Viral, Selembar Surat Ditemukan di Atas Jasad Teroris yang Serang Polda Riau, Isinya Mengejutkan

Beredar viral sebuah foto dimana terduga teroris yang tewas dalam penyerangan ke Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018) pagi.

Diketahui, terjadi penyerangan ke Mapolda Riau oleh sejumlah orang tak dikenal yang diduga teroris.

Dalam insiden ini, seorang anggota polisi tewas tertabrak mobil, dua orang anggota polisi terluka akibat senjata tajam.

Dari foto yang beredar tersebut, terdapat secarik kertas di atas tubuh jenazah terduga teroris berambut panjang itu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak kepolisian terkait surat ini.

Beginilah isi surat yang tertulis dalam kertas folio tersebut:

Amma Badu

Wahai orang-orang yang beriman mengapa apabila dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berperang dijalan Allah kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu entah kamu menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan) kehidupan di akhirat hanyalah sedikit.

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan merugikannya sedikitpun dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu (At Taubah 38 39)

Dan untuk kamu para tougut dan anshornya “wahai orang-orang kafir mamu pasti akan dikalahkan dan digiring kedalam neraka jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal” (surat An Naam ayat 12)

Sungguh kami akan terus memerangi kalian walaupun salah satu dari kami akan terbunuh, itu adalah hal kecil bagi kami demi tegaknya ajaran Allah di muka bumi ini. Karena kami tidak ridho diatur oleh aturan kafir yang kalian ada-adakan dan sungguh kami akan terus berperang hingga diri ini semata-mata hanya untuk Allah dan hanya Allah saja yang ada di ibadahku. Walhamdulillahirabilalamin

Teroris Naik Avanza Tabrak Pagar Mapolda Riau Lalu Turun Bacok Polisi, Begini Kronologinya

Markas Polda Riau (Mapolda) Riau tiba-tiba diserang sejumlah terduga teroris yang mengendarai sebuah mobil Avanza warna putih, Rabu (16/5/2018) sekitar pukul 09.00.

Mobil itu, menurut Doddy Vladimir, wartawan Tribunpekanbaru.com yang berada di lokasi kejadian, langsung menabrak pagar Mapolda Riau.

“Kejadiannya berlangsung cepat. Tiba-tiba turun orang mengenakan topeng langsung membacok anggota polisi yang ada di dekat lokasi kejadian,” ungkap Doddy.

Akhirnya, polisi langsung melumpuhkan para pelaku dengan timah panas.

“Ada dua orang pelaku yang ditembak,” ungkap Doddy.

Akibat kejadian itu, seorang kontributor televisi nasional mengalami luka-luka, karena saat itu ia berada di dekat pagar dan sedang mengambil visual Mapolda Riau.

Pagi itu jadwalnya ada pemusnahan barang bukti narkoba di halaman Mapolda Riau.

Akibat adanya serangan terduga teroris ini, wartawan pun jadi kocar-kacir.

“Diduga di mobil yang masih terparkir di halaman Mapolda Riau itu ada bom. Tim Gegana sudah turun,” tambah Doddy.

Informasi terbaru yang diperoleh Tribunpekanbaru.com, saat ini mobil avanza yang digunakan terduga teroris masih terparkir di samping Mapolda Riau, tepatnya di simpang 4 lampu merah Jalan Gajah Mada-Jalan Sudirman, pekanbaru.

Tak ada yang berani mendekati mobil yang diduga membawa bom.

Saat ini, Tim Gegana Brimob Polda Riau sedang meluncur ke lokasi kejadian.

Mapolda Riau Diduga Diserang Teroris, Sosok Bertopeng Bacok Polisi & Orang Tergeletak di Lapangan

Indonesia kembali digegerkan dengan serangan terduga teroris di Mapolda Riau pada Rabu, 16 Mei 2018.

Jika sebelumnya Surabaya dibuat geger dengan aksi serangan bom bunuh diri.

Pagi ini, Markas Polda Riau tiba-tiba diserang oleh sejumlah terduga teroris yang mengendarai mobil Avanza warna putih.

