Taubatnya Seorang Muslimah Itu Istimewa Banget

Kisah berikut adalah kisah tobat seorang muslimah yang istimewa. Bagaimana tidak special. Rasulullah menyalati jenazahnya dan beliau juga berkata,

“Seandainya tobat wanita itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka tobat itu akan mencukupinya”

Imam Muslim dalam sahihnya, dan juga para penulis kitab sunah telah meriwayatkan sebuah kisah tobat yang paling mengagumkan.

Pada suatu hari Rasulullah duduk di dalam masjid, sementara para sahabat duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka. Majelis tersebut di penuhi oleh sahabat besar Nabi.

Ketika semua orang sedang fokus kepada Rasulullah, tiba – tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Wanita tersebut menghadap dengan penuh gentar dan takut.

Hingga dia sampai kepada Rasulullah, kemudian dia berdiri di hadapan beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukam maksiat yang mewajibkan adanya hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku”

Diberi Waktu
Seketika memerahlah wajah beliau hingga hampir – hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajahnya ke arah kanan dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu.

Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang salehah.

Maka, Nabi Muhammad Saw bersabda kepadanya, “Pergilah, hingga engkau melahirkannya,”

Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian dia melahirkannya. Maka, pada hari pertama nifasnya, dia pun datang dengan membawa bayinya dan berkata,

“Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!”

Maka, Nabi pun melihat ke anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik – cabik karena merasakan sakit dan sedih.

Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati ? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya ?

Maka, kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda, “Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.”

Disholati Rasulullah
Maka, wanita itu pun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya. Tahun pun bergulir berganti tahun.

Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!”

Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan. Kurang lebih tiga tahun waktu yang diberikan Rasulullah justru menambah kekuatan imannya.

Nabi Muhammad mengambil anaknya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak.

Nabi bersabda, “Siapa yang mengurusi anak ini, maka dia adalah temanku di surga.”

Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Dalam sebuah riwayat lainnya, dikatakan bahwa Nabi Muhammad memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menyalatinya.

Maka, berkatalah Umar, “Anda menyalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.”

Maka, beliau bersabda, “Sungguh dia telah bertobat dengan satu tobat, saindainya tobat itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka tobat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah tobat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah?” (HR Ahmad).

Model Pakaian Terlarang Bagi Muslimah

Saat ini kita sebagai muslimah sudah sangat dimanjakan sekali dengan berbagai macam model busana muslim. Banyak model yang dapat kita dipilih yang tentunya harus sesuai dengan karakter kita.

Namun terkadang kita lupa, bahwa sebagai seorang muslimah tidak semua model pakaian bisa kita kenakan.

Ada model pakaian yang terlarang untuk muslimah, dan berikut ini adalah beberapa pakaian yang terlarang untuk muslimah:

1. Pakaian yang Menampakkan Aurat
Tentunya sebagai seorang muslimah sudah paham betul, bagian mana saja yang termasuk aurat yang harus kita jaga dan lindung dan bagian mana yang boleh terlihat.

Dan teruntuk wanita seluruh tubuhnya adalah aurat dan yang boleh terlihat hanyalah wajah dan kedua telapak tangannya.

Sehingga pakaian yang terlihat sopan saja tidak cukup, jika masih ada belahan yang menyingkap betis, atau panjang tangan hanya tiga perempat saja, semestinya kita hindari pemakaian busana yang seperti ini.

2. Tidak Menggunakan Bahan yang Tipis, dan Menerawang Atau Tembus Pandang
Dari segi pemilihan bahan kita juga harus berhati-hati. Tidak menggunakan bahan yang tipis, menerawang dan tembus pandang, sehingga dapat memperlihatkan bentuk lekuk tubuh.

Kalaupun mau memakai bahan tipis, usahakan menggunakan pakaian double agar aurat tetap tertutupi.

3. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-laki
“Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)

Itu sebabnya Islam mewajibkan muslimah untuk menggunakan khimar, agar mudah dibedakan dari laki-laki atau dari perempuan non muslim.

Jikalau menyukai pakaian yang tomboy, saat ini model pakaian yang edgy namun tetap syar’i juga bisa ditemui.

4. Menggunakan pakaian yang menyerupai agama lain, seperti pendeta, biarawati dan agama yang lainnya adalah haram hukumnya.

