Trik Sederhana Ini Akan Membuatmu Tertidur Dengan Cepat Dalam Waktu dari 1 Menit

Susah tidur adalah salah satu permasalahan di era millenial ini. Kehidupan malam dan kegiatan malam telah membuat kita lupa akan tidurdengan tepat waktu.

Tidak heran tidur tidak sesuai jamnya atau pola tidur yang tidak sesuai dialami oleh banyak orang.

Namun, jika kegelisahan tersebut melanda Amda dan ingin memperbaikinya, mungkin ada baiknya Anda mencoba beberapa trik berikut ini.

Melansir Newsner, ternyata ada tips sangat mudah dan sederhana untuk membuat Anda cepat tertidur. Pertama, Anda hanya perlu bernapas melalui hidung selama empat detik.

Lalu tahan napas selama 7 detik. Setelah itu hembuskan melalui mulut selama 8 detik. Hanya itulah tipsnya. Mungkin terdengar sederhana. Namun beginilah penjelasan ilmiahnya:

Cara bernafas ini memiliki efek kimia pada otak yang menurunkan detak jantung dan membuat orang tertidur dalam sekejap.

Teknik pernapasan seperti ini, yang berasal dari yoga dan kesadaran, telah dipraktekkan di Asia selama berabad-abad, tetapi mereka tidak pernah populer di Eropa.

Salah satu pendukung terbesar metode ini, bagaimanapun, adalah peneliti dari Harvard, Dr. Andrew Weil.

Dalam studinya tentang metode ini , Dr. Weil menulis bahwa orang yang stres atau gugup akan membuat bernapas dengan acara tidak benar.

Bahkan, mereka bernapas cukup dangkal, dan kadang-kadang  menahan nafas mereka tanpa menyadarinya. Menghirup udara selama empat detik memaksa otak Anda mengambil lebih banyak oksigen.

Sementara menahan napas Anda selama tujuh detik memungkinkan oksigen untuk dibawa ke dalam tubuh dan mempengaruhi aliran darah.

Lalu menghembuskan nafas selama delapan detik mengeluarkan karbon dioksida dari paru-paru. Teknik ini secara efektif menurunkan detak jantung Anda dan meningkatkan oksigen dalam aliran darah Anda.

Bahkan bisa membuat Anda merasa sedikit lebih energik, yang merupakan bagian dari efek menenangkan. Menurut Dr. Andrew Weil, Anda harus mempraktekkan teknik ini dua kali sehari.

Sumber: intisari.grid.id

Jalan Keluar Dari Pusaran Hutang: Sebuah Tips Sederhana

Pelajari Polanya dan Lakukan Tipsnya
Salah satu yang saya coba refleksikan dalam pergantian tahun kali ini adalah soal hutang. Mempelajari polanya dan mencoba merumuskan solusinya.

Kenapa ini penting direfleksikan? Karena saya liat tak banyak yang mencoba membuat resolusi yang fokus di sektor ini. Padahal di antara mereka justru banyak yang terjebak dalam masalah ini. Tapi justru tidak mencoba merefleksikannya dan menjadikannya sebagai resolusi penting untuk kehidupannya di masa mendatang.

Membuat Test Case
Dalam satu tahun kemaren itu sepanjang tahun 2016 saya memang menyengaja mencoba memposisikan diri sebagai pihak yang tidak berhutang. Tapi sebaliknya menjadi pihak yang di posisi pemberi hutang. Biasanya sih saya yang paling demen berhutang. Kalo dicek BI Checking pasti ketahuan bahwa saya pernah punya catatan hutang hampir di semua Bank. Setidaknya 20 bank. Dan Alhamdulillah tidak ada yang bermasalah

Apakah uang saya lagi banyak? Tidak juga! Mungkin saja malah sebenarnya duit orang-orang itu lebih banyak. Tapi saya punya tujuan lain memang. Saya ingin memecahkan salah satu misteri utang. Yang itu banyak terjadi di sekeliling kita.

Apakah itu? Yakni, kenapa orang-orang yang berhutang kebanyakan akan sulit mengembalikan hutangnya dan plus ditambah menjadi sangat sulit jalan rezekinya, bahkan seringkali menjadi semakin buntu? Apakah ini kebetulan ataukah ini sebuah ilmu? Artinya bisa dijelaskan secara ilmiah, bisa diterangkan berdasarkan pola-polanya dan bisa dijelentrehkan sabab dan musababnya.