Dilansir TribunStyle.com dari Tribun Pekanbaru, mobil yang dikendarai terduga teroris tersebut tiba-tiba menabrak pagar Mapolda Riau.

Bahkan ada sosok tak dikenal yang mengenakan topeng langsung membacok seorang anggota polisi.

“Kejadiannya berlangsung cepat.

Tiba-tiba turun orang mengenakan topeng langsung membacok anggota polisi yang ada di dekat lokasi kejadian,” ungkap Doddy, wartawan Tribun Pekanbaru.com.

Adanya serangan ini membuat polisi bertindak cepat dengan melumpuhkan para pelaku dengan timah panas.

Menurut Doddy, ada dua pelaku yang ditembak.

Tak lama setelah kejadian, beredar foto mengejutkan di Mapolda Riau.

Terlihat sati orang tergeletak di tengah lapangan tengah Polda Riau.

Hingga saat ini belum diketahui sosok tersebut, apakah anggota kepolisian atau diduga pelaku teror.

Tribun Pekanbaru ()

Dengan adanya serangan di Mapolda Riau, wartawan menjadi kocar kacir.

Sebab pagi ini dijadwalkan akan adanya pemusnahan barang bukti narkoba di halaman Mapolda Riau. (

Miris! Ibu Pelaku Bom Bunuh Diri di Surabaya Ini Lilitkan Bom di Pinggang Kedua Anaknya. Ternyata Ini Motivasinya

Pelaku bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro Surabaya adalah seorang ibu dan dua anak perempuannya.

Ketiga orang ini memakai sabuk bom yang dililitkan di pinggangnya.

Kapolri Jendral Tito Karnavian mengungkapkan, jenis bom ini membuat bagian perut terduga pelaku tidak utuh.

“Sementara bagian atas tubuh dan bagian kaki, relatif masih utuh,” katanya di RS Bhayangkara Polda Jatim, Minggu (13/5/2018) sore.

Rangkaian bom tersebut dikenakan oleh terduga pelaku Puji Kuswati, dan dua anak perempuannya bernama Fadilah Sari berusia 12 tahun, dan Pamela Riskika yang berusia 9 tahun.

Tiga terduga pelaku tersebut diturunkan oleh Dita Supriyanto di jalan Diponegoro, sebelum Dita meledakkan bom di Jalan Arjuno di Gereja Pusat Pantekosta Surabaya.

Bom dengan letusan terbesar adalah bom yang diledakkan pelalu Dita di Gereja Pusat Pantekosta Surabaya.

Sementara bom yang diledakkan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya adalah bom berbentuk kotak yang karakter dan bahannya masih diperiksa polisi di Labfor Mabes Polri.

“Bom kotak yang dalam posisi dipangku itu diledakkan oleh 2 anak lelaki Dita bernama Yusuf Fadil berusia 18 tahun, dan Firman Halim berusia 16 tahun,” terang Tito.

MOTIF PELAKU

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku yang merupakan satu keluarga ini melakukan serangan bom bunuh diri lantaran balas dendam.

Dita merupakan Ketua Jamaah Ansarud Daulah (JAD) di Surabaya.

Selain JAD, juga di Indonesia ada kelompok Jamaah Ansarud Tauhid (JAT). Kelompok ini merupakan afiliasi ISIS.

“Memang motif internasional, ISIS sedang ditekan di Barat, mulai AS dan Rusia, sehingga terpojok,” terang Tito, saat di RS Bhayangkara, Polda Jatim, Minggu (13/5/2018).

Di Indonesia sendiri, pendukung utama ISIS itu JAD dan JAT. Ketua JAD Indonesia Maman Abdurrahman dan JAT dipimpin Jainal Ansari.

Keduanya sudah ditangkap dan sedang menjalani proses hukum.

Orang nomor satu di Polri ini menuturkan, lantaran para pemimpin ditangkap, kelompok ini reaksi serangan.

“Salah satu buat kerusuhan rutan Mako Brimob,” ucap Tito.

Menurut Tito, sel-sel ISIS di Indonesia ambil momentum balas dendam.

