Remaja Ini Bakar Rumah Karena Tak Dibelikan HP, Dia Juga Ancam Bunuh Orang Tuanya

Pria remaja asal Ponorogo, Jawa Timur berinisial A (16) ini, nekat membakar rumah orang tuanya sendiri, Jumat (19/5/2018).

Peristiwa ini dilatarbelakangi kemarahan A yang tak kunjung dibelikan seperangkat ponsel oleh ayahnya.

Hal tersebut dijelaskan Kapolsek Jambon AKP Djoko Winarto saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu (19/5/2018).

“Motifnya anaknya minta handphone, tetapi belum dibelikan lalu marah hingga membakar rumah milik orangtuanya sendiri,” kata Djoko.

Kapolsek Jambon menjelaskan, sebenarnya ayah A sudah menyanggupi keinginan anaknya, namun hal itu akan diwujudkan setelah Lebaran.

Sayangnya, A tidak sabar dan nekat membakar rumah.

Menurut laporan Kompas.com, A membakar rumah orang tuanya menggunakan kayu yang dibakar. Mulai dari dapur yang berada di bagian belakang hingga akhirnya merambat ke bagian tengah rumah.

Api pun cepat menghanguskan bangunan yang terbuat dari kayu itu.

Akibat kejadian ini, kerugian material ditaksir mencapai Rp 75 juta dan uang tunah senilai Rp 3 juta. Tidak ada korban jiwa gara-gara dalam insiden ini.

Berdasarkan penuturan Djoko, ternyata A diketahui punya banyak masalah dan kerap bikin onar. A sempat mengancam orang tuanya bila tidak dibelikan sepeda motor.

Bahkan, masalah tersebut sampai ke tangan polisi. Kala itu, A bersedia membuat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

“Setelah membuat pernyataan itu, tak berapa lama kemudian orangtuanya membelikan sepeda motor matic merk Yamaha,” kata Djoko.

A kembali berurusan dengan polisi karena permasalahan lain. Penyebabnya, A berselisih dengan pemuda setempat. Pemicunya karena A ugal-ugalan mengendarai sepeda motor.

Djoko mengatakan, Bhabinkamtibmas setempat sudah membina Agung agar tak mengulangi perbuatannya. Kini, atas kasus pembakaran rumah, polisi mengusutnya. “Terhadap peristiwa ini, kasusnya hari ini kami limpahkan ke penyidik PPA Polres Ponorogo untuk penanganannya,” kata Djoko.

Sementara itu, di media sosial, beberapa warganet mengunggah foto peristiwa pembakaran rumah yang dilakukan A. Banyak pula yang mengecam aksi remaja berusia 16 tahun itu.

Berikut beberapa komentar warganet:

Herman Syahh Cibi Cibi: “Cah edan.”

Wahyu Anggara: “Bosok uteke bocah kuwi.”

V’thre Ikha: “Yen koe dadi anak q, wes tak kon minggat…. (Kalau kamu jadi anak aku, sudah aku suruh pergi)”

Edia Valdo: “Buang ke laut aja.”

Nisa Ulfa: “Penjara seumur hidup aja sekalian kasihan orang tuanya.”

Mbok Yem: “Kuwi akibate terlalu cinta sama yg namanya dek internet hahaha.”

Galih Yuda: “Wes lur jangan Di buly doakan saja biar lekas sembuh otaknya.”

Berapa Kali Sebaiknya Seorang Istri Mengunjungi Orang Tuanya? Ini Jawabannya

Seorang wanita yang sudah bersuami tetap terkena perintah silaturahim. Yakni menyambung tali persaudaraan kepada orang-orang yang memiliki hubungan darah atau hubungan nasab dengannya.

Manusia yang paling berhak untuk ia sambung hubungan baiknya itu adalah orang tuanya. Terlebih, ada perintah khusus berbuat baik kepada orang tua yang tertuju kepada anak laki-laki atau perempuan; baik ia masih sendiri atau sudah berkeluarga.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah selain kepada-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23)
واعبدوا الله وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وبالوالدين إِحْسَاناً

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Nisa’: 36)

Birrul Walidain (berbuat baik kepada orang tua) mencakup semua bentuk kebaikan yang membuat gembira dan bahagia keduanya.

Bisa dengan harta, berkata baik, patuh kepada perintahnya yang mubah, dan semisalnya. Termasuk di dalamnya adalah mengunjungi keduanya saat sang anak wanita ini sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari keduanya.