Di sisi yang lain ada orang yang berhutang dan fine fine aja hidupnya. Bahkan ketika hutangnya belum lunas malah yang memberi pinjaman menawarkan lagi memberikan pinjaman yang lebih besar. Dan tidak ada masalah apapun dengan keduanya. Seolah tidak ada beban dari keduanya. Semua bisa mengalir lancar mudah apa adanya.

Ternyata semua ada Polanya. Itulah yang harus kita pahami sejak dini

Melihat Tiga Fakta
Fakta yang pertama, setahun ini saya memberi hutang pada lebih dari 20 orang. Sebetulnya awalnya ingin saya batasi hanya 9 orang. Tapi mungkin mendengar dari mulut ke mulut kalau hutang ke si A itu gampang, maka jumlahnya kemudian bengkak menjadi tiga kali lipatnya. Ada yang hanya hutang satu juta, sepuluh juta, ada yang seratus juta, bahkan ada yang hampir 200 juta. Dan semuanya tanpa ada tanda tangan hitam di atas putih. Dan itu memang saya sengaja. Asal transfer saja dan percaya dengan apa yang diminta. Pokoknya dibikin semuanya mudahlah, kan memang sudah diniati dari awal.

Apa yang menarik dari sini? Ternyata mereka yang berhutang itu datang dengan pola yang sama. Mau berhutang dengan nominal sekian dan menyebutkan alasannya bahkan ada yang sambil menitikkan airmata. Setelah itu memperkuat alasan itu dengan janji, sekali lagi dengan janji, bahwa uang akan dikembalikan tanggal sekian atau bulan sekian atau setelah proyeknya selesai. Kadang itu disertai sumpah segala.

Fakta kedua, berapa orang yang akhirnya membayar dan memenuhi pembayaran tepat sesuai janjinya? Survei membuktikan: Hanya lima orang. Artinya kurang dari 25 persen dari total mereka yang berhutang.

Bagaimana perilaku sebagian besar mereka? Hampir polanya sama. Mereka Menghindar. Mematikan telepon. Dihubungi tidak direspons. Bahkan ada yang menghilang. Intinya satu, mereka pergi atau lari dari tanggung jawab dan mengingkari janjinya sendiri.

Fakta yang ketiga, bagaimana kehidupan mereka setelah berhutang dan kemudian lari dari kewajibannya? Apakah lebih baik atau justru lebih buruk kondisi hidupnya?

Ternyata pola yang ditemukan juga sama. Hidup mereka semakin susah semua. Secara ekonomi semakin terpuruk bahkan ada yang makin terlilit hutang dengan pihak-pihak lainnya. Makin bertumpuk hutangnya. Secara sosial juga buruk. Terisolir atau mengisolir diri dari pergaulan dan lingkungan sosialnya. Hubungan dengan keluarganya juga menjadi sangat buruk. Secara spiritual juga kacau balau. Ibadahnya berantakan, kedekatan kepada Tuhan nyaris ke titik terendah bahkan ada yang kemudian menyalah-salahkan Tuhan. Menuduh Tuhan sudah tidak adil dalam hidupnya. Fatal banget pokoknya!

Mengapa fakta itu bisa terjadi? Kenapa mereka yang berhutang itu tidak bisa menyelesaikan hutangnya? Kenapa kehidupannya makin terpuruk? Mengapa mereka semakin terlilit hutang yang lebih dalam?

Yang pertama, saya perlu garis bawahi hutang itu bukan hal yang buruk, bukan sebuah kejahatan, bukan suatu dosa, dan bahkan nabi pun melakukannya. Jadi hutang itu muamalah biasa. Buktinya yang 25% faktanya sebaliknya. Bisa mengembalikan hutangnya sampai lunas, rezekinya makin lancar, dan kehidupan sosial spiritualnya makin baik.

Dalam konteks ini bahkan ada fenomena menarik yang dilakukan sahabat saya Marjunul Noor Purwoko yang melakukan aksi semacam ini, terbukti untuk sampai detik ini, 90% yang pinjam modal ke dia bisa mengembalikan sesuai kesepakatannya. Nah peminjam peminjam yang disiplin membayar hutangnya inilah yang nanti bisnisnya akan cepat sukses.

