Ibu Hamil dan Menyusui Jika Tidak Puasa Tak Wajib Mengganti Puasanya, Cukup Bayar Fidyah Saja

Hukum Qadha’ dan Fidyah untuk Hamil dan Menyusui [Murdhi’]
Sekedar mengingatkan, Ibnu Katsir di Muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menyebutkan ikhtilaf dan aqwal para ulama tapi kita kemudian tidak memberikan tarjihnya.

Jadi, mari kita sama-sama belajar untuk itu. Kalau tidak bisa tarjih, ya cukup katakan menurut yang saya tahu berdasarkan pendapat ulama anu begini jadi kita harus begini.

Adapun kalau pendapat lain saya tidak tahu. Cukup tanpa menyebutkan ada A, B, C dst tapi kemudian tidak menyodorkan tarjih atau mana yang rajihnya.

Kedua, Al-Ustadz Abdul Hakim Abdat kerap mengingatkan kita untuk melakukan bahts. Tidak berhenti sampai apa kata Syaikh, namun terus menelusuri apa dibalik itu sehingga Syaikh bisa berkesimpulan seperti itu.

Alasannya, jika kita berhenti sampai pada apa kata Syaikh, maka begitu Syaikh meninggal ilmu akan terputus bersamanya dan anak-anak kita hanya akan mewarisi kesimpulannya bukan dasarnya sehingga ketika kelak muncul hal serupa tapi tak sama seiring perkembangan peradaban manusia, kebingungan lah yang ada. Wal ‘iyadzu billah.

Adapun berkenaan dengan mana yang rajih bagi hamil dan murdhi’ apakah (1) qadha atau (2) fidyah atau (3) qadha dan fidyah?

Ada ikhtilaf di kalangan para ulama berkenaan dengan permasalahan ini. Pendapat yang mu’tabar terbagi kedalam tiga:

  1. Wanita yang hamil dan murdhi’ (menyusui) boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib qadha saja
  2. Wanita yang hamil dan murdhi’ boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib membayar fidyah saja tanpa qadha
  3. Orang yang hamil dan murdhi’ boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib qadha dan membayar fidyah

Al-Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur’an membawakan hal ini dengan menyebutkan siapa shahabat yang berpendapat demikian. Ali bin Abi Thalib untuk [1], Ibnu Abbas untuk [2] dan Ibnu Umar untuk [3].

Mari kita mulai pembahasan dari ayat yang ada:

Allah berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan bagi orang yang tidak mampu berpuasa, maka (ia membayar) fidyah (dengan cara) memberi makan orang miskin” (QS. Al-Baqarah: 184)

Pada awal mula diperintahkannya puasa seperti dalam ayat 183-184 ini, orang diberi kebebasan memilih, kalau mau berpuasa silakan kalau tidak berarti harus memberi makan orang miskin sebagai gantinya (lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Namun demikian, hukum yang terkadung di ayat 184 ini kemudian dimansukh dengan ayat berikutnya (185) yang mengatakan:

“Siapapun yang mendapati bulan (Ramadhan) maka ia harus berpuasa.” Silakan lihat penjelasan mansukhnya ayat 184 oleh ayat 185 ini di buku Shifat Shoum Nabi oleh Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali.

Allah berfirman:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“… maka barangsiapa yang sakit atau sedang safar, (dia boleh tidak berpuasa) dan membayarnya di hari yang lain. Allah mengendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu …” (QS. Al-Baqarah: 185)

Berdasarkan kedua ayat ini maka disimpulkan bahwa semua kaum muslimin wajib berpuasa, dan keringanan untuk tidak berpuasa hanya berlaku bagi orang yang sakit dan orang yang dalam keadaan safar. Dan sebagai kompensasinya, mereka harus membayarnya di hari lain (qadha’).

Namun kesimpulan ini terlalu dini, karena ada riwayat Abu Dawud dan Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabbal, bahwa hukum “bagi yang tidak mampu maka (ia membayar) fidyah kepada orang miskin” tetap berlaku, hanya berlakunya itu adalah bagi pria yang sudah tua, wanita yang sudah tua serta wanita hamil dan murdhi’. Kedua riwayat ini shahih adanya.

Dengan demikian, maka kesimpulan lanjutannya adalah:

Semua kaum muslimin yang mendapati bulan ramadhan wajib berpuasa. Kewajiban ini dikecualikan bagi:

  • Musafir dan orang sakit, keduanya boleh tidak berpusa tetapi harus menggantinya di lain hari (qadha)
  • Orang tua, wanita hamil dan menyusui (murdhi’), mereka boleh tidak berpuasa tetapi harus menggantinya dengan cara memberi makan orang miskin sejumlah harinya (fidyah)

Sampai disini jelaslah permasalahan. Namun jika demikian kesimpulannya, kenapa ada pendapat yang mengatakan harus qadha -baik menyendiri hanya qadha ataupun dibarengi dengan fidyah- ?

