Jika Mati di Bulan Ramadhan Apakah Otomatis Husnul Khatimah? Ini Penjelasannya

Pertanyaan:
Apakah mati di bulan ramadhan akan khusnul khatimah?

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah mengajarkan prinsip kepada manusia bahwa sebab mereka masuk surga adalah amal. Seringkali Allah menyebut penjelasan, kalian masuk surga karena amal yang kalian kerjakan. Diantaranya,

Firman Allah,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Itulah surga yang diberikan kepada kalian disebabkan amal yang telah kalian kerjakan.” (QS. az-Zukhruf: 72)

Allah juga berfirman,

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Mereka dipanggil, “ltulah surga yang diberikan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. al-A’raf: 43).

Dan masih banyak ayat yang semisal dengan ini. Karena itu, waktu yang mulia maupun tempat yang mulia, tidak bisa menyebabkan penghuninya jadi mulia.

Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhuma. Sehingga keduanya ibarat keluarga dekat.

Imam Malik membawakan riwayat dari Yahya bin Said, bahwa Abu Darda pernah menulis surat kepada Salman, yang isinya meminta Salman untuk pindah dan tinggal di tanah yang disucikan (negeri Syam).

Kemudian Salman membalas surat ini dengan mengatakan,

الأَرْضُ الْمُقَدَّسَةُ لا تُقَدِّسُ أَحَدًا ، وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْمَرْءَ عَمَلُهُ
“Sesungguhnya tanah suci itu tidak mensucikan siapapun. Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya.” (al-Muwatha’, Imam Malik, no. 1464).

Dulu Mekah dihuni orang musyrikin. Ketika mereka tinggal di sana, bukan berarti mereka menjadi lebih suci. Dan ketika mati menjadi husnul khotimah.

Yang meninggal di bulan ramadhan, tidak semuanya orang baik. Ada juga orang jahat yang meninggal di bulan berkah ini. Meskipun demikian, kita tidak menyebut, dia meninggal dengan baik.

Meninggal Dalam Kondisi Puasa
Beda antara meninggal di bulan ramadhan dengan meninggal ketika sedang puasa. Karena meninggal dalam kondisi sedang beramal soleh, termasuk husnul khotimah. Termasuk meninggal ketika sedang menjalankan ibadah puasa.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang orang yang meninggal dalam kondisi beramal,

مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Siapa yang menyatakan Laa ilaaha illallah ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan ikrar ini, maka dia masuk surga.

Siapa yang berpuasa dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan puasa ini, maka dia masuk surga.

Siapa yang sedekah dengan ikhlas mengharap wajah Allah, dan dia akhiri hidupnya dengan sedekah ini, maka dia masuk surga. (HR. Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Lain dengan Meninggal Hari Jumat
Meninggal di hari jumat, memiliki keistimewaan khusus, mengingat adanya jaminan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak akan ditanya di alam kubur.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

Sementara kita tidak menjumpai dalil yang menyatakan bahwa mati ketika bulan ramadhan, termasuk khusnul khatimah atau mendapat jaminan tertentu.

4 Hal yang Bikin Ramadhan Menjadi Waktu Produktif Untuk Bekerja

Sahabat, puasa tidak menjadikan aktivitas kita terganggu. Justru dengan berpuasa kita bisa menjadi lebih produktif dari biasanya. Kok bisa? Gimana?

1. Terhindar Dari Godaan Membicarakan Orang Secara Negatif, Ya bisa Menghabiskan Waktu Kita
Naah saat puasa ini pasti kita akan menahan-nahan diri untuk tidak bergosip jika amalan puasanya ingin diterima.

Dan hal tersebut berdampak baik untuk keproduktifitasan kita. Kita tidak akan membuang-buang waktu hanya untuk bergosip dan lebih memilih mengurusi pekerjaan.

2. Terhindar Dari Godaan Membuka Social Media
Kita sadar bahwa di media sosial ada banyak foto makanan atau minuman berseliweran, jadi sebagian dari kita akan menghindarinya.

