Pria Belanda Ini Jadi Mualaf Usai Ikuti Perjalanan Islam Nusantara di Eropa

Perjalanan Islam Nusantara bersama grup musik Ki Ageng Ganjur pimpinan Al-Zastrouw Ngatawi ke sejumlah negara di Eropa pada 26 Maret-6 April 2018 tidak hanya memberi kesan untuk warga Eropa, tetapi juga menghadirkan citra Islam yang ramah, sejuk, dan inklusif (terbuka).

Ki Ageng Ganjur yang mendakwahkan Islam Nusantara melalui musik dan shalawat ini dinilai sejumlah pihak di Eropa bahwa Islam tidak hanya persoalan hukum, tetapi juga budaya, seni, dan estetika.

Kesan mendalam Islam Nusantara ini ditangkap seorang pria warga Belanda keturunan Bulgaria, Ivan Petrov Krumov. Ia mendatangi Ketua PCINU Belanda, Ibnu Fikri untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Dihubungi NU Online, pendiri grup musik Ki Ageng Ganjur Al-Zastrouw Ngatawi yang memimpin rombongan ke Eropa menuturkan, 31 Maret 2018 dia menyaksikan pagelaran Ki Ageng Ganjur di Universitas Amsterdam, Belanda.

“Setelah mendengar alunan shalawat dan melihat penampilan Ki Ageng Ganjur, dia menyatakan ketertarikannya pada Islam dan setelah beberapa hari berpikir, akhirnya dia menyatakan diri masuk Islam dengan mendatangi PCINU Belanda,” jelas Zastrouw, Selasa (10/4).

Dia menuturkan, Islam mempunyai prinsip rahmatan lil ‘alamin. Jika Islam disampaikan dengan cara-cara yang baik dan simpatik, maka akan lebih banyak yang tertarik pada Islam dengan sendirinya.

“Jika Islam disampaikan dengan cara yang simpatik dan beradab, saya rasa akan lebih banyak yang tertarik. Meskipun hidayah tetap menjadi hak prerogratif Allah,” ujar Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta ini.

Ibnu Fikri langsung menuntun proses ikrar dua kalimat syahadat Ivan Petrov Krumov. Setelah resmi jadi mualaf, Petrov bersama Gus Fikri memperlihatkan surat resmi yang menyatakan Petrov telah menjadi seorang Muslim.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/

MasyaAllah! Bertambah Lagi Saudara Muslim di Sumenep, Pemuda Ini Dibimbing Masuk Islam oleh Ulama Setempat

Setiap Selasa, di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep Jawa Timur ada kajian kitab Nashaihul Ibad. Kegiatan ini berlangsung secara rutin dan diampu oleh KH Taifur Aliwafa.

Sama seperti kegiatan sebelumnya, pada Selasa (10/4), kajian juga seperti biasa digelar. Sejumlah jamaah rutin dengan tertib mengisi barisan sembari menyimak dengan seksama penjelasan yang disampaikan Mustasyar PCNU Sumenep tersebut.

Namun suasana menjadi berbeda lantaran usai kegiatan pengajian, jamaah menyaksikan secara langsung proses pembacaan syahadat seorang muallaf bernama Krisno.

Dalam penjelasan Kiai Fathorrahman yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, Krisno adalah pemuda berusia 28 tahun dan berasal dari Jember. “Alhamdulillah, Allah membukakan hidayah baginya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang dibimbing langsung KH Taifur Aliwafa,” terangnya.

Menurut Kiai Fathorrahman yang merupakan salah seorang pengurus NU di Sumenep, bahwa Krisno dalam keseharian bekerja di salah satu toko elektronik. “Meskipun bukan Muslim, namun dia memiliki kedekatan dengan salah seorang ustadz di daerah asalnya di Jember,” jelasnya.

Dikarenakan kedekatan dan merasa bahwa ajaran dan tuntunan agama Islam dirasa cocok dan sesuai nalurinya, maka saat pengajian rutin tersebut, dirinya berikrar menjadi Muslim.

“Setelah mengucapkan syahadat tersebut, dirinya ingin menetap di Sumenep,” tandas Kiai Fathorrahman.

Seperti pengakuan Krisno kepada Kiai Taifur Aliwafa, bahwa keputusan menjadi Muslim diperoleh dengan kesadaran pribadi. “Kesadaran saya tanpa dipaksa oleh siapapun,” ungkap Krisno.

