Ustadz Adi Hidayat Berikan Hadiah Uang 25 Juta Untuk Muhammad Irfan Bahri

Mubaligh Kondang Ustadz Adi Hidayat menyampaikan apresiasinya terhadap Santri ngabdi Pondok Pesantren Darul Ulum, Bandungan, Pakong, Pamekasan, Madura Muhamad Irfan Bahri atas keberaniannya melawan para begal di kawasan Sumarecon Kota Bekasi.

Wujud apresiasi yang diberikan kepada Irfan berupa beasiswa senilai Rp.25 Juta untuk membiayai kelanjutan pendidikanya kedepan.

Berikut ini pernyataan Ustadz Adi Hidayat yang disampaikan melalui Fanspage Facebook Akhyar TV, kamis(31/5/2018).

Saya Adi Hidayat bersama teman-teman di Akhyar TV, dari Istambul mendengar berita bahwa salah seorang adinda kita seorang santri dari Madura bernama Muhammad Irfan Bahri telah menghadirkan prestasi yang luar biasa.

Sehingga diberikan penghargaan oleh Kapolresta Metro Bekasi atas prestasinya mengatasi pembegalan diwilayah Bekasi.

Kami mendengar berita ini sangat berbahagia dan ingin menyampaikan apresiasi atas tindakan adinda yang sungguh luar biasa. Bukan hanya menunjukkan sikap warga negara yang baik.

Tapi juga mengamalkan salah satu hadits Nabi Sholallahu Alaihi Wasallam agar berjuang mengatasi tindakan kriminalitas yang tidak menyerahkan bergitu saja apa yang dimiliki.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati perkenankan kami Adi Hidayat bersama teman-teman Akhyar TV memberikan satu penghargaan kecil untuk beasiswa pendidikan sebesar Rp. 25.000.000, yang mudah-mudahan bisa digunakan untuk prospek pendidikan kedepan.

Ini tentunya bukan dari kami, tapi titipan Rezeki dari Allah Subhanahu Watala yang memberikan gambaran kepada siapapun yang bisa mengamalkan tuntutan Allah dan Rasulnya, Insya Allah menghadirkan pendekatan hal-hal terbaik dari Allah Subhanahu Wataala.

Selamat Adinda Irfan, kami berharap Adinda bisa memenuhi Undangan kami sepulang dari Istambul untuk bisa menerima langsung apa yang Insya Allah, Allah titipkan kepada kami untuk diberikan kepada Adinda.

Assalaamu ‘alaikum Wrohmatullahi Wabarokaatuhu.

Sedekah, Tak Melulu Soal Uang

MENYOAL sedekah, acapkali kita berpikir tentang uang. Ketika kita memiliki rezeki berlebih—terutama dalam bentuk uang—maka saat itulah kita bisa bersedakah. Namun benarkah jika sedekah itu harus selalu dengan uang?

Bagaimana ketika kita ingin bersedekah, namun tak memiliki uang? Pastinya urung dilakukan. Rasulullah member tuntunan pada kita semua, perihal bersedekah tanpa menggunakan uang—harta.

Senyum

Ah, siapa yang tak suka melihat teman, sejawat, keluarga yang sedap dipandang mata—selalu menebar senyum manis kepada kita. Itulah sedekah paling sederhana dan mudah yang bisa kita lakukan untuk bersedekah.

“Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah” (H.R. Tirmidzi, no. 1956)

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu hanya berupa wajah ceria di hadapan saudaramu!” (HR.Muslim, no.2626)

Memberikan salam

Salam adalah doa, apalagi ketika kita meniatkannya sebagai sedekah. Bukankah mudah untuk mengucap “Assalaamu’alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh” ketika bertemu handai taulan

Menyingkirkan gangguan di jalanan

Kerapkali kita menemukan paku, duri, atau benda tajam lainnya yang mengganggu perjalanan. Menyingkirkan hal itu sangat mudah, dan tak butuh tenaga berlebih. Ia bahkan bernilai sedekah.