Kita juga sadar bahwa di media sosial ada beberapa hal yang bisa memicu amarah, jadi kita tidak mau mengarahkan diri ke sana. Jadi akan lebih fokus pada pekerjaan.

3. Mencari Aktifitas Yang Tidak Dilarang Saat Menunggu Buka Puasa
Apalagi kalau sadar bahwa tidur terlalu lama justru akan membuat semakin lelah dan makin kehausan saat bangun. Jika tidak menemukan kegiatan hiburan yang memungkinkan untuk dilakukan, biasanya akan kembali bekerja lagi.

4. Menyelesaikan Tanggung Jawab Agar Pulang Lebih Cepat
Kamu akan secara otomatis terdorong untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan bisa jadi kerjaan selesai beberapa saat sebelum buka puasa, padahal sebelumnya sampai perlu lembur.

Ini karena terdorong oleh motivasi untuk berbuka puasa di rumah dan lanjut bersiap-siap untuk shalat teraweh di masjid. Nah itu dia 4 hal yang dapat membuat kita lebih produktif bekerja saat di bulan Ramadhan.

Memasuki Bulan Ramadhan, Lucinta Luna Tampil Cantik dengan Hijab!

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia (RI) resmi menetapkan awal puasa Ramadan 1439 Hijirah jatuh pada Kamis (17/5/2019).

Menyambut Ramadhan, personel ‘Duo Bunga’, Lucinta Luna mengejutkan publik dengan penampilan berbeda.

Berdasarkan pantauan Grid.ID, pelantun tembang ‘Lain di Mulut Lain di Hati’ ini mengunggah penampilan barunya melalui Instagram.

Lucinta yang dikenal sering berpenampilan seksi, terlihat lebih kalem dengan hijab warna merah muda.

“Mohon maaf lahir batin,” tulis Lucinta dalam caption.

Lucinta Luna Berhijab Instagram/@lucintaluna

Tampil sopan, artis yang sempat dikabarkan dekat dengan Mike Lewis ini tetap mendapat beragam komentar dari publik; mulai dari pujian hingga cibiran.

Pasalnya, sampai sekarang publik masih mempertanyakan status gender teman duet Ratna Pandita tersebut.

“Cantik banget sih kak!” tulis pemilik akun @archman.hn.

“Suka Kak Luna, cantiknya pakai banget!” tulis pemilik akun @kulinernengamoy.

“Maaf lahir batin Luna.

Selalu tersenyum ya dalam menghadapi hinaan dari orang lain,” tulis pemilik akun @andikasampit_id.

“Pakai peci woi, bukan jilbab!” tulis pemilik akun @hayunasari13.

“Mau puasa jadi banci syariah ya?” tulis pemilik akun @deviutar.

“Efeknya kok tebal sekali? Pakai kamera apa nih?” tulis pemilik akun @soniayuko.

Beberapa waktu ini, nama Lucinta Luna terus menjadi perbincangan publik.

Penyanyi yang sedang kebanjiran job ini terus menyajikan gebrakan baru yang mengundang sensasi.

Pada 12 mei 2018, Lucinta menghebohkan publik dengan aksi panggungnya di Next Door Cafe, Hotel Aston, Madiun.

Pada penampilannya, Lucinta mencoba meniru aksi panggung idolanya, Rihanna.

Diketahui, Rihanna sempat tampil di panggung dengan guyuran hujan buatan.

Meski meniru Rihanna, Lucinta memberi sentuhan berbeda pada aksinya.

Jika Rihanna basah kuyup karena air, Lucinta Luna karena susu yang sengaja ia guyur di sekujur tubuhnya.

Selain itu, Lucinta juga sempat meniru goyang twerking ala Rihanna. (*)

Puasa Tidak Diterima Jika Belum Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan?

Di zaman yang serba broadcast seperti sekarang ini, mungkin banyak di antara kita yang pernah mendapat broadcast hadits berikut ini menjelang datangnya bulan Ramadhan,

“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut, dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan, “Ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril adalah, “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

  1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
  2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri
  3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata hadits tersebut tidak jelas asal-usulnya.