Meskipun telah menyatakan diri sebagai penganut agama Islam, dirinya tetap menjadi hubungan baik dengan keluarga. “Keinginan menjadi Muslim tidak dilatarbelakangi oleh paksaan. Karenanya, hubungan dengan keluarga tetap terjalin baik,” tandasnya.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/

Rapper Loon Masuk Islam, Ketika Albumnya Laku 7 Juta Copy

Di Amerika Serikat, nama Bad Boy Records amatlah kesohor sebagai label rekaman yang mengusung aliran musik rap.

Salah satu penyanyi yang pernah bernaung di bawah payung label ini adalah Loon. Loon sendiri merupakan nama panggung yang digunakan oleh penyanyi yang memiliki nama asli Chauncey Lamont Hawkins ini.

Bersama dengan pemilik Bad Boy Records yang juga rapper Amerika, Sean John “Diddy” Combs, dan penyanyi Usher, Loon berkolaborasi membawakan single berjudul I Need a Girldi tahun 2002. Dan, dalam waktu singkat single yang menjadi lagu pertama dalam album bertajuk We Invited The Remix itu langsung menduduki posisi keempat tangga lagu Billboard Hot 100.

Sejak saat itu karir Loon sebagai seorang musisi rap mulai berkibar. Ketenaran dan pundi-pundi uang pun ia raih dengan mudah. Namun, ungkap Loon, dirinya tidak pernah merasakan kepuasaan pribadi meskipun menikmati puncak kehidupan materi, kesejahteraan, sukses dan ketenaran. Seberapa keras ia berupaya, ia mengaku tak merasakan kedamaian di dalam dirinya.

Hal ini pula yang pada akhirnya mendorong rapper kelahiran Harlem, New York, 20 Juni 1975 ini untuk menemukan kebahagiaan dalam Islam. Mengutip laman voa-Islam, Loon memutuskan untuk masuk Islam setelah kumpulan lagu terakhirnya terjual 7 juta copy. Sepanjang karir bermusiknya Loon telah merilis tiga album, masing-masing bertajuk Loon (dirilis Oktober 2003), No Friends (Agustus 2006), dan Wizard of Harlem (Oktober 2006).

Selain itu ia juga telah merilis tiga belas single yang merupakan hasil kolaborasi dengan sejumlah penyanyi di negeri Paman Sam. Di antara singlenya tersebut adalah: I Need A Girlyang dinyanyikannya bersama Sean John “Diddy” Combs dan Usher; Hit The Freeway yang dinyanyikan bersama dengan Toni Braxton; dan Show Me Your Soul yang dibawakannya bersama dengan Sean “Diddy” Combs, Lenny Kravitz dan Pharrell.

Setelah memeluk Islam, ia pun merubah namanya menjadi Amir Junaid Muhadith. ”Loon bekerja di luar sistem diri saya,” ujarnya mengenang sosoknya saat menyandang nama Loon ketika bergabung dengan Bad Boy Records. ”Kini saya bahagia menerima Islam dan menemukan kedamaian dalam hati, sesuatu yang selalui saya cari dalam bisnis musik. Terima kasih kepada Islam, sehingga saya mampu melengkapi pencarian dan kini saya sangat merasa damai. Bad Boys sudah usai. Saya kini dapat anda panggil “good boy”,” paparnya dalam suatu kesempatan wawancara dengan stasiun TV Al Jazeera.

Amir menemukan cahaya Islam dua tahun lalu, tepatnya pada Desember 2008 silam ketika melakukan tur di Dubai, Uni Emirat Arab. Selama berada di Dubai, ia dibuat terkagum-kagum dengan budaya kaum Muslimin di sana. Ketika di Dubai, menurut Amir, dia mendengar lantunan adzan dan melihat orang-orang bergerak menuju masjid-masjid yang terdekat untuk menunaikan shalat. ”Mereka terlihat berakhlak mulia dan berinteraksi dengan baik dengan siapa saja,” ujarnya.

Saat itu, sambung Amir, timbul pertanyaan dalam benaknya tentang hakikat agama mereka (Islam). Apakah Islam itu hanya khusus diperuntukkan untuk bangsa Arab, atau untuk semua manusia? Sampai akhirnya ia mendapat jawaban yang konprehensif bahwa Islam itu adalah agama untuk semua manusia, tanpa membedakan keturunan, suku dan bangsa.

