Inilah 7 Ulama Hebat Asal Indonesia yang Mendunia

Ulama merupakan pewaris Nabi yang bertugas menyampaikan risalah Al Qur’an dan hadist kepada umat manusia.

Tercatat dalam sejarah bahwa para ulama Indonesia memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan Islam, bahkan beberapa diantara mereka telah mendunia.

Umumnya para ulama tersebut belajar dan menetap di Mekkah maupun Madinah yang menjadi sumber ilmu agama.

Namun ada pula yang kembali lagi ke tanah air untuk menjadikan masyarakat Indonesia lebih baik lagi dalam bidang agama.

Berikut adalah 7 ulama hebat asal Indonesia yang mendunia tersebut.

1. Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari
Ulama yang berkharisma ini tak hanya dikenal di tanah air, namun juga di beberapa negara seperti Turki, Arab Saudi, Filipina, Mesir dan India.

Ulama kelahiran 15 Safar 1122 (17 Mei 1710) di daerah Banjar ini telah berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekkah maupun di Madinah selama 35 tahun.

Beberapa ulama tersohor yang menjadi gurunya adalah Syeikh Ataillah bin Ahmad Al Misriy, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdiy, Syeikh Ahmad bin Abd Mun’im dan Syeikh Muhammad bin Abd Karim Al Qadiri.

Meski terkenal di berbagai negara, beliau tidak melupakan kondisi masyarakat di tanah airnya sendiri.

Karenanya setelah berguru, Syeikh Al Banjari pun kembali pulang dan membuka berbagai pusat kajian Islam untuk masyarakat.

Selain menjadi seorang pengajar, Syeikh Al Banjari juga menulis berbagai buku keilmuan. Salah satunya adalah kitab Sabilal Muhtadin yang berisi ilmu fiqih. Ulama asal Banjar itu pun meninggal pada tanggal 6 Syawal 1227 (3 Oktober 1812).

Untuk mengenang jasanya yang sangat besar bagi perkembangan Islam di tanah air, masyarakat Banjarmasin pun mendirikan sebuah Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

2. Syeikh Sulaiman Ar Rasuli Al Minangkabawi
Ulama asal Minangkabau ini satu angkatan dengan pendiri Nahdatul Ulama, Hasyim Asy’ari. Lahir di Candan Sumbar 1871, Syeikh Sulaiman berguru pula kepada ulama keturunan Minangkabau yang mengajar di Tanah Suci yakni Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif Al Minangkabawi.

Di tahun 1928, Syeikh Sulaiman bersama dengan Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho kemudian sempat mendirikan partai politik yakni Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

3. Syeikh Sayyid Utsman Betawi
Ulama yang dikenal dengan sebutan Habib Utsman Mufti Betawi ini memiliki nama lengkap Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya Al Alawi.

Lahir di Pekojan Jakarta pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 (2 Desember 1822), ulama tersebut merupakan sahabat Mufti besar Beirut Sayyid Yusuf An Nabhani.

Habib Utsman sendiri telah menimba ilmu ke berbagai guru dan telah menulis 109 buku. Ia pun terkenal karena ketegasannya sehingga dikagumi oleh para ulama asli Jakarta hingga saat ini.

4. Syeikh Muhammad Khalil Al Maduri
Lahir di Bangkalan Madura, 27 Januari 1820, Syeikh Muhammad Khalil berasal dari keturunan ulama dan sempat menjadi murid dari Kiai Muhammad Nur di Ponpes Langitan Tuban. Tak hanya mampu menghafal Qur’an sejak usia muda, Syeikh Khalil juga mampu menguasai tujuh qiraat.

Sahabat dari Syeikh Nawawi Al Bantani di Mekkah ini juga mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkebuan sekembalinya dari tanah air.

Meski usianya sudah lanjut, namun ia mampu mengobarkan semangat para santri dalam menghadapi para penjajah.

Syeikh Khalil tutup usia pada umur 106 tahun dan telah membina generasi penerus yang dikenal masyarakat luas seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Mustofa.

5. Syeikh Nawawi Al-Bantani
Syeikh bernama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar Ibnu Arabi bin Ali Al Jawi Al Bantani ini disebut sebagai Imam Nawawi kedua. Gelar tersebut diberikan oleh Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain Al Fathani.