Jawabnya, qadha dan fidyah adalah ibadah, dan al-aslu fil ‘ibadati at-tauqifiyyah. Jadi, mana dalilnya kalau qadha ikut berperan dalam bolehnya wanita hamil dan murdhi untuk tidak berpuasa? Kalau memang ada dalil tentu kita nyatakan demikian, kalau tidak ada dalil berarti kembali pada kesimpulan di atas.

Mereka yang berpendapat qadha sangat bertanggung jawab, apa yang diyakini berpijak pada dalil sebagi berikut:

Hadits riwayat An-Nasa’i dari Anas bin Malik: “Sesungguhnya Allah mengangkat (kewajiban) dari musafir setengah sholat dan dari wanita hamil serta menyusui (kewajiban) puasa.”

Hadits ini shohih adanya. Hadits ini juga merupakan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.

Dari hadits ini, mereka beristidlal bahwa posisi musafir dan wanita hamil serta menyusui ini sama karena adanya dilalah iqtiran di sana.

Dengan demikian maka kompensasinya sama yaitu harus mengganti di lain hari karena musafir apabila tidak berpuasa ia harus menggantinya di lain hari (qadha).

Mereka juga menggunakan qiyas dengan orang sakit. Oleh karena orang sakit apabila tidak berpuasa harus menggantinya di lain hari (qadha’), maka demikian juga halnya dengan wanita hamil dan menyusui.

Dengan demikian, jelaslah dalil/alasan pendapat tentang wajibnya qadha’ bagi wanita hamil dan menyusui.

Lalu pendapat ketiga bagaimana, yaitu tentang wajibnya qadha dan fidyah? Ini lebih mudah, mereka mencoba menggabungkan kedua pendapat di atas. Dan ini benar.

Dalam arti, ketika kita menjumpai seolah ada beberapa dalil/pendapat yang terkesan bertentangan, solusi pertamanya adalah kita coba thariqatul jam’i, kita coba gabungkan. Kalau ternyata tidak bisa karena memang jelas kontradiksinya dalam kondisi bagaimanapun baru kita lakukan tarjih (adu unggul).

Penggabungan ini dirinci dalam beberapa kondisi. Namun apapun kondisinya itu semuanya berpulang pada benar tidaknya istidlal tentang wajibnya qadha bagi wanita hamil dan menyusui tersebut.

Jika benar, maka pendapat penggabungan itu mungkin lebih tepat. Jika ternyata tidak, maka kita kembali ke semula, yaitu hanya fidyah.

Berarti masalahnya, benarkah istidlal mereka yang berpendapat wajibnya qadha?

Jawabnya, dengan istidlal seperti tersebut di atas, maka konsekuensinya mereka harus membuktikan bahwa semua riwayat Abu Dawud, Baihaqy, dan Daruqhutni tentang membayar fidyah itu adalah dho’if/lemah.

Kenapa? Karena istidlal ini kontradiksi dengan kedua riwayat itu, yakni dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sekiranya riwayat-riwayat ini memang dho’if, tentu yang rajih adalah pendapat wajibnya qadha, sebab qiyas dengan orang sakit adalah benar dan dilalah iqtiran dengan musafir juga jelas.

Namun ternyata tidak demikian kenyataanya. Semua riwayat itu shahih, dan jelas bertentangan dengan istidlal mereka yang mengatakan wajibnya qadha.

Perincinnya:

[1] Riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas: “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa, serta wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir keadaan keduanya, untuk berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya”.

[2] Riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu Umar: “Seorang wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha”.

“Berbukalah dan berilah makan orang miskin setiap harinya dan tidak perlu mengqadha.”

Dalam jalan lain dikatakan bahwa anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy, dan sedang hamil. Dia merasa kehausan ketika puasa Ramadhan, maka Ibnu Umar pun menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin.

[3] Riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Umar bahwa beliau ditanya tentang wanita hamil yang khawatir akan kandungannya: “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.”

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa pendapat wajibnya qadha dengan istidlal seperti tersebut di atas adalah tidak tepat, kecuali -sekali lagi kecuali- kalau riwayat-riwayat perinci tersebut tidak shohih alias dho’if.

Adapun qiyas dengan orang sakit, tidak bisa dilakukan karena telah datang riwayat yang jelas dan menerangkan tentang kedudukan dan kondisi wanita hamil dan menyusui ini.

Sekali lagi juga, jika semua riwayat itu dlo’if tentu qiyas ini benar adanya. Dan segera kita katakan bahwa yang wajib adalah qadha’.

Dengan demikian, tampaklah cahaya terang bagi kita dan jernihlah segala kekeruhan yang ada, walhamdulillah, bahwa yang rajih berdasarkan dalil-dalil yang ada adalah bagi wanita hamil dan menyusui diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan mereka harus menggantinya dengan membayar fidyah kepada orang miskin sejumlah hari di mana mereka tidak berpuasa.