Setelah berfikir mendalam, Loon pun memutuskaan untuk menerima Islam sebagai keyakinan barunya. Sejak saat itu ia berubah total. ”Saya tinggalkan dunia musik secara total. Saya keluar total dari komunitas di mana saya habiskan hidup saya sebelumnya selama 17 tahun. Sekarang saya merasakan ketenangan batin yang sejak lama saya rindukan. Saya merasa bertambah tenang lagi setelah isteri dan anak saya juga masuk Islam,” paparnya.

Mengajak orang masuk Islam

Sebelum memeluk Islam, Loon adalah seorang penganut Kristen. Kisah hidupnya dimulai dari tumbuh besar di lingkungan terisolir (ghetto) khusus kulit hitam di Harlem, New York. Ia kemudian menjadi anggota geng jalanan hingga membentuk grup musik bergenre rap dan hip hop, dan akhirnya menemukan cahaya Islam.

Kabar bahwa ia masuk Islam pun mendapat slot khusus dalam tayangan Al Jazeera, satu-satunya stasiun jaringan berita independen di Timur Tengah. Dalam pernyataan publiknya, Loon mengatakan kedamaian dari dalam hanya bisa diperoleh dengan menyerahkan diri kepada satu tuhan. ”Hidup untuk sesudah mati, bukan untuk kehidupan saat ini, adalah kepuasan dalam meyakini, memuja dan memohon kepada Allah,” ujarnya. “Itulah mengapa saya mempraktekkan agama Islam yang indah.”

Ketika akhirnya memeluk Islam, sempat muncul pertanyaan apakah Loon masih akan mengejar karir sebagai penyanyi rap? ”Saat ini saya fokus mempelajari Islam dan memperluas pengetahuan tentang cara hidup Islam,” ujarnya. “Berada di posisi yang mempengaruhi, saya pertama-tama harus mampu melindungi diri sendiri,” ujarnya.

Setelah menjadi mualaf, semangat Loon untuk belajar dan mengenal Islam lebih mendalam semakin bertambah, karena dalam dirinya tertanam niat dan tekad untuk mengajak orang lain kembali kepada Islam. Untuk merealisasikan tekadnya ini, Loon kemudian memilih untuk bergabung dengan lembaga dakwah Islam Kanada, bidang penyebaran Islam. ”Saya memiliki program khusus terkait masalah tersebut, yakni mengajak para penyanyi dan seniman top dunia untuk mengenal Islam dan prinsip-prinsipnya.”

Sumber : islamedia

Kisah Syahadatnya Pendeta Tionghoa Ternama dan Pembenci Islam

Tak pernah menyangka sebelumnya, pemilik nama lengkap Hanny Kristianto ini adalah sosok yang sangat membenci Islam sebelum akhirnya memutuskan berikrar syahadat di Mojokerto pada 28 Februari 2013.

Butuh waktu sekitar tiga tahun untuk pria berdarah Tionghoa ini melakukan pencarian mengenai Islam. Meski demikian, kegetirannya terhadap Islam sudah berlangsung cukup lama. Proses pencarian Hanny tentang Islam bermula saat ia bekerja di Kalimantan sekitar tahun 2000.

Ada satu kalimat yang begitu mengusiknya. Yakni, kalimat “jangan mati sebelum masuk Islam”, makna dari surah Ali Imran ayat ke-102.

Menurutnya, kalimat tersebut sangat tidak enak didengar. Karena, ia meyakini agama yang paling benar dan paling baik di antara semua agama hanyalah agama yang ia anut dahulu, yakni Kristen Kharismatik, aliran agama Kristen yang bercirikan dan menonjolkan karunia rohani atau gerakan roh.

Hanny mengaku, memeluk Islam murni karena proses belajar yang ia lakukan sendiri. Dengan membaca terjemahan Alquran, bertanya kepada teman Muslim dan ulama.

Namun, ia begitu yakin untuk memeluk Islam setelah membaca terjemahan Alquran dan menemukan bahwa hanya agama Islam yang Tuhannya tidak dapat dilihat dan digambarkan, demikian juga Nabinya.

“Karena, saya tidak gampang percaya dengan omongan orang,” ujarnya.

Dalam proses pembelajaran tentang Islam, ia berusaha mencari kesalahan dan kelemahan Islam. Namun, rentetan kebencian dan persepsi negatifnya terhadap Islam selama ini malah terbantahkan dengan sendirinya selama proses “petualangan spiritualnya” itu.