Tidak diragukan lagi, orang tua sangat senang dikunjungi anak-anak yang sudah berpisah rumah dari dirinya. Tidak terkecuali anaknya yang wanita jika sudah bersuami.

Bagi seorang suami hendaknya membantu istrinya dalam kebaikan ini. Suami tidak boleh sengaja memutuskan hubungan istrinya dari orang tua dan suadara-saudaranya. Ia tidak boleh melarang sang istri menyambung silaturahim.

Suami juga harus menjaga kemuliaan (nama baik) istrinya di hadapan orang tua nya dan saudara-saudaranya dengan menjaga nama baiknya sebagai anak yang berbakti ke orang tuanya dan tidak melupakan kebaikan keduanya.

Pertanyaannya yang terkadang timbul, berapa kali seorang anak yang sudah berkeluarga mengunjungi orang tuanya?

Syariat tidak menetapkan batasan khusus mengunjungi orang tua. Sepekan sekali, sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau lebih dari itu.

Anjuran ini kembali kepada situasi dan kondisi sang anak karena kesibukannya dan kesibukan suaminnya, kondisi ekonomi keluarganya, jauh dekatnya jarak, jadwal sekolah anak-naknya, dan kondisi lainnya.

Ada sebagian anak wanita yang tinggal jauh dari rumah orang tuanya; beda kabupaten, propinsi, pulau, bahkan ada yang beda negara. Tentu semua ini berpengaruh pada kunjungan ini.

Syariat tidak membatasi masa untuk berkunjung dan silaturahim. Hukumnya dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan yang berlaku di masyarakat).

Jika yang masih satu wilayah, pantesnya satu bulan sekali, misalnya, maka ia mengunjungi ayah ibunya sebulan sekali.

Jika saat lebaran anak mengunjungi orang tuanya, lumrahnya, maka hendaknya anak wanita dan suaminya mengatur jadwal mengunjungi orang tuanya.

Suami istri harus saling memahami kebutuhan ziarah (kunjungan ini) sehingga kewajiban birrul walidain dari masing-masing pasangan tidak mengganggu keharmonisan hubungan mereka.

Intinya, dalam masalah mengunjungi orang tua istri ini, sang suami harus menyadari akan kewajiban istrinya untuk berbakti dan berbuat baik ke orang tuanya.

Istrinya punya kewajiban silaturhim kepada keduanya dan saudara-saudaranya. Suami harus membantu istrinya dalam tugas ini. Ia tak boleh sengaja memutuskan hubungan istrinya dari orang tua dan saudara-saudaranya.

Sang istri juga harus memahami kondisi suami dan keuangannya sehingga tak memaksakan keinginan dan kerinduannya untuk mengunjungi orang tuanya.

Ia meminta suaminya untuk menghantarkannya ke rumah orang tuanya sesuai kemampuan dan waktu luangnya.

Wallahu a’lam.

Sumber: congkop.xyz

Hukum Menegur Orang Tua yang Lalai Ibadah, dan Cara Terbaik Menegurnya Sebagai Anak

Pertanyaan:
Assalamualaikum…
Maaf saya bertanya, apakah hukumnya bila seorang anak menegur atau memberi nasehat kepada orang tuanya karena lalai dalam beribadah (tidak sholat dan puasa).

Dan apakah cara yang terbaik dalam Islam untuk menegur mereka (orang tua) agar mereka bisa memahami maksud kita dengan ikhlas.

Jawaban:
Waalaikumussalam
Seburuk apapun orang tua wajib kita hormati. Namun penghormatn padanya tak menghalangi kita untk berbuat amar ma’ruf nahi munkar.

Artinya, jika kita melihat org tua melakukn tindakn terlarang, kita wajib mengingatkannya dg cara halus dan mengedepankan sopan santun.

Nabi Ibrahim AS sendiri pernah menegur ayahnya untuk kembali kepada jalan yg diridhai Allah SWT.

Namun demikian, ketika kita sudh mengingatkannya akn tetapi org tua kita tidk menerima, bahkn tersinggung, tidklah menjdi masalah bagi kita. Kewajibn kita hanyalah amar ma’ruf dan nahi munkar saja.