Sedangkan Dita dan keluarganya, lanjut Tito, melakukan aksi bom bunuh diri dengan cara berpencar ke tiga titik ledakan.

Dia menuturkan pelaku di Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuno adalah Dita.

Tapi sebelum bom bunuh diri, Dita sempat mengantarkan istri dan dua anak perempuannya ke Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro.

Istri dan dua anak perempuannya pun meledakkan diri di sana.

Sedangkan dua anak laki-lakinya berboncengan menuju Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, di Ngagel.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2018/05/miris-ibu-pelaku-bom-bunuh-diri-di.html#ixzz5FTi75lfL

Sebut Aksi Teror Gereja di Surabaya hanya Settingan, Oknum Kepala Sekolah Diciduk Polisi

Teror bom terjadi di Surabaya, Jawa Timur, Minggu, 13 Mei 2018, pagi. Sejumlah tiga gereja jadi sasaran pelaku teror.

Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuno.

Berdasarkan data terbaru, ada 14 orang korban meninggal dunia akibat bom tersebut dan puluhan korban luka-luka.

Setelah ditelusuri, ternyata terduga pelaku pemboman adalah satu keluarga. Mereka melakukan bom bunuh diri.

Keluarga Dita Supriyanyo diketahui tinggal di kawasan Wonorejo, Rungkut, Surabaya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan peran Dita dan keluarga saat melakukan aski pengeboman.

Tito menuturkan, Dita menyerang Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno.

Ia naik mobil Avanza dan menabrakannya ke gereja hingga terjadi ledakan.

Bom ternyata berada di dalam mobil.

“Ledakan di gereja jalan Arjuno yang paling besar,” jelas Tito.

Selanjutnya, istrinya Puji Kuswati dan dua anaknya meledakkan bom di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro Surabaya.

Ia datang ke gereja jalan kaki bersama dua anak perempuannya, yakni Fadhila Sari (12) dan Pamela Riskita (9).

Puji bersama dua anak perempuan masuk ke gereja dengan membawa bom bunuh diri.

Bom ditaruh di pinggangnya.

“Ciri sangat khas, korban rusak perutnya saja,” terang Tito.

“Ibu meninggal, tapi juga ada korban masyarakat,” sambungnya.

Sedangkan di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, bom bunuh diri dilakukan oleh dua anak laku-laki Dita.

Mereka adalah Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16).

Keduanya membawa bom dengan cara dipangku.

Mereka masuk ke gereja naik motor dan memaksa masuk.

Kemudian bom meledak hingga menimbulkan banyak korban.

Peristiwa ini tentu saja mengundang amarah publik. Mereka geram dengan aksi teror yang terus terjadi di Indonesia.

Di tengah duka, ada saja yang masih menganggap peristiwa ini sebagai sebuah settingan untuk pengalihan isu.

Seperti yang dilakukan salah satu kepala sekolah SMP di Pontianak, Kalimantan Barat.

Lewat akun Facebooknya, kepala sekolah bernama Fitri Septiani Alhinduan menuliskan status yang dianggap tidak bersimpati kepada para korban.

Gara-gara statusnya ini Fitri harus berurusan dengan pihak kepolisian. Ia pun dijemput aparat kepolisian untuk dimintai keterangan.

Kasat Reskrim Polres Kayong Utara, AKP Denni Gumilar membenarkan pihaknya telah mengamankan seorang terduga pelaku ujaran kebencian melalui media sosial, FSA.

Dia mengaku belum dapat memberikan komentar lebih lanjut terkait kasus ini, sebab pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka.

FSA ditangkap lantaran diduga telah memposting status di Facebook yang berbau ujaran kebencian terkait peristiwa teror yang menghantam tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018).

“Saat ini yang bersangkutan masih dalam tahap pemeriksaan,” katanya saat dihubungi via telepon.

Status FSA ini sempat viral di media sosial, khususnya Facebook.

Dari penelusuran yang dilakukan Tribun di situs Sekolah Kita milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, FSA diduga mengemban tugas sebagai kepala sekolah di satu SMP, Kayong Utara.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2018/05/sebut-aksi-teror-gereja-di-surabaya.html#ixzz5FTfzXBN7

Tidak Punya Empati! Sebut Bom Surabaya Pengalihan Isu, Wanita Ini Akhirnya Minta Maaf Ke Warga Surabaya. Netizen : Proses Hukum Tetap Berjalan!