Salah satu citra buruk Islam yang dilekatkan oleh sebagian orang adalah kisah Nabi Muhammad yang berpoligami dan suka berperang. “Ternyata, malah saya menemukan saya yang salah dan manusia lemah,” ujar Hanny.

Ia justru menemukan bahwa Muhammad adalah manusia yang terbaik dalam lisan, akhlak, dan sikapnya. Sangat berbeda dari persepsi awalnya mengenai Sang Nabi pamungkas tersebut.

Dalam proses petualangannya mengkaji dan mendalami Islam itu pula, pria yang kini berusia 40 tahun tersebut mendapatkan fakta yang mengetuk relung hatinya, yaitu hanya Islam yang umatnya mampu menghafal seluruh kitab suci dan tidak ada kesalahan dalam Alquran.

Selain itu pula, hanya Islam yang memiliki tata cara ibadah yang khusyuk, tidak membedakan status sosial, jabatan, dan ilmu. Semua sama di hadapan Allah dan wajib beribadah.

Di samping itu, hanya dalam Islam ibadah sudah ditentukan tepat waktu dan teratur. Cuma Islam yang kitab sucinya diturunkan langsung kepada Nabi. Satu per satu temuan itulah yang semakin menguatkan keyakinannya untuk segera memeluk Islam.

Ketenangan Setelah berikrar syahadat, Hanny merasa hidup yang ia jalani seperti tanpa beban, penuh ketenangan, kebahagiaan hati, jiwa, dan pikiran. Ia mengaku belajar banyak dari Islam.

Salah satunya, yakni tidak ada harapan dan cita-cita yang lebih baik bagi seorang manusia daripada mendapat ridha Allah SWT, dicintai, disayangi, dan mendapat naungan di hari tiada perlindungan selain naungan-Nya.

Kini, Hanny mengaku terus belajar tentang Islam dengan beberapa ulama. Seperti KH Zainuddin Husni di Pondok Pesantren Tarbiyatul Qulub, Uztaz Arifin Ilham, Ustaz Ali Hasan Bawazier, Ustaz Syarif Jafar Baraja, dan KH Said Amin di Samarinda.

Dalam proses pembelajaran ini, satu hal yang ia pahami, yakni tidak perlu memaksa orang lain untuk berhijrah, satu kalimat, yaitu tuntun dan bukan tuntut. Sentuhlah hati mereka dengan bagusnya akhlakmu karena hidayah milik Allah semata.

Pergi Haji

Setelah dua tahun menjadi Muslim, Hanny memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji. Pria kelahiran Yogyakarta ini awalnya tidak pernah menyangka bahwa ia dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk berhaji. “Beberapa bulan lalu dihajikan oleh Bapak Jenderal Syekh Osama bin Suhaibi,” katanya.

Dalam menjalankan ibadah haji, begitu banyak pengalaman spiritual yang ia rasakan. Ia sangat terkesan dan benar-benar merasakan kebenaran surah al-Hujurat ayat ke-13, “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah siapa yang paling takwa,” saat menjalankan prosesi haji.

Menurutnya, di Padang Arafah status sosial dan perbedaan hidup manusia akan hilang sehingga tidak dapat lagi membedakan siapa yang kaya, hartawan, rakyat biasa, raja, atau sebagainya. Semua sama dengan memakai pakaian selendang kain putih tanpa jahit.

Semua yang hadir di Tanah Suci menggambarkan perpaduan dan satu hati umat Islam. Dan, gambaran inilah yang semestinya diamalkan dalam kehidupan seharian umat Islam setelah berhaji.

Selain melihat Ka’bah secara langsung, ia juga memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Madinah dan Makkah pada saat melaksanakan ibadah haji tahun lalu.

Pendeta Ternama Ini Memeluk Islam Setelah ‘Mendalami’ Injil
Seorang Penginjil dan Pendeta Ternama Indonesia Hanny Kristianto memaparkan bahwa dirinya memluk Islam setelah mempelajari mendalam apa yang terkandung dalam Injil, salah satunya adalah Surat Markus 12:29-30.

“Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu 1 , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” bunyi surat Markus 12:29-30.

Bagi manusia yang berakal dan mau berfikir sudah sangat jelas bahwa Yesus sendiri mengatakan bahwa Tuhan itu Esa atau satu. Bahkan Yesus sendiri memproklamirkan bahwa dirinya bukanlah Tuhan.