Supaya orang tua kita kembali ke jalan yang benar, selain melalui pendekatn yg komunikatif, mintalah kepd Allah SWT supaya org tua kita menjdi orang tua yg baik dan taat pada Allah SWT.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً
“Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: ‘Patutkah ayah menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan- tuhan?’…” (QS. al-An’aam : 74)

ﺍﺩْﻉُ ﺇِﻟَﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻭَﺟَﺎﺩِﻟْﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﻦْ ﺿَﻞَّ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِﻳﻦَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui org-org yang mendapat petunjuk” (QS. an-Nahl : 125)

Adapun kerangka dasar tentang metode dakwah (termasuk didalamnya cara yg baik menegur org tua yg tidak shalat atau tdk puasa misalnya) yang terdapat pada ayat tersebut di atas adalah:

1. Bi Al-Hikmah
Kata hikmah seringkali diterjemahkan dalam pengertian bijaksana, yaitu suatu pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan apa yang didakwahkan atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, konflik mauoun rasa tertekan.

Dalam bahasa komunikasi disebut sebagai frame of reference, field of referene, field of experience, yaitu situasi total yang mempengaruhi sikap pihak komunikan (objek dakwah).

Menurut Syech Imam Nawawi Al Bantani, dalam tafsir Al Munir bahwa Al Hikmah adalah Al Hujjah Al Qoth’iyyah Al Mufidah lil Al-‘Aqoid Al Yaqiniyyah ( Hikmah adalah dalil-dalil yang qath’i dan berfaedah bagi kaidah-kaidah keyakinan).

Dakwah bil hikmah adalah sebuah metode komunikasi dakwah yang bersifat persuasif, yang bertumpu kepada human oriented.

Maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan kepada hak-hak yang bersifat demokratis agar fungsi dakwah yang bersifat informatif dapat diterima dengan baik. Sebagaimana ketentuan Allah dalam Al-Quran:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ () لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS. Al-Ghasiyah [88]: 21-22)

Dengan demikian dapat diketahui bahwa hikmah mengajak manusia menuju jalan Allah tidak terbatas pada perkataan lembut, kesabaran,ramah tamah dan lapang dada, tetapi juga tidak melakukan sesuatu melebihi ukurannya. Dengan kata lain harus menempatkan sesuatu pada tempatnya.

2. Mauizhah Hasanah
Adalah memberikan nasihat yang baik kepada orang lain dengan cara yang baik, yaitu petunjuk-petunjuk ke arah kebaikan dengan bahasa yang baik, dapat diterima, berkenan di hati dan lurus pikiran.

Sehingga pihak yang menjadi objek dakwah dengan rela hati dan atas kesadarannya sendiri dapat mengikuti ajaran yang disampaikan. Jadi dakwah bukan propaganda.

Sedangkan menurut Ali Musthafa Ya’kub dalam Sejarah dan Metode Dakwah Nabi dikatakan bahwa mauizhah Hasanah adalah ucapan yang berisi nasihat yang baik dan bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya.

Atau argumen-argumen yang memuaskan sehingga pihak audiensi dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah.

Seorang dai harus mampu mengukur tingkat intelektualitas objek dakwahnya, sehingga apa yang disampaikan mampu diterima dan dicerna dengan baik serta ajaran-ajaran islam yang merupakan materi dakwah dapat teraplikasi didalam keseharian masyarakat.

Hal ini sesuai dengan pesan Rosulullah dalam sebuah hadits: “Berbicaralah kamu dengan manusia sesuai dengan kadar kemampuannya”

3. Mujadalah
Mujadalah adalah berdiskusi dengan cara yang baik dari cara-cara berdiskusi yang sudah ada.

Mujadalah merupakan cara terkahir yang digunakan untuk berdakwah dengan orang-orang yang memiliki daya intelektualitas dan cara berpikir yang maju.

Seperti digunakan untuk berdakwah dengan ahli kitab. Oleh karena itu al-Quran juga memberi perhatian khusus tentang berdakwah dengan ahli kitab karena mereka memang telah dibekali pemahaman keagamaan dari utusan terdahulu.

Al-Qur’an juga melarang berdebat dengan mereka kecuali dengan jalan yang baik.

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) melainkan dengan cara yang baik. Kecuali dengan orang-orang yang zhalim diantara mereka” (QS. Al-Ankabut [29] :46)

Berbekal ayat tersebut , kaum muslim dilarang berdebat dengan ahli ktab kecuali dengan cara yang baik, sopan santun, lemah lembut dan menunjukkan ketinggian budi ummat islam kecuali jika mereka menampakkan keangkuhan dan kezhaliman.

Sumber: wakidyusuf

Bukan Hanya Anak, Orang Tua Juga Bisa Durhaka

DEWASA ini kita sering mendengar kezaliman yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Ada ayah yang memperkosa anaknya selama bertahun-tahun, atau seorang Ibu yang menjual anaknya.