Jalan kaki menuju masjid atau mushalla untuk melakukan shalat, itu bernilai sedekah. Cermati hadits berikut.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR.al-Bukhari, no.2989 dan Muslim, no 1009).

Berhubungan intim

Bagi yang sudah memiliki pasangan hidup—pasutri—berhubungan intim ternyata bernilai sedekah lho. Selain mendapat kebahagaiaan, juga berlimpah pahala.

“Hubungan intim (dengan istrimu) adalah sedekah.” (HR. Muslim, no.1006).

Video Dua Anak Curi Uang Nasabah di ATM Makassar

Video mengenai dua anak sedang mengambil uang nasabah bank yang melakukan penarikan tunai di ATM di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Pesantren IMMIM, Makassar, beredar. Video tersebut viral dan menjadi perbincangan netizen (warganet) lantaran para korban tak menyadari uangnya diambil dua anak yang diketahui gelandangan itu. Dalam video rekaman kamera pemantau (CCTV) ATM BRI tersebut, tampak dua wanita masuk ke ATM. Namun, dua anak perempuan itu mengikuti dan mendampingi nasabah yang sedang melakukan penarikan tunai. Anak yang diperkirakan berusia belasan tahun itu pun terlihat sesekali memencet tombol pada layar ATM. Setelah melakukan penarikan tunai dan mengambil uang dari ATM, kedua wanita itu pun pergi tanpa ada rasa curiga. Saat kedua korban telah meninggalkan ATM, terlihat uang keluar dari dua mesin ATM dan langsung diambil anak tersebut. Baca juga: Hati-hati, Begini Aksi Pengganjal ATM di Minimarket… Dalam komentar video tersebut, ternyata banyak warganet yang pernah menjadi korban aksi kedua anak itu. Para korban tak menyadari akan aksi pencurian uang di ATM yang dilakukan kedua anak itu. Saldo di rekening para korban berkurang hingga ratusan ribu rupiah. Wakil Kepala Polrestabes Makassar AKBP Hotman Sirait yang dikonfirmasi, Rabu (25/4/2018) malam, mengaku belum mengetahui aksi pencurian di ATM yang dilakukan dua anak itu. Namun, dia telah memerintahkan jajarannya melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. “Setelah saya dapat informasi, saya kemudian cari videonya di medsos. Sementara kami selidiki kasus tersebut. Saya sudah perintahkan mencari TKP ATM dan kedua bocah yang memereteli uang nasabah,” kata Hotman

Bayinya Dirawat akibat Meningitis, Nurul dan Lenny Bingung Cari Uang Rp 250 Juta

Pasangan suami istri (pasutri) Nurul Wahyudi (39) dan Lenny (41) bingung mencari dana Rp 250 juta untuk kesembuhan anaknya Arian Nur Alfin (5 bulan) yang terbaring di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.

Arian Nur Alfin hingga kini menjalani perawatan di sal Cempaka NICU RSUP Sanglah sejak November 2017 lalu.

Arian diagnosa menderita penyakit meningitis (infeksi selaput otak).

Tak hanya itu, hasil diagnosa dokter, kondisi organ dalam belum sepenuhnya terbentuk utuh.

“Kata dokter, saluran pernafasan anak saya terganggu, paru-parunya juga rusak. Karena itu, untuk bernafas saja, anak saya ini hingga kini dibantu dengan c-pap atau alat bantu pernafasan,” ungkap ibu kandung Arian, Lenny saat ditemui Tribun Bali di depan ruangan NICU Cempaka RSUP Sanglah, Kamis (19/4/2018).

Baca: Tiga Pecalang Pukul Polisi Dihukum 4 Bulan Penjara

Arian lahir pada 16 November 2017 lalu secara prematur di saat usia kandungan genap 6 bulan.

“Setelah lahir, saya dan anak langsung dibawa ke RS lagi dan dirawat selama lima hari,” kata dia.

Menurut tim medis, bayi dalam kondisi kritis.