Sejak itu Hanny mencari kebenaran yang sebenarnya tentang Tuhan, hingga akhirnya bertemu dengan Islam dan meyakini kebenaran Isla dan kemudian berikrar Syahadat.

Hanny Kristianto sebelum memeluk Islam adalah seorang penginjil yang sangat aktif, bahkan pelayanannya bersifat interdenominasi antara Katolik, Protestan dan Kharismatik, dengan dibantu teamnya antara lain: Natashia Nikita (penyanyi rohani Kristen yang di anggap paling baik dan suci oleh umat Kristen) dan Chris John (yang saat itu di elu-elukan sebagai satu-satunya Juara Dunia Tinju WBA Katolik di Indonesia yang setiap selesai bertanding meneriakkan kata Haleluya).

Dia sudah membuktikan “Sangat Cinta Yesus” dengan memberikan seluruh hartanya, seluruh waktunya, seluruh tenaga dan pikirannya untuk melakukan kristenisasi, melakukan berbagai “pelayanan”, diantaranya adalah “Pelayanan Pikul Salib”, dan “Pelayanan Generasi Akhir Zaman Singa Yehuda.“ Dia juga pendiri Love and Care Ministry pertama di Indonesia (di Mojokerto, 2006 dan Semarang, 2007).

Saat ini Hanny Kristianto aktif dalam Muallaf Centre Indonesia untuk membimbing para Muallaf dan terus mendakwahkan Islam.

Berikut salah satu video ketika Hanny masih menjadi pendeta:

Karena Agama Bukan Warisan, Orang Tua Kristen Ini Ikhlaskan Anaknya Masuk Islam

Ayah kristen… Ibu kristen, dengan yakin anak 8 tahun ini bersikeras untuk masuk islam.
Kok bisa..??? Ya bisa, karena agama bukan warisan

Ketapang…
Anak ini bernama Yogi Setiady, usianya baru 8 tahun, duduk di kelas 2 SDN 18 Sukabangun. Diantar sendiri oleh ibu kandungnya yang masih beragama non muslim ke KUA Delta Pawan dengan maksud untuk memeluk agama Islam.

Ayah dan mama kandungnya telah mengikhlaskan anak ini masuk Islam, karena setiap saat terus “memaksa” ayah dan mamanya agar ia bisa masuk Islam. Dia rajin ke Surau setiap shalat lima waktu, belajar ngaji dan sholat. Ketika dites ngajinya, dia sudah hafal surat Al Fatihah, Al Ikhlas, do’a ibu bapak, do’a makan, dll.

Ditanya cita-citanya, dengan tegas dia jawab ingin menjadi seorang Ustadz. Pembacaan dua kalimat syahadat yang memang sudah lancar, bahkan artinya sudah hapal ini disaksikan guru sekolahnya. Semoga Allah Subhanahuwataala meridhoi dan terus memberikan hidayah kepada anak ini. dan kita berharap anak inilah kelak yang akan menarik kedua orang tuanya kedalam hidayah Allah yakni Islam Rahmatan Lilalamin.

Pangeran Charles Masuk Islam Secara Diam-diam

Putra Mahkota Kerajaan Inggris ini, mengakui prinsip-prinsip Islam dapat menyelamatkan dunia. Dalam ceramahnya selama satu jam di hadapan para sarjana studi Islam di Oxford, 10 Juni 2010 lalu.

Pangeran Charles berargumen bahwa kehancuran umat manusia di dunia terutama karena kehidupan yang tak sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip Islam. Karena itu, ia mendesak dunia untuk mengikuti prinsip-prinsip Islam.

Wartawan Middle East Quarterly, Ronni L. Gordon dan David M. Stillman pada 1997 menunjukkan bukti-bukti bahwa Pangeran Charles masuk Islam secara rahasia.

Pernyataannya ini didasarkan atas bukti-bukti bahwa: Pangeran Charles selalu membawa nilai-nilai Islam dalam public opinion-nya, seperti: membela hukum Islam, memuji status wanita Muslim, merujuk Islam sebagai solusi untuk mengobati penyakit-penyakit masyarakat Britain.

Dan tindakan-tindakan Pangeran Charles mencerminkan kekagumannya pada Islam, dengan membentuk “Panel 12”, sebuah dewan penasihat yang memberikan advice kepadanya tentang Islam dan budaya Islam.