Islam sangat keras menentang kekerasan pada anak, bahkan tak menunjukkan kasih sayang saja dilarang.

Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah mencium Hasan bin Ali. Ketika itu duduk Aqra bin Habis. Al Aqra berkata: ”Saya mempunyai sepuluh anak, tidak seorangpun di antara mereka yang pernah saya cium”. Rasulullah memandang kepadanya, kemudian berkata: ”Siapa yang tidak mengasihi tidak akan di kasihi”(Shahih Bukhari jilid IV, hadis ke 1696).

Islam dalam segala aspek kehidupan

Pemisahan agama dari kehidupan keluarga, masyarakat, bahkan bernegara menjadi pemicu utama dalam membentuk individu yang tak berperasaan. Kekerasan yang diterima anak baik fisik maupun psikis adalah bukti jauhnya manusia dari hati nurani. Padahal perasaan dan nurani hanya dapat terasah dengan hadirnya iman dan ketaqwaan.

Bagaimana mungkin seorang yang memiliki iman tega menyakiti makhluk lemah anak demi pelampiasan amarah, menghancurkan karakter anak dengan kata-kata negatif, bahkan membunuh masa depan mereka dengan pelecehan seksual? Kekerasan hanya akan membentuk anak yang telah dewasa menjadi pribadi penerus lingkaran kezaliman pada anak di bawahnya. Bagaimana memutusnya?

Islam paling depan menyuarakan perlindungan dan kasih sayang terhadap mereka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw terhadap anaknya, cucunya, bahkan anak para sahabatnya. Beliau bersabda, “Man laa yarham laa yurham” siapa yang tidak mencintai maka dia tidak dicintai. (HR. Muslim)

Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan landasan dasar dan metode yang universal dalam mendidik anak. Penyampaian aqidah sebagai awal pendidikan yang disampaikan Luqman kepada buah hatinya, juga kasih sayang para nabi kepada anaknya semua terekam dalam Al-Qur’an.

Sehingga tak heran jika kemudian Allah juga menekankan pentingnya ketaatan anak kepada orang tua, serta berbuat baik dan menghormati keduanya. Itu semua adalah hubungan timbal balik yang berhak didapat orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh kemuliaan.

Lalu bagaimana dengan orang tua yang alakadarnya dalam mendidik anak, tidak memperhatikan nilai kasih sayang, moral, apalagi bekal keimanan? Anehkah jika Allah membalas doa anak untuk orang tuanya dengan kasih sayang yang alakadarnya juga, karena isi doa sang anak adalah “Ya Allah, kasihilah orang tuaku sebagaimana ia menyayangiku.

Orangtua Juga Bisa Durhaka

Ustadz Muslih Abdul Karim, Lc menceritakan kepada Ummi, pada suatu hari, seorang laki-laki menemui Umar bin Khaththab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya itu. Setelah itu anak tersebut bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orangtuanya?”

Umar menjawab, “Benar.”

“Apa hak anak?” tanya sang anak. Dijawab Umar, “Memilihkan calon ibu yang baik untuknya,

memberinya nama yang baik, dan mengajarinya Al-Qur’an.”

Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus atau curut), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.

Umar segera memandang orangtua itu dan berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.” Semoga bermanfaat

Meski Telah Meninggal, Orang Tua Kita Butuhkan Hal ini

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak soleh yang mendoakan.” (HR. Muslim no. 1631).

Berdasarkan hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa anak soleh yang mendoakan mampu menyelamatkan orang tua ketika sudah meninggal. Namun, tak hanya itu, anak soleh akan berusaha membahagiakan orang tuanya dengan berbagai cara.

Berikut hal yang harus dilakukan ketika orang tua telah meninggal yang dijelaskan Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah, di antaranya:

1. Membaca Al-Qur’an

Menurut Ahmad bin Hambal dan segolongan dari sahabat Syafi’i berpandangan pahala ini akan sampai kepada orang yang telah meninggal. Maka setelah selesai membaca Qur’an, yang membacanya mengucapkan, “Ya Allah, sampaikanlah pahala seperti pahala bacaanku itu kepada si fulan”.

2. Sedekah

Ibunya Saad bin Ubadah telah meninggal dunia, lalu ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah ibuku telah wafat, dapatkan aku bersedekah atas nama ibuku?” Beliau SAW menjawab, “Iya.” (HR Ahmad, an-Nasa’i dan lain-lain).