Mengikuti perkembangan kasus Bom Surabaya sejak tadi pagi, salah satu hal menarik yang muncul di media sosial adalah screencapture postingan banyak warga masyarakat mengenai kasus ini. Mungkin karena sudah gerah selama beberapa hari sejak terjadi kerusuhan di Mako Brimob kita dnegar adanya polisi yang diserang serta penangkapan sejumlah teroris maka kemuntapan masyarakat ini juga membuat mereka rajin menyisir akun-akun di Facebook yang berkomentar sumbang.

Dari postingan akun twitter @negativisme misalnya didapat beberapa screen shot yang cukup bikin ngelus dada. Misalnya :

Saya tertarik dengan salah satu akun bernama Diana Nadia itu. Akhirnya lewat dua akun Facebook yang tampaknya semua miliknya itu dia minta maaf ke warga Surabaya atas apa yang ditulisnya sebelumnya.

Saya kok merasa nggak paham. Hari ini ada istri kehilangan suaminya, ibu kehilangan anaknya, ibu yang terluka dan masih berjuang untuk hidup, mungkin juga ada perempuan lain yang jadi korban tewas maupun luka selain pelaku. Kok bisa-bisanya sebagai sesama wanita dia justru masih berpikir ini cuma pengalihan isu? Dan masih sempat-sempatnya lho posting dengan hashtag seperti itu.

Apalagi kalau lihat dari riwayat pendidikannya. Minimal dia melewatkan masa SMA dan kuliah di Surabaya. Itu kampusnya nggak terlalu jauh lho dari lokasi ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Tempat tinggalnya pun juga sepertinya di Surabaya. Lho kok bisa-bisanya tidak punya empati sama sekali?

Padahal dengan kondisi teroris yang sekarang terjadi ini bukan nggak mungkin korbannya nanti justru dia sendiri. Ini bukan ancaman lho, tapi sebuah kemungkinan yang sangat bisa terjadi. Jangan dikira karena kita Muslim, tidak ke gereja, kemudian merasa aman-aman saja. Lihat saja video yang terekam CCTV Dishub Surabaya di kawasan Ngagel dekat gereja tersebut. Itu sepeda motor yang dinaiki pelaku begitu lurus dari perempatan langsung masuk ke gereja dan tak lama tampak terjadinya ledakan.

Nah andaikan nih, tiba-tiba di situ kondisinya macet atau mungkin ada something wrong dengan bom yang dibawa oleh eksekutor kemudian belum masuk ke halaman gereja tiba-tiba saja sudah meledak duluan. Apes-apesnya nih kita lagi di jalanan yang sama. Mungkin lagi sebelahan menunggu lampu lalu lintas menyala hijau misalnya atau berjejeran menerjang macet. Kira-kira bagaimana rasanya kalau seperti itu yang terjadi kemudian bom itu meledak sebelum sampai di tujuan asalnya? Siap menerima resiko jadi korban?

Ini itu sudah bukan lagi masalah “duh kasihan ya.. untung aku bukan menjadi korban” dan sejenisnya. Ketika ini terjadi di kota tempat tinggal rasa-rasanya yang bisa kita rasakan cuma “ini itu masalah serius lho. Bukan nggak mungkin aku juga bisa jadi korbannya”. Tadi mungkin dia masih bisa enteng mengatakan ini cuma pengalihan isu dan masih saja jualan ganti Presiden. Coba tempatkan empati dan imajinasi Anda. Lha saya percaya kok model-modelnya Diana Nadia ini kalau punya suami kemudian direbut perempuan lain dia pasti akan drama pol-polan di media sosial merasa sebagai wanita tersakiti. Sekarang bayangkan kalau suamimu sendiri yang sedang pergi beribadah, berangkat happy, tiba-tiba tidak akan pernah bisa kamu temui lagi karena tubuhnya hancur terkena bom. Suamimu dihancurkan raganya oleh orang yang bahkan nggak kamu kenal, nggak ada urusan dengan kehidupanmu sehari-hari, dan melakukan itu dengan alasan jihad dan ingin masuk surga. Opo nggak mangkel? (Apa tidak marah?)