Nah di mana salahnya? Dimana perbedaannya? Saya mencoba menjelentrehkan dalam bahasa sederhana berdasarkan “riset perilaku” dalam setahun terakhir ini.

Pertama, kenapa Anda terjebak dalam kumparan hutang yang tak selesai? ini ada hubungannya dengan teori niat dan aksi. Maksud saya, antara niat awal dengan fakta yang terjadi sesungguhnya punya hubungan kausalitas yang erat. Fenomenanya bisa dijelaskan begini.

Kebanyakan dari mereka yang berhutang ini setelah uangnya diterima tiba-tiba berubah dari niat awalnya. Yang semula uang itu dimaksudkan untuk keperluan produktif tiba-tiba dialihkan ke keperluan lain yang biasanya konsumtif. Ada penyimpangan niat di situ.

Dalam agama ada ajaran bahwa semua amal itu tergantung niatnya. Niat juga menentukan hasil akhirnya. Apa yang diniatkan dan apa yang dilakukan juga dicatat malaikat. Nah bagaimana jika niatnya sudah keliru? Tentu akan mempengaruhi hasil akhirnya. Niat yang salah akan menghasilkan tindakan dan dampak yang salah juga. Karena niatnya sudah diselewengkan maka hasil akhirnya akan sesat juga. Langkah akan terseok-seok, jalan tidak lurus, dan itu akan bikin susah diri sendiri.

Jadi faktor niat ini yang harus menjadi prioritas ketika orang mau berhutang. Jangan pernah dipakai uang itu diluar dari apa yang sudah diniatkan dari awal. Bahaya karena akan menjadi awal malapetaka yang akan jadi belenggu Hidup Anda. Pakai uangnya sesuai peruntukannya. Biar ke depannya juga mudah jalanya. Ini nanti ada hubungannya dengan konsep vibrasi.

Kedua, perilaku yang salah. Ingkar janji. Hampir ini yang dilakukan semua yang berhutang itu. Ketika sudah pegang uang tidak segera untuk mengembalikan pinjaman. Kebiasaan menunda diteruskan di sini. Ini sepele tapi sebetulnya sangat berbahaya. Apalagi sudah menunda pembayaran ditambah lagi susah dihubungi.

Ganti nomor HP. Menghindar pertemuan dengan bebohong. Pura-pura lupa atau menyusun berbagai alasan yang dibuat-buat. Intinya Anda bikin susah orang. Akibatnya nanti Anda juga akan terjebak dalam kumparan kesulitan yang tak berujung, khususnya problem keuangan yang tak kunjung selesai.

Ketika Anda menunda pembayaran hutang sesungguhnya Anda sedang mengirim sinyal ke semesta agar pintu-pintu rezeki Anda dari jalan yang lain juga ditunda atau mandeg. Mengingkari janji dalam bentuk menunda bayar hutang itu adalah bagian dari doa Anda sendiri yang mau tidak mau harus terwujud sesuai hukum alam. Bukankah Allah sendiri berfirman bahwa setiap kebaikan yang kamu lakukan akan kembali ke dirimu sendiri dan setiap kejahatan akan kembali pada dirimu sendiri. Ini hukum pasti. Langsung dari Tuhan sendiri. Ini juga mudah dijelaskan dengan teori vibrasi tadi.

Ketiga, kita menjadi sulit keluar dari kumparan hutang karena ketika hutang itu tidak segera dibayar kita masuk dalam hukum kezaliman. Apa mAksudnya? Membayar hutang itu wajib dan Anda sudah berjanji dari awal. Tapi begitu dikhianati sesungguhnya Anda telah menzalimi orang lain yang telah membantu Anda.

Bagaimana rasanya dizalimi? Kita pasti paham dan pernah merasakannya: kecewa, gelisah, resah, kesal, nggondok, mangkel. Pokoknya serba negatif dan susahlah. Yang mungkin tidak Anda tahu getaran negatif itu akan tersambung ke Anda karena ada medianya atau sebabnya yakni proses hutang piutang itu. Rasa kecewa, susah, sakit hati dan semacamnya itu akan tertransfer langsung ke Anda. Menumpuk ke dalam jiwa Anda. Anda dan dia kalau dalam ilmu vibrasi itu: terhubung!

