5 Cara Menghadapi Mertua yang Suka Bicara Nyelekit dan Bikin Sakit Hati

Ketika anda menikah Satu hal yang pasti akan kita hadapi adalah berinteraksi dengan ibu mertua. Hal tersebut sudah menjadi sebuah keharusan ya, kecuali suami kita sudah tidak punya siapa-siapa.

Ada kalanya, interaksi antara ibu mertua dengan menantu perempuannya ini mengalami friksi. tak jarang, hal tersebut bisa terbawa hingga perceraian suami istri. Na’udzubillah.

Percakapan in-timidasi seperti ini kadang juga kita jumpai antara ibu mertua dan menantu perempuannya. Percakapan yang intinya si ibu mertua tidak rela menantu perempuannya bahagia, lebih baik, atau dicintai 100 persen oleh anaknya. Padahal semisal si anak bercerai, justru ibu mertualah yang paling sering menanggung malu dan juga duka.

“Kalau di zaman kamu sih enak, zaman Ibu dulu …,” mulai membandingkan dirinya dengan menantu. Sang Ibu mertua serasa tidak ikhlas menantunya lahir di zaman yang sudah enak. Padahal, itu semua sudah takdir Allah, bukan?

“Si Fulan dulu kan mau diambil mantunya perdana menteri, tapi gimana wong dia sendiri udah punya calon,” entah apa motivasi bercerita seperti ini. Bisa jadi hanya sekadar ingin menunjukkan betapa larisnya si anak atau alasan lain. Tapi yang jelas sih enggak etis dan tidak mencerminkan ibu mertua yang bijak.

Ilustrasi di atas hanyalah fiktif belaka karena di dunia nyata yang kita jumpai bisa jauh lebih parah dan menyeramkan. Jika berada di posisi tersebut, apa yang bisa kita lakukan? Berikut tipsnya:

1. Sabar, Jangan Pernah Membalas
Ingat dalam salah satu ayat bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Ingat juga dalam ayat lain bahwa segala perbuatan baik atau buruk pasti akan mendapat balasannya.

Biasanya, orang yang suka berkata nyelekit atau menyakitkan membabi buta atau bicara nusuk merendahkan, setelahnya akan menyesal. Meskipun penyesalan setelah kejadian tidak akan berguna karena tidak mengubah apa-apa.

Nah, itu sebabnya jika disuruh memilih mana yang kita pilih: menyesal sesudah berkata kasar atau diam dulu jika dirasa masih emosi? Yang pertama jelas berbuntut tidak menyenangkan.

Hal tersebut berlaku saat berinteraksi dengan siapa saja, lebih-lebih ke mertua yang notabene sosok terpenting dalam kehidupan suami kita sebelum menikah.

Jadi biarkanlah ibu mertua bicara semaunya dan apa saja mumpung masih bisa. Kita tinggal duduk manis mendengarkan tanpa perlu ambil pusing atau memasukkannya hati. Serahkan semuanya pada Allah.

2. Jangan Terlalu Sering Berinteraksi, Apalagi Serumah Dalam Jangka Waktu Lama
Tips berikutnya ialah dengan tidak terlalu sering berinteraksi alias mandiri. Lebih-lebih, sudah menikah ya memang harus mandiri, bukan. Hormati dan berbaktilah sepenuh hati pada mertua, muliakanlah, tapi di sisi lain kita juga mesti mandiri dan punya kehidupan sendiri.

Jangan berekspektasi terlalu tinggi misal mengharap sikap ibu mertua sebijak di buku-buku parenting atau film keluarga, jangan, karena terlalu banyak berharap bisa bikin kecewa.

Jika sedari awal ibu mertua memang sudah hobi berkata pedas, ya sudah berarti itu memang sudah karakternya. Tidak usah bermimpi untuk bisa mengubah. Kitalah yang harus waras, dalam artian bersikap sopan dan baik serta hormat dengan tanpa meninggalkan sisi kemandirian kita.

3. Dorong Suami Kita Untuk Menyayangi Atau Memperhatikan Ibu Mertua Kita yang Notabene Ialah Ibunya
Ada kalanya sikap ibu mertua yang menusuk hati seperti itu karena luapan emosi dulu tidak diperlakukan seperti itu oleh suaminya yang notabene bapak mertua kita. Sehingga timbullah rasa cemburu tapi tidak mau mengaku.