Dan yang seperti ini banyak sekali wira-wiri di media sosial. Bahkan tadi ada nama dosen permepuan salah satu Universitas terkemuka yang juga jadi viral karena unggahannya sampai organisasi profesinya mengeluarkan rilis bahwa apa yang dia tulis di Facebook adalah ranah pribadinya.

Saya rasa jaman sekarang ini ada dua jenis teroris. Teroris dalam pikiran seperti mereka yang menulis di status medsosnya ini dan teroris nyata yang melakukan aksi. Untuk mereka yang menulis status ngawur seperti itu saya cuma merasa mereka ini antara nggak punya hati nurani atau nggak punya otak. Pilihannya cuma dua itu. Sikap permisif dan dukungan secara tak langsung inilah yang membuat terorisme dan radikalisme tumbuh subur di negara ini.

Ngomong-ngomong seperti apa ya attitude anak yang dididik oleh Ibu yang mengatakan darah kafir halal serta bermedsos tanpa punya empati seperti ini?

Begini Keseharian Keluarga Bomber yang Ledakkan 3 Gereja di Surabaya…

Dita Oepriarto beserta istrinya, Puji Kuswati, serta keempat anaknya menjadi pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5) pagi. Sontak, kejadian tersebut mengagetkan tetangga sekitar pelaku yang menilai sehari-hari aktivitas keluarga ini tampak normal saja.

“Keluarga ini sudah tinggal di sini sejak tahun 2010 silam. Istrinya sering belanja sayur di warung tetangga. Berjilbab panjang dan ramah,” ungkap Dani yang rumahnya berada di blok yang sama dengan kediaman pelaku di Rungkut, Surabaya, Minggu (13/5).

Sementara, Dita dikenal sebagai pengusaha minyak jintan hitam, minyak wijen, serta minyak kemiri. Minyak tersebut, juga dipasarkan oleh Dita melalui jejaring dunia maya.

“Bapak kerjanya punya usaha minyak jinten hitam. Mobilnya dulu plat P,” tambah Dani.

Meski, ia mengakui sejak sekitar dua tahun silam, Dita mulai bertingkah kurang ramah. Dita menjadi pribadi yang jarang tersenyum. Namun, Dani mengaku sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga kepada Dita.

 

Hal senada juga dilontarkan oleh Ketua RW 4, Wonorejo Asri, Taufik Gani. Taufik mengaku sama sekali tidak menyangka, salah satu warganya yang ia kenal rajin mengikuti salat berjamaah itu bisa melakukan perbuatan keji yang menewaskan belasan orang, bahkan mengajak empat anaknya yang masih terbilang bocah.

“Setiap Maghrib dan Isya selalu salat berjamaah bersama warga di musala dekat perumahan,” jelas Taufik.

Taufik lalu mengenang, setiap pagi Dita selalu menyempatkan diri bersepeda bersama keempat anaknya, Yusuf Fadhil (18), Firman Halim (16), Fadila Sari (12) dan Famela Riskita (9).

“Tamu juga tidak terlalu banyak, tapi pernah beberapa kali datang. Sama warga, dengan kami, dengan tetangga sebelah, mereka itu tidak tertutup. Baik-baik saja,” tambahnya.

Dalam insiden tersebut, Dita diketahui menurunkan istri dan dua anak perempuannya, Fadila dan Famela, di GKI Diponegoro. Ia kemudian menuju ke GPPS Arjuna untuk meledakkan bom yang diletakkan dalam mobill Avanza miliknya.

Sementara dua putranya, Yusuf dan Firman, ‘bertugas’ meledakkan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Keduanya mengendarai sepeda motor yang telah ditempel bom.

Sumber : line.me

Iptu Sulastri, Polwan yang Disandera dan Mendapat Perlakuan Keji Napi Teroris Saat Kerusuhan Mako Brimob

Aparat kepolisian sudah mengambil alih Rutan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Kamis (10/5/2018) pagi pukul 07.15.