3. Puasa

Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW. Dia bertanya, “Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia sedangkan ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah aku wajib mengqodho’ atas namanya?”

Nabi SAW menjawab “Jika ibumu memiliki utang, apakah akan engkau bayarkan untuknya?”

Lelaki itu menjawab, “Memang.”

Lalu Nabi SAW berkata, “Nah, maka utang kepada Allah lebih layak untuk dibayar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan bosan-bosan ya sahabat melakukan kebaikan untuk orang tua yang telah meninggal, karena setelah meninggal hanya amal kebaikan yang dibutuhkan. Wallahu a’lam.

Wahai Orang Tua, Ajari Anakmu Dzikir Pagi dan Petang

Orang tua baiknya ajarkan anak pula untuk terbiasa membaca dzikir pagi dan petang.

Ajarkan anak bahwa ini akan melindungi dirinya dari berbagai macam bahaya dan dapat raih kebaikan di hari ini.

Orang tua juga akan semakin termotivasi menjaga dzikir ini karena harus menuntun anak untuk membaca.

Ruwaifi Tuasikal, pagi ini memanggil saya yang sedang berada di depan komputer, Pa ayo baca dzikir pagi.

Lalu seperti biasa saya bawa dia ke ruang baca TPA dan dia mulai baca dzikir pagi sendiri sampai bacaan dzikir nomor 5. Walau pelan bacanya karena baru Iqra’ 6.

Mbaknya juga demikian, Rumaysho Tuasikal diajarkan hal yang sama.

Bergantian, saya tuntun dzikir pagi setelah Rumaysho setor hafalan surat bada Shubuh, dan istri menuntun dzikir petang bada Maghrib.

Lihatlah pengajaran anak sudah diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak dini.

Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Contoh lagi adab makan juga diajarkan sejak dini. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada ‘Umar,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

7 Tanda Orang Tua ‘Beracun’ yang Sering Gak Disadari Siapapun

Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi, melindungi dan menyediakan yang terbaik untuk anaknya. Selazimnya begitulah peranan orangtua terhadap anak-anaknya.

Namun, gambaran tersebut gak selamanya ideal. Mungkin tak sekejam ibu dalam novel Dave Pelzer, “A Child Called It,” atau tak sampai melukai secara fisik.

Tetapi sebagian orangtua menerjemahkan makna “kasih” dan “sayang” dengan cara yang berbeda, yang justru membuat anak-anaknya terluka secara emosi dan mental.

Orangtua seperti ini dikenal dengan sebutan “toxic parents” atau orangtua yang beracun. Seperti apa ciri-cirinya?

1. Mereka Gagal Memberikan Rasa Aman Dan Afirmasi Positif
Sebagian orangtua percaya, anak-anak harus mandiri dan tidak manja supaya bisa menjaga dirinya sendiri di masa depan.

Jika kamu adalah salah satu anak yang dibesarkan dengan cara-cara yang keras dan tegas, tentunya kamu merasakan manfaatnya saat dewasa.

Namun, tegas bukan berarti melepaskan tanggung jawab dalam hal memberikan rasa aman terhadap anak.

Ketegasan memang diperlukan, tetapi anak-anak tetap perlu dipeluk saat sedih dan didukung saat mereka merasa terpuruk.

2. Mereka Selalu Mengkritisi Apapun yang Dilakukan Anaknya
Setiap orangtua tentu akan mengkritisi dan memberitahu. Tanpa hal ini, kita gak akan tahu apa yang salah dan apa yang benar.

Tetapi toxic parents terlampau sering mengkritisi apapun yang dilakukan anak-anaknya dan tidak percaya sang anak bisa melakukan dengan benar.

Terkadang untuk mengkoreksi tindakan yang salah, toxic parents ini gak segan untuk melakukan kekerasan dan melontarkan kata-kaya kasar.

3. Mereka Melontarkan Candaan yang Tak Pantas Tentang Anaknya
Punya orangtua yang humoris memang menyenangkan. Tetapi, jika anaknya sendiri yang dijadikan bahan olok-olokan apalagi di depan banyak orang, tentunya hal ini gak lagi jadi hal yang lucu.

Apalagi sampai tidak menghiraukan hal-hal yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan, atau mengejek mimpi-mimpi sang anak.

Jika orangtuamu suka mengolok-olokmu, dari sisi fisik, hobi, karya atau apapun itu, yang membuatmu merasa buruk, kamu harus berani mengatakan pada mereka bahwa kamu tak nyaman.