Tidak ada kewajiban qadha’ bagi mereka karena tidak ada dalil yang mendasarinya.

Hadits Ibnu Umar di atas juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan apakah wanita hamil berbuka karena khawatir terhadap dirinya atau anaknya atau keduanya, semuanya sama cukup dengan membayar fidyah.

Kentut di Dalam Air Bisa Membatalkan Puasa? Ini Jawabannya

Pertanyaan yang tak kalah populer selalu ditanyakan ketika bulan suci ramadan tiba yakni, apakah kentut di dalam air bisa membatalkan puasa?

Pemahaman yang beredar di kalangan masyarakat kita bahwa bila orang berpuasa lalu berendam di air lalu ia kentut di dalamnya maka puasanya batal.

Alasannya, hal demikian memungkinkan masuknya air ke tubuh, baik melalui telinga, hidung atu dubur.

Pertanyaan: Bagaimana hukum orang yg sdg menjalankan ibadah puasa trus mandi di kolam renang dan buang angin di dalam kentut?

Jawaban:
Menyelam di kolam ketika puasa tidak apa-apa (boleh), dengan catatan air tidak masuk kedalam tubuh, aman dari masuknya air.

Imam Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Al-Majmu’ syarh al-Muhadzdzab mengatakan:

“Boleh bagi orang yang berpuasa menyiramkan air (ketubuhnya) dan menyelam didalam air (berendam didalam air), berdasarkan riwayat Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam, ia berkata:

“menceritakan kepadaku orang yang menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pada musim kemarau menyiramkan (membasuh) kepalanya dengan air karena cuaca yang sangat panas dan dahaga sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa”.

Juga boleh memakai celak mata berdasarkan riwayat dari Anas “sesungguhnya ia memakai celak sedangkan ia berpuasa” dan karena mata bukanlah lubang tembus, maka tidak batal puasanya dengan sesuatu yang masuk kedalamnya”

Adapun mengenai kentut didalam air (kolam), itu membatalkan puasa.

Hal ini juga dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian).

Sedangkan didalam al-Fatawa Al-Hindiyah fiy Madzhab al-Imam A’dham Abu Hanifah (madzhab Hanafiy) disebutkan bahwa kentut didalam air hukumnya makruh bagi orang yang berpuasa.

Yang lebih bagus adalah lebih hati-hati agar puasa kita benar-benar terpelihara.

Buka Puasa Dengan Gorengan? Jangan Keseringan, Ini Bahayanya Bagi Kesehatan

Gorengan adalah menu yang bisa ditemukan dimana-mana, termasuk pada bulan Ramadan seperti sekarang. Bahkan gorengan kerap kali menjadi menu berbuka.

Tapi, tahukah bahwa jika terlalu sering mengonsumsi gorengan dapat membahayakan kesehatan?

Dilansir dari Hello Sehat, kandungan lemak dalam minyak yang ada pada gorengan membuat gorengan sulit dicerna, terutama ketika gorengan menjadi makanan pertama yang dimakan setelah puasa.

Bayangkan saja, ketika perut kosong setelah puasa seharian, perut harus mencerna lemak yang ada pada gorengan. Tentunya, saluran pencernaan bekerja lebih keras untuk dapat mencerna lemak tersebut.

Karena sulit untuk dicerna, proses untuk mencerna gorengan akan memakan waktu lama serta dapat mengganggu dan menghambat saluran pencernaan untuk mencerna zat gizi lain.

Karena gorengan lebih lama dicerna, perut tidak cepat merasa kenyang. Akibatnya, akan menambah makan gorengan lagi dan lagi dan menyebabkan terlalu banyak makan.

Kadang mungkin tidak sadar sudah memakan gorengan berapa buah. Setelah berhenti makan gorengan, baru akan merasa perut sudah penuh dan kenyang.

Buka puasa dengan gorengan dapat menimbulakn keluhan yang dirasakan berbeda-beda oleh tiap orang.

Jika memiliki saluran pencernaan yang sensitif, gorengan dapat merangsang asam lambung naik yang dapat menyebabkan heartburn (perasaan panas atau terbakar di sekitar perut bagian atas).

Kandungan lemak jenuh yang ada pada gorengan dapat mengakibatkan asam lambung naik.

Selain itu, sulitnya lemak untuk dicerna dan kandungan serat yang sangat sedikit pada gorengan dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit.

Beberapa orang mungkin juga merasakan tenggorokan gatal setelah makan gorengan. Hal ini dikarenakan terdapat kandungan akrolein pada gorengan yang menyebabkan rasa gatal. Akrolein ini terbentuk pada minyak yang sudah dipakai berkali-kali.

Faktor utama penyebab gorengan tidak sehat sebenarnya terletak pada minyak goreng yang dipakai untuk menggorengnya.