Walau sempat ada perlawanan, sebanyak 155 tahanan di rutan cabang Salembang yang ada dalam Mako Brimob akhirnya menyerahkan diri.

Sandera terkahir, Bripka Iwan Sarjana juga bisa dibebaskan dalam kondisi selamat pada Kamis (10/5/2018) dini hari.

Kondisi Iwan mengalami luka-luka dan langsung dirawat di Rumah Sakit Polri Keramat Jati.

Kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob sejak Selasa (8/5/2018) menyisakan banyak cerita sedih.

Ada 6 korban tewas dalam kerusuhan itu.

Dari 6 korban tersebut 5 diantaranya adalah anggota polisi dan 1 narapidana teroris.

Selain itu, ada juga polisi wanita (polwan) yang menjadi korban sandera dan perlakuan keji para napi teroris.

Polwan itu adalah Iptu Sulastri.

Saat kerusuhan terjadi, Sulastri sedang bertugas melakukan penjagaan dalam Rutan Mako Brimob.

Sulastri yang bertugas ternyata menjadi sandera narapidana yang menguasai rutan Mako Brimob.

Tak hanya itu, dia juga mendapat perlakuan keji.

Hal itu tampak dalam postingan akun Instagram @krishnamurti_91.

Dalam foto unggahannya itu terlihat muka Sulastri mengalami luka di wajahnya.

Akun Instagram tersebut juga menuliskan caption dalam unggahannya.

Polisi penyidik dilatih untuk bermental humanis. Para napi teroris bermental membunuh.. ..
..
Lihat perilaku mereka thd Iptu Polwan Sulastri giginya habis dihajar para teroris laki2… Apakah mereka tau kalau beliau adalah perempuan..??? #kamibersamapolri #kmupdates

Netizen yang menyaksikan postingan ini turut berkomentar

“Wahhh teroris laki2 berani nya sama polwan… cemen juga yaa,” tulis akun intanfauzifallad.

“Sungguh kejam..sudah tak punya hati nurani,” komentar akun selvia37.

“Semoga cepet sehat dn pulih kembali iptu sulastri,” komentar akun tantihm. (*)

KH Said Aqil: Masukkan Anakmu ke Pesantren NU agar tak Jadi Teroris

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, Rabu (22/11/2017) mengisi pengajian di Podok Pesantren Nurul Quran di Desa Mertak Tombok, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di pesantren yang sejak 6 Oktober 2004 itu, Kiai Said menegaskan pentingnya anak dipondokkan atau sekolah di pondok pesantren. “Kalo anak anda tidak mau jadi teroris, paling aman masukkan dia nyantri di Pondok Pesantren NU. Di luar pesantren NU, saya tidak jamin,” demikian KH Said dalam pengajiannya.

Menurut Ketua Umum PBNU ini, semua pesantren Nahdlatul Ulama tidak ada yang mengajarkan terorisme dan kekerasan. Sebab, pesantren NU tidak hanya mengajarkan Alquran dan Hadist, tapi juga akhlakul karimah dengan sanad keilmuan yang jelas.

Terjadinya pengeboman, penyerangan polisi, dan kekerasan bernuansa agama yang marak terjadi adalah karena pemahaman keislaman dan pemahaman Alquran pelakunya yang keliru.

“Tidak cukup mempelajari Alquran dengan hanya membaca tarjamah, tapi juga harus belajar tafsir, takwil, asbabun nuzul, ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu Alquran yang lain,” tandasnya.

Karena itu, Kiai Said mengapresiasi Pesantren Nurul Quran Mertak Tombok yang memfokuskan pembelajaran Alquran untuk para santri-santrinya.

“Di sini selain menghafalkan Alquran, santri juga belajar kitab-kitab kuning, kitab tafsir, kitab hadist dan lain-lain, generasi inilah yang akan menjaga Alquran dengan dada mereka, menjadi hafidz dan ahli Alquran,” tandasnya.