Ditemukan cairan pada organ paru-paru dan juga di dalam otak, sehingga harus dirawat di ruang inkubator.

Lantaran pembiayaan di RS terlalu mahal, akhirnya bayi ini dirujuk ke RSUP Sanglah untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

“Biaya perawatan selama lima hari di sana mencapai Rp 26 juta. Keluarga saya tidak mampu, akhirnya dirujuk ke RSUP Sanglah,” cerita Lenny.

Selama lima bulan terakhir mendapatkan perawatan intensif, namun hingga kemarin kondisi bayi belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Baca: Kecelakaan di Yamanashi Jepang, 7 WNI Terluka, Satu di Antaranya Dilarikan ke RS Pakai Helikopter

Dikatakan Lenny, anaknya hingga kini belum bisa menggerakkan syaraf motorik anggota tubuhnya secara normal.

“Untuk menangis, anak saya tidak bisa. Kalau menangis dia hanya kelihatan air matanya saja. Untuk membuka mata saja dia belum bisa,” kata Lenny sembari menunjukkan foto kondisi mata anaknya yang membengkak.

Lenny tetap berusaha tegar dan berusaha melakukan upaya terbaik demi kesembuhan anak pertamanya tersebut.

Biaya perawatan selama lima bulan ini sudah membengkak hingga mencapai Rp 250 juta.

Jumlah angka tersebut jauh di luar kemampuan ekonominya.

Suami Lenny, Nurul Wahyudi hanya bekerja sebagai buruh di perusahaan konstruksi.

Sedangnya Lenny berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan toko untuk menjaga Arian.

Keluarga ini sempat mencari bantuan ke Dinas Sosial Kota Malang.

Namun, surat rekomendasi yang ditujukan kepada Dinas Sosial Provinsi Bali tidak menuai hasil.

Dinas, kata Lenny, hanya memiliki program bantuan untuk warga telantar.

Pihak RS Sanglah memberi keringanan penundaan pembayaran.

“Pihak rumah sakit membolehkan mencicil biaya Rp 2 Juta per bulan dengan jangka waktu selama 10 tahun,” ujarnya.

Lenny berharap adanya uluran kepedulian bagi siapa saja yang ingin membantu.

Selama ini, Lenny berusaha mencari dukungan donasi di berbagai elemen masyarakat dan instansi.

“Saya mohon doanya, semoga segera disembuhkan anak saya,” kata dia.

Beredar Gambar Pecahan Uang 200 Ribu di WhatsApp, Begini Penjelasan Bank Indonesia

Sebuah foto yang memperlihatkan pecahan uang kertas Rp 200 ribu beredar di pesan grup WhatsApp. Dalam gambar tersebut terlihat 10 lembar uang yang dipegang oleh tangan seseorang.

Di atas foto tersebut terdapat tulisan “Pecahan uang krtas Rp 200.000 resmi diedarkan hari ini, wajib dishare!! semua harus tahu. Majulah Indonesia.”

TribunSolo.com pun mencoba mencari informasi mengenai hal ini di akun resmi sosisal media Twitter @bank_indonesia. Admin @bank_indonesia pun menyatakan bahwa informasi mengenai hal itu tidaklah benar.

“#SobatRupiah untuk informasi tersebut tidaklah benar, Bank Indonesia tidak menerbitkan uang pecahan Rp 200.000,-.”

“Untuk setiap uang pecahan baru yang diterbitkan, Bank Indonesia akan mengeluarkan penyataan resmi melalui media massa dan website http://bi.go.id,” tulis @bank_indonesia.

Dari pantauan TribunSolo.com, Hoax tentang pecahan Rp 200 ribu juga sempat beredar di tahun 2016. Hal itupun sudah dibantah oleh Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia saat itu, Tirta Segara.

“Terkait informasi yang beredar di medsos mengenai uang pecahan Rp 200.000, Bank Indonesia menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar,” kata Tirta, di Jakarta, Kamis (18/2/2016) seperti dilansir TribunSolo.com dari Tribunnews.com.