Dampak gorengan pada kesehatan tergantung dari jenis minyak atau lemak yang digunakan untuk menggoreng, cara menggoreng (apakah dengan cara deep fried atau pan fried), sudah berapa kali minyak dipakai untuk menggoreng (semakin sedikit dipakai semakin baik), dan berapa banyak garam yang ditambahkan pada makanan gorengan tersebut.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, sebaiknya kontrol konsumsi gorengan mulai dari sekarang. Jika ingin makan gorengan, sebaiknya memasaknya sendiri.

Gorengan yang beli di luar biasanya menggunakan minyak yang sudah dipakai berulang kali sehingga dapat memicu pembentukan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh dan kesehatan.

Ada baiknya mencoba alternatif makanan lain daripada buka puasa dengan gorengan. Beberapa contoh makanan pembuka yang lebih sehat selain gorengan, seperti kolak, kue manis atau kue basah, berbagai macam buah-buahan, puding, siomay atau dimsum.

Perempuan Haid Dilarang Puasa, Kenapa?

BERPUASA di bulan Ramadhan, hanya bisa kita lakukan sekali dalam setahun. Maka, tentu kita tak ingin melewatinya begitu saja. Kesempatan untuk berpuasa di bulan ini menjadi hal utama. Sebab, selain sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, juga bisa menjadi ajang pelatihan diri dari hawa nafsu.

Setiap Muslim wajib berpuasa. Tetapi, tak semua dapat melakukannya. Salah satunya yang dialami oleh seorang perempuan. Setiap bulan pasti akan hadir tamu istimewa. Ya, itulah haid, yang membuat seorang perempuan tak bisa berpuasa. Sebab, Allah SWT melarangnya untuk berpuasa. Mengapa?

Al hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- mengatakan, “Larangan shalat bagi perempuan haid adalah perkara yang telah jelas karena kesucian dipersyaratkan dalam shalat dan perempuan haid tidak dalam keadaan suci. Adapun puasa tidak dipersyaratkan di dalamnya kesucian maka larangan puasa bagi perempuan haid itu sifatnya adalah ta’abudi (hal yang bersifat ibadah semata-pen) sehingga butuh suatu nash pelarangan berbeda dengan shalat,” (Fathul Bari Syarh hadits no 304).

Waspadalah, Ini 4 Sifat Wanita Ahli Neraka

Jadi, larangan berpuasa bagi perempuan haid ini sifatnya ta’abudi (ibadah semata) yang wallahu a’lam akan hikmah di balik larangan tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa larangan ini merupakan bentuk rahmah Allah kepada para perempuan. Karena perempuan dalam keadaan lemah ketika haid dan melakukan puasa ketika itu tentu akan menambah kelemahan dan akhirnya akan membahayakan jiwanya. Wallahu a’lam.

Jangan pernah sesali apa yang sudah menjadi kodrat kita. Perempuan mengalami haid setiap bulannya, tentu juga demi kebaikannya, terutama bagi masalah kesehatannya. Dan jika kita tak bisa berpuasa di bulan Ramadhan karenanya, maka Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk menggantinya di bulan yang lain.

5 Hal yang Sebabkan Perut Buncit Saat Puasa

Sudah berpuasa lebih dari dua minggu namun perut kok tetap buncit ya? Saat berpuasa, waktu makan berkurang dari yang biasanya tiga kali sehari menjadi dua kali sehari.

Selama jeda waktu dari waktu sahur sampai saat berbuka puasa, kamu pun tidak makan ataupun minum sama sekali.

Semestinya hal ini membuat berat badan cenderung stabil bahkan menurun. Namun, seringkali yang terjadi malah sebaliknya. Lingkar perut semakin luas dan bertambah buncit. Kira-kira apa yang menjadi penyebabnya?

Nyatanya, pengurangan waktu makan tidak bisa membuat perut buncitmu langsung mengempis. Kamu juga perlu memperhatikan asupan makanan dan menjaga gaya hidup tetap sehat bila ingin mendapatkan manfaat baik dari berpuasa.

Beberapa kebiasaan tidak baik berikut mungkin yang menjadi penyebab perut buncit saat puasa:

1. Menambah Porsi Saat Sahur
Karena takut cepat lapar saat menjalani puasa, banyak orang yang makan jadi lebih banyak dari porsi makan biasanya saat sahur.

Padahal yang membuat rasa lapar cepat datang atau tidak, bukan karena porsi makanan melainkan komposisinya.

Kamu disarankan untuk mengonsumsi makanan dalam porsi yang tidak berlebihan dan dengan susunan menu yang meliputi komposisi nutrisi yang lengkap, seperti karbohidrat (nasi), lauk pauk (daging, tahu atau tempe), dan serat (sayur dan buah-buahan).

Hindari mengonsumsi mi instan atau makanan kaleng, karena selain cepat mengenyangkan tapi juga cepat membuatmu merasa lapar.

Kebiasaan langsung tidur lagi setelah makan sahur juga bisa membuat perut buncit saat puasa. Bila ingin tidur, tunggulah minimal 2 jam setelah makan sahur.