Sumber: tribunnews.com

Kisah Mualaf Bule Ganteng ‘Chaim Fetter’ di Lombok yang Penuh Tantangan

Manusia memang mempunyai kisah kehidupan masing-masing yang berbeda. Apa yang kamu alami dalam hidup tentu berbeda dengan yang dialami orang lain.

Beruntung mereka yang pernah merasakan pedih dan kerasnya hidup hingga bisa bangkit lebih kuat lagi. Hal itulah yang dialami oleh bule Belanda bernama Chaim Fetter.

Nama Fetter beberapa waktu lalu sempat ramai diperbincangkan karena dirinya dituding melakukan upaya Kristenisasi ketika hendak mendirikan Yayasan Peduli Anak di kota Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Selama ada di sana, Fetter harus rela merasakan getirnya hidup berjuang demi menunjukkan tekadnya yang sekeras baja, seperti dilansir Merdeka.
Kamu pasti akan merasa sangat sulit ketika menjadi orang asing dan harus menuju wilayah terpencil. Bisa saja niat baikmu itu ditanggapi berbeda oleh penduduk lokal, hal itulah yang dialami oleh Fetter.

Fetter sampai menjelaskan kepada penduduk lokal di Lombok bahwa dirinya bukanlah Atheis atau Kristen. Di mana dirinya adalah seorang Believers (orang yang tak punya agama tapi percaya adanya Tuhan).

kisah-mualaf-bule-ganteng-chaim-fetter–0a604f

Jelas saja apa yang diungkapkan Fetter itu membuat para warga yang mayoritas Muslim takut sehingga menuding Fetter melakukan aksi permurtadan.

Namun tekad Fetter untuk membantu anak-anak jalanan di Lombok memang begitu kuat. Dia membuka dialog dengan para warga dan tokoh agama setempat. Komunikasinya yang intens dengan penduduk lokal, membuat Fetter jatuh cinta dengan Islam.

Setiap hari melihat warga salat dan mendengar azan, Fetter merasakan bahwa Islam memanggil dirinya hingga pria berusia 33 tahun ini memilih menjadi mualaf.

Fetter pun mengungkapkan tekadnya menjadi Muslim kepada ulama setempat. Proses perpindahan keyakinan itu disaksikan oleh banyak orang dan membuatnya gugup luar biasa kala harus membaca dua kalimat syahadat.

Kendati gemetar, tekad Fetter pun kuat. Kini sembari membesarkan Yayasan Peduli Anak di Lombok, Fetter pun belajar sedikit demi sedikit menjadi Muslim yang taat seperti belajar salat dan mengaji.

Jalan hidup Fetter memang berliku. Namun pria Belanda ini membuktikan bahwa cintanya kepada Indonesia memberikannya kekuatan dan keberanian.

Semoga saja aksi Fetter yang mencintai dan peduli anak-anak Indonesia ini bisa membuat kamu juga terinspirasi ya.

Sumber: kapanlagi.com

Kisah Panjang Pengacara Michael Jackson yang Masuk Islam

Mark Shaffer, seorang pengacara dan jutawan Amerika, memutuskan untuk memeluk Islam pada 17 Oktober 2009 silam. Saat itu, Mark tengah berlibur di Arab Saudi untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha, Jeddah. Ia berlibur selama 10 hari di Saudi.

Mark adalah seorang jutawan terkenal dan juga seorang pengacara yang terlatih di Los Angeles, yang mengkhususkan diri dalam kasus-kasus hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ia tangani ialah kasus penyanyi pop terkenal Amerika, Michael Jackson, sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang pemandu wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir, sejak Mark menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Arab Saudi, ia sudah mulai mengajukan pertanyaan tentang Islam dan ibadah shalat. Begitu tiba di Saudi, Mark tinggal di Riyadh selama dua hari. Selama di RIyadh ia sangat tertarik dengan Islam.

Setelah pindah ke Najran, mereka pergi ke Abha dan Al-Ula. Di sana, ketertarikan Mark pada Islam semakin jelas. Terutama, saat mereka pergi ke padang gurun.

“Mark kagum melihat tiga pemuda Saudi yang berada di kelompok kami di Al-Ula, melakukan shalat di hamparan padang pasir yang sangat luas, sebuah panorama yang sangat fantastis,” kata Nashir, dilansir di Saudi Gazette, Ahad (25/3).

