Teror Bom Bunuh Diri, Jenderal Polisi Ini Sebut Jangan Salahkan Wanita Bercadar dan Pria Berjenggot

Brigjen Krishna Murti memberikan pernyataan mengejutkan di media sosial.

Jenderal bintang satu ini menyebutkan, teror bom tidak terkait ajaran agama tertentu.

Apalagi disangkutpautkan dengan cara berpakaian seseorang.

Dia mengatakan publik jangan menyalahkan wanita bercadar.

Atau pria berjanggut dengan celana di atas mata kaki.

————–

Rentetan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dalam tempo berdekatan mengundang keprihatinan publik.

Apalagi pelaku teror membawa anak-anak untuk melancarkan aksi keji mereka.

Tindakan tersebut mematik kemarahan publik karena melibatkan anak-anak yang tidak berdosa.

Kejadian mengejutkan terjadi di tiga gereja Surabaya dalam waktu berdekatan, Minggu (13/5/2018) pagi.
Dita Supriyanto dan Puji Astuti pasangan suami istri ini membawa serta anak-anaknya.

Yusuf Fadil (18), Firman Halim (16), Fadhila Sari (12) dan Pamela Rizkita (9) ikut tewas bersama orangtuanya.

Tiga gereja yang menjadi sasaran aksi terorisme ini adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuno.

Lalu, keesokan harinya, Senin (14/5/2018), bom meledak di pintu masuk Polrestabes Surabaya.

Pelakunya Tri Murtiono dan Tri Ernawati, pasangan suami istri juga membawa anaknya.

Anaknya, Daffa Amin Murdana (18), M Dary (14) dan Aisyah (8) juga diajak serta.

Beruntung, nyawa Aisyah selamat dalam aksi bom bunuh diri tersebut.

Orangtua dan kedua kakaknya, tewas di tempat.

Di tempat lainnya, bom meledak di Rusunawa Wonocolo yang dihuni Anton dan keluarga di Sidoarjo.

Anton tewas ditembak aparat keamanan.

Sedangkan istri dan satu orang anaknya juga turut tewas karena bom bunuh diri yang terlebih dulu meledak di rusunawa tersebut.

Peristiwa itu menjadi ramai dan viral.

Banyak yang mengaitkan dengan agama tertentu.

Pelaku ikut ajaran yang sesat sehingga mengambil jalan salah untuk mencapai tujuan hidup.

Para pelaku kebetulan beragama Islam.

Menyikapi persoalan itu, Karomisinter Divhubinter Polri Brigjen Krishna Murti memberikan pernyataan.

Pasalnya, ada yang mengaitkan kejadian tersebut dengan tingkah laku dan cara berpakaian seseorang.

Diunggah akun @lambe_jaim, Krishna Murti memberikan penjelasan.

Saya mau kasih tau semua warga masyarakat:

1. Wanita menutup aurat dg jilbab ataupun bercadar itu adalah pilihan berdasarkan keyakian masing2.. Jadi jangan kalian cap mereka dg label tidak baik. Menutup aurat adalah kewajiban yang diajarkan nabi..

2. Laki2 yang berjenggot adalah Sunnah Rasul. Jangan kalian label mereka dengan hal2 tidak baik.. Semua kembali kepada keyakinan masing2..

3. Laki2 bercelana diatas mata kaki, bukanlah identik dengan kaum radikal. Dalam Islam kita diajarkan untuk tidak menggunakan celana yang menyapu lantai. Dalam Shalat kita diajarkan untuk menaikan celana diatas mata kaki agar diterima Shalat kita..

4. Jangan label orang karena penampilan. Dan jangan juga menyembunyikan kejahatan dengan penampilan..

5. Banyak pelaku kejahatan bersembunyi dibalik pakaian bagus, dibalik batik, dibalik jas, dibalik seragam, dibalik perilaku manis..

6. Kita perang terhadap kejahatan, bukan perang terhadap manusia.. .

Semoga ini mencerahkan dan menghindarkan kita dari syak wasangka satu sama lain..
.
#kmupdates dalam #22menit renungan Maghrib..