Akibatnya setiap hari Anda mengalami perasaan tidak enak. Tidak bisa tenang. Berpikir jernih pun susah. Apa pun yang Anda lakukan akan salah atau kepentok banyak kendala. Kalo Anda masih memakai uang itu untuk bisnis pun dijamin tidak akan berhasil. Yang ada malah masalah baru. Ketipu, dicuri, hilang, duitnya dijambret, bahkan kecelakaan, habis untuk berobat, dan seterusnya. Alih-alih hutang pertama terselesaikan, yang terjadi justru akan ketambahan utang baru yang kian hari kian menumpuk. Dan disitulah tanda tanda kehancuran hidup Anda akan mulai terasa.

Lalu bagaimana agar saat dalam posisi banyak berhutang itu Anda bisa segera menyelesaikannya dan selanjutnya justru mendapatkan bonus kemudahan aliran rezeki dari bisnis atau proyek yang bagus yang hasilnya bisa untuk menutup semua hutang itu dan bahkan masih bisa punya kelebihan yang banyak untuk bekal surviv?

Ya tentu saja harus kembali ke ketiga hukum tadi. Pertama, luruskan antara niat dan aksinya. Jangan tergoda untuk menyelewengkan niat. Ingat, ini sepele tapi bahaya. Terpeleset di niat imbasnya akan bikin Anda masuk dalam kumparan kesusahan berkepanjangan.

Kedua, begitu uang sudah ada langsung Anda bayarkan secepatnya. Jangan ditunda, agar energi positif langsung merasuk ke tubuh Anda. Jangan berlaku sebaliknya uang ditahan, diperuntukkan hal lain, kalau ketemu orangnya berkelit belum punya atau dengan alasan macam-macam yang bisa anda buat.

Ingat ini semua ada hubungannya dengan hukum kausalitas dan hukum vibrasi. Begitu Anda membayar maka otak akan merekam itu sebagai memori bahwa Anda itu kaya, punya duit, mampu. Buktinya bisa membayar kok meskipun dengan ngos-ngosan. Dan itulah yang nanti akan diproses otak untuk mewujudkan secara nyata ke depan dan ke depannya. Sehingga makin ke depan jalan hidup anda akan semakin mudah.

Sebaliknya jika Anda tunda pembayarannya maka otak akan merekam itu sebagai tanda bahwa Anda memang miskin, tidak mampu, serba kekurangan. Buktinya sudah pegang uang pun tidak sanggup membayar. Otak akan memprosesnya sebagai energi untuk membentuk hidup Anda akan begitu terus kondisinya. Serba kurang dan tidak mampu, terus menerus. Meski sekedar untuk membayar sebagian hutang yang seharusnya menjadi kewajiban yang diutamakan, anda tidak akan pernah dimampukan.

Ketiga, agar Anda terhindar dari doa dan vibrasi orang yang terzalimi padahal dia sudah baik menolong Anda dengan memberi hutang, maka datangi dan mintalah kelegaan hatinya. Datangi, bicara, mintai maaf setulustulusnya atas keterlambatan pembayaran. Atau baru bisa membayar sebagian hutang itu. Atau bahkan saat belum bisa bayar sama sekali. Itu akan menenangkan keduabelah pihak. Jika jiwa Anda tenang maka Anda akan bisa bekerja atau berbisnis dengan baik yang akan berbuah keuntungan karena semua energi di tubuh dan pikiran sudah dibuat positif. Pada gilirannya semesta akan mendukung semua langkah Anda bertemu dengan keberuntungan demi keberuntungan. Dan hidup susah itu akan menjauh dengan sendirinya. Itulah sebabnya berulang saya katakan: jangan menghindar, jangan berkilah, jangan menunda!

Hukum Kekekalan Energi
Anda percaya dengan hukum tabur tuai atau hukum karma? Bahwa yang anda lakukan itu akan berbalik ke diri anda sendiri. Anda mamanen apa yang anda tanam. Anda bikin susah orang maka hidup anda akan makin susah juga dan terus menerus dalam zona kesulitan?

Kenapa begitu? Ini bisa dijelaskan dengan teori hukum kekekalan energi. Dunia ini adalah energi. Jumlahnya tetap. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Dia hanya berpindah dan berubah bentuk saja. Hanya muter saja dan akan kembali ke titik semula.