Selama berada di Mekkah, beliau sudah berguru kepada para ulama tersohor. Dan setiap kali mengajar, ia akan dikelilingi oleh para santrinya yang berjumlah 200 orang lebih.

6. Syeikh Muhammad Mukhtar Al Bughri
Syeikh yang lahir di Bogor, 14 Februari 1862 ini memiliki nama lengkap Muhammad Mukhtar bin Atharid Al Bughri Al Batawi Al-Jawi.

Awalnya ilmu agama yang ia raih berasal dari keluarganya sendiri. Setelah itu ia kemudian hijrah ke Jakarta dan berguru kepada Sayyid Utsman.

Merasa tidak puas, ulama yang telah hafidz sejak muda ini pun berangkat ke tanah suci dan berguru kepada Syeikh Ahmad Al Fathani.

Syeikh Al Bughri juga mendapatkan kesempatan menjadi seorang pengajar di Masjidil Haram dengan jumlah murid 400 orang lebih setiap kali ia mengajar.

Syeikh yang juga menulis karya yang cukup banyak ini meninggal di Mekkah tanggal 17 Shafar 1349 atau 13 Juli 1930.

7. Syeikh Abdul Hamid Asahan
Lahir di Tanjung Balai Asahan, Sumut tahun 1298 H, ulama kharismatik ini bernama lengkap Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud.

Pembelajaran terhadap agama islam telah ia mulai sejak kecil dengan berguru kepada saudara iparnya sendiri yakni Haji Zainuddin. Setelah itu ia kemudian belajar kepada Syeikh Muhammad Isa yang menjadi Mufti kerajaan Asahan.

Melihat semangat Syeikh Abdul Hamid, sang guru pun menyuruhnya untuk menimba ilmu ke Mekkah.

Maka ketika berada di Mekkah, ia belajar kepada Syeikh Ahmad Fathani selama 2 tahun dikarenakan ulama tersohor di Saudi tersebut meninggal dunia.

Syeikh Abdul Hamid kemudian berguru kepada Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Lathif Minangkabawi. Karena terjadi Perang Dunia I, ia pun kembali ke daerah asalnya dan membuka madrasah Ulumil Arabiyah yang kini berkembang cukup pesat.

Syeikh Abdul Hamid juga telah menulis sejumlah buku dan wafat pada tanggal 10 Rabiul Akhir 1370 atau 18 Februari 1951.

Tim Ulama Alumni 212 Desak Presiden Hentikan Kriminalisasi Ulama

TIM 11 Ulama Alumni 212 memberikan klarifikasinya sehubungan dengan beredarnya foto dan kabar pertemuan Tim 11 Ulama Alumni 212 dengan Presiden Jokowi pada hari Ahad (22/4) lalu.

Ketua Tim 11 Ulama KH. Misbahul Anam menyampaikan, pertemuan tersebut adalah pertemuan yang bersifat tertutup dan tidak dipublikasikan. Bahkan tidak ada wartawan istana yang menyaksikan.

“Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyampaikan informasi akurat terkait dengan kasus-kasus kriminalisasi para ulama dan aktivis 212,” katanya kepada wartawan di sebuah restoran di Jakarta Selatan, Rabu (25/4/2018).

Misbahul mengharapkan dari pertemuan tersebut agar Presiden mengambil kebijakan menghentikan kriminalisasi ulama dan aktivis 212 dan mengembalikan hak-hak para ulama dan aktivis 212 korban kriminalisasi sebagai warga Negara.

“Walaupun tetap dengan cara yang santun sebagai tugas amar makruf nahi mungkar kepada Presiden, bahkan termasuk dalam kategori yang disebut dalam hadits Nabi Saw:

“Ketahuilah, jihad yang paling utama adalah mengatakan kata-kata yang benar yang di depan penguasa yang jair.”

Ulama Zaman Now Sebaiknya Tidak Berpolitik Praktis?

ULAMA adalah representasi fungsi kenabian yang bertanggung jawab untuk menuntun masyarakat, termasuk umara (pemerintah), agar tetap di atas jalan yang benar, sebagimana Rasulullah Saw menjelaskan: Al-‘ulama’ waratsah al-anbiya’ (ulama adalah ahli waris para Nabi).