Banyak netizen setuju atas pernyataan Krishna Murti tersebut.

nurulrizkyfauziah Nice….salut pak….katanya teroris penjahat…..klau udh brani mengmbl nyawa orng yaa apaalagi cuma sekedar berbohong…jdi intina ni teroris yaa penjahat ya pembohong….pembohong yg ingin mencoreng nama islam…jdi kalau kita percaya mereka penjahat yaa jgn mau dibohongi jg laaah

mada.pratama Ini baru statement orang cerdas

gigihretno Pencerahannya bagus tegas n lugas,,setuju pak @krishnamurti_91

ptrmdhnaa_ Setuju!! Tapi sayangnya hal hal tsb banyak yang disalah gunakan, sehingga terjadi salah paham.

ullulaeny Setujuu… apakabar koruptor2 yang pakaiannya rapihh dan berdasi itu

Dua Polisi Terluka Akibat Serangan di Mapolda Riau

Beberapa terduga teroris dikabarkan menyerang Mapolda Riau, Rabu (16/5) pagi ini. Akibat serangan ini, diperkirakan sejumlah orang terluka.

Kabid Humas Polda Riau, AKBP Sunarto, mengatakan adanya korban luka di pihaknya berjumlah dua orang.

“Dua polisi terluka terkena senjata tajam,” ujar Sunarto, saat dikonfirmasi, Rabu (16/5/2018).

Selain itu, beredar isu seorang jurnalis juga menjadi korban akibat penyerangan terduga teroris ini. Namun demikian, informasi itu masih belum dikonfirmasi oleh pihak kepolisian.

Sementara dihubungi secara terpisah, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan dari penyerangan ini, pihaknya terpaksa menindak tegas terduga teroris.

Iqbal mengatakan 1 terduga teroris terpaksa ditembak mati di lokasi kejadian.

“1 terduga teroris tertembak. Insiden ini sedang ditangani,” ujar Iqbal, saat dikonfirmasi pula.

Namun, jenderal bintang satu itu belum bisa berkomentar lebih lanjut terkait insiden ini.

Iqbal mengatakan dirinya belum bisa memberikan informasi detail terkait identitas terduga teroris yang tertembak, ataupun kronologis penyerangan yang dilakukan ke Mapolda Riau.

“Insiden ini masih ditangani, saya belum bisa kasih info detail,” imbuh Iqbal.

Mapolda Riau Diduga Diserang Teroris, Sosok Bertopeng Bacok Polisi & Orang Tergeletak di Lapangan

Indonesia kembali digegerkan dengan serangan terduga teroris di Mapolda Riau pada Rabu, 16 Mei 2018.

Jika sebelumnya Surabaya dibuat geger dengan aksi serangan bom bunuh diri.

Pagi ini, Markas Polda Riau tiba-tiba diserang oleh sejumlah terduga teroris yang mengendarai mobil Avanza warna putih.

Dilansir TribunStyle.com dari Tribun Pekanbaru, mobil yang dikendarai terduga teroris tersebut tiba-tiba menabrak pagar Mapolda Riau.

Bahkan ada sosok tak dikenal yang mengenakan topeng langsung membacok seorang anggota polisi.

“Kejadiannya berlangsung cepat.

Tiba-tiba turun orang mengenakan topeng langsung membacok anggota polisi yang ada di dekat lokasi kejadian,” ungkap Doddy, wartawan Tribun Pekanbaru.com.

Adanya serangan ini membuat polisi bertindak cepat dengan melumpuhkan para pelaku dengan timah panas.

Menurut Doddy, ada dua pelaku yang ditembak.

Tak lama setelah kejadian, beredar foto mengejutkan di Mapolda Riau.

Terlihat sati orang tergeletak di tengah lapangan tengah Polda Riau.

Hingga saat ini belum diketahui sosok tersebut, apakah anggota kepolisian atau diduga pelaku teror.

Tribun Pekanbaru ()

Dengan adanya serangan di Mapolda Riau, wartawan menjadi kocar kacir.