Ya. Hadits yang menyebutkan bahwa puasa kita tidak akan diterima ketika kita tidak bermaaf-maafan adalah hadits yang bisa jadi disebarkan oleh pembuat hadits yang ingatannya rusak, sehingga makna hadits berubah.

Atau hadits tersebut dikait-kaitkan dengan tradisi yang biasa dilakukan sebelum bulan Ramadhan.

Artinya, bukan berarti puasa kita akan sia-sia ketika kita belum bermaaf-maafan. Tetapi, bukan berarti juga kita lantas menyepelekan proses bermaaf-maafan ini. Rasulullah bersabda,

“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi,” (HR. Bukhari, no. 2449).

Baik itu akan masuk bulan Ramadhan atau tidak, dalam hadits tersebut disebutkan bahwa meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan, paling baik dilakukan dengan segera, kenapa?

Karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Ketika kita belum meminta maaf atas kezaliman yang kita lakukan pada orang lain dan ajal sudah menjemput.

Memaafkan kesalahan orang lain adalah amalan yang mulia. Allah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain, seperti dalam firman Allah,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh,” (QS. al-A’raf: 199).

Orang-orang memanfaatkan momen sebelum Ramadhan untuk bermaaf-maafan, mungkin karena berpikir bahwa Ramadhan adalah bulan suci, bulan untuk mensucikan diri dari dosa-dosa, termasuk dosa dan kesalahan pada teman atau keluarga.

Akan tetapi, mengatakan bahwa bermaaf-maafan adalah syarat agar puasa diterima tidaklah benar.

Seperti hal nya ibadah-ibadah yang lain, puasa kita di bulan Ramadhan akan diterima oleh Allah, ketika terpenuhi dua syarat, yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Katsir pernah membahas tafsir surat Al Lail dan mengatakan,

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 583).

Nah, salah satu pertanda amalan puasa di bulan Ramadhan diterima oleh Allah adalah kita menjadi lebih baik setelah Ramadhan atau minimal menjaga kebaikan yang sudah dilakukan. Jika tanda puasa kita tidak diterima yaitu sebaliknya.

Kementerian Pertanian: Pasokan Telur dan Ayam Aman Selama Ramadan

Kementerian Pertanian (Kemtan) menegaskan bahwa ketersediaan telur dan daging ayam menjelang bulan puasa dan idul fitri aman.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menyebutkan, berdasarkan perkiraan ketersediaan, produksi daging ayam tahun 2018 adalah sebesar 3.5 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 3.04 juta ton, sehingga terjadi neraca surplus sebanyak 517.819 ton.

Khusus untuk bulan puasa dan lebaran yang jatuh pada bulan Mei dan Juni 2018, diperoleh ketersediaan daging ayam sebanyak 626.085 ton dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 535.159 ton, sehingga terjadi neraca surplus sebanyak 90.926 ton.

Demikian juga untuk ketersediaan telur ayam konsumsi untuk tahun 2018 terdapat produksi sebanyak 2.968.954 ton dengan jumlah kebutuhan konsumsi 2.766.760 ton, maka diperoleh kelebihan stok nasional sebanyak 202.195 ton.

Khusus untuk ketersediaan telur selama bulan puasa dan lebaran atau pada Mei dan Juni terdapat produksi sebesar 521.335 ton dan jumlah kebutuhan sebanyak 485.831 ton, sehingga ada kelebihan stok sebanyak 35.504 ton.

I Ketut menekankan, kenaikan harga seharusnya memang tidak ada jika dilihat dari data ketersediaan ayam, daging ayam dan telur saat ini dalam posisinya berlebih.

Baca: Naik Jet Pribadi, Najib Razak Dikabarkan Terbang ke Jakarta Tapi Namanya Tak Terdaftar di Manifes

“Kita harapkan harganya stabil terjangkau, jika naik pun diharapkan tidak terlalu tinggi,” ucapnya I Ketut Diarmita seperti yang tertera dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Jumat (11/5/2018).