Setelah dua hari di Al-Ula, Mark dan Nashir pergi ke Al-Juf. Begitu tiba di Al-Juf, Mark bertanya apakah Nashir bisa memberinya beberapa buku tentang Islam. Nashir kemudian memberikan beberapa buku tentang Islam kepadanya. Menurutnya, Mark membaca semua buku tersebut.

Keesokan paginya, dia meminta Nashir untuk mengajarinya cara melakukan shalat. Nashir kemudian mengajarinya bagaimana beribadah dan melakukan wudhu. Kemudian, Mark bergabung dengan Nashir dan melaksanakan shalat di sampingnya.

“Setelah berdoa, Mark memberi tahu saya bahwa dia merasakan kedamaian di jiwanya,” lanjut Nashir.

Pada Kamis sore, mereka meninggalkan Al-Ula menuju Jeddah. Dikatakan Nashir, Mark tampak sangat serius membaca buku-buku tentang Islam sepanjang perjalanan. Pada Jumat pagi, mereka mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu shalat Jumat mendekat, mereka kembali ke hotel dan Nashir pamit untuk pergi shalat Jumat.

Mark berkata kepada temannya, bahwa ia ingin bergabung dengannya untuk shalat Jumat. Sehingga ia dapat menyaksikan sendiri bagaimana shalat Jumat. Nashir lantas menyambut baik gagasan itu.

Nashir mengatakan, mereka kemudian pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat mereka tinggal di Jeddah. Karena mereka cukup terlambat, ia dan banyak orang lainnya harus beribadah di luar masjid, karena jumlah jamaahnya yang meluap.

“Saya dapat melihat Mark mengamati orang-orang dalam jamaah, terutama setelah shalat Jumat selesai, ketika semua orang berjabat tangan dan saling berpelukan dengan wajah berseri-seri dan gembira. Mark sangat terkesan dengan apa yang dilihatnya,” ujarnya.

Ketika kembali ke hotel, Mark tiba-tiba mengatakan Nashir bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim. Karena itulah, Nashir memintanya untuk mandi terlebih dulu. Setelah Mark mandi, ia membimbingnya mengucapkan syahadat (pernyataan keimanan) dan kemudian Mark shalat dua rakaat. Selanjutnya, Mark mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Masjidil Haram di Makkah dan melakukan shalat di sana sebelum meninggalkan Arab Saudi.

Untuk memenuhi keinginannya, mereka lantas pergi ke Pusat Dakwah di Jeddah untuk mendapatkan bukti resmi tentang pertaubatannya ke dalam Islam. Sehingga, Mark akan diizinkan memasuki kota Makkah dan Masjidil Haram. Mark kemudian diberi sertifikat sementara tentang mualafnya, dan ia bisa mengunjungi kota suci Makkah.

Setelah Mark menyatakan keyakinan Islamnya, ia memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pengalamannya kepada koran Al-Riyadh. Ia mengatakan, bahwa ia tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat itu. Namun, ia merasa sedang terlahir kembali dan memulai hidup yang baru.

“Saya sangat senang. Kebahagiaan yang saya rasakan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, terutama ketika saya mengunjungi Masjidil Haram dan Ka’bah yang mulia,” kata Mark.

Mark pun menceritakan langkah selanjutnya setelah ia masuk Islam. Ia menjelaskan bahwa ia ingin belajar lebih banyak tentang Islam, mempelajari lebih dalam agama Allah (Islam), dan kembali ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Ia juga mengungkapkan apa yang mendorongnya untuk masuk Islam.

“Saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tetapi itu sangat terbatas. Ketika saya mengunjungi Arab Saudi dan secara pribadi menyaksikan orang-orang Muslim di sana, dan melihat bagaimana mereka melakukan shalat, saya merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengetahui lebih banyak tentang Islam. Ketika saya membaca informasi yang benar tentang Islam, saya menjadi yakin bahwa Islam adalah agama haq (kebenaran),” lanjut Mark.

Pada Ahad pagi, 18 Oktober 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Ketika mengisi formulir imigrasi sebelum meninggalkan Jeddah, Mark menulis Islam sebagai agamanya.

sumber : REPUBLIKA

Warga Muslim Tionghoa Ini Jual Makanan Super Murah Rp.3000 untuk Dhuafa

Beragam cara dilakukan untuk berbagi kepada kaum Dhuafa. salah satunya dengan menjual makanan enak dengan harga super murah.

