madura itu ke tempat tempat peristirahatan terakhir di pemakaman Komplek Masjid Syaikhona Kholil, Martajasah, Bangkalan.

Janazah diberangkatkan dari rumah Ra Bir Aly Demangan, tampak berbaur beberapa tokoh seperti jajaran pengurus NU di kawasan Madura dan luar Madura, ribuan umat Islam, dan kerabat keluarga almarhum.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/

Imam Masjid Meninggal Dalam Keadaan Bersujud Saat Menjadi Imam Sholat Jum’at

Subhanallah, ini ada lagi Imam Masjid yang meniggal ketika sujud saat menjadi imam sholat Jum’at tadi siang (06/01/17). Menurut netizen yang dekat dengan lokasi, beliau adalah H. Jamhuri Alwi yang Rumahnya berada di di Km.1 Loa Janan Ilir gg.17 Samarinda.

Dikatakan beliau meninggal saat menjadi Imam Sholat Jum’atdi masjid Baitut Taharah Loa Janan. Beliau meninggal saat sujud pertama saat menjadi Imam Jumat tadi siang (06/01/17) kata netizen Bang Ipan Kah di group Busan Samarinda.

Banyak netizen yang mendoakan H. Jamhuri Alwi atas kejadian tersebut. Bahkan foto-fotonya sudah di share lebih dari 600 orang.

Sebelumnya diberitakan “H. Miftah Arifin warga Kauman Lawang yang biasa memandikan jenazah warga lain, semalam (selasa 3-1-17) wafat di saat sujud terakhir pada sholat bakdia Isya.

Video wafatnya beliaupun kemudian viral di media social terutama youtube dan facebook. Berikut adalah video H. Miftah Arifin yang meninggal ketika sujud:

15 Menit Dipijat, Seorang Kakek Meninggal Dunia di Kamar Panti Pijat, Diduga Ini Penyebabnya

Malang sekali nasib yang dialami Roni HS (62) warga Jambi Selatan.

Tubuhnya ditemukan meninggal dunia usai dipijat di sebuah panti pijat tradisional, di wilayah Banguntapan, Bantul, Selasa (20/03/2018) sekira pukul 13.30 WIB.

Saksi yang juga seorang pemijat, Ita Kamsiah, mengatakan, kejadian bermula ketika sekira pukul 13.00 WIB korban datang ke panti pijat dan meminta untuk dipijat karena mengaku kecapean.

“(korban) Datang, bilang mau pijat. Saya pijat di tangan dan kaki. Setelah saya pijat lima belas menit, korban meminta berhenti, ‘udah mbak’ ” ujar Ita Kamsiah menirukan perkataan korban, Selasa (20/03/2018)

Usai melakukan pemijatan, Ita kemudian mengaku keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan alat-alat pijat.

Tak berselang lama, Ita kemudian kembali ke kamar korban dan mendapati korban dalam kondisi mengerang.

“Saya balik ke kamar. Korban menggerung ‘Errggrh Errgrh’ dan kemudian terdiam, meninggal dunia,” ujar Ita.

Petugas kepolisian yang mendapat informasi kemudian mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

Usai melakukan olah tempat kejadian, Kapolsek Banguntapan, Polres Bantul, Polda DIY, Kompol Suhadi, mengatakan untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya korban, pihaknya masih menunggu hasil resmi dari pemeriksaan medis yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit.

Namun, untuk dugaan sementara, korban meninggal dunia akibat serangan jantung.

“Kami belum bisa menyimpulkan ya, sebab pastinya nanti setelah ada hasil pemeriksaan medis. Sementara ini, dugaannya jantung,” kata Kompol Suhadi.

Hasil pemeriksaan di lokasi kejadian, pihaknya mengaku tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan dan penganiayaan pada tubuh korban.

“Kita nanti akan undang (saksi) dan akan mintai keterangan,” ungkapnya.

Saat ini, jenazah korban dilarikan ke Rumah sakit Bhayangkara Polda DIY untuk pemeriksaan lebih lanjut.(TRIBUNJOGJA.COM)