Kemtan pun meminta kerja sama kepada semua pihak agar terus menjaga kestabilan harga dalam memasuki bulan puasa dan lebaran ini.

Baca: Merapi Erupsi, Band Europe Tetap Gelar Konser di Volcano Rock Festival, Boyolali

Dalam pertemuan yang dilakukan Kemtan dengan pelaku usaha, para pelaku usaha meyakinkan pemerintah bahwa tidak ada kenaikan harga DOC FS dan kenaikan harga ayam, daging ayam dan telur selama bulan puasa dan lebaran.

Saat ini para pembibit menjual DOC FS dengan harga kurang dari Rp. 5.800 per ekor.

Isu kelangkaan dan kenaikan harga DOC FS lebih karena ulah oknum broker yang memanfaatkan suasana harga ayam yang bagus dan menghadapi bulan puasa serta lebaran sehingga para peternak ramai-ramai mengisi kandangnya secara bersamaan.

Waduh, Fans Ngamuk Akun Gosip Ini Sebar Video Iqbaal ‘Dilan’ Ramadhan Bareng Bule di Kasur!

Nama Iqbaal Ramadhan melejit setelah membintangi film “Dilan 1990”.

Meski begitu, Iqbaal tak melupakan sekolahnya dan terus menuntut ilmu hingga ke Amerika Serikat.

Namun, baru-baru ini Iqbaal heboh dibicarakan karena video yang bocor di media sosial.

Video itu merupakan cuplikan video call Iqbaal Ramadhan bersama teman-temannya.

Iqbaal mengatakan pada teman-temannya bahwa saat itu ia sedang belajar.

Kemudian kameranya disorotkan ke seorang bule perempuan yang ada di depannya.

Iqbaal dan perempuan bule. (Instagram)
Teman-teman Iqbaal pun langsung histeris dan tertawa melihat bule perempuan itu.

Iqbaal hanya tertawa melihat reaksi teman-temannya.

Saat disorot, bule itu juga hanya tersenyum sambil melihat Iqbaal.

Saat kamera Iqbaal menyorot bagian bawah si bule, muncul sensor berupa emoji.

Video itu diunggah akun Instagram gosip @lamiscorner, Kamis (10/5/2018).

Dalam sekejap postingan akun tersebut langsung dibanjiri berbagai komentar.

Rata-rata komentar itu menunjukkan amarah dari para penggemar Iqbaal.

Pasalnya, mereka menganggap sebenarnya di video itu Iqbaal tak berduaan dengan bule.

Mereka makin marah melihat sensor yang diberikan di bagian bawah si bule.

Para penggemar merasa sensor itu jadi terlihat seakan si bule tak memakai bawahan apapun.

Padahal, kata mereka, kenyataannya tak demikian.

“Doi belajar rame2 gacuma sendiri klo liat videonya full itu banyak suara temen2nya. Lagian mereka tinggal diasrama yg pasti ada yg ngontrol disitu,” komentar @meggtha.

“Lebay amat dah et. Segala di sensor. Sengaja bgt biar pikirannya kemana mana,” komentar @dinn.no.

“Apasih, orang belajar bareng temen temennya, banyak gak cuman berdua,” komentar @pitramutiara.

“Miiiinn.. ini videony panjang loh g cm bdua. Ramean mrka bljarnya,” komentar @niissa.r.

Iqbaal (Instagram.com)
“Belajar nya banyakan ko min. Jgn posting video yg bkin negatif thinking,” komentar @rerevitamalia.

“Setuju sih sm komen2 disini, terlepas mslah fans dilan atau bukan, sebaiknya posting vidro jgn setengah2,” komentar @ggoneun.

Akibat banyaknya hujatan dari netizen, akun tersebut pun telah menghapus postingannya.

Penasaran seperti apa video yang membuat akun ini dihujat habis-habisan?