Sebagaimana air. Air di dunia ini jumlahnya tetap. Tidak pernah bertambah tidak pernah berkurang. Begitu juga udara, energi, dll. Hanya saja sebagian dari air menguap menjadi berbentuk awan, sebagian berbentuk menjadi hujan, sebagian menjadi salju, sebagian besar berada di samudera luas yang jika kena panas akan menguap lagi sebagian menjadi awan lagi. Jika ditotal jumlahnya tetap saja itu banyaknya air.

Nah kalo anda sedang berhutang itu, dalam konteks hukum kekekalan energi, artinya sedang ada energi positif yang anda terima dari orang lain. Jangan jadikan itu bola panas. Jangan diendapkan terus energinya. Harus segera ditransfer lagi dengan cepet mempermudah pembayarannya. Jangan pernah tunda dengan alasan apapun. Kalo anda tunda, anda endapkan hemmmmm akan seperti air. Dia akan menggenang, bau dan jadi tempat berkubangnya bibit penyakit. Bahkan akan jadi tumor dan kanker yang menggerogoti hidup anda. Ini serius!

Sikap menunda membayar hutang itulah yang kemudian menjadikan hidup anda akan terus berada dalam kumparan kesulitan. Sebelum energi itu anda alirkan lagi maka selamanya hidup anda tidak akan berubah zonanya. Dalam zona negatif terus. Hutang Anda tidak akan beres dan jalan rezeki Anda tidak akan terbuka jalannya. Buntu dari semua pintu.

Kuncinya itu tadi, kalau memudahkan ya anda akan dimudahkan, kalau menyulitkan ya akan makin sulit hidup anda. Dan itu sudah hukumnya. Dan itu kembali kepada yang bersangkutan. Mau terus berkubang di situ atau lepas dari kubangan itu. Bagi yang dipinjami uangnya selama utang belum dibayar itu artinya dia punya tabungan energi positif yang banyak di semesta. Namanya tabungan tentu bisa diambil. Kapan?

Pada saat dia mendapatkan kesulitan kesulitan hidup yang secara akal sehat sulit dia keluar dari masalah itu tiba-tiba saja ia mendapatkan jalan keluar, solusi, pertolongan, yang mudah. Dari arah yang tak disangka-sangka. Kenapa? Ya karena dia ditolong oleh energi positifnya sendiri yang ditabung sejak lama di tempat lain yang sewaktu-waktu bisa dicairkan saat kondisinya membutuhkan pertolongan. Kebaikan anda kemaren itu ibarat deposito yang setahun ke depan cair dengan sangat menggembirakan.

Makanya makin cepat anda kembalikan hutang Anda, meski dengan bersusah-payah, makin cepat energi alam ini membawa anda ke area energi yang lebih positif. Di situlah satu persatu jalan kemudahan hidup anda terbuka dengan sendirinya. Terbuka lebar-lebar dan dari banyak arah. Dan itu hukum kekekalan energi yang pasti.

Sedekah Itu Leverage
Bagaimana dengan ustad yang menganjurkan agar ketika hidup kita susah dan banyak hutang justru harus sering-sering bersedekah?

Nah itu juga benar. Sebab ketika kita memberi itu sebenarnya kita sedang mengirimkan sinyal ke otak dan semesta bahwa kita ini mampu, kaya, tidak kekurangan. Buktinya sedekah terus kok. Itu yang lagi-lagi akan diproses otak dengan mekanisme vibrasi tertentu untuk segera diwujudnyatakan. Dijadikan pribadi kaya yang sanggup melunasi semua hutangnya.

Sudah tentu tidak cukup dengan sedekah doang. Itu potong kompas namanya. Sedekah itu leverage, daya ungkit. Tapi pada prinsipnya ikhtiar yang tiga tadi dilakukan dulu. Jadi komplementer itu.

Makanya kalau memasuki tahun 2017 ini Anda masih berada dalam pusaran hutang yang tak selesai bisa mulai Instrospeksi dan berefleksi dengan pola-pola di atas. Semoga Tuhan segera pertemukan Anda dengan jalan-jalan kemudahan sehingga bisnis Anda jadi bagus dan banjir rezeki lagi, berlimpah ruah tanpa batas.

Begitu juga yang pengen berhutang saya selalu menyarankan di kelas-kelas saya agar kau anda berhutang pilihlah berhutang ke Bank. Jangan ke teman atau saudara. Dengan Bank anda akan diajari untuk disiplin, tertib, dan terukur. Di situ Vibrasi anda akan terjaga. Otomatis jika vibrasinya sama-sama terjaga maka kedua belah pihak akan maju dengan pesat menggapai goalnya masing-masing.