Tirta menyatakan, kemunculan pecahan uang kertas dengan pecahan Rp 200 ribu tersebut dilakukan pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

Hukum Menggunakan Uang Elektronik/e-Money

Pertanyaan:
Assalamualaikum wr wb Ustadz
Apakah sudah ada penjelasannya tentang e-toll dan e-money? Untuk top up e-money, akan ada biayanya sebesar 2000 rupiah. Artinya, untuk “membeli uang” elektronik ada biayanya, bagaimana dari aspek syariahnya?

Apakah sama dengan yang sering terjadi saat ini di pinggir jalan ketika menjelang lebaran, untuk menukar uang 1 juta dibayar 1juta tapi dapatnya 950.000 rupiah?

Demikian pertanyaan kami. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikum salam wr wb

Apa Itu E-money?
Uang elektronik (electronic money) adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Diterbitkan atas dasar jumlah nominal uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit;
  2. Jumlah nominal uang disimpan secara elektronik dalam suatu media server atau chip;
  3. Jumlah nominal uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan; dan
  4. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut.

Pihak-pihak; penerbit, pemilik kartu e-money, bank mitra dan mitra mendaftar kepada penerbit, menyerahkan

uang, uang disimpan di rekening di bank mitra penerbit, pemilik kartu bertransaksi dengan pihak ketiga.

Tujuan; mempermudah transaksi seperti e-toll, bus way, commuter line.

Sebagian jasa transportasi menjadikan kartu e-money sebagai satu-satunya alat pembayaran, seperti commuter line, bus way dan e toll. Sebagian lain hanya salah satu alat pembayaran, seperti e toll.

Ketentuan Hukum.
E-money yang digunakan saat ini adalah *konvensional (ribawi)* karena; Kontrak yang terjadi antara pihak-pihak e-money itu tidak jelas (gharar) dan tidak mengikuti skema transaksi syariah sehingga hak dan kewajiban para pihak tidak bisa diketahui.

Bunga atas penempatan dana di bank konvensional sebagai mitra penerbit e-money.

Hak pemegang kartu menjadi hilang pada saat kartu yang dimilikinya hilang, padahal dana yang tersimpan adalah milik pemegang e-money sesuai skema qardh atau wadhi’ah yang berlaku antara keduanya.

Oleh karena itu, menggunakan e-money yang berlaku saat ini tidak diperkenankan kecuali untuk kondisi darurat, yaitu kondisi yang memenuhi indikator berikut:

  1. Diwajibkan oleh peraturan perundang-undang, sehingga tidak bisa menggunakan jasa kecuali dengan e-money tersebut.
  2. Tidak ada alternatif e-money syariah.
  3. Risiko finansial primer jika tidak menggunakan e-money saat ini.
  4. E-money boleh digunakan dengan catatan, pada saat ada e-money syariah, maka menggunakan e-money konvensional menjadi terlarang kembali.

Mekanisme E-money Syariah
Fatwa DSN tentang uang elektronik menjelaskan bahwa: uang elektronik BOLEH digunakan sebagai alat pembayaran DENGAN SYARAT berikut:

  1. Biaya-biaya layanan fasilitas harus berupa biaya RIIL (untuk mendukung proses kelancaran penyelenggaraan uang elektronik); dan harus disampaikan kepada pemegang kartu secara BENAR (sesuai syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku) sesuai dengan prinsip ta’widh (ganti rugi)/ ijarah.
  2. Penggunaan uang elektronik wajib terhindar dari TRANSAKSI YANG DILARANG (Transaksi yang ribawi, gharar, maysir, risywah, israf, objek yang haram).
  3. Jumlah nominal uang elektronik yang ada pada penerbit harus ditempatkan di BANK SYARIAH, karena transaksi di Bank Konvensional itu pinjaman berbunga yang diharamkan.
  4. Akad antara penerbit dengan para pihak dalam penyelenggaraan uang elektronika (prinsipal, acquirer, pedagang [merchant], penyelenggara kliring, dan penyelenggara penyelesai akhir) adalah akad ijarah, akad ju’alah, dan akad wakalah bi al-ujrah, karena produk yang dijual oleh prinsipal, acquirer, Pedagang [merchant], penyelenggara kliring, dan penyelenggara penyelesai akhir adalah jasa/ khadamat.
  5. Akad antara penerbit dengan pemegang uang elektronik adalah akad wadiah atau akad qardh, karena e-money/ nominal uang bisa digunakan atau ditarik kapan saja.
  6. Akad antara penerbit dengan agen layanan keuangan digital adalah akad ijarah, akad ju’alah, dan akad wakalah bi al-ujrah.
  7. Dalam hal kartu yang digunakan sebagai media uang elektronik hilang maka jumlah nominal uang yang ada di penerbit tidak boleh hilang, karena uang itu adalah milik pemegang kartu.
    Di antara landasannya adalah, kesimpulan bahwa uang elektronik atau e-money adalah uang –tsaman atau nuqud– sebagaimana definisinya:

‎النقد هو كل وسيط للتبادل يلقي قبولا عاما مهما كان ذلك الوسيط وعلى أيّ حال يكون
“Naqd (uang) adalah segala sesuatu yang menjadi media pertukaran dan diterima secara umum, apa pun bentuk dan dalam kondisi seperti apa pun media tersebut.” (Abdullah bin Sulaiman al-Mani‟, Buhuts fi al-Iqtishad al-Islami, Mekah: al-Maktab al-Islami, 1996, h. 178)

‎النقد: ما اتخذ الناس ثمنا من المعادن المضروبة أو الأوراق المطبوعة ونحوها، الصادرة عن المؤسسة المالية صاحبة الإختصاص
“Naqd adalah sesuatu yang dijadikan harga (tsaman) oleh masyarakat, baik terdiri dari logam atau kertas yang dicetak maupun dari bahan lainnya, dan diterbitkan oleh lembaga keuangan pemegang otoritas.” (Muhammad Rawas Qal’ah Ji, al-Mu’amalat al-Maliyah al-Mu’ashirah fi Dhau‟ al-Fiqh wa al-Syari’ah, Beirut: Dar al-Nafa’is, 1999, h. 23)

Kesimpulan

  1. Menggunakan e-money konvensional tidak diperkenankan sesuai penjelasan di atas. Kecuali dalam kondisi darurat; dimana tidak ada e-money syariah dan ada risiko (primer) jika tidak menggunakannya.
  2. Setiap pengguna, bisa menakar kondisinya; apakah darurat atau tidak.
  3. E-money syariah harus memenuhi kriteria syariah seperti, dana ditempatkan di bank syariah, jika kartu hilang maka dana pemilik kartu masih ada, terhindar dari transaksi yang dilarang.

KH Maimoen Zubair: Jika Bulan April Punya Uang, Pertanda Setahun Akan Punya Uang

Mbah Maimoen Zubair dawuh “Titeni yo cung, angger wulan april kok nyekel duwit, alamat setahun nggowo duwit, iki ora ono kitabe tapi keno gawe titenan”

Ketika Allah menghendaki untuk menampakkan hakikatnya yang terpuji, dan memunculkannya sebagai jasmani dan ruhani dalam bentuk dan pengertiannya, Allah memindahkan nur Muhammad dari punggung Sayyid Abdulloh ke kandungan Sayyidah Aminah Az-Zuhriyyah, dan kejadian ini terjadi pada tanggal 10 Rojab.

Diserukan di langit dan di bumi bahwa Aminah mengandungnya. Dan berembuslah angin sepoi-sepoi basah di pagi hari, angin dari arah selatan arab, yaitu Yaman ke arah utara, yaitu Kota Madinah dan Kota Makkah.