Lihat videonya di sini:

7 Persiapan Menyambut Ramadhan

TAK terasa kita memasuki bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu agung yaitu bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, kedatangan Ramadhan tentu akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat, menuai pahala dan sarana menjadi orang yang muttaqin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa. Namun, bagaimana cara kita menyambut Ramadhan sesuai dengan tuntunan syariat? Apa yang mesti kita persiapkan?

Tulisan ini mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut penulis, banyak amalan yang perlu dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan, di antaranya yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Swt agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Swt. Berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Swt. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang hamil dan yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan. Menuntut ilmu ibadah hukumnya wajib ’ain. Hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara beribadah dengan benar yaitu sesuai dengan petunjuk Nabi saw sehingga ibadah kita diterima oleh Allah Swt. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar tersebut dengan berkata: ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, suatu ibadah tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Ibadah tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah saw tidak akan diterima Allah Swt. Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang mengada-adakan urusan baru dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan berasal daripadanya, maka amalannya ditolak” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda: ”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari petunjuk kami, maka amalannya ditolak”. (HR. Muslim)

Ibadah yang dilakukan tanpa petunjuk Rasul saw tidak hanya ditolak, namun juga menuai murka Allah Swt. Rasul saw bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku maka dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaaurrasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengan sunnah-sunnah tersebut, dan gigitlah ia dengan geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian mengada-adakan urusan baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) itu bid’ah, dan semua bid’ah itu kesesatan”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi dan Ibnu Majah).

Rasulullah saw juga bersabda: ”Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah (Al-Qur’an). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk urusan adalah mengada-adakan urusan baru (dalam agama). Dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR. Muslim).
Suatu ibadah akan diterima oleh Allah Saw bila dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi saw. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk mempersiapkan keilmuan kita dengan membaca kitab/buku mengenai Fiqh Puasa dan ibadah yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, tadarus Al-Quran, i’tikaf dan lainnya, agar ibadah kita sesuai Sunnah Nabi saw.

Kempat, persiapan jiwa dan mental. Persiapan ini penting dilakukan, agar jiwa kita siap untuk beribadah dengan full time dan optimal pada bulan Ramadhan. Caranya, dengan memperbanyak puasa sunnat di bulan sebelumnya (minimal di bulan Sya’ban) seperti puasa sunnat Senin dan Kamis, puasa ayyamul bidh (hari ke 13, 14, dan 15 pertengahan bulan hijriah) dan puasa Nabi Daud (sehari berpuasa dan sehari berbuka). Terlebih lagi pada bulan Sya’ban kita sangat dianjurkan memperbanyak puasa sunnat. Aisyah r.a berkata: “Aku belum pernah melihat Nabi saw berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi saw berpuasa (sunnat) sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban. (HR. Muslim).

Adapun pengkhususan ibadah seperti shalat malam dan puasa pada nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka menurut para ulama perbuatan itu tidak ada satupun dalil shahih yang mensyariatkannya. Puasa nisfu Sya’ban tidak dikerjakan dan tidak pula diperintahkan oleh Nabi saw.

Menurut para ulama, hadits-hadits mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah dhaif jiddan (sangat lemah), bahkan kebanyakannya maudhu’ (palsu). Oleh karena itu, para ulama Fiqh tidak menyebutkan dalam kitab-kitab Fiqh mereka bahwa shalat malam nisfu Sya’ban itu sebagai shalat Sunnat dan puasa nisfu Sya’ban itu sebagai puasa sunnat. Bahkan para ulama hadits menjelaskan kepalsuan hadits-hadits tersebut.

Imam Ibnu Al-Jauzi telah mengumpulkan dan menjelaskan hadits-hadits palsu dalam berbagai persoalan agama, termasuk mengenai keutamaan nishfu Sya’ban di dalam kitabnya yang beliau beri nama Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu). Beliau memasukkan hadits-hadits palsu mengenai keutamaan nishfu Sya’ban dalam kitab tersebut.