Jika memang seperti itu lagi lagi kitalah yang harus sadar. Jangan berharap muluk dan hidup di negeri dongeng atau terlalu idealis semisal dengan memiliki opini, “Seharusnya, orang yang sudah tua itu bijak karena pengalamannya sudah banyak,”

STOP daripada kita gila sendiri

Kitalah yang mesti sadar bahwa biar gimana-gimana ibu mertua juga wanita. Mungkin ada masa lalu yang belum tuntas yang terbawa hingga sekarang sehingga ketika melihat kita begitu disayangi suami yang notabene adalah anaknya, sang ibu mertua merasa cemburu dan ingin juga diperlakukan seperti itu.

That’s why, dorong suami kita untuk perhatian atau lebih perhatian pada ibu mertua kita yang notabene adalah ibu kandungnya.

4. Sadari Bahwa Ibu Mertua Kita Tidak Bahagia
Karena orang yang benar-benar bahagia dan damai hatinya (apapun kondisinya) tidak akan menyakiti orang lain dengan alasan apapun.

Itu sebabnya, saat ibu mertua bicara nyelekit dan menusuk sementara kita merasa tidak berbuat aneh-aneh (enggak selingkuh, enggak neko-neko, enggak korupsi) maka doakan saja agar ibu mertua bisa bahagia dan damai jiwanya sehingga tidak lagi berbuat seperti itu.

5. Jadikan Semuanya Sebagai Pelajaran Berharga
Semua mertua pernah jadi menantu sementara menantu belum pernah jadi mertua. Jika kita sudah tahu rasanya diperlakukan tidak menyenangkan itu menyakitkan, maka saat kelak jadi mertua kita tidak akan berbuat hal yang sama.

Bagaimana? Apakah anda mendapat manfaat dari tips diatas, Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa menjaga kesucian hati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Semoga tips diatas bisa bermanfaat.

Sumber: bagikandakwah

Ini Hukumnya Jika Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga. Wajib Tahu Karena Semua Pasti Akan Jadi Mertua…

Salah satu permasalahan yang kerap terjadi terhadap pasangan suami istri pada kehidupan setelah menikah adalah keterlibatan mertua dalam rumah tangga mereka.

Hal ini memang sulit dihindari. Sekalipun memutuskan ngontrak atau membeli rumah sendiri, tapi itu tak menjadi jaminan. Mertua tetap bisa mengawasi. Bahkan berusaha selalu terlibat dalam setiap masalah yang terjadi.

Nah, kira-kira bagaimana islam memandang hal tersebut? Sebenarnya bolehkah mertua ikut campur dalam rumah tangga ataukah tidak diperbolehkan? Berikut ulasannya.

Sebelum memutuskan boleh atau tidaknya, hendaknya kita mengkaji dulu tentang masalahnya. Mengapa mertua tersebut ikut campur? Apakah untuk kebaikan atau malah berunsur kebencian?

Terkadang keterlibatan mertua dalam rumah tangga bisa diartikan menjadi nasehat, bisapula sebagai rasa iri. Ini bergantung pada presepsi masing-masing.

Apabila mertua ikut campur dalam hal kebaikan, misalnya:

  1. Menasehati menantunya tentang ilmu agama
  2. Mengajari cara memasak atau mengurus anak
  3. Menjelasakan tentang kewajiban suami terhadap istri dalam Islam tanpa menggurui
  4. Menjelaskan peran wanita dalam Islam, fungsi ibu rumah tangga dalam
  5. Islam dan kewajiban wanita setelah menikah.
  6. Sekedar memberikan saran atas masalah yang terjadi, tapi tidak memaksa
  7. Serta menjadi tempat keluh kesah
  8. Maka tindakan-tindakan tersebut diperbolehkan. Sebab pasangan yang baru menikah juga belum terlalu mengerti tentang kehidupan rumah tangga, jadi mereka butuh bimbingan untuk menghindari perceraian.

Sebaliknya, jika mertua ikut campur secara berlebihan. Misalnya saja setiap hari datang ker rumah anaknya, merasa berkuasa atas anaknya, merendahkan dan menganggap menantunya tidak becus, atau bahkan selalu terlibat dalam setiap masalah maka itu hukumnya tidak diperbolehkan.

Di dalam ajaran islam, pasangan yang telah menikah lebih dianjurkan untuk tinggal di rumah sendiri guna menghindari konflik dengan mertua. Tidak apa-apa walau hanya ngontrak rumah kecil, yang terpenting istri tidak tertekan.