Sebab pagi ini dijadwalkan akan adanya pemusnahan barang bukti narkoba di halaman Mapolda Riau. (

Astagfirullah! Maaher Thuwailibi Sebut Polisi ‘Monyet Berseragam Bencong’

Belum sehari berlalu, kerusuhan di Mako Brimob Depok, Selasa (08/05/2018) beragam komentar, spekulasi, hinaan, bahkan fitnah berhamburan di media sosial. Bukannya berbela sungkawa atas gugurnya sejumlah petugas karena bejatnya tahanan teroris, ada seorang ustadz yang justru berkomentar nyinyir.

Ustadz Maaher At-Thuwalibi melalui tulisannya di Facebook tampak mendukung ISIS dan menyebut polisi dengan sebutan “Monyet Seragam Bencong”.

Memang dia tak mengatakan secara jelas menghina polisi dan mendukung kelompok teroris. Namun, publik akan mengerti bahwa maksud tulisan statusnya ditujukkan untuk insiden yang terjadi di Mako Brimob Depok.

“Info Hangat Yang Viral Di ‘Alam Ghaib’ Sejak Tadi Malam,” demikian Ustadz Maheer memberi judul tulisan yang hanya 4 paragraf tersebut.

“Terjadi pertempuran hebat antara sejumlah pasukan menyerupai pahlawan melawan gerombolan monyet berseragam bencong yang dianggap “mujtahid” oleh “mufti” tower cileungsi. Antara pasukan mirip pahlawan dan gerombolan monyet berseragam bencong itu terjadi baku hantam dan rebutan “bambu runcing”,” katanya kemudian.

Ustad Maher mengatakan, satu orang diantara pasukan berjubahkan pahlawan dari bumi lancang kuning gugur dijemput makhluk surgawi ke alam keabadian abadi. Sementara ada 16 ekor monyet yang katanya berseragam bencong dikabarkan tewas mengenaskan.

Dia kemudian bersyukur, dan peristiwa yang diceritakannya itu dikaitkan dengan pesta demokrasi yang diduga pula olehnya sebagai settingan.

“Walhamdulillah, walaupun banyak diantara media bencong mengabarkan tidak ada korban dan hanya “sekedar luka”. Hakikat berita ini, Allahu a’lam. Apakah fakta ini benar dan real adanya, ataukah settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan, ataukah ada kaitannya dengan anjloknya nilai harta berharga di negeri boneka. Wallahu ‘Aliimu A’lam,” tulisnya.

Ucapan syukur yang tanpak ditujukkan karena meninggal sejumlah petugas kepolisian diungkapkan lagi di paragraf ketiga. Bahkan ia menyebut kehidupan monyet-monyet hanya akan melahirkan malapetaka dan bahaya bagi peradaban dunia.

“Yang pasti, saya hari ini turut senang dan gembira. Wallahi saya sangat senang. Minimal, berkuranglah populasi monyet berseragam bencong di negeri ini yang eksistensinya hanya menjadi malapetaka dan marabahaya untuk kehidupan manusia dan peradaban dunia,” katanya.

Selanjutnya, Ustad Maheer menegaskan, jika memang benar kerjadian (Mako Brimob) yang disebutnya peperangan antara mujahid dan pasukan moyet, ia lantas mengajak bergembira. Sebaliknya, jika tidak bergembira disebut dia sebagai orang munafiq.

“Jika berita bahwa pasukan monyet berseragam bencong tewas ini adalah benar dan real adanya (yakni bukan permainan atau settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan), lalu ada orang yang tidak gembira dengan kenyataan ini, maka ketahuilah dia MUNAFIQ! Walaupun tentunya bisa jadi mereka akan lebih brutal dari zaman pemerintahan “raja-berkharisma” sebelum ‘negeri seribu satu sampah’ dipimpin boneka kayu peliharaan si tua bangka,” ujarnya.

Berdasarkan pantaun, tulisan Ustad Maaher sudah tidak bisa dilihat. Namun, screnshoot tulisannya sudah beredar di grup-grup, baik WatsApp maupun Grup Facebook.