Hibah Tanah untuk PBNU

Dalam kesempatan Tabligh Akbar yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Persatuan Guru NU Lombok Tengah periode 2017-2022 ini, Bupati Loteng H Suhaili, FT menyerahkan hibah berupa sebidang tanah yang akan digunakan PBNU sebagai tempat membangun Kantor Pengurus Cabang NU Lombok Tengah.

Penyerahan hibah dilakukan langsung oleh H Suhaili, FT dengan menyerahkan Sertifikat Tanah tersebut kepada KH Said Aqil di hadapan ribuah jamaah yang memadati Tabligh Akbar ini di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Besutan Qori’ Internasional H Sabarudin ini.

Ini Penyebab Ricuh di Mako Brimob Versi Napi Teroris…

“Jadi ini berawal dari semua permasalahan yang sudah dikumpul-kumpul, diakumulasi oleh ikhwan-ikhwan, dari mulai masalah pembatasan tentang hak-hak: makanan, kemudian masalah besukan, dan sebagainya,” ujar Abu Qutaibah alias Iskandar alias Alexander dalam kronologi penyebab kejadian ricuh di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Selasa malam (8/5).

Abu Qutaibah adalah sosok yang dituakan di antara penghuni tiga blok khusus tindak pidana terorisme di Rutan Mako Brimob. Ia adalah narapidana tindak pidana terorisme (napiter) Bom Kampung Melayu yang ditangkap pada Juni 2017 oleh Densus 88 Mabes Polri.

Rekaman Abu Qutaibah tersebut kami dapatkan secara eksklusif. Rekaman ini menjadi tambahan informasi ihwal penyebab ricuh yang membuat lima personel polisi tewas dan terjadi drama penyanderaan seperti klaim pihak kepolisian.

Versi polisi, ricuh yang bermula sejak Selasa sore (8/5) itu disebabkan persoalan titipan makanan yang tertahan milik salah seorang penghuni tahanan.

Menurut Abu Qutaibah dalam rekaman berdurasi 11 menit 35 detik ini, insiden pemberontakan napi dan terdakwa kasus terorisme itu akumulasi kekesalan para napiter karena barang titipan yang diberikan kolega mereka tak bisa masuk ke ruang tahanan. Selain itu, ada perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka ketika besuk.

“Akhwat kami ditelanjangi,” ujar Abu Qutaibah.

“Itu terkadang sudah pakai celana dalam, disuruh loncat jongkok. Ini dengan tujuan kalau ada barang terlarang bisa jatuh karena disuruh loncat-loncat. Ini satu hal yang tidak manusiawi menurut kami,” tambah Qutaibah.

Akumulasi kekesalan itu kemudian meledak saat permintaan penjelasan para napiter kepada petugas tak direspons dengan baik. Para napiter mendatangi kantor sipir untuk meminta penjelasan kenapa barang, termasuk makanan yang diberikan oleh keluarga mereka, tidak diantara ke tahanan.

Saat para napiter meminta penjelasan, kata Abu Qutaibah, seorang anggota Densus 88 meletuskan tembakan yang melukai rekan mereka. Tembakan itu tepat mengenai dada kiri seorang tahanan. Belakangan, diketahui tahanan yang tertembak itu adalah Wawan Kurniawan alias Abu Afif.

Petugas kemudian melepas tembakan kembali dan menumbangkan Benny Syamsu, terdakwa tindak pidana terorisme asal Pekanbaru, yang persidangannya satu majelis dengan Wawan di PN Jakarta Barat. Saat mengetahui rekan mereka tumbang, kemarahan memuncak dan situasi tak bisa dikendalikan.

“Ketika mereka sampai dengan kemarahan mereka di kantor sipir ada petugas Densus yang mengeluarkan tembakan, kemudian ikhwan kami terluka. Satu orang,” kata Qutaibah.

“Wallahu a’lam ini semua di luar dugaan kami. Jadi kalau pihak Densus menyalahkan kami, tidak bisa. Karena insiden ini tidak ada rencana sebelumnya.”

Sebelum kami mendapatkan rekaman ini, kami sempat menghubungi Asludin Hatjani, kuasa hukum Aman Abdurahman sekaligus pengacara Wawan dan Benny.