2. Kalap Saat Berbuka
Banyak orang yang sering menjadikan waktu buka puasa sebagai ajang ‘balas dendam’. Alhasil, saat azan magrib berkumandang, mereka menjadi kalap dengan makan dan minum dalam porsi yang sangat banyak.

Didorong oleh rasa lapar dan haus yang sangat tinggi, berbagai pililhan menu berbuka pun disantap, mulai dari makanan serba manis, digoreng, sampai junk food. Akibatnya, kalori yang masuk ke dalam tubuh pun melebihi dari yang seharusnya.

Kebutuhan kalori orang dewasa pada umumnya adalah sekitar 2000 untuk pria dan 1500 untuk wanita. Inilah yang menyebabkan perut buncit saat puasa.

Jadi, kamu sebaiknya tetap berbuka dengan yang manis tapi sehat, misalnya seperti buah potong, air kelapa, hingga kurma alami tanpa pemanis.

3. Langsung Makan Besar
Agar tubuh kembali segar setelah seharian berpuasa, menu makananmu saat berbuka puasa haruslah seimbang, yaitu terdiri dari karbohidrat, protein, serat, dan lemak.

Nah, agar nutrisi dari makanan yang kamu konsumsi bisa terserap tubuh dengan maksimal, kamu perlu memberi jeda waktu makan.

Jadi, saat berbuka, makanlah takjil manis yang ringan dan sehat terlebih dahulu. Setelah itu, jedalah waktu makan besar dengan menjalankan rutinitas salat magrib. Barulah setelah itu, kamu bisa melanjutkan dengan makan besar.

4. Makan Berat Lagi Sebelum Tidur
Walaupun sudah berbuka dengan makanan yang berat, biasanya beberapa jam menjelang tidur, rasa lapar sering muncul kembali. Jangan tergoda untuk makan berat lagi sebelum tidur.

Selain menggangu kualitas tidur, nutrisi dari makanan kurang bisa terserap dengan baik oleh tubuh.

Jadi, konsumsilah buah-buahan segar, yoghurt, atau oatmeal untuk menghilangkan rasa lapar. Dengan begitu, kamu pun juga bisa terhindar dari perut buncit saat puasa.

5. Malas Olahraga
Puasa sering dijadikan alasan untuk tidak berolahraga. Padahal tetap aktif melatih tubuh penting agar pembakaran makanan hingga peredaran darah tetap lancar.

Jadi, untuk mencegah perut buncit saat puasa, kamu dianjurkan untuk tetap melakukan olahraga namun dengan intensitas yang ringan agar tubuh tidak kelelahan.

Aturan Minum Air Putih Saat Puasa

Meski harus menahan rasa haus selama periode waktu tertentu, kamu tetap perlu memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Sebab, kekurangan cairan saat puasa bisa menyebabkan dehidrasi.

Kondisi tersebut umumnya ditandai dengan bibir dan kulit kering, pusing, sakit kepala, lemas, hingga urine berwarna gelap atau bahkan tidak buang air kecil sama sekali.

Sebenarnya, kebutuhan cairan tubuh saat puasa dan hari biasa tetaplah sama, yaitu sekitar delapan gelas sehari.

Namun pada bulan puasa, ada pola khusus yang bisa kamu terapkan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian, seperti pola 2-4-2. Pola apakah itu? Berikut ini aturan minum air putih saat puasa:

2 Gelas Air Putih Saat Berbuka
“Berbukalah dengan yang manis”. Mungkin, slogan tersebut yang menjadi alasan sebagian orang untuk berbuka dengan yang manis.

Tidak ada yang salah memang, apalagi kalau kamu berbuka dengan buah kurma atau buah manis lainnya. Tapi sebisa mungkin, dahulukan minum air putih saat berbuka.

Sebab, minum air putih segera saat berbuka bisa menghilangkan dahaga dan menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat aktivitas sepanjang hari.

Namun kamu juga perlu berhati-hati untuk tidak langsung menenggak habis dua gelas air sesaat setelah berbuka. Karena ini akan menyebabkan perut kembung. Triknya adalah minum secara berkala sambil kamu mengonsumsi kurma dan takjil lainnya.

4 Gelas Air Putih Saat Makan Malam
Saat malam hari sampai menjelang tidur, sebaiknya kamu minum empat gelas air putih. Kamu bisa membaginya dengan dua gelas air putih setelah makan malam dan dua gelas air putih setelah tarawih atau menjelang tidur.

Agar manfaat air putih maksimal, usahakan untuk minum air putih 30 menit sebelum makan besar dan tepat sebelum tidur.

Sebab, minum air putih tepat sebelum atau sesudah makan dan saat makan bisa melemahkan cairan pencernaan dan membuatnya bekerja kurang efektif.