4. Mereka Selalu Menyalahkan Anak-anaknya Untuk Hal-hal Buruk
Naik-turunnya keluarga adalah hal yang wajar. Kita gak bisa selalu mengharapkan kehidupan yang baik setiap waktu.

Tetapi jika nasib buruk sedang menimpa keluarga, dan orangtua menuding penyebabnya adalah sang anak walaupun bukan itu penyebabnya, bisa dipastikan mereka adalah tipe toxic parents.

5. Mereka Tidak Memperbolehkan Anaknya Menunjukkan Emosi Negatif
Mereka melarang anak-anaknya untuk marah. Satu-satunya yang boleh marah dan menangis adalah orangtua. Sementara mereka sendiri tak berusaha menunjukkan sisi emosi yang positif.

Padahal, menyalurkan emosi negatif itu diperlukan semua manusia untuk meringankan depresi. Jika hal ini terjadi di masa kecil, tak menutup kemungkinan di saat dewasa sang anak menjadi sulit mengontrol emosi negatifnya dan malah justru berbahaya.

6. Untuk Dihormati, Mereka Ditakuti
Semestinya, wibawa lah yang membuat seseorang dihormati dengan sendirinya. Bukannya menciptakan rasa takut agar dihormati.

Banyak orangtua yang berlindung di balik kata ‘disiplin’. Nyatanya justru anak-anak menjadi takut dan ketakutan itu yang menjauhkan hubungan orangtua-anak.

Jika ini terus berlanjut, komunikasi yang buruk akan terjadi dan anak-anak tak akan berani menceritakan masalah-masalah mereka kepada orangtua. Hubungan semakin menjauh.

7. Mereka Mengungkit-ungkit Pembalasan Budi
Pada anak-anak yang sudah dewasa, toxic parents seringkali mengungkit-ungkit soal balas budi. “Papa sudah susah-susah sekolahin kamu, sekarang kamu harus nurut sama Papa,” atau “Mama melahirkan kamu bertaruh nyawa, sekarang kamu tega-teganya meninggalkan Mama kerja di luar kota.”

Tidak ada satu pun anak yang berharap dilahirkan dengan menanggung balas budi terhadap apa yang sudah dilakukan orangtuanya.

Pembalasan budi yang selalu diungkit-ungkit akan menimbulkan rasa bersalah pada sang anak, walau sang anak sendiri tak pernah memintanya.

Situasi ini membuat anak-anak merasa bahwa kebahagiaan orangtua sepenuhnya berada di pundaknya dan akan menghambat langkahnya ke depan.

Mennghindari orang yang beracun dalam hidup kita memang tak mudah, terlebih orang itu adalah orangtua kita. Apalagi jika masalah emosi dan psikis ini terpupuk sejak dini.

Jika kamu merasa tidak nyaman, ajaklah bicara orangtuamu sebagai sesama orang dewasa. Jika tak berhasil, mintalah bantuan anggota keluarga yang lain atau psikolog untuk menjadi perantara.

Orang Tua Mata Duitan? Begini Cara Menyikapinya

Pertanyaan:
Saya mau tanya bagaima sikap yg sebaiknya menghadapi orang tua yg terlalu mata duitan, terkadang saya bingung menghadapi mereka sementara hidup saya dan suami pas-pasan, mana lagi tuk biaya anak2 akhirnya saya putuskan utk tidak menegur mereka walaupun hati saya tidak nyaman.

Jawaban:
Mohon maaf, konsultasi Ibu terlambat kami jawab. Keterlambatan disebabkan karena minimnya informasi yang Ibu sampaikan sehingga perlu atau tidak konsultasi ini untuk dijawab.

Namun demikian karena konsultasi ini sifatnya unik dan merupakan hal yang baru dari konsultasi-konsultasi sebelumnya yang pernah masuk ke email kami, maka kami mempertimbangkan untuk dijawab.

Sayang sekali cerita Ibu sangat singkat perihal perilaku orangtua yang Ibu sebut “terlalu mata duitan”. Ada banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya tidak tergambarkan secara jelas dalam konsultasi Ibu sehingga saya menduga-duga apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hubungan Ibu dengan orangtua.

Seberapa sering orangtua Ibu meminta uang kepada Anda? Digunakan untuk keperluan apa sehingga Ibu harus terus meminta uang kepada Anda? Apakah orangtua hidup dalam kesendirian?

Apakah orangtua Anda memiliki penghasilan sendiri atau ditopang oleh anak-anaknya? Sayang sekali informasi ini tidak ada dalam konsultasi Ibu.