Ulama adalah representasi dan sekaligus pengawal ajaran Al-Quran dan hadis, sedangkan Umara lebih kepada implementator dari kebijakan universal yang digariskan oleh ulama dan tokoh-tokoh agama di dalam masyarakat.

Ulama memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai peristiwa sejarah. Tidak ada satu pun perubahan di dunia yang tidak melibatkan peran ulama, termasuk kehidupan dalam berpolitik.

Dunia politik akan gelap, hilang arah dan pegangan, apabila ulama tidak hadir dalam dunia politik.

Dari Anas bin Malik Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Permisalan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit, digunakan sebagai petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan. Jika bintang-bintang itu hilang, dikhawatirkan orang-orang yang mencari petunjuk menjadi sesat.” (HR. Ahmad).

Tapi sungguh miris, kalau akhir-akhir ini adanya peran oknum ulama di berbagai parpol yang sungguh membawa kenyataan yang prihatin. Bukannya dakwah Islam semakin baik dan bermanfaat buat umat, tapi sebaliknya membuat keadaan jadi runyam.

Agama kadang dijadikan alat popularitas, bahkan Fatwa agama dibuat untuk meraih kekuasaan. Akhirnya umat banyak yang sinis dengan peran ulama, bahkan umat jadi menjauh dari ulama.

Ulama tidak dilarang berpolitik, tapi wajib memahami politik kebangsaan yaitu visi politik yang menempatkan Pancasila dan UUD 1945 di atas kepentingan golongan, baik yang berorientasi agama, suku dan sejenisnya.

Ulama Zaman Now, sudah saatnya harus menguasai politik global guna meningkatkan pelayanan terhadap umat. Saatnya menguasai teknologi, multi media maupun piranti teknologi lainnya. Sebab, seorang ulama akan terlibat secara aktif dalam jaringan masyarakat global baik nasional maupun dunia internasional.

Posisi dan peran ulama di dalam negara sangat strategis dan memegang peran kunci di dalam masyarakat. Begitupun sebailknya pentingnya peran Umara di dalam agama juga ditegaskan dalam Al-Quran: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Ke­mudian jika kamu berlainan pendapat tentang ses­uatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beri­man kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. al-Nisa : 59).

Marilah kita berpikir jernih. Jika memang Ulama tidak siap jadi ulama-Nya Allah Swt. Pilih saja aktifitas profesi yang lain. Karena untuk berdakwah, kita tidak selalu harus jadi ulama. Ketimbang jadi ulama tapi suka menjilat, baik dengan Umara atau pejabat.

Dunia politik penuh intrik. Sudah saatnya para ulama, khususnya yang selama ini aktif dalam politik praktis untuk mengundurkan diri. Untuk seyogyanya segera kembali mengurus umat, baik di pesantren, masjid, dan mushola.

Insya Allah akan jauh lebih berkah dan bermartabat.

Keluarga Ungkap Kewalian Ra Lilur Cicit Mbah Kholil Bangkalan

Kiai Kholilurrahman atau yang lebih dikenal dengan ‘Ra Lilur’ tadi malam wafat di kediamannya di Desa Banjar, Kabupaten Bangkalan. Jenazah akan disholatkan di Pesantren Syaikhona Kholil Rabu (11/4) siang ini. Selanjutnya dimakamkan di kompleks pemakaman Syaikhona Kholil Martajasah Bangkalan.

“Beliau adalah putra dari KH Ahmad Tamyiz dan Ny Romlah. Ibunya adalah cucu dari Mbah Kholil Bin Abdul Lathif Bangkalan. Dari kecil beliau terkenal sebagai sosok ‘jadzab’ yang sering melakukan hal-hal yang tak dapat dicerna pikiran manusia biasa,” ungkap salah seorang keponakan Ra Lilur, Ismael Amin Kholil.

Puluhan tahun yang lalu, tambahnya, bahkan beliau sempat membuat kehebohan karena membakar Pesantren Syaikhona Kholil Demangan yang diasuh oleh kakaknya, KH Abdullah Schall. Konon itu adalah isyarat bahwa kelak Pesantren Syaikhona Kholil akan maju pesat dan memiliki bangunan tinggi megah setinggi asap api yang ‘mumbul’ di waktu itu. Sebuah isyarat yang memang akhirnya menjadi kenyataan.