Dengan ngontrak rumah maka pasangan bisa belajar hidup mandiri, berjuang dari awal secara bersama-sama dan menciptakan kehidupan yang islami. Tapi demikian anak tetap wajib berbakti pada orang tua.

Jadi walau telah menikah tidak boleh melupakan orang tua. kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah dan kewajiban anak perempuan terhadap orang tua setelah menikah adalah tetap harus sering mengunjungi dan memperhatikan kedua orang tuanya ataupun mertua.

Batasan Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

Beberapa pendapat mengatakan bahwa tidak mengapa mertua ikut campur dalam rumah tangga asalkan itu dalam hal kebaikan. Apabila mertua memang punya niat baik, pasti beliau tidak akan memihak. Entah itu anaknya atau menantu, mana yang benar pasti dibela. Mertua harus bersikap adil.

Begitupun dengan menantu, hendaknya menyayangi mertua sebagaimana kasih sayangnya terhadap orang tua. Menyenangkan hati mertua sama halnya dengan membahagiakan suami. Dan dalam islam, istri yang dapat membuat suami bahagia maka akan diberikan pahala berlipat ganda. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah wanita yang paling baik? Jawab beliau, ‘Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai)

Cara Menyikapi Mertua yang Selalu Ikut Campur
Sebenanarnya perilaku mertua ikut campur dalam rumah tangga bukanlah hal baru. Ini sudah sering terjadi dan bisa dikatakan cukup wajar. Lalu bagaimana sikap kita sebagai menantu untuk menghadapinya? Berikut ini ulasannya!

1. Jangan Dibalas dengan Kejahatan
Apabila mertua melakukan hal-hal yang membuat hati kita jadi sakit, misalnya selalu mengeluh terhadap perbuatan kita, memerintahkan ini itu tiada henti, banyak menuntut dan sejenisnya. Maka jangan dibalas dengan kejahatan juga.

Islam memerintahkan agar kejahatan dibalas dengan kebaikan. Mintalah petunjuk kepada Allah ta’ala. Perbanyak berdoa dan Anda bisa mendiskusikan baik-baik dengan suami. Namun bila sudah tidak tahan, Anda boleh bercerita kepada orang tua.

2. Tinggal Terpisah
Tinggal di rumah terpisah adalah cara terbaik untuk menghindari konflik dengan mertua. Setidaknya jika Anda berumah tangga sendiri, kemungkinan mertua ikut campur lebih minim. Selain itu, Anda juga lebih bebas mengatur kehidupan Anda sendiri tanpa ada rasa sungkan.

Sekali lagi, tindakan ini bukan berarti memisahkan suami dari orang tuanya. Toh, Anda juga sudah berani meninggalkan rumah. Kalian bisa mencari kontrakan atau kos-kosan yang letaknya berdekatan dengan orang tua. Jadi bisa sering-sering berkunjung.

3. Berusaha Memahami Keinginan Mertua
Daripada terus mengeluh atas tindakan mertua, mengapa Anda tidak mencoba memahami keinginannya? Cobalah memposisikan diri Anda sebagai anaknya. Bayangkan beliau adalah orang tua Anda. Dengan begitu akan terjalin ikatan yang kuat dari hati ke hati.

Apabila beliau melakukan sedikit kesalahan, misal ucapannya menyakiti hati Anda maka maklumi saja. Cari tahu apa yang diinginkan beliau. Coba dekati secara perlahan, curi perhatiannya dan berusahalah menjadi pribadi yang ramah.

4. Berbicara Dengan Suami
Apabila Anda masih bingung apa yang diinginkan mertua atau mungkin Anda merasa tidak nyaman, maka cobalah berdiskusi dengan suami.

Ceritakan tentang apa yang terjadi, perasaan Anda, dan apa yang Anda mau. Cobalah membuat keputusan yang adil dan tidak mendzolimi salah satu pihak.

Sebagai suami, tentunya punya tanggung jawab yang besar atas kebahagiaan istri. Suami harus bisa melindungi istrinya sekaligus berbakti pada orang tua. Suami juga tidak boleh memihak. Mana yang benar itulah yang harus dibela.

5. Mengajak Mertua Sama-Sama Belajar Agama
Tak ada salahnya sesekali mengajak mertua untuk ikut kajian agama. Anda bisa berbicara dengan sopan dan santun. Bilang saja Anda ingin jalan-jalan bareng selagi ada waktu senggang.