Seperti diketahui, bahwa Yaman adalah daerah di sebelah selatan Saudi Arabia dan merupakan daerah yang dekat dengan pantai seperti Hadlro Maut. Seperti diisyaratkan:

وصبا كل صب لهبوب نسيم صباه
Mengapa ada angin laut selatan berhembus ke daratan utara?,

Hal itu karena sudah memasuki bulan oktober yang mengandung hujan. Hujan itu kemudian menumbuhkan hijaunya tumbuhan dan bumi diberi pakaian berupa sutra tebal dari tumbuh-tumbuhan setelah lama gersang.

Seperti diisyaratkan:

وكسيت الأرض بعد طول جدبها من النبات حللا سندسية
Musim hujan dimulai pada saat rasi bintang Libra (الميزان) yaitu 23 September sampai 22 Oktober, dan berakhir pada rasi bintang pisces (الحوت) yaitu 20 februari sampai 20 Maret.

Hal ini diisyaratkan Al-Qur’an dengan kata شتاء yang bermakna penghujan, pada firman Allah:

لإيلاف قريش إيلافهم رحلة الشتاء والصيف
Kata syita’ didahulukan dalam penyebutannya dari pada kata صيف shoif yang bermakna kemarau menunjukkan bahwa tahun itu sejatinya dimulai pada resi bintang Libra yaitu Awwal oktober. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah:

لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه
“Sesungguhnya masjid yang dibangun atas dasar taqwa dari Permulaan hari, itu lebih berhaq kamu mendirikan padanya.”

Permulaan hari disini adalah permulaan hari pada resi bintang libra. Kata syita kalau dilihat berjumlah titik lima di atas, yaitu tiga titik pada huruf syin ش dan dua titik pada huruf ta ت. Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan-bulan itu terdapat banyak hujan.

Dan Musim kemarau dimulai Aries (الحمل) Yaitu 21 Maret sampai 20 April, dan berakhir pada resi bintang Virgo (السنبلة) yaitu 22 Agustus – 22 september, dan pada saat musim kemarau inilah bumi gersang selama enam bulan. Hal ini diisyaratkan dengan kata صيف shoif yang bermakna kemarau.

Kata صيف pada huruf awwal tidak terdapat titik diatas sama sekali, menunjukkan bahwa hujan tidak lagi turun, sehingga kehidupan tergantung pada air yang ada di bawah yaitu sumber mata air, sumur, atau danau.

Hal ini diisyaratkan dengan huruf ya’ yang mempunyai titik dibawah. Baru setelah mendekati musim penghujan, yaitu dua bulan terakhir musim kemarau, bulan agustus september mulai sedikit ada hujan yang turun, hal ini diisyaratkan dengan titik satu diatas pada huruf fa’.

Setelah Nabi berada dalam kandungan, tidak lama kemudian muncullah musim hujan yang dimulai pada bulan oktober. Di negeri arab banyak pohon kurma, dan pohon ini tidak akan bisa menumbuhkan hasil berupa buah-buahan apabila tidak ada perkawinan antara putik dan sari dan hal ini harus dibantu oleh petani.

Proses perkawinan sampai menghasilkan buah memakan waktu enam bulan. Seperti diisyaratkan Al-Qur’an:

تؤتي أكلها كل حين
Apabila perkawinan ini dimulai pada awwal rasi Libra (oktober) maka akan menghasilkan panen buah kurma pada saat rasi pisces (maret). Seperti diisayaratkan

وأينعت الثمار وأدنى الشجر للجاني جناه
Maka dapat diketahui bahwa panen kurma terjadi pada bulan maret. Dan Nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 20 April 570 M, yang berarti telah adanya panen raya.

Hal inilah yang sering disampaikan Hadlrotusy Syaikh Maimoen Zubair: “Titeni yo cung, angger wulan april kok nyekel duwit, alamat setahun nggowo duwit, iki ora ono kitabe tapi keno gawe titenan”. (ingatlah nak, apabila bulan april mempunyai uang, alamat satu tahun mempunyai uang, hal ini memang tidak terdapat dalam kitab, akan tetapi bisa untuk pengingat).