“Beliau juga dikenal sebagai pengamal tirakat tingkat tinggi. Seringkali beliau berkhalwat di tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Uniknya beliau juga seringkali ‘bertapa’ di tengah lautan, sampai-sampai pernah ada seorang nelayan merasa jaringnya telah menangkap mangsa yang besar.

“Udah kadung seneng eh ternyata ia kaget bukan main karena yang ia ‘tangkap’ adalah Ra Lilur,” urai Ismael.

Kegemaran ber-uzlah inilah yang membuat beliau lebih memilih tinggal di pelosok Banjar, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk Kota Bangkalan.

Ra Lilur juga bisa dibilang sebuah ‘bukti’ nyata dari Ilmu Ladunni. Beliau tak pernah mondok, ada yang bilang pernah nyantri di sebuah pesantren selama 3 bulan tapi gak pernah ngaji, kerjaannya cuma mancing. Meski begitu beliau dikenal sebagai sosok ‘alim’ yang mumpuni dengan kemampuan Bahasa Arab yang sangat fasih.

“Zuhud dan sederhana, 2 sifat yang bisa dibaca jelas dari kepribadian dan keseharian beliau. Baju singlet putih, celana hitam setinggi lutut, dan sebuah senter kecil yang ia bawa kemana-mana. Dengan pakaian ala ‘petani’ ini sekilas tak akan ada yang menyangka bahwa beliau adalah seorang ulama besar keturunan seorang wali besar,” urainya.

Ditambahkan, beliau memang telah menjadikan kezuhudan sebagai pondasi utama dalam kehidupannya. Beliau bahkan pernah mengeluhkan pada seorang tamunya akan fenomena banyaknya ulama zaman now yang telah silau oleh ‘kerlap-kerlip’ duniawi dengan bahasa Arab ia berkata kepada tamunya itu.

“Jika ulama sudah mencintai dunia dan lupa akan kedudukannya.. itu berat.. berat.. dampaknya mereka akan terpecah belah.. Ya Allah selamatkanlah mereka,” ujar Ra Lilur sambil menangis sesenggukan.

Demi menyampaikan pesannya itu, tambah Amien, beliau bahkan pernah hadir dalam acara hajatan seorang konglomerat Madura, acara yang dihadiri oleh puluhan kiai dan ulama. Tidak ada angin tidak ada hujan beliau tiba-tiba datang dan langsung menuju panggung acara.

“Dengan bahasa Arab yang fasih beliau mulai menyampaikan pesan-pesan dan keluh kesahnya akan kiai-kiai zaman sekarang yang sudah mulai terlena oleh gemerlap dunia. Dan waktu itu tampaklah pemandangan keren, seorang lelaki sepuh berpakaian petani sedang menceramahi puluhan alim ulama di bawahnya yang seakan terpana melihat apa yang sedang terjadi di hadapan mereka,” paparnya.

Di lain kesempatan, dalam sebuah acara besar di Pesantren Syaikhona Kholil beliau sekali lagi datang tiba-tiba. Sepertinya memang ada ‘pesan’ penting yang ingin beliau sampaikan waktu itu. Beliau naik ke panggung acara dan memulai kalamnya dengan sebuah ‘ayat’ yang mengingatkan bahwa kita yang ada di dunia ini akan kembali ke hadhirat Ilahi.. tak kan ada yang hidup kekal abadi..

أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا و أنكم إلينا لا ترجعون

” Apakah Kalian mengira bahwa Aku ( Allah) menciptakan kalian secara sia-sia dan kalian tak kan pernah kembali kepada-Ku? ”

Beliau lantas melantunkan Syair-syair cinta yang -sepertinya- sampai sekarang hanya beliau yang mengetahui makna ‘rahasia’ di balik bait-bait Syair itu :

Apakah salah dosaku
Kau pergi tinggalkan daku
Dulu cintamu padaku
Kini kau abaikan aku

Apakah salah dosaku
Kini kau tinggalkan daku
Dulu kasih mesra kita
Kala cintamu nan murni
Kini ku dalam merindu

Apakah salah dosaku
Kini kau tinggalkan aku
Beginilah akhir cinta
Cintamu palsu belaka
Ku terkapar dalam rindu..

Kita hanya bisa menerka bahwa itu adalah ungkapan cinta dan kerinduan beliau kepada Sang Ilahi. Yang demi Keridlaan-Nya selama ini beliau rela mencampakkan semua bentuk rayuan dan godaan dunia.