Sumber: Among Kurnia Ebo

Tips Membangun Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah Hingga ke Surga Kelak

Dalam setiap acara pernikahan pasti akan adanya sebuah doa yang diucapkan untuk kedua mempelai; semoga sakinah mawadah wa rahmah.

Sebuah doa yang dimaksudkan agar keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai selalu berada dalam kondisi ketenangan penuh cinta dan kasih sayang di antara suami istri dan setiap anggota keluarga lainnya.

Ada lagi satu doa yang sering dipanjatkan pada setiap acara pernikahan di lingkungan masyarakat. Doa ini biasanya diucapkan oleh sang pembawa acara dengan kalimat “semoga langgeng sampai kaken-kaken ninen-ninen”.

Artinya berharap keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai diberi kelanggengan sampai keduanya lanjut usia menjadi kakek dan nenek.

Siapa pun pasti berharap tali pernikahan yang diikat untuk sekali seumur hidup, tak pernah putus di tengah jalan. Siapa pun pasti berkehendak ikatan suami istri yang dilakoninya akan terus berlanjut sampai ajal menjemput.

Keluarga dan rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga yang tenang, tenteram, penuh kasih sayang di antara sesama anggota keluarga sampai dengan semuanya dipisahkan oleh kematian.

Bila kita mau membaca dan memahami ajaran Al-Qur’an dengan seksama semestinya kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang ditawarkan oleh Islam tidaklah sebatas sampai kematian memisahkan semuanya.

Islam justru menawarkan kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang abadi sejak masih di dunia hingga di akhirat kelak. Di dalam Al-Qur’an Surat At-Thur ayat 21 Allah menyatakan:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
“Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikutinya dengan keimanan maka Kami pertemukan mereka dengan keturunannya dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal mereka.”

Dengan ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan berbagai kitab tafsir, Allah ingin memberitahukan perihal anugerah, kasih sayang dan kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya.

Bahwa orang-orang mukmin bila anak keturunannya ikut beriman kepada Allah maka Allah akan mempertemukan anak-anak keturunan itu dengan orang tuanya pada satu tempat dan derajat yang sama yakni surga.

Meski pun para anak keturunan tersebut tidak melakukan amalan yang mencapai derajat sebagaimana yang dicapai orang tuanya.

Perlakuan ini diberikan oleh Allah untuk memuliakan para orang tua yang mukmin itu agar mereka merasa bahagia dapat berkumpul kembali dengan anak-anaknya.

Lebih jauh dari itu Imam Ahmad As-Shawy meriwayatkan bahwa kelak ketika seorang ahli surga telah memasuki surga ia akan menanyakan keberadaan orang tua, istri dan anak-anaknya.

Kepadanya diberitahukan bahwa mereka tidak mendapatkan apa yang didapatkan oleh si ahli surga tersebut. Maka ia berkata kepada Allah, “Saya beramal untuk diri saya dan juga untuk mereka.”

Maka dengan anugerah dan kemurahan Allah mereka yang derajatnya lebih rendah diangkat untuk dipertemukan dengan ahli surga yang derajatnya lebih tinggi.

Apa yang diberitakan Al-Qur’an di atas adalah sebuah kebenaran yang pada saatnya nanti akan terjadi. Sebuah keluarga besar, setelah sekian tahun lamanya dipisahkan oleh kematian, di akhirat kelak bisa kembali bertemu dan berkumpul pada satu tempat yang mulia dengan catatan setiap anggotanya memiliki keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk itu semestinya setiap pasangan pengantin yang baru membangun rumah tangga semestinya tidak hanya memiliki keinginan terwujudnya rumah tangga yang langgeng di dunia tanpa perceraian, namun lebih dari itu mesti bercita-cita agar keluarganya akan tetap langgeng dan terus hidup bersama bukan saja di dunia tapi juga di akhirat kelak.

Karenanya usaha-usaha untuk menjaga dan melestarikan keimanan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga menjadi wajib dilakukan sebagai modal utama demi terwujudnya keluarga sakinan yang langgeng dari dunia hingga akhirat.

Sumber: congkop.com