Aktivitas ini bisa mendekatkan hubungan Anda dengan mertua. Selain itu, dengan belajar ilmu agama maka mertua juga akan lebih mengerti tentang bersikap sesuai syariat islam. InsyaAllah berkah sebab tujuan Anda juga baik.

6. Berbicara dengan Orang Tua
Apabila masalah sudah terlalu runyam, dan Anda tidak mampu menyelesaikannya sendiri. Sementara suami juga berpihak pada mertua. Maka tak ada jalan lain kecuali Anda meminta bantuan kepada orang tua.

Saat menjelaskan masalahnya kepada orang tua jangan sambil marah-marah, karena itu bisa menyulut emosi mereka. Ujung-ujungnya malah bertengkar. Jadi lebih baik ceritakan dengan baik-baik, gunakan bahasa yang sopan. Sebisa mungkin cobalah menyelesaikan masalah dengan cara yang damai.

Oiya, Anda juga perlu tahu bahwa menikah itu perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada pernikahan yang cuma senang-senang aja. Pastilah ada masalah.

Namun bila kedua pasangan bisa tetap berkomitmen, memegang teguh agama dan bersikap saling percaya maka insyaAllah segala permasalahan bisa dilalui dengan baik.

Jangan takut menikah sebab menikah itu ibadah. Selain itu, setiap manusia memang sudah diciptakan berpasangan. Menikah bisa membuat hati lebih tenang dan menghindarkan dari perbuatan zina. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.” (QS. an-Nuur: 32).

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ …
“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik …” (Qs. an-Nahl: 72).

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pernah Terlibat Dalam Masalah Rumah Tangga Anaknya
Adanya batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya, bukan berarti mereka tidak boleh ikut campur sama sekali. Kita bisa melihat dari kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pernah terlibat dalam pertikaian anaknya, Siti Aisyah radiyaallahu anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Diceritakan bahwa suatu hari Aisyah radiyaallahu anha bertikai dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sebab tertentu. Nabi pun mengusulkan untuk memanggil Abu Bakar sebagai penengah atas konflik yang terjadi. Dan Aisyah menyetujuinya.

Saat Abu Bakar tiba, ia mengetahui bahwa Aisyah telah berbicara dengan nada keras kepada Rasulullah SAW. Hal itu membuat Abu Bakar murka dan hendak menampar muka Aisyah.

Hal itu membuat Aisyah merasa ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi pun memaafkan Aisyah. Beliau malah tersenyum dan berbicara baik-baik dengan Abu Bakar agar memaklumi Aisyah.

Selang beberapa hari, Abu Bakar datang kembali ke rumah Aisyah. Beliau merasa khawatir atas pertikaian yang telah terjadi, namun tampaknya Aisyah dan Nabi telah berbaikan bahkan bercanda bersama. Hal itu lantas membuat Abu Bakar menjadi senang.

Sumber: dalamislam.com

Tips Bila Mertua ‘Rese’ Karena Terlalu Ikut Campur Urusan Rumah Tangga

Punya orangtua kedua ‘mertua’ memang gampang-gampang susah. Selain perbedaan karakter, sikap, prinsip, budaya dan jenjang usia, membangun hubungan yang harmonis antara mertua dengan menantu memang bukan perkara sepele.

Butuh dari sekedar basa-basi dan pemberian fasilitas untuk menciptakan hubungan yang baik antar keduanya.

Anda yang mungkin sekarang ini sedang berpolemik dengan mertua juga mungkin paham betul bagaimana kondisi sebenarnya.

Bagi si mertua, ada hal-hal krusial mengenai pernikahan anaknya yang harus diberi tahu dan dicampuri agar rumah tangga si anak kesayangan dirasa sejalan dan lancar dengan apa yang diinginkannya.

Di sisi lain, bagi si menantu, ada batasan dimana orangtua kedua ini dianggap terlalu mengambil bagian padahal tidak diminta pendapat atau pertolongan.

Ujung-ujungnya, terjadi ‘perang dingin’ antar keduanya yang bahkan sampai pada sikap tidak ingin bertemu jika tidak terpaksa. Atau cukup bertemu saat lebaran atau natalan atau perayaan keluarga besar saja.

Ini yang dianggap keliru oleh psikolog Ayoe Sutomo ketika ditanya perihal mertua yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga Anda dan pasangan.