Begitu pula Imam Ibnul Qayyim mengumpulkan dan menjelaskan hadits-hadits palsu dalam kitabnya Al-Manar Al-Muniif fii ash-shahih wa adh-dhaif. Beliau mengatakan bahwa hadits-hadits mengenai keutamaan nisfu Sya’ban itu maudhu’ (palsu).

Syaikh Al-Mubarakfuri berkata: “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits yang sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazii: 3/444).

Dalam kitabnya Al-Fataawaa, Syaikhul Azhar Mahmud Syaltut berkata: “Yang shahih dari Nabi saw dan diriwayatkan dari para shahabat serta diterima oleh para ulama itu hanya keutamaan bulan Sya’ban semuanya. Tidak ada beda antara satu malam dengan malam lainnya.

Dianjurkan padanya untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, khususnya memperbanyak puasa untuk melatih jiwa dalam berpuasa dan untuk persiapan menyambut Ramadhan agar tidak mengejutkan orang-orang dengan perubahan kebiasaan mereka sehingga tidak menyusahkan mereka. Nabi saw pernah ditanya: “Puasa apa yang utama setelah Ramadhan? Beliau menjawab Sya’ban untuk mengagungkan bulan Ramadhan.”

Mengangungkan bulan Ramadhan itu dengan cara menyambutnya dengan baik dan merasa nyaman dengan Ramadhan dengan ibadah padanya dan tidak bosan dengannya. Adapun mengkhususkan malam nisfu Sya’ban dan berkumpul untuk menghidupkan malamnya dengan amalan tertentu, shalat dan doa malam nisfu Sya’ban, maka itu semua tidak ada satupun dalil yang shahih dari Nabi Saw dan tidak dilakukan oleh para generasi sahabat.” (Al-Fataawaa: 165-166).

Hal yang sama juga dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqh As-Sunnah, beliau berkata: “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersebut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Dalam kitabnya Fiqh Al-Ibadat bi Adillatiha, Syaikh Hasan Ayyub berkata: “Tidak ada haditS shahih mengenai puasa nisfu Sya’ban. Adapun kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang pada malam nisfu Sya’ban dengan berkumpul di masjid-masjid dan doa dengan doa’ khusus, semua itu bid’ah yang tidak ada asalnya dalam agama Allah swt.” (Fiqh Al-Ibadat bi Adillatiha: 421).

Begitu pula Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya Fiqh Ash-Shiyam berkata: “Perlu kami ingatkan bahwa yang dilarang dalam puasa yang bid’ah ini (puasa nisfu Sya’ban) yaitu mengkhususkan puasa pada hari itu. Namun jika seseorang berpuasa hari itu dengan puasa sunnat yang biasa dia lakukan seperti Senin dan Kamis, atau puasa pertengahan bulan (hari ke 13, 14 dan 15) setiap bulan hijriah, maka itu tidak dilarang dan tidak ada masalah. (Fiqh Ash-Shiyam: 138)

Syaikh Usamah Abdul Azis berkata: “Menetapkan puasa secara khusus pada nishu Sya’ban tanpa hari-hari lain karena meyakini keutamaan yang tidak dimiliki hari-hari lain adalah perbuatan bid’ah. Ini karena tidak ada dalil yang shahih yang menjelaskannya. Hadits-hadits yang ada dalam masalah ini adalah hadits yang sangat lemah dan bahkan palsu.” (Kumpulan Puasa Sunnah dan Keutamaannya Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah: 68)

Beliau menukilkan perkataan Syaikh Shalih bin Fauzan: “Tidak ada dalil yang shahih dari Nabi saw tentang anjuran shalat pada malam pertengahan bulan Sya’ban secara khusus dan puasa pada siang harinya secara khusus pula. Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan hijriah), maka ia boleh melakukan puasa pada nisfu Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja, tapi hari itu secara kebetulan.” (Kumpulan Puasa Sunnah dan Keutamaannya Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah: 70)

Termasuk persiapan jiwa dan mental yaitu dengan cara membiasakan diri melakukan shalat-shalat sunnat dan memperbanyak membaca Al-Quran sebelum kedatangan Ramadhan, agar kita terbiasa melakukannya sehingga memudahkan kita dalam melaksanakan ibadah-ibadah tersebut pada bulan Ramadhan nantinya.