Untuk lebih jelas, berikut ini tulisan lengkap Ustad yang pernah menuduh Ketum PBNU Kiai Said sebagai ahli bid’ah tersebut.

INFO HANGAT YANG VIRAL DI ‘ALAM GHAIB’ SEJAK TADI MALAM

Terjadi pertempuran hebat antara sejumlah pasukan menyerupai pahlawan melawan gerombolan monyet berseragam bencong yang dianggap “mujtahid” oleh “mufti” tower cileungsi. Antara pasukan mirip pahlawan dan gerombolan monyet berseragam bencong itu terjadi baku hantam dan rebutan “bambu runcing”.

Kabar sementara yang beredar, satu orang diantara pasukan berjubahkan pahlawan dari bumi lancang kuning gugur dijemput makhluk surgawi ke alam keabadian abadi. 16 ekor monyet berseragam bencong dikabarkan tewas mengenaskan – walhamdulillah-. Walaupun banyak diantara media bencong mengabarkan tidak ada korban dan hanya “sekedar luka”. Hakikat berita ini, Allahu a’lam. Apakah fakta ini benar dan real adanya, ataukah settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan, ataukah ada kaitannya dengan anjloknya nilai harta berharga di negeri boneka. Wallahu ‘Aliimu A’lam.

Yang pasti, saya hari ini turut senang dan gembira. Wallahi saya sangat senang. Minimal, berkuranglah populasi monyet berseragam bencong di negeri ini yang eksistensinya hanya menjadi malapetaka dan marabahaya untuk kehidupan manusia dan peradaban dunia.

Jika berita bahwa pasukan monyet berseragam bencong tewas ini adalah benar dan real adanya (yakni bukan permainan atau settingan menjelang ‘pesta demokrasi’ di tahun depan), lalu ada orang yang tidak gembira dengan kenyataan ini, maka ketahuilah dia MUNAFIQ! Walaupun tentunya bisa jadi mereka akan lebih brutal dari zaman pemerintahan “raja-berkharisma” sebelum ‘negeri seribu satu sampah’ dipimpin boneka kayu peliharaan si tua bangka.

MasyaAllah. Meskipun Rekan Mereka Dianiaya di Mako Brimob, Mereka Dengan Sabar Menyuapi Para Tahanan…

Kerusuhan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat telah menewaskan lima anggota Polri. Kelima polisi itu gugur dengan cara mengenaskan.

Namun, anggota polisi lain tak terpancing emosinya untuk berbuat keji atau balas dendam kepada narapidana teroris (napiter).

Hal itu terlihat dari sebuah potongan video yang menunjukkan sejumlah anggota Polri memberi makan ke napiter yang sedang dipindahkan ke Nusakambangan, Kamis (10/5).

Dalam video berdurasi 20 detik itu terlihat polisi menyuapi napiter yang tampak kelaparan. Napiter itu disuapi karena tangannya diborgol.

Diketahui, hari ini polisi memindahkan 145 napiter ke Nusakambangan. Mereka semuanya adalah penghuni Rutan Mako Brimob yang ikut kerusuhan berdurasi sekitar 36 jam. Mereka dipindahkan dengan dikawal ketat anggota kepolisian.

Wakapolri: Videokan Polisi yang Lakukan Pungli, Saya Langsung Pecat

Wakapolri Komjen Syafruddin meminta kepada semua pihak untuk memvideokan polisi yang melakukan tindakan pungutan liar (pungli) kepada sopir truk di jalan.

‎”Para media silakan videokan para polisi yang ada di jalan, ini perintah saya, saya langsung pecat, begitu ada videonya benar (lakukan pungli), kita pecat hari itu, telanjangin di‎a,” ujar Syafruddin di komplek Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Menurutnya, tindakan yang tegas yakni pemecatan sangat pantas diberikan kepada polisi yang melakukan pungli, karena remunerasi yang diterima anggota polisi sekarang sudah besar, melebihi gaji setiap bulannya.