“Sebenarnya masalah ini normatif terjadi pada setiap pasangan. Ada pasangan yang masih santai dan ‘nerima’ saja orangtua ikut campur soal urusan pengasuhan anak, ada yang juga tidak.

Pada prinsipnya, sebagai anak menantu kita diwajibkan jangan cepat ‘baper-an’. Anggap saja omongan mertua sebagai masukan positif. Toh, sekedar di’iya’kan tidak masalah demi menghormati mertua yang juga jadi orangtua kita,” terang Ayoe.

Tentang sejauh mana keterlibatan orangtua atau mertua dalam urusan rumah tangga anaknya. Ayoe mengungkapkan jika itu sah-sah saja dilakukan asal dalam koridor menyampaikan yang baik dan tidak bersifat memaksa.

Si menantu menurut Ayoe, harus dapat berpikir positif dan penuh kasih sayang. Tujuannya agar gesekan tidak mudah terjadi. Menantu juga disarankan tidak terlalu sensitif dan cepat ‘ngambek’ apalabila orangtua memberi masukan.

“Kadangkala cara bicara orangtua tidak selalu seperti yang kita harapkan. Bisa saja memang sudah karakter atau kondisi kesehatan yang membuat saat mertua bicara jadi terkesan marah atau membentak. Sebaliknya, mertua juga hanya memberi saran atau pendapat jika diminta. Perlu digarisbawahi, Anda tetap harus menghormati masukan dari mertua, lo!,” ujar Ayoe.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika mertua terlalu ikut campur urusan rumah tangga Anda?

Komunikasi via Suami
Anda harus bisa berkata jujur pada pasangan hal apa saja yang membuat Anda tidak nyaman dengan perlakuan atau sikap mertua.

Jangan sampaikan langsung pada mertua, tapi jadikan suami sebagai jembatan komunikasi untuk menyaring perkataan yang menyinggung dan lain sebagainya. Ini penting demi mencegah konflik yang lebih besar.

Posisikan Diri Anda Sebagai Sahabat dan Anak
Pernikahan membuat Anda pun harus bisa beradaptasi dengan mertua yang juga merupakan orangtua Anda. Jangan keburu malas, bête atau menghindar. Pahami aturan kebiasaan mertua.

Anda harus peka dan menyesuaikan diri dengan orangtua. Ada yang suka diajak ngobrol, ada yang suka dipuji, ada yang suka ditemani masak, ada yang suka diajak belanja atau sekedar jalan-jalan, ada yang suka perhatian lebih dan lainnya.

Punya alasan kuat kenapa Anda melakukan hal yang ‘berseberangan’ dengan prinsip orangtua
Bila kaitannya soal anak, Anda harus memiliki alasan kuat yang positif kenapa memilih sikap atau keputusan tersebut. Contohnya soal pengasuhan anak, cara merawat anak, cara mengatur rumah tangga.

Sampaikan dan buktikkan dengan hasil yang baik dan benar agar lambat laun mertua dapat mempercayai pilihan sikap Anda.

Sumber: nova.grid.id

Perempuan Yang Hidup Satu Atap Dengan Mertua Miliki Peluang Terkena Penyakit Ini Tiga Kali Lebih Besar…

Bagi masyarakat Indonesia, tinggal bersama mertua setelah menikah merupakan hal yang lumrah, apalagi jika pasangan tersebut belum memiliki tempat tinggal sendiri, Ada yang bisa hidup baik-baik saja dengan orang tua dan mertua mereka dalam satu atap, namun ada juga yang kemudian menjadi rentan stress.

“Memang tidak semua perempuan bermasalah ketika tinggal bersama mertua, namun tak sedikit yang kemudian menjadi rentan mengalami permasalahan ini.”

Dan ternyata menurut penelitian, hidup bersama ibu mertua dapat berdampak buruk bagi kesehatan wanita. Para ilmuwan mengatakan wanita yang tinggal satu rumah dengan keluarga suami, tiga kali lebih rentan mengembangkan penyakit jantung serius.

Stress yang diakibatkan karena harus berperan sebagai anak, istri, dan sekaligus ibu dapat menyebabkan tekanan darah tinggi bahkan diabetes, yang kemudian berisiko pula pada kerusakan jantung. Dalam penelitian yang dikutip Daily Mail ini, para peneliti melihat efek dari pengaturan hidup sehari-hari pada 91.000 pria dan wanita paruh baya, selama lebih dari 14 tahun.