Mengapa Bulan April Mempunyai Uang?
Hal itu karena telah terjadi panen pada bulan maret, dan pada bulan april telah mendapatkan keuntungan panen sehingga mempunyai pemasukan untuk tahun berikutnya.

Karena itu, apabila pada bulan april usahakan tidak ada hutang, karena sudah ada hasil dari panen tersebut.

Dapat diketahui bahwa umur kandungan nabi didominasi oleh musim penghujan (sekitar enam bulan), Yaitu Akhir september, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret. Sedangkan Awwal bulan September dan Awwal bulan april merupakan musim yang kurang adanya hujan.

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi membawa risalah yang berpokok pada ilmu yang diisaratkan sebagai air yang menumbuhkan seperti tersirat dalam ayat:

ألم تر أن الله أنزل من السماء ماء فأخرجنا به ثمرات
dan sumber kehidupan:

وجعلنا من الماء كل شيء حي
Bahkan ayat pertama yang diturunkan merupakan ayat yang menunjukkan kemulyaan ilmu:

الذي علم بالقلم علم الإنسان ما لم يعلم
Karena itu, marilah kita pelajari ilmu agama yang merupakan salah satu tiang dalam agama, karena ilmu agama merupakan satu-satunya tiang yang masih kokoh, sedangkan jihad pada waktu sekarang sudah sangat sulit untuk dilakukan. Dua hal ini seperti dikatakan dalam satu ayat:

وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون.
Semoga bermanfaat.

Sumber: baldatuna.com

Jangan Keliru Wahai Suami, Suami, Tidak Perlu Takut Duitmu Habis Bila Diberikan Pada Istri dan Anak. Karena Justru Akan Mempelancar Rejekimu…

Suami adalah tulang punggung keluarga. Ia berkewajiban untuk memberi nafkah pada istri dan anak-anaknya. Namu tak jarang ada suami yang malah irit banget saat memberikan uang pada anak dan istrinya.

Padahal, uang yang diberikan pada istri dan anak-anak itu sedekah yang paling utama. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa sedekah itu adalah jalan untuk memperlancar rejeki.

Maka para suami jangan takut duitnya habis bila diberikan untuk istri dan anak, karena bisa jadi hal itu malah bisa melancarkan rejeki.

Ketahui Pahala Untuk Suami Tiap Kali Beri Nafkah Istri
Ketika memutuskan menikah, maka seorang pria harus siap dengan tanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Mereka berkewajiban memastikan kebutuhan wanita yang dinikahinya ini tercukupi dengan jalan bekerja keras setiap hari.

Hal ini terkadang menjadi salah satu momok menakutkan ketika pria akan mengambil keputusan untuk berkeluarga.

Pengalaman susahnya mengatur hidup sendiri, membuat pria berpikir berulang kali untuk hidup berdua. Terlebih jika sudah memiliki momongan, maka tanggungjawab akan semakin besar.

Namun jika mengacu pada ajaran Islam, memberi nafkah istri tidak sekedar memastikan bahwa mereka bisa makan dan melanjutkan hidup saja. Lebih dari itu, tindakan ini merupakan sebuah ibadah dan memiliki pahala yang amat besar. Setiap kali memberikan istri nafkah, maka suami akan memperoleh pahala. Seperti apa? Berikut ulasannya.

Memberi nafkah istri adalah wajib. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim:

“Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rezki dan pakaian dari kalian”. (HR Muslim)

Pahala ketika memberi nafkah kepada istri lebih besar jika dibandingkan pahala saat memberikan harta untuk perjuangan agama Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa,

“Satu dinar yang engkau belanjakan untuk perang di jalan Allah SWT dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk istrimu, maka yang paling besar pahalanya ialah apa yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari segala jenis sedekah, ternyata yang memiliki pahala paling besar adalah memberi nafkah keluarga. Mulai dari infak di jalan Allah, membebaskan budak, sedekah orang miskin, maka yang dijanjikan pahala paling besar adalah saat memberikan untuk keluarga.