“‎Sudah cukup negara memberikan kepada mereka, tidak kurang lagi sekarang, biaya operasionalnya besar sekali sekarang,” paparnya.

Tindakan pencopotan akibat pungli, kata Syafruddin, tidak hanya diberikan kepada polisi yang ada dijalan saja, tetapi bisa juga sampai tingkatan Kapoldanya.

‎”Kapoldanya kita copot, saya enggak main-main kalau saya. Saya kan pernah ngomong, Kapolda akan kita periksa dan copot, Kapolda Sulteng kita copot gara-gara pembersihan apa itu, kasus di Banggai,” paparnya.

Dirinya pun mempersilakan kepada pengungkap pungli dari polisi, untuk melaporkannya secara langsung‎ dan tidak perlu takut.

‎”Langsung ke saya saja (lapor), tapi harus benar, kalau enggak kita proses juga dia, kalau mau nyari-nyari,” ucapnya.

Sepanjang 2017, Wakapolri mendapat laporan dari Sabar Pungli, sudah melakukan tindakan pemecatan dan sanksi lainnya kepada 1.800 oknum ‎yang melakukan pungli kepada sopir truk.

Susi Ferawati, Perempuan yang Mengaku Diintimidasi di CFD Diperiksa Polisi

Susi Ferawati, perempuan yang mengaku sebagai korban dugaan intimidasi oleh sekolompok orang dalam CFD pekan lalu diperiksa polisi sebagai saksi pelapor sekaligus korban.

Pengacara Susi, Muannas Alaidid, mengatakan kliennya dicecar 17 pertanyaan seputar foto-foto terduga pelaku intimidasi saat itu.

“Yang paling cukup efektif itu adalah satu soal masalah foto-foto berkaitan dengan orang yang diduga saat itu melakukan persekusi di hadapan korban, termasuk yang menggunakan sepeda kan. Itu tadi juga sudah diidentifikasi namanya terduganya Haryadi Akhyat kalau tidak salah,” kata dia di Markas Polda Metro Jaya, Jumat, (4/5/2018).

Kuasa hukum Susi juga mengatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan foto-foto berikut rekaman dugaan intimidasi ke pihak penyidik. Barang bukti tersebut diambil dari foto dan video yang beredar di media sosial.

“Kami sampaikan ada bukti-bukti tambahan lagi, antara lain potongan-potongan gambar, kemudian rekaman video yang kemudian beredar. Nah itu yang tadi diputar kembali dan ditunjukkan kepada pada korban,” ujar dia.

Sementara itu, seorang perempuan bernama Siti Taruma dihadirkan sebagai saksi. Siti mengaku melihat langsung dugaan tindakan intimidasi tersebut.

“Itu saksi fakta, dia (Siti) berada di situ dan menyaksikan langsung. Bagaimana dia mengalami dan menyaksikan sendiri ketika Bu Susi dan anaknya diperlakukan sedemikian lupa,” katanya.

Muannas menduga jumlah pelaku lebih dari lima orang, yang menurutnya dilakukan secara terencana dan sistematis.

“Mungkin lebih dari lima orang. Kita kan enggak tahu namanya siapa, tadi kita identifikasi, ada tiga orang yg sekiranya bisa segera dilakukan penangkapan termasuk yang memaksa memasukan makanan, beberapa orang yang megang pakaian dan sebagainya,” tutur Muannas.

Pemerkosa Bocah di Mojokerto Terekam CCTV, Ini Yang Dilakukan Polisi

Bocah belia berinisial BL (6) menjadi korban pemerkosaan oleh orang tidak dikenal ketika pulang dari sekolahnya menuju rumahnya di Dusun Mengelo Tengah, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Perbuatan biadab itu dilakukan di rumah kosong persis di samping Masjid Miftahul Huda desa setempat.

Informasinya, saat itu korban pulang seorang diri berjalan kaki.

Pasca melahirkan ibu korban tidak dapat menjemputnya.

Tidak diketahui secara pasti apakah pelaku orang terdekat korban atau orang lain yang menjemput korban.