Asludin membenarkan klaim polisi yang menyebut pemantik kerusuhan di Rutan Mako Brimob bermula dari makanan.

“Dia (Wawan) ingin makanan yang dibawa istrinya, tapi tidak bisa masuk,” ujar Asludin via telepon, Kamis malam (10/5).

Sebelum kerusuhan di Mako Brimob itu, Wawan baru saja menjalani persidangan kedua atas kasus kepemilikan senjata api dan rencana jihad ke Marawi. Wawan mengeluhkan perlakuan petugas kepada Asludin.

Pengakuan ini sinkron dengan keterangan polisi. Sebagaimana klaim polisi dalam jumpa pers di Mako Brimob, Rabu pagi (9/5/), pemantik kerusuhan bermula dari makanan yang tak diberikan petugas kepada para tahanan terpidana teroris. Wawan dianggap provokator kerusuhan di Rutan Mako Brimob.

“Pemicunya hal sepele, masalah makanan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Mohamad Iqbal.

Namun, keterangan polisi tak sepenuhnya menjawab penyebab lain soal kericuhan berdarah itu. Banyak yang tak dikatakan polisi mengenai insiden selama 38 jam tersebut.

Akumulasi Kekesalan
Sebelum kami mendapatkan rekaman eksklusif Abu Qutaibah—orang yang dituakan dalam sel di tiga blok Rutan Salemba cabang Mako Brimob, pernyataan serupa juga kami dapatkan dari Muhammad Jibriel Abdul Rahman, mantan terpidana kasus tindak pidana terorisme Pemboman Hotel JW Marriot tahun 2009. Menurut Jibriel, kericuhan berdarah itu merupakan akumulasi dari perlakuan yang selama ini diterima para tahanan.

“Di saat orang divonis masuk ke dalam penjara, dia tidak akan pernah senyaman apa yang dia lakukan. Jadi, ketika kamu merasa dizalimi, itu wajar. Kalau enggak mau, ya bebas aja,” ujar Jibriel di sela-sela rapat persiapan aksi demonstrasi 11 Mei 2018 atau ‘Aksi 115’ di Monumen Nasional hari ini.

“Rentetan-rentetan terjadinya hal tersebut (kerusuhan di Rutan Mako Brimob) ini panjang,” katanya.

Ia menyebut kerusuhan Selasa malam (8/5) itu bermula dari perlakuan petugas di dalam rutan. Salah satunya prosedur pemeriksaan di dalam rutan yang membuat tahanan di blok khusus itu meradang.

Pernyataan serupa dikatakan oleh Firdaus Ghazali, pengacara deportan ISIS yang tertangkap di perbatasan Suriah. Di Rutan Mako Brimob, memang ada perlakuan yang membuat risih pembesuk. Ia pernah mengalami perlakuan yang dianggap melebihi batas ketika menemui kliennya di dalam rutan.

“Saya sampai membuka semua pakaian hingga celana dalam saya,” ujarnya.

Ia menyebut aturan ketat itu mulai berlaku baru-baru ini. Aturan itu, katanya, dibuat oleh Brimob yang menjaga keamanan di area rutan.

Ali Fauzi, mantan terpidana terorisme bom Bali sekaligus adik kandung Amrozi, juga mengatakan hal sama. Ia menilai ada perlakuan yang tak seharusnya diterapkan berlebihan pada prosedur pemeriksaan untuk para pembesuk di Rutan Brimob.

“Dalam beberapa hal, harusnya lelaki yang memeriksa. Ini yang membuat mereka tersinggung. Harusnya sesuai prosedurlah,” kata Ali Fauzi melalui sambungan telepon, Kamis (10/5).

Tirto mencoba mengonfirmasi ihwal pernyataan Abu Qutaibah seperti yang muncul dalam rekaman, bahwa ada perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka ketika membesuk tahanan di Mako Brimob, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto membantahnya.

“Enggak mungkin lah kalau itu. Hoaks itu saya berani jamin kalau yang menjenguk ditelanjangi, nggak mungkin,” kata Setyo di Mabes Polri, Jumat (11/5)