671 orang di antara mereka yang disurvei di Jepang tersebut, didagnosis dengan penyakit arteri koroner. Sementara 339 orang meninggal karena penyakit jantung, dan 6.255 meninggal karena penyebab lainnya.

Wanita yang tinggal bersama orangtua atau orangtua dari pasangannya, sekaligus dengan anak-anaknya, berisiko 3 kali lebih mungkin didiagnosis dengan penyakit jantung, dibandingkan wanita yang hanya hidup dengan pasangannya.

Meski demikian, hidup bersama keluarga besar bisa memiliki banyak manfaat juga. Tinggal bersama kerabat dekat, terutama orangtua, dapat mencegah perempuan mengonsumsi alkohol, merokok, dan berbagai penyebab risiko penyakit jantung lainnya, menurut ahli kesehatan Profesor Horoyasu Iso.

Tapi stres dari beberapa peran dalam keluarga ketika tinnggal bersama mertua adalah yang paling mungkin meningkatkan kerentanan kesehatan perempuan, katanya.

6 Cara Mengatasi Konflik Dengan Ibu Mertua…

Tidak hanya dengan ibu mertua. Terkadang, dengan ibu sendiri saja kita pasti sering menemukan konflik dan perbedaan pendapat. Jika terlibat dalam suatu konflik dengan ibu sendiri, biasanya hanya dengan diskusi dan permintaan maaf semuanya bisa lebih cepat selesai karena pada dasarnya setiap ibu pasti selalu memaafkan anaknya. Namun, dengan ibu mertua, pasti berbeda cerita lagi.

Untuk berjaga-jaga saat kamu terjebak dalam konflik atau perbedaan dengan sang ibu mertua, yuk simak tips mengatasinya berikut ini.

1. Bicarakan Dengan Pasangan
Saat kamu merasa sedang berada di dalam sebuah konflik dengan sang ibu mertua, tak ada salahnya untuk terlebih dahulu untuk membahasnya dengan pasangan.

Jelaskan duduk permasalahannya dan mintalah pendapat pasanganmu cara terbaik untuk menyelesaikannya. Pastilah pasanganmu memiliki pandangannya sendiri. Dengan begitu, kamu akan merasa lebih nyaman dan lega tanpa merasa terpojok.

Jika memang kamu yang berbuat salah, jangan sungkan juga untuk mengaku dan meminta maaf kepada pasanganmu untuk menghindari salah paham.

2. Jangan Menghindar
Setelah konflik, kamu mungkin membutuhkan beberapa saat untuk mengembalikan suasan menjadi hangat kembali. Namun, di saat-saat rentan tersebut, hindari untuk menghindar dan menunjukan ketidaknyamananmu. Belajarlah untuk bersikap biasa saja dan tetap mencoba dekat dengan sang ibu.

3. Minta Maaf Secara Pribadi
Tidak hanya meminta maaf kepada pasangan, namun akan lebih baik jika kamu langsung minta maaf secara pribadi kepada sang mama mertua untuk memastikan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.

4. Bicarakan Berdua Hingga Tuntas
Kalau memang permasalahan tersebut sedikit rumit, jangan ragu untuk membicarakannya berdua. Jangan tunggu hingga pasanganmu berada di sana. Akan lebih baik jika diselesaikan berdua saja agar salah satu tidak ada yang merasa terpojok.

5. Berikan Perhatian Lebih Setelahnya
Setelah semuanya sudah clear dan kembali seperti semula, usahakan untuk lebih mendekatkan diri kepada sang ibu mertua agar komunikasi lebih lancar dan mengurangi kesalahpahaman.

Semakin kompak dan semakin dekat hubungan dengan ibu mertua, pasti semakin kecil pula peluang untuk berkonflik. Jangan ragu juga untuk meningkatkan perhatian kepada sang mertua untuk menunjukan sikap bahwa kamu bersungguh-sungguh untuk memperbaiki hubungan.

6. Quality Time Berdua
Biar hubungan lebih dekat dengan sang mertua, tak ada salahnya untuk quality time berdua dengan sang ibu mertua, mulai dari mengajak shopping atau makan siang berdua untuk lebih mendekatkan diri dan mengenal satu sama lain.

Pada dasarnya, setiap menantu pasti pernah mengalami konflik dengan mertuanya. Tak perlu khawatir, yang terpenting kamu menyelesaikannya dengan tuntas.

Sumber: thebridedept.com