Orangtua meminta uang kepada anaknya adalah hal yang lumrah terjadi, bagi mereka yang hidup dengan adat ketimuran hal ini dianggap sebagai bentuk balas budi kepada orangtua yang telah membesarkannya.

Sehingga anak menjadikan sebuah tanggungjawab kelak untuk merawat orangtuanya ketika ia sudah memiliki penghasilan, mandiri atau sukses.

Hal ini adalah sebuah konsekuensi yang logis karena ternyata sebagian anak masih tergantung pada orangtua ketika ia telah mencapai usia 16 tahun.

Bahkan pada waktu tertentu dimana seharusnya anak sudah bisa terlepas dari orangtua masih memiliki keterikatan dan ketergantungan secara ekonomi, misalnya saja kuliah dengan biaya dari orangtua, kebutuhan sehari-hari masih ditopang oleh kiriman orangtua, bahkan orangtua juga harus andil membiayai pernikahan anaknya.

Beberapa orangtua kadang berkomunikasi dengan cara yang berbeda, bisa saja “uang” yang dimaksudkan orangtua pada kasus yang sedang Ibu alami sebenarnya adalah “perhatian”.

Kenapa “perhatian” digantikan dengan “uang”? Orang usia lanjut memiliki problem psikologis yang kompleks, sehingga kadang kita kurang peka terhadap hal-hal seperti ini, misalnya saja orang usia lanjut memiliki problem kesehatan yang rentan, problem psikis akibat gangguan demensia dsb, dan tingkat stres yang tinggi akibat rasa kesepian dan ketakutan akan kematian.

Bisa saja hal yang sebenarnya diminta orangtua Ibu tidak lain adalah perhatian kepada Beliau, uang hanya klise saja agar Ibu lebih sering mengunjungi atau memberi perhatian kepada mereka.

Sebenarnya Ibulah yang lebih tahu masalah ini, jadi saya pikir Anda tidaklah perlu menjauhi mereka. Justru ibu perlu lebih sering mengunjungi mereka sesering mungkin.

Bila tidak mampu memberikan uang, Ibu bisa memberikan “jasa” yang tidak bisa dihitung dengan uang sekalipun; menemani dan menghabiskan waktu bersama mereka secara tulus.

Mengapa Orang Tua Perlu Bersyukur Punya Anak yang Tak Bisa Diam

Ibu pasti merasakan repotnya punya anak yang tidak bisa diam! Lari ke sana kemari dan membuat rumah jadi berantakan saja. Lelah memang rasanya jika si kecil merupakan anak yang aktif dan tidak bisa diam.

Namun jangan buru-buru kesal menghadapi si aktif. Sebabnya, ada banyak hal yang sebaiknya Ibu syukuri jika memiliki anak yang tidak bisa diam.

Berikut daftar manfaat jika si kecil jadi anak yang aktif.

1. Membantu anak jadi lebih cerdas

Gerakan yang dibuat anak nyatanya berdampak pada perkembangan otak anak. Bindy Cummings, seorang konsultan pengembangan anak mengungkapkan orangtua perlu mendorong anak bergerak lebih banyak bahkan sejak usia dini.

Gerakan aktif dapat membantu anak untuk mengontrol tubuh dan postur tubuhnya yang baik. Selain itu, motorik kasar dan halus anak akan terlatih dengan banyaknya gerakan yang dibuat. Kegiatan ini akan berdampak positif pada pertumbuhan otak anak.

Saat anak tidak bisa diam, Ibu justru harus hadir untuk membantunya mengenal mana yang perlu dan tidak untuk dilakukan. Hal ini akan membuat si kecil justru lebih cerdas dalam mengatur dirinya sendiri.

“Orangtua perlu ada bersama dengan anak, membuat komunikasi terbuka dan berdiskusi mengenai apa yang akan dilakukan. Misalnya berdiskusi jam berapa anak boleh main dan kapan anak harus makan dan tidur,” ujar Marry Sheedy Kurcinka, pakar parenting sekaligus penulis buku Raising Your Spirited Child and Kids, Parents, and Power Struggles: Winning for a Lifetime.

Anak yang aktif ternyata jauh memiliki pengalaman yang berharga. Sally Fitzgerald, konsultan dari Goodstart Early Learning mengungkapkan anak yang aktif akan menggunakan indera mereka untuk menjelajahi dunia luar.

Menurut Fitzgerald, anak yang lebih banyak mengenal dunia luar akan lebih mudah menyelesaikan tugas belajar yang lebih kompleks dan mendukung pertumbuhan kognitif dan bahasa.