Warga sempat melihat pelaku melarikan diri mengendarai motor Beat warna merah menuju ke jalan raya Sooko.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, Ajun Komisaris Polisi (AKP) M. Fery mengatakan anggotanya masih melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku pemerkosaan siswi TK.

“Pelaku masih DPO untuk kasus ini telah dilaporkan yang masih dalam proses penyelidikan,” ujarnya, Kamis (3/5/2018).

Sepertinya yang diberitakan sebelumnya, seorang siswi TK menjadi korban pemerkosaan oleh pria tidak dikenal.

Aksi biadab pelaku dilakukan di rumah kosong persis di samping Masjid Miftahul Huda, Dusun Mengelo Tengah, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Pelaku melakukan perbuatan asusila tersebut saat siang bolong, Rabu (2/5/2018).

Pelaku kabur melarikan diri menuju jalan raya mengendarai sepeda motor matic.

Firman warga setempat mengatakan sempat melihat korban berjalan sembari menangis tersedu-sedu.

Korban mengepalkan tangan seperti menahan sakit.

“Dia (korban) menangis di jalan menuju rumahnya. Banyak darah berceceran di kaki korban,” ujarnya kepada wartawan.

Warga yang melihat korban sempat berupaya mengejar pelaku yang diduga menuju ke arah barat jalan raya Sooko.

Namun hingga kini pelaku tidak kunjung ditemukan.

“Pelaku memakai jaket cokelat pakai Honda Beat,” bebernya.

Dari pengamatan di lapangan ada rekaman kamera Closed Circuit Television (CCTV) dari rumah warga yang sempat merekam pelaku.

Namun, sayangnya kamera CCTV tersebut letaknya berada cukup jauh sehingga pelaku tidak begitu jelas. (Mohammad Romadoni)

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Pelaku Pemerkosaan Siswi TK di Mojokerto Sempat Terekam Kamera CCTV, Ini Penjelasan Polisi,

 

Kronologi Polisi Pukul Ibu-ibu Hingga Pingsan

Kepolisian Resor Blora di Jawa Tengah masih mendalami video viral yang mengabadikan aksi pemukulan seorang oknum polisi berseragam lengkap kepada seorang wanita hingga korban pingsan.

Saat ini pelaku, korban dan juga sejumlah saksi masih dimintai keterangan oleh tim unit Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Blora.

Dari keterangan yang dihimpun kepolisian, kejadian tersebut terjadi saat acara sedekah bumi di Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Selasa (1/5/2018) siang sekitar pukul 14.00 WIB.

Korban yaitu Sulastri (30) merupakan ibu dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Sementara pelaku pemukulan yaitu Bripka Riyanto, merupakan anggota Polsek Bogorejo, Polres Blora.

Keduanya yang belakangan diketahui masih memiliki hubungan keluarga itu tercatat sebagai warga Kecamatan Bogorejo.

“Keduanya ini masih keluarga. Jadi Bripka Riyanto berstatus sebagai paman Sulastri. Bripka Riyanto adalah adik kandung ibunda Sulastri. Kami langsung tangani kasus ini begitu dapat laporan. Ternyata ini permasalahan keluarga,” kata Kapolres Blora, AKBP Saptono kepada Kompas.com, Rabu (2/5/2018).

Menurut Saptono, pihaknya sangat menyayangkan terjadinya kasus pemukulan yang dilakukan oleh Bripka Riyanto selaku Bhabinkamtibmas. Karenanya, proses hukum tetap akan dilanjutkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Untuk anggota akan tetap dikenai sanksi disiplin sesuai dengan perbuatannya meski sudah diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Saptono.

Kronologi
Sebelumnya, sebuah video berdurasi pendek viral di media sosial.

Video amatir yang direkam kamera ponsel itu mengabadikan suasana di atas panggung hiburan musik dangdut.

Dalam video itu terdokumentasikan percakapan beberapa biduan dengan seorang wanita yang mengenakan pakaian tidur.

Wanita tersebut terlihat berdiri dan bercerita di hadapan para biduan yang sedang asyik duduk di atas panggung menunggu giliran bernyanyi.