Biarawati pun menggunakan penutup kepala seperti hijab, akan tetapi modelnya sangat khas dan mudah dikenali.

Maka, muslimah diharamkan memakai pakaian atau gaya hijab yang sama seperti biarawati atau penganut agama lainnya.

5. Menggunakan Pakaian Untuk Menyombongkan Diri dan Pamer (Syuhroh)
Pakaian syuhroh yang dimaksud adalah pakaian pakaian yang dimaksudkan untuk tampil beda dari biasanya, misalnya pakaian paling mewah atau pakaian yang paling kumuh agar terlihat sebagai orang yang zuhud.

“Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat” (HR. Abu Daud no. 4029 dan Ibnu Majah no. 360. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Muslimah Pakai High Heels, Bolehkah?

PERKEMBANGAN fashion saat ini memang meningkat pesat. Mulai dari pakaian, hingga aksesoris busana seperti tas dan sepatu, semuanya punya model dan gaya tersendiri.

Salah satu trend sepatu di kalangan wanita adalah sepatu hak tinggi atau lebih dikenal dengan sebutan high heels. Tidak hanya para model di catwalk atau para bintang film yang tengah beraksi di red carpet saja, tapi di kantor, di jalan-jalan, di pusat perbelanjaan, di sekolah, bahkan di tempat kajian pun banyak wanita yang menggunakan sepatu atau sandal tinggi ini.

Trend high heels ini sudah merambah ke semua kalangan wanita, termasuk muslimah. Sementara kita tahu, bahawa aturan berpakaian seorang muslimah telah diatur dalam hukum syariah. Nah, bagaiamana soal high heels ini?

Para ulama’ seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah berpendapat bahwa muslimah tidak diperbolehkan menggunakan sepatu berhak tinggi yang beresiko terjatuh dan membahayakan diri saat berjalan. Sebab, Islam memerintahkan untuk menjauhi bahaya.

Dalilnya adalah Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Serta firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (QS. An-Nisa`: 29)

Menggunakan sepatu berhak tinggi pun memiliki resiko terhadap kesehatan. Seperti terjadinya pembengkakan pembuluh darah di kaki, degenerasi persendian kaki, rusaknya tendon achilles, perubahan postur tulang belakang, dan lainnya. Maka sesuatu yang sifatnya mencelakakan diri atau membahayakan diri sendiri itu hukumnya haram.

Dan selain itu, menggunakan sepatu berhak tinggi itu umumnya membuat cara berjalan wanita menjadi berbeda, yaitu lebih berlenggak-lenggok atau menjadikan betis yang indah jadi terlihat dan menjadikan wanita nampak lebih tinggi. Maka ini termasuk dalam kategori tabarruj, sekaligus memiliki unsur penipuan. Padahal, para wanita muslimah dilarang menampakkan perhiasannya kecuali pada mahram atau orang-orang yang berhak untuk melihat keindahan dirinya.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

“Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam.” (QS. An-Nur: 31)

Dan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim]

Kebiasaan menggunakan sepatu berhak tinggi ini adalah salah satu kebiasaan wanita Yahudi dan Nasrani. Wanita-wanita mereka menggunakan sepatu berhak tinggi ini untuk berhias dan menampakkan kecantikan mereka untuk memikat pandangan laki-laki. Maka sudah selayaknya seorang wanita muslimah menjaga dirinya dari hal-hal yang meniru (tasyabbuh) orang-orang kafir dan jahiliyah.

Allah SWT berfirman:

“…dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab : 33)

Maka, menurut syariat menggunakan sepatu berhak tinggi baik itu model high heels maupun wedges itu tidak diperbolehkan. Pertama, karena beresiko. Kedua, karena termasuk tabaruj. Maka, muslimah harus menghindari nya. Toh, selain high heels atau wedges, masih banyak pilihan model alas kaki yang lainnya. Pilihlah yang nyaman dipakai dan tidak melanggar aturan syariah.

Muslimah, Kenapa Harus Pakai Manset?

ALLAH SWT memerintahkan dalam QS. Al-Ahzab:59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah juga berfirman dalam QS. An-Nur:31, “..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…”

Sudah jelas dalam kedua surat ini disebutkan bahwa kita, perempuan muslim yang Allah sayangi harus menutupi seluruh tubuh dengan pakaian yang syar’i, kecuali bagian telapak tangan dan wajah.