Sedangkan minum air putih tepat sebelum tidur bisa membantu tubuh mengisi kembali cairan yang hilang, membuang racun dalam tubuh, dan membuat tidur lebih nyenyak.

2 Gelas Air Putih Saat Sahur
Sahur sangat penting untuk memberikan energi yang cukup bagi tubuh selama berpuasa. Oleh karena itu, kamu dianjurkan untuk melakukan sahur, terutama untuk memenuhi asupan makanan dan cairan tubuh.

Sesuai dengan pola 2-4-2, kebutuhan cairan sahur yang bisa kamu penuhi adalah dua gelas air putih. Sebab, selain memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dua gelas air putih saat sahur juga bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Diantaranya adalah membantu meringankan sakit perut dan gangguan pencernaan, membuang racun di dalam tubuh, dan menjaga sistem limfatik tubuh.

Agar tubuhmu kembali bertenaga, kamu bisa mengonsumsi minuman lain selain air putih. Beberapa minuman penambah tenaga yang bisa kamu konsumsi saat berbuka adalah air kelapa, madu, teh manis, jus buah, dan susu.

Untuk minuman manis, jangan lupa perhatikan konsumsi gula harian, ya. Kementerian Kesehatan RI merekomendasi agar konsumsi gula harian tidak melebihi 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan per hari.

Ternyata Puasa Bisa Menurunkan Kolesterol

Kadar kolesterol yang tinggi bisa menyebabkan aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan dan penebalan arteri karena penumpukan plak pada dinding arteri.

Dampaknya, plak bisa menyumbat aliran darah sebagian atau seluruhnya dan menyebabkan penyakit jantung koroner.

Cara umum yang dilakukan seseorang untuk menjaga kolesterol adalah menjaga pola makan, menghindari makanan yang memicu peningkatan kolesterol, rutin berolahraga, hingga mengelola stres yang dialami.

Tapi, tahu enggak sih kalau puasa ternyata bisa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh?

Menurunkan Kolesterol Dengan Puasa
Ada banyak studi yang telah membuktikan bahwa puasa bermanfaat untuk menurunkan kolesterol. Salah satunya adalah studi yang dimuat dalam American Journal of Applied Sciences tahun 2007.

Studi tersebut dilakukan untuk mengevaluasi dampak puasa Ramadan terhadap profil lipid plasma dan glukosa serum pada sejumlah mahasiswa.

Hasilnya, studi tersebut menemukan bahwa puasa Ramadan terbukti bisa menurunkan kolesterol jahat (low density lipoprotein/LDL)dan meningkatkan kolesterol baik (high density lipoprotein/HDL) dalam tubuh.

Beberapa makanan seperti gorengan, makanan cepat saji, makanan berlemak, dan makanan lain yang memicu peningkatan kolesterol tubuh cenderung bebas dikonsumsi, kapan pun dan di mana pun.

Namun saat puasa tiba, kebiasaan tersebut cenderung berkurang seiring pola makan yang berubah. Kamu akan terpacu untuk membatasi asupan makanan tertentu dan menjaga pola makan agar kondisi tubuh tetap fit selama berpuasa.

Perubahan kebiasaan tersebut akan berdampak baik terhadap kadar kolesterol, gula darah, dan profil lemak darah dalam tubuh.

Kondisi yang lebih baik tersebut pada akhirnya bisa membantu menurunkan risiko penyakit jantung koroner seiring menurunnya kadar kolesterol jahat di dalam tubuh.

Mencegah Peningkatan Kadar Gula Darah saat Puasa
Penurunan kada kolesterol saat puasa tentu tidak didapat dengan mudah. Sebab, kondisi ini terjadi hanya jika kamu mengatur pola makan yang baik selama berpuasa.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah peningkatakn kadar kolesterol jahat di dalam tubuh :

  • Minum obat penurun kolesterol di malam hari.
  • Menjaga porsi makan saat sahur dan berbuka puasa.
  • Batasi konsumsi gorengan saat sahur dan berbuka. Sebab, minyak goreng mengandung zat yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam tubuh. Batasi pula konsumsi makanan berkolestrol tinggi seperti makanan berlemak, bersantan, dan jeroan.
  • Perbanyak konsumsi makanan yang bisa mengendalikan kadar kolesterol saat sahur dan berbuka, misalnya ikan, kacang-kacangan, oatmeal, buah dan sayur (seperti bayam, tomat, ubi jalar, dan terong belanda).
  • Rutin berolahraga saat puasa. Olahraga saat puasa bisa dilakukan saat 1 jam sebelum waktu berbuka atau setelah salat tarawih. Olahraga yang bisa dilakukan diantaranya adalah jalan kaki, bersepeda, dan yoga.

Buka Puasa Dengan Keong Sawah, Puluhan Warga Bogor Keracunan

Sebanyak 55 orang warga Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas karena keracunan yang diduga karena makan tutut atau keong sawah.