Dan tadi malam beliau pergi, menjemput cinta dan rindu yang sudah lama ia pendam itu. Terbebaskan dari semua kepalsuan dunia yang selama ini telah ia singkirkan dari hati dan fikirannya.

“Selamat Jalan Syaikhona… Engkau yang selama ini selalu mengingatkan kami akan ke-Fana-an dunia. Yang selalu berusaha menarik kami untuk merasakan indahnya kezuhudan yang selama ini kau rasakan.”

“Selamat menikmati perjalanan indahmu, menjemput pertemuan dengan Allah dan Rasul-Nya yang selama ini engkau rindu. Semoga kami masih bisa mengamalkan pesan-pesan luhurmu. Kami yang masih tertinggal disini, tertatih-tatih oleh godaan duniawi dan hawa nafsu. Allah Yarhamak Ya Syaikhona.. Wa Yuqoddis Sirrak,” ujar Ismael Amin Kholil.

Sumber : nu.or.id

KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia

KH Hasyim Muzadi merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama dua periode (1999-2004 dan 2005-2009/2010). Nama lengkapnya Ahmad Hasyim Muzadi. Lahir di Desa Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944, dari pasangan Muzadi dan Rumyati. Ayahnya pebisnis lokal bekerja sebagai pedagang pengepul tembakau yang sukses. Sang ayah pernah nyantri di Pesantren Syekhona Cholil, Bangkalan.

Pada tahun 1950, Hasyim Muzadi memasuki bangku Madrasah Ibtida’iyah, tetapi ketika menginjak kelas 3 ia pindah ke Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun 1956 ia tinggal bersama kakaknya, Muchit Muzadi, yang saat itu menjadi sekretaris NU daerah Tuban. Dia melanjutkan ke SMTP Negeri Tuban dan baru setahun duduk di situ, Hasyim remaja memilih nyantri di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pada tahun 1962, ia lulus dari Gontor, dan kemudian nyantri selama 2 tahun di beberapa pesantren: Pondok Pesantren aI-Anwar Lasem, Pondok Pesantren al-Fadholi Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Tanggir asuhan KH Sho’im.

Aktivitasnya sebagai pengurus organisasi NU dimulai ketika ia pindah ke Malang bersama sang kakak. Pada saat yang sama, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1964. Oleh kakaknya, Hasyim Muzadi dikenalkan dengan organisasi NU, khususnya di Maiang dan Jawa Timur.

Ia kemudian terlibat di organisasi kalangan Nahdiiyin, dan menjadi Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang, Malang (1965); Ketua Cabang PMII Malang (1966); Ketua KAMI Malang (1966); Ketua Cabang GP Ansor Malang (1967-1971); Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973) dan sekaiigus menjadi anggota DPRD Malang mewakili Fraksi NU; Ketua DPC PPP Malang (1973-1977); Ketua PCNU Malang (1973-1977); Ketua PW GP Ansor Jawa Timur (1983-1987); Ketua PP GP Ansor (1985-1987); Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988); Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992); Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999); dan pernah menjadi anggota DPRD Malang dan Jawa Timur (1986-1987).

Kepemimpinan Kiai Hasyim di PWNU Jawa Timur pada periode kedua berbarengan dengan kondisi politik nasional yang mulai kisruh karena menjelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Sementara Jawa Timur menjadi basis utama warga NU. Saat itu, NU menghadapi banyak cobaan karena rezim Orde Baru menggunakan operasi Naga Hijau untuk menekan NU yang dipimpin KH Abdurrahman Wahid. Hasyim saat itu bekerja sama dengan Gus Dur untuk melawan tekanan-tekanan yang dilakukan rezim berkuasa. Kemunculannya dalam pentas nasional banyak diorbitkan Gus Dur, karena di berbagai tempat Gus Dur sering menyebut-nyebutnya dan mengajaknya berkeliling.

Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, Hasyim Muzadi terpiiih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pada periode kepemimpinannya ini, NU membuat media online bernama NU online; menerbitkan Risalah Nahdlatul Ulama; menyelenggarakan konferensi ulama dan cendekiawan muslim tingkat dunia atau International Conference of Islamic Scholars (lCIS); dan membentuk beberapa PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) di luar negeri. Di ICIS Kiai Hasyim mengemban amanah sebagai sekretaris jendral yang memimpin perwakilan cendekiawan Muslim dari puluhan negara dalam menanggapi berbagai persoalan dunia Muslim di seluruh dunia. ICIS diprakarsai bersama oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Departemen Luar Negeri sejak tahun 2004.

Di akhir jabatannya, dia mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati, dan mengajak banyak orang di sekitarnya untuk menjadi tim sukses. Langkah ini memicu gelombang protes dari warga NU, karena ia dianggap berpolitik praktis, tetapi tidak mau mengundurkan diri dari jabatannya di PBNU. Gerakan protes warga NU ini kemudian berklimaks dalam Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004, menjelang Muktamar NU di Boyolali. Syuriyah PBNU kemudian mengeluarkan qarar (putusan) yang menonaktifkannya.

Meski mendapat kritikan tajam, di Muktamar NU ke-31 yang diadakan di Boyolali Kiai Hasyim terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU periode 2004-2009, dengan mengucapkan sumpah kontrak jam‘iyah di hadapan Rais ‘Aam terpilih, KH MA Sahal Mahfudh. Pada periode ini, meski bertahan dari berbagai kritikan karena terlibat dalam beberapa kali dukungan Pilkada, yang berarti mengingkari kontrak jam‘iyah, dia bisa bertahan sampai Muktamar NU ke-32 tahun 2010 di Makassar.

Pada Muktamar ke-32 di Makassar, dia mencalonkan diri sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, dan membuat tradisi persaingan yang belum pernah ada dalam sejarah jami‘yah. Jabatan ini jarang sekali ada yang mau, kecuali diminta dan diberikan kepada kiai yang berwibawa, zuhud, faqih, dan aliman terhadap persoalan umat. Akan tetapi upayanya gagal, karena muktamirin memilih KH MA Sahal Mahfudh.

Ketika lepas posisi sebagai ketua umum PBNU pada 2010, Kiai Hasyim masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU pada periode kepemimpinan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj (2010-2015). Saat inilah Kiai Hasyim lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada penyelesaian konflik di Timur Tengah. Melalui forum ICIS ia sering menggelar konferensi yang melibatkan para ulama terkemuka di Timur Tengah untuk mencari solusi perdamaian di Timur Tengah yang tak henti-henti berkecamuk.

Pada Maret 2014 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Kabupaten Situbondo untuk kesekian kali Kiai Hasyim menggelar pertemuan dengan peserta yang terdiri atas ulama terkemuka dunia, antara lain Syekh Ali Jumah (Mesir), Syekh Ahmad Badrudin Hassoun (Syria), Dr. M Yisif (Maroko), Syekh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), dan Syekh Mahdi bin Ahmad Assumaidi (Irak). Forum tersebut menggaungkan sembilan butir berisi seruan moderasi di berbagai bidang, pemikiran keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Gema wawasan Islam moderat ini merupakan oleh-oleh dari Indonesia untuk dibawa pulang para delegasi luar negeri ke kampung halaman masing-masing.

Ketika pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden untuk periode 2015-2019, Kiai Hasyim dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama sembilan orang lainnya. Sayangnya, belum tuntas tugas sebagai Watimpres, Kiai Hasyim mengembuskan napas terakhir di Malang, Jawa Timur, pukul 06.00 WIB, Kamis, 16 Maret 2017, pada usia 73 tahun. Pemerintah lalu menyerahkan anugerah tanda kehormatan jenis bintang untuk almarhum KH Hasyim Muzadi di Istana Negara pada Selasa, 15 Agustus 2017.

Sumber: Ensiklopedia NU (2012), dengan penambahan seperlunya terkait data-data mutakhir

Gus Dur dan Rumi, Kisah Kepergian Dua Orang Zahid…

Suatu sore menjelang petang, tepatnya pada 30 Desember 2009, sekumpulan mahasiswa sebuah perguruan tinggi milik NU di Jakarta sedang melakukan kajian rutin mingguan membahas pemikiran tokoh-tokoh progresif dalam lintasan sejarah. Mereka saling silang pendapat berdasarkan referensi, bacaan, dan pemahaman masing-masing.