Supaya kita perempuan muslim, lebih mudah untuk dikenali, selain itu kita juga menjaga diri dari para penggoda, dengan berjilbab kita juga telah menjaga izzah islam dan tatanan kehidupan.

Akhir-akhir ini kita diperkenalkan dengan kain penutup aurat selain kerudung dan kaos kaki. Kain yang digunakan untuk menutupi pergelangan tangan, Manset. Manset masih jarang digunakan perempuan muslim pada umumnya, karena dianggap ujung pakaian pun telah cukup untuk menutupi aurat.

Dalam pikiran sebagian kita mungkin terlintas bahwa memakai manset itu gerah dan tidak nyaman. Agak ribet. Tapi jika kita pikirkan lebih lanjut, mungkin keadaan tidak nyaman itu pula yang pertama kita rasakan ketika pertama kali mengenakan jilbab lebar. Dan toh, lama kelamaan akhirnya semua keluhan itu sirna begitu saja.

Mari kita pikirkan kembali, saat mengangkat tangan ke atas untuk mengambil sesuatu yang ada di atas kepala kita misalnya, maka ujung pakaian kita akan tersingkap dan pergelangan tangan kita akan terlihat. Bukankah tidak ada usaha kita untuk tetap menjaga aurat dalam keadaan bagaimanapun?

Terkadang kita menyepelekan hal kecil yang bisa jadi masalah besar di kemudian hari, tidak apa-apa kok! Toh yang tersingkap sedikit, itu juga takkan menggoda iman. Siapa yang tahu dengan tipu daya setan yang terus menguntit kita setiap saat? Dan lagi sedikit atau banyak yang tersingkap, itu tetaplah aurat yang harus kita jaga dengan baik. Semua sama di hadapan Allah, yang sedikit tetaplah akan mendapat balasan dari Rabb-Nya sebelum kita bersegera meminta ampun dan memperbaiki kembali diri kita.

Alangkah baiknya, mulai dari saat ini kita membiasakan diri menggunakan manset, supaya pergelangan tangan ini tidak meminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat, karenanya merasa tidak dijaga semasa kita hidup di dunia ini.

Mengapa Muslimah Dianjurkan Berdiam Diri di Rumah?

ALLA ‘Azza wa jalla berfirman dalam Al Qur’an Surah Al Ahdzab : 33: “Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu…”

Berdasarkan ayat ini, maka sebaik-baik tempat bagi seorang wanita adalah di rumahnya. Ia ibarat markaz bagi seorang wanita, tempat ia melaksanakan semua aktivitas kehidupannya.

Akan tetapi meski demikian, wanita masih diperbolehkan untuk keluar dari rumah mereka bila ada keperluan yang dibenarkan menurut syariat, misalnya untuk menuntut ilmu. Itupun dengan syarat:

RELATED POSTS
Inilah Mengapa Wanita Lebih Baik Tinggal di Rumah

10 Jan 2018
Wahai Muslimah, Shalatmu di Rumah Lebih Baik daripada di Masjid

10 Jun 2017
Wanita Keluar Rumah, Ini Adab-adabnya

11 Feb 2017
– Wajib menutup auratnya (mengenakan hijab syar’i)
– Seizin suami atau walinya
– Disertai mahram (jika safar atau keluar rumah malam hari untuk keperluan darurat)

Seorang wanita mukminah sepatutnya menanamkan rasa malu pada dirinya, apabila ia keluar rumah terlalu lama apalagi untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu ia lakukan. Apalagi jika itu hanya sekedar untuk jjss (jalan-jalan sore sendiri), refreshing, berkeliaran di mal-mal, tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu menjadi peringatan kepada kaum wanita, adalah bahwa ketika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka setan akan menjadikannya indah dalam pandangan manusia, sehingga ia rentan terhadap berbagai godaan dan fitnah.

Intinya, jika memang tidak ada suatu keperluan yang memang betul-betul penting, maka hendaklah para wanita tetap tinggal di rumah-rumahnya, agar terjaga diri dan kehormatannya, dan terjaga pula masyarakatnya dari kemungkinan perilaku amoral dan asusila