“Mereka mengalami gejala mual dan muntah-muntah serta tubuhnya lemas setelah mengkonsumsi tutut pada saat buka puasa,” kata Ida Farida, Petugas Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Tanah Baru saat ditemui di Puskesmas pada Sabtu 26 Mei 2018.

Ida menjelaskan, mengkonsumsi keong sawah setelah berbuka puasa menjadi ciri khas warga kampung tersebut. Setiap sore, sejumlah warga menjual masakan keong sawah untuk takjil saat berbuka puasa.

“Masakan keong sawah atau warga menyebutnya tutut jadi makanan ciri khas di kampung sini ya,” kata Ida.

Warga yang menjadi korban itu memakan keong sawah pada Jumat malam, usai berbuka puasa. Mereka membeli dari beberapa pedagang yang berjualan di sore harinya.

Para pedagang itu mengambil tutut dari satu orang warga yang mengolah dan memasak keong sawah. “Jadi tutut ini diolah dari satu orang terus dititip ke beberapa pedagang untuk dijual sebagai menu buka puasa,” kata dia.

Warga yang mengkomsumsi tutut, pada malam hari mulai merasa mulal, muntah, demam bahkan tubuhnya lemas, seperti mengalami gejala keracunan makanan.

Anak-anak yang mengkonsumsi, mengalami pusing dan demam. Pada harinya para korban keracunan keong sawah dibawa ke rumah sakit dan puskesmas.

Belum Bayar Hutang Puasa Tahun Lalu, Begini Cara Membayarnya

Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“… barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” (QS. al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,

“Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban.” (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146).

Berikut Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan Tahun Lalu dikutip dariviaberita.com:

Waktu Membayar Hutang Puasa

Waktu pembayaran utang (qadha’) puasa Ramadhan terbentang luas selama 11 bulan, terhitung mulai Syawal hingga Sya’ban, sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya. Jadi, kita boleh membayar utang puasa kapan saja dari 11 bulan tersebut.

Tapi keluasan waktu ini hanya berlaku bagi yang meninggalkan puasa karena ada udzur syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syari’at), semisal haid, nifas, sakit, musafir, dan sebagainya.

Namun bagi mereka yang meninggalkan puasa tanpa ada alasan yang bisa diterima oleh syari’at (tanpa ada udzur syar’i), semisal karena malas, maka mereka wajib meng-qadha’nya sesegera mungkin (mubadarah) hingga tertunaikan semua utang puasanya.

Walaupun waktu qadha’ puasa sangat luas, namun kita tetap disunnahkan agar bersegera membayarnya agar segera pula kita terbebas dari utang-utang tersebut.

Tentunya qadha’ puasa tidak boleh dilakukan pada hari-hari terlarang, yakni pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan pada tiga hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13, Dzulhijjah).

Apakah Cara Membayar Hutang Puasa Harus Berurutan
Membayar Hutang puasa boleh dilaksanakan secara berkelanjutan atau berurut-turut, dan boleh pula dilaksanakan secara terpisah-pisah. Jadi, pembayaran utang puasa tidak wajib dibayar secara berurut-urut.

Hukum Menunda Waktu Pembayaran Hutang Puasa
Waktu pembayaran hutang puasa sangat luas, tetapi anehnya masih saja ada yang menyepelekannya/tidak mengindahkannya sehingga kesempatan yang panjang itu disia-siakan begitu saja.

Menanggapi hal ini, para ulama bersepakat bahwa orang semacam ini benar-benar keterlaluan dan dihukumi berdosa karena dia menggampangkan/meremehkan (tasahul) terhadap hukum Allah swt.

Kewajiban yang harus ditunaikannya adalah:

  1. Beristighfar dan bertaubat atas kelalaiannya menunda-nunda pembayaran utang puasa.
  2. Membayar qadha’ puasanya setelah Ramadhan.
  3. Membayar fidyah sebagai sanksi atas sikap tasahul-nya, yakni berupa penyerahan bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (satuan tradisional
  4. Arab, kira-kira sama dengan 6 ons dalam satuan metrik) kepada fakir-miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.
  5. Ini menurut pendapat mayoritas ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Sementara menurut ulama-ulama Hanafiyah, membayar fidyah karena tasahul menunda qadha’ puasa tidaklah wajib.

Cara Membayar Fidiyah

Membayar fidyah memang ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin.

Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi‘i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW.

Yang dimaksud dengan mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa.

Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung.

Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter.

Siapa yang Membayar Fidiyah

  1. Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.
  2. Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.
  3. Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu.
  4. Orang yang menunda kewajiban mengqadha‘ puasa Ramadhan tanpa uzur syar‘i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha‘nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama.
  5. Jika Jumlah Hari Hutang Puasa Tidak Diiketahui, Bagaimana?
  6. Hal ini bisa saja terjadi pada wali yang ingin menggantikan puasa orang tuanya yang telah meninggal atau pada kita sendiri yang mungkin karena sudah terlalu lama tidak membayarnya jadi lupa berapa jumlah hari puasa yang telah ditinggalkan.