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, pahala yang paling besar adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” (HR Muslim, Ahmad)

Namun, dengan hal tersebut bukan serta merta istri boleh menuntut nafkah yang banyak kepada suaminya. Akan tetapi disesuaikan dengan keadaan umum yang diterima kalangan para isteri di negeri mereka, tanpa berlebih-lebihan ataupun pelit, sesuai dengan kesanggupannya dalam keadaan mudah, susah ataupun pertengahan.

“Dan hendaklah kamu berikan suatu pemberian kepada mereka. Orang yang mampu sesuai dengan kemampuannya dan orang yang miskin sesuai dengan kemampuannya pula, yaitu pemberian menurut yang patut”. [Al Baqarah:236].

Lalu kapan seorang pria berkewajiban memberiikan nafkah kepada istri? Para ulama berpendapat, tanggungjawan memberikan nafkah kepada istri dibebankan setelah berlangsungnya ijab qabul, meskipun istri masih tinggal di rumah orangtuanya dan belum tinggal bersama suami.

Dasar pendapat mereka, diantara konsekuensi dari akad yang sah, ialah sang isteri menjadi tawanan bagi suaminya.

Dan apabila isteri menolak berpindah ke rumah suaminya tanpa ada udzur syar’i setelah suaminya memintanya, maka ia tidak berhak mendapat nafkah dikarenakan isteri telah berbuat durhaka (nusyuz) kepada suaminya dengan menolak permintaan suaminya tersebut.

Meski nantinya istri akan bekerja diluar rumah dan mendapatkan penghasilan sendiri, namun tidak membuat kewajiban suami ini hilang begitu saja. Istri yang bekerja dengan izin suami, harus tetap diberi nafkah. Namun jika mereka bekerja tanpa mendapat izin dari suaminya, maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah.

Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar menjelaskan tentang alasan, mengapa isteri yang bekerja di luar rumah tanpa persetujuan suami tidak berhak tidak mendapat nafkah, ”Pendapat yang benar adalah, wanita yang bekerja tidak berhak mendapat nafkah.

Karena suami mampu mencegahnya dari bekerja dan keluar dari rumah (dengan mencukupi nafkahnya), dan (menetapnya isteri di rumah suami) merupakan hak suaminya.

Kewajiban suami memberi nafkah kepada isteri disebabkan karena status isteri yang menjadi tawanan suaminya dan ia wajib meluangkan waktunya untuk suaminya.

Jika sang isteri bekerja (tanpa izin suaminya) dan mendapatkan uang, maka sebab yang menjadikan suami wajib memberikan nafkah kepadanya telah gugur.” Ahkamuz Zawaj, hlm. 282

Meski dengan kewajiban begitu besar, masih ada saja suami yang tidak bertanggungjawab memberi nafkah istri. Atau harta yang mereka dapatkan mereka simpan tanpa sepengetahuan istri, sementara istri, harus susah payah membagi uang belanja yang tidak cukup.

Tentang suami yang bakhil ini, telah datang banyak nash yang memuat ancaman baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sebagai berikut.

“Cukuplah sebagai dosa bagi suami yang menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” HR Muslim.

Selain itu, Rasulullah juga sabda yang artinya:

“Tidaklah para hamba berada dalam waktu pagi, melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari mereka berdoa, ‘Ya, Allah. Berikanlah kepada orang yang menafkahkan hartanya balasan yang lebih baik,’

Sedangkan malaikat yang lain berdoa, ‘Ya, Allah. Berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya (tidak mau menafkahkannya)’.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dengan pahala yang demikian besar serta ancaman yang tidak main-main, seharusnya membuat para suami berpikir ulang untuk tidak menafkahi istri atau bersikap pelit kepada mereka.

Karena sebenarnya, istri lah salah satu sebab Allah melancarkan rezeki suami. Karena dalam rezeki yang Allah beri kepada suami, selalu ada doa sang istri.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Sumber: momonganak.org