Wanita yang terdengar serak suaranya itu kemudian meminum setengah botol air mineral sampai habis. Para biduan pun sesekali tertawa melihat polah tingkah wanita itu.

Suasana mendadak hening ketika seorang polisi berseragam lengkap datang menghampiri. Dengan nada kasar, polisi tersebut menghardik wanita itu dan berupaya mengusirnya.

“Mudun!!! Tak antemi sisan kowe rak ndang mudun! (Turun!!! Saya hajar kamu jika tidak segera turun! ),” bentak polisi tersebut.

Sambil ketakutan, wanita itu kemudian duduk di samping para biduan.

Polisi yang sudah berdiri di depan wanita itu kemudian melayangkan pukulan ke pipi kanan wanita itu.

Sambil memegang wajahnya, wanita itu tampak kesakitan, kemudian jatuh pingsan di bawah kaki sang polisi.

Seorang balita mungil yang diduga anak dari wanita itu pun menangis menjerit di samping wanita tersebut.

“Masya Allah….. Pak ampun ngoten pak. Ya Alloh Pak. (Masya’Alloh….. Pak jangan gitu dong pak. Ya Allah pak),” teriak iba seorang biduan.?

Suasana berubah tegang. Para biduan pun berteriak meminta tolong supaya wanita itu bisa dipindahkan ke tempat yang aman.

Di akhir durasi, tanpa merasa bersalah polisi tersebut masih nampak berdiri di samping wanita tersebut.

“Iki ewangi ah mas. Tulung mas tulung. (Ini dibantu dong mas. Tolong mas tolong),” teriak seorang biduan.

ACTA Ungkap 2 Alasan Polisi Bisa Tolak Pelaporan terhadap Kelompok #2019GantiPresiden

JAKARTA—Ketua Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Habiburokhman menyarankan aparat kepolisian untuk menolak laporan yang dilakukan ibu bernama Susi Ferawati terkait dugaan intimidasi kelompok #2019GantiPresiden di Car Free Day (CFD) Jakarta. Menurut Habiburokhman, ada dua alasan penolakan atas laporan tersebut.

“Menurut kami ada dua alasan penting agar polisi menolak laporan tersebut,” ujar Habiburokhman, Rabu (2/5/2018).

Pertama, Habib sapaan akrabnya memandang bahwa insiden tersebut tidak ditemukan unsur-unsur pidana dalam kasus tersebut. Menurut dia, di masa lalu kasus tersebut mungkin saja diusut dengan Pasal 335 KUHP atau yang kerap disebut Pasal Perbuatan Tidak Menyenangkan.

Namun pasca putusan MK Nomor 1/PUU-XI/2013 rumusan Pasal 335 KUHP telah dirombak dan mensyaratkan adanya kekerasan atau ancaman kekerasan dalam tindakan yang dituduhkan. Ia melihat bahwa tidak ada kekerasan atau ancaman kekerasan dalam kasus di CFD tersebut.

“Kasus ini juga sangat jauh untuk disebut sebagai persekusi karena tidak terjadi secara sistematis dan tidak berdasarkan prasangka rasial sebagaimana terjadi di beberapa negara Afrika,” jelasnya.

Kedua, kata Ketua DPP Partai Gerindra bidang Hukum dan advokasi itu, pelaporan kasus tersebut sangat kental nuansa politisnya. Menurut dia, jika laporan ini diterima maka masyarakat juga akan menuntut penyelesaian kasus-kasus yang lebih parah seperti kasus penggerudugan Fahri Hamzah oleh sekelompok orang bersenjata tajam di sebuah airport bulan Mei 2017 lalu.

Habiburokhan khawatir laporan ini pada akhirnya justru akan menimbulkan kegaduhan politik.

“Saran saya kasus ini diselesaikan dengan dialog. Jangan ada pihak–pihak yang pamer kekuasaan dengan mempidanakan pihak yang tidak sekubu dalam politik. Mari sama-sama kita jaga agar di tahun politik ini situasi senantiasa kondusif,” pungkasnya.