Kelima, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Bila kita sehat, maka kita dapat melakukan ibadah dengan baik dan optimal. Namun bila kita sakit, maka ibadah kita terganggu. Rasul saw bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim) Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Keenam, persiapan dana. Pada bulan Ramadhan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Maka, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan Ramadhan. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita, karena mengikuti sunnah Rasul saw. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana untuk berbuka puasa dan sahur. Begitu pula persiapan dana untuk keluarga selama i’tikaf, agar dapat beri’tikaf dengan baik tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Di samping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, di antaranya adalah melakukan tarhib Ramadhan. Tarhib Ramadhan adalah mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan seputar puasa Ramadhan, adab-adabnya, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya yang dapat kita lakukan secara maksimal di bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau memberikan penjelasan mengenai puasa dan keutamaan Ramadhan kepada para shahabat.

Akhirnya, marilah kita sambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan suka cita. Marilah kita mempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal pada Ramadhan ini. Kita berdoa dan berharap kepada Allah Swt semoga ibadah kita selama ini dan di bulan Ramadhan nanti diterima. Dan semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan kali ini dan dapat meraih berbagai keutamaannya.

Ramadhan dan Cita-cita Orang Beriman

BEBERAPA hari lagi orang-orang beriman akan berjumpa denga Ramadhan, kerinduan yang tiada terkira bergumuruh dalam dada setiap pribadi manusia beriman.

Kehadiran Ramadhan adalah harapan dan cita-cita yang bersatu dalam diri seorang mukmin, ada harapan dan cita-cita agar bertemu dan berhasil mengisinya dengan prestasi amaliyah. karena cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang dan tujuan hidup akan masa depannya.

Tergambar dalam do’a visioner yang dilantunkan 2 (dua) bulan sebelum datangnya Romadhon, Allahumma bariklana fii rojaba wa sya’bana wa baligna romadhon. ya Allah berkahi kami di bulan rajab dan syaban dan pertemukan kami dengan bulan romadhon

Doa tersebut telah mengajarkan tentang arti penting cita-cita dan menjadikannya sebagai visi sekaligus misi dalam mengisi momentum waktu dalam kehidupan.

Bagi orang beriman setiap momentum akan selalu di upayakan menjadi ladang amal kebajikan untuk mempersembahkan kualitas dan kuantitas produktifitas amal shalih.

Romadhon tidak hanya di pahami sebagai bulan khusus yang Allah swt berikan kepada kaum muslimin, akan tetapi sebagai bulan penyadaran betapa pentingnya cita-cita menghadirkan kebaikan dalam semua dimensi kehidupan.

Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du ayat 11). Kemudian diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW. :“Sesungguhnya segala pekerjaan itu tergantung akan niatnya, dan hasil yang akan diperoleh seseorang itu, tergantung apa yang diniatkannya. ” (HR.Bukhari-Muslim).

Dari firman Allah swt dan sabda Rasulullah saw di atas, mensyaratkan agar segala harapan yang kita inginkan dalam bentuk cita-cita, hendaknya disisipkan niat yang mantap, usaha yang gigih dan konsentrasi yang penuh, dalam upaya mewujudkannya. Marilah kita azzamkan dalam diri kita masing-masing semangat dan disiplin yang tinggi, yaitu ketaatan yang didasari atas kesadaran diri untuk melakukan tindakan dan usaha dalam meraih cita-cita, dengan suatu keyakinan bahwa “hari esok harus lebih baik dari pada hari ini.”

Semoga kehadiran Romadhon tahun ini menjadi momentum yang lebih baik dari sebelumnya, kuantitas dan kualitas ibadah mengkapitalisasi menjadi lonjakan produktifitas amal kebajikan dalam mengapai keridhoan Allah swt menuju syurga-Nya.