Warga Muslim keturunan Tionghoa membuat warung makan mewah yang dikhususkan untuk Dhuafa, dengan harga hanya 3 Ribu RUpiah.

Lokasi warung ini berada di Jalan Yos Sudarso Kav 28 Jakarta, di sebelah kiri, tepatnya di samping gerbang utama gedung bertingkat PT Citra Marga Nusa Pala.

Selain menjamu pengunjung dengan aneka ragam menu, pemilik warung juga memanjakan siapa pun yang datang dengan suasana yang nyaman dan asri, mirip seperti di pedesaan.

Warung istimewa ini bernama Podjok Halal, berdiri di bawah tenda biru berdampingan dengan pohon kelapa yang menjulur tinggi ke atas. Suasana semakin asri dengan adanya tanaman-tanaman yang melingkari bangku pengunjung.

Warung ini merupakan milik seorang pengusaha Tionghoa muslim bernama Jusuf Hamka. Dia membuka tempat makan murah ini dengan satu tujuan, mengurangi beban kaum dhuafa dan orang-orang berpenghasilan rendah. Jusuf berharap, mereka yang datang bisa makan enak tapi bisa berhemat.

“Misal penghasilan Rp 20 ribu. Dulu biaya makan Rp 10 ribu. Jadi orang itu bawa pulang Rp 10 ribu. Kalau dia makan Rp 3 ribu, bisa bawa pulang Rp 17 ribu kan. Itu menurut saya cukup membantu,” ujar Jusuf menguraikan maksud dibuatnya warung Podjok Halal seperti dilansir liputan6, sabtu(10/2/2018).

Ide warung makan Podjok Halal ini memodifikasi sistem berbagi pada saat bulan Ramadan. Saat itu, dia memberikan makanan berbuka 1.000 porsi secara gratis kepada pengguna jalan. Setiap Senin hingga Jumat, selama tujuh tahun berturut-turut.

“Saat bulan puasa kami bagikan 1.000 porsi. Tapi kami siapkan 200 takjil. Jadi jika ada yang tidak kebagian, kami kasih takjil sama air,” ungkap dia.

Dari sini Jusuf lalu berpikir. Setiap hari Allah memberikan rezeki berlimpah, masa berbuat kebaikan mesti menunggu bulan Ramadan. Dari situlah, Jusuf kemudian mendirikan warung makan murah ini. Ide Jusuf ini pun ternyata disambut banyak pengusaha, yang juga ingin menyalurkan bantuan.

“Teman-teman kami (pengusaha) yang nyumbang. Saya melihat, kok gak ada salahnya kami membuat satu warung makan yang dijual dengan harga Rp 3 ribu,” ucap Jusuf.

Sumber : islamedia

Setelah Dialog 2 Jam, Alhamdulillah Pria Asal Medan Ini Ikrar Syahadat di Thamrin City Mall Jakarta

Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Steven Indra Wibowo memposting sebuah foto orang sedang bersalaman di akun instagramnya. Foto tersebut adalah prosesi ikrar Syahadat yang dilakukan seorang pria asal Medan Sumatera Utara.

Pria bernama Donald tersebut mantab untuk memeluk agama Islam dan Ikrar Syahadat setelah sebelumnya melakukan dialog tentang ke Islaman dengan Pembina MCI Ustadz Romadi.

“Alhamdulillah, atas idzin Allah, tadi siang, setelah berdialog sekitar 2 jam bersyahadat seorang pria asal Medan, berumur 38 Tahun, namanya Sabar Donal P” tulis Steven melalui akun IG nye @steven.indra.wibowo, senin (12/2/2018).

Donald mengucapkan kalimat Syahadat di GEMASMART Thamrin City Mall Jakarta pusat dengan dibimbing langsung oleh Ustadz Romadi yang juga koordinator Gemas Gerakan Membersihkan Masjid.

“Beliau mengucapkan 2 kalimat Syahadat di GEMASMART, Thamrin CityMall lt 3A Blok H20-03 bersama salah satu pembina Mualaf Center Indonesia, pakdhe Romadi (cek mualaf.com/pembina) yang juga koordinator Gemas (Gerakan Membersihkan Masjid). Semoga iatiqomah dan menjadi muslim yang kaffah” tulis Steven lebih lanjut.

Sumber : islamedia