Nah untuk ini kita bisa melakukan persamaan pada saat melakukan shalat dan kita lupa, maka agama mengajarkan sebaiknya memilih angka yang lebih sedikit atau yang paling maksimum.

Misalnya saja kita lupa apakah punya hutang puasa ramadhan 5 hari atau 7 hari, maka solusinya adalah memilih yang 7 hari tersebu.

Karena dengan demikian kita lebih berhati-hati pada kewajiban puasa ramadhan yang telah ditinggalkan dan kalau pun ternyata sebenarnya hanya 5 hari maka otomatis ia akan bernilai sebagai puasa sunnah.

Sumber: benankmerah.co

Belum Bayar Hutang Puasa Tahun Lalu, Begini Cara Membayarnya

Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“… barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” (QS. al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,

“Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban.” (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146).

Waktu Membayar Hutang Puasa

Waktu pembayaran utang (qadha’) puasa Ramadhan terbentang luas selama 11 bulan, terhitung mulai Syawal hingga Sya’ban, sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya. Jadi, kita boleh membayar utang puasa kapan saja dari 11 bulan tersebut.

Tapi keluasan waktu ini hanya berlaku bagi yang meninggalkan puasa karena ada udzur syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syari’at), semisal haid, nifas, sakit, musafir, dan sebagainya.

Namun bagi mereka yang meninggalkan puasa tanpa ada alasan yang bisa diterima oleh syari’at (tanpa ada udzur syar’i), semisal karena malas, maka mereka wajib meng-qadha’nya sesegera mungkin (mubadarah) hingga tertunaikan semua utang puasanya.

Walaupun waktu qadha’ puasa sangat luas, namun kita tetap disunnahkan agar bersegera membayarnya agar segera pula kita terbebas dari utang-utang tersebut.

Tentunya qadha’ puasa tidak boleh dilakukan pada hari-hari terlarang, yakni pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan pada tiga hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13, Dzulhijjah).

Apakah Cara Membayar Hutang Puasa Harus Berurutan
Membayar Hutang puasa boleh dilaksanakan secara berkelanjutan atau berurut-turut, dan boleh pula dilaksanakan secara terpisah-pisah. Jadi, pembayaran utang puasa tidak wajib dibayar secara berurut-urut.

Hukum Menunda Waktu Pembayaran Hutang Puasa
Waktu pembayaran hutang puasa sangat luas, tetapi anehnya masih saja ada yang menyepelekannya/tidak mengindahkannya sehingga kesempatan yang panjang itu disia-siakan begitu saja.

Menanggapi hal ini, para ulama bersepakat bahwa orang semacam ini benar-benar keterlaluan dan dihukumi berdosa karena dia menggampangkan/meremehkan (tasahul) terhadap hukum Allah swt.

Kewajiban yang harus ditunaikannya adalah:

  • Beristighfar dan bertaubat atas kelalaiannya menunda-nunda pembayaran utang puasa.
  • Membayar qadha’ puasanya setelah Ramadhan.
  • Membayar fidyah sebagai sanksi atas sikap tasahul-nya, yakni berupa penyerahan bahan makanan pokok sebanyak 1 mud (satuan tradisional Arab, kira-kira sama dengan 6 ons dalam satuan metrik) kepada fakir-miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.

Ini menurut pendapat mayoritas ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Sementara menurut ulama-ulama Hanafiyah, membayar fidyah karena tasahul menunda qadha’ puasa tidaklah wajib.

Cara Membayar Fidiyah
Membayar fidyah memang ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin.

Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi‘i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW.

Yang dimaksud dengan mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa.

Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung.

Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter.

Siapa yang Membayar Fidiyah

  • Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.
  • Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.
  • Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu.
  • Orang yang menunda kewajiban mengqadha‘ puasa Ramadhan tanpa uzur syar‘i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha‘nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama.

Jika Jumlah Hari Hutang Puasa Tidak Diiketahui, Bagaimana?
Hal ini bisa saja terjadi pada wali yang ingin menggantikan puasa orang tuanya yang telah meninggal atau pada kita sendiri yang mungkin karena sudah terlalu lama tidak membayarnya jadi lupa berapa jumlah hari puasa yang telah ditinggalkan.

Nah untuk ini kita bisa melakukan persamaan pada saat melakukan shalat dan kita lupa, maka agama mengajarkan sebaiknya memilih angka yang lebih sedikit atau yang paling maksimum.

Misalnya saja kita lupa apakah punya hutang puasa ramadhan 5 hari atau 7 hari, maka solusinya adalah memilih yang 7 hari tersebu.

Karena dengan demikian kita lebih berhati-hati pada kewajiban puasa ramadhan yang telah ditinggalkan dan kalau pun ternyata sebenarnya hanya 5 hari maka otomatis ia akan bernilai sebagai puasa sunnah.