Ibu perlu mendampingi si kecil ketika bergerak aktif agar ia bisa belajar banyak dari interaksi antara Ibu dan si kecil.

2. Lebih mengenal banyak hal

Anak yang aktif ternyata jauh memiliki pengalaman yang berharga. Fitzgerald mengungkapkan anak yang aktif akan menggunakan indera mereka untuk menjelajahi dunia luar.

Menurut Fitzgerald, anak yang lebih banyak mengenal dunia luar akan lebih mudah menyelesaikan tugas belajar yang lebih kompleks dan mendukung pertumbuhan kognitif dan bahasa.

Ibu perlu mendampingi si kecil ketika bergerak aktif agar ia bisa belajar banyak dari interaksi antara Ibu dan si kecil.

3. Membantu anak jadi lebih bahagia

Anak yang tidak bisa diam tentunya melakukan berbagai aktivitas fisik misalnya berlari atau melompat. Hal ini sama halnya dengan olahraga. Saat kita berolahraga, serotonin dalam tubuh akan meningkat.

Peningkatan ini nantinya dikaitkan dengan perasaan yang bahagia, peningkatan nafsu makan dan berkurangnya depresi.

Selain itu, anak yang tidak bisa diam juga akan jauh lebih sehat karena melakukan aktivitas fisik dengan sendirinya.

Jika Anak Tahu Orangtuanya Selingkuh, Ini 7 Tindakan yang Mesti Anda Lakukan

Publik telah mengatahui persoalan cinta antara Jennifer Dunn dengan seorang pria yang telah memiliki istri dan juga anak, Faisal Haris.

Konflik ini tak langsung selesai meskipun Jedunn kini mendekam dipenjara, mereka justru makin terlihat kedekatannya.

Baru-baru ini beredar foto yang memperlihatkan kedekatan keluarga Faisal dan keluarga besarnya, beserta Ibunda Jedunn.

Reaksi pun muncul dari anak Faisal, Shafa Haris yang memposting instastory mengatakan dirinya merasa dikhianati oleh keluarga ayahnya.

Baca: Shafa Aliya Langsung Begini saat Lihat Foto Ayahnya Bareng Keluarga Jennifer Dunn

Anak memang akan mendapatkan dampak dari perselisihan orang tuanya.

Tapi sebenarnya, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang di sekitar pada si anak saat mereka mengetahui orangtuanya selingkuh?

Langkah 1

Perkirakan kemarahan dari si anak menghadapi ketidaksetiaan orangtuanya.

Menurut psikolog Ana Nogales, anak mungkin mengekspresikan kemarahan dengan mudah, mulai bertindak berani mengabaikan risiko atau dia bisa saja malah menarik diri dan memilih diam.

Langkah 2

Bantu si anak memahani bahwa perselingkuhan terjadi di antara orang tua itu tidak melibatkan anak-anaknya, menurut firma hukum Rosen di North Carolina.

Anak-anak sering mempersonalisasi masalah pernikahan dan merasa mereka memiliki beberapa tanggung jawab untuk masalah antara ibu dan ayahnya.

Langkah 3

Ingatkan pada anak, meskipun orang tuanya berselingkuh dan membuat kesalahan serius, itu tidak menghapus cinta dan komitmen mereka pada anaknya.

Langkah 4

Mengantisipasi krisis kepercayaan si anak.

Menurut Nogeles, anak mungkin tidak akan bisa sepenuhnya mempercayai orang tuanya yang selingkuh, ini bisa menular tidak percaya pada orang lain terutama saat menjalin kedekatan dengan seseorang.

Langkah 5

Memahami kebencian terhadap orang tua yang dikhianati.

Sangat penting bagi orang tua yang dikhianati untuk memahami tidak bijaksana menggunakan anak sebagai sumber dukungan emosional, menurut psikolog dan penulis Ofer Zur.

Langkah 6

Beri dukungan untuk si anak. Orang-orang terdekatnya harus menjadi pendengar yang baik tanpa menilai atau mengkritik jika si anak ingin mengungkapkan perasaan yang dia alami.

Fokuskan perhatian dan energi padanya untuk memberikan dukungan.

Langkah 7

Mencarikan bantuan profesional apabila terjadi kemarahan yang mengakibatkan tindakan berlebihan oleh si anak.

Si anak mungkin memerlukan bantuan dan konseling profesional untuk mengatasi rasa marah, cemas, terluka, takut, dan malu.