Di tengah lontaran-lontaran argumentasi, tetiba ada seseorang yang membuka pintu ruang diskusi. Orang tersebut tidak masuk ke ruangan, hanya membuka pintu dan terlihat kepalanya dan mengabarkan bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah meninggal dunia.

Mendengar kabar singkat tersebut, ruangan diskusi yang tadinya sarat lontaran-lonataran pendapat seketika mendadak hening. Tidak ada suara. Semua mahasiswa tersebut berada dalam tatapan kosong. Mulut-mulut mereka mendadak bagaikan terkunci sejenak.

Kepala mereka tertunduk. Tidak terasa butiran bening dari mata mereka meleleh meratapi kepergian sang humanis, orang yang dekat dengan siapa saja tanpa membedakan status dan golongan. Manusia yang sangat dicintai semua orang.

Masih dalam kondisi meratap, salah seorang pemimpin diskusi seketika tergerak untuk membimbing teman-teman membaca doa untuk Gus Dur. Usai berdoa, mereka bergegas dari tempat duduknya dan langsung menuju kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Mereka tidak sempat mengorek informasi lengkap soal kepergian cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari itu.

Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Manungkusumo (RSCM) Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan setelah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur.

Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantar jenazah putra sulung KH Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang.

Tebuireng saat itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat manusia berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing.

Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di batu nisannya tertulis, “Here rest a Humanist” itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur inspirasi bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang hingga sekarang terus ramai diziarahi.

KH Husein Muhammad Cirebon dalam buku karyanya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki.

Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang datang dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh.

Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan.

Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.

Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan:

Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu (tanamlah eksistensimu di bawah tanah yang tidak dikenal. Sesuatu yang tumbuh yang tak ditanam, akan berbuah segar).

Sumber : nu.or.id

Ra Lilur (Cucu Syaikhona Kholil Bangkalal) Pamit Tidur Sebelum Wafat

Kabar meninggalnya Ra Kholilurrahman atau Ra Lilur cicit dari Waliyullah Syaikhona Mohammad Kholil bin Abd Latif Bangkalan, Madura, membuat masyarakat Indonesia berduka.

Ulama yang terkenal nyentrik itu menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 22.00 WIB, Selasa (10/4) malam. Kabar wafatnya Ra Lilur cukup menggemparkan pulau garam, sebab sebelumnya tidak ada kabar yang menjelaskan Ra Lilur sakit.

Ra Imam, Sapaan KH Imam Buchori yang merupakan kerabat Ra Lilur menuturkan, sebelum almarhum menghembuskan nafas terakhirnya, sempat meminta Agar lampu di dalam kamarnya dimatikan. Dia juga meminta agar ditinggalkan sendiri karena berdalih ingin tidur.

“Minta tidur, Man (Paman, red), menyuruh Bik Mus mematikan semua lampu dan ditutup di tempat ini. Karena terlalu lama (tidur, red) dan tidak bergerak, Bik Mus langsung nelpon Bir Aly, dan Bir Aly nelpon saya, ternyata sudah meninggal pukul sepuluh tadi, Man,” kata KH Imam kepada KH Zubair dengan bahasa Madura.

Kepergian Ra Lilur meninggalkan duka yang mendalam, terutama di kalangan masyarakat Madura yang memang mengagumi sosoknya.

“Kita kehilangan satu lagi seorang Ulama panutan di Madura,” ujar salah seorang yang ada di lokasi pemakaman

Ribuan warga berkumpul untuk mengantar janazah ulama Khos Madura itu ke tempat tempat peristirahatan terakhir di pemakaman Komplek Masjid Syaikhona Kholil, Martajasah, Bangkalan.

Janazah diberangkatkan dari rumah Ra Bir Aly Demangan, tampak berbaur beberapa tokoh seperti jajaran pengurus NU di kawasan Madura dan luar Madura, ribuan umat Islam, dan kerabat keluarga almarhum.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/

Gus Dur: Ulama NU dan Ulama Habaib itu Satu Tubuh

PENGERTIAN HABAIB MENURUT KH.ABDURAHMAN WAHID( GUS DUR )

MusliModerat.net – Habaib atau Syarif dahulu kala disebut dengan panggilan Sunan, yang dijuluki untuk Wali Songo khususnya di negeri Indonesia kita ini. Habaib adalah cucu keturunan Nabi Muhammad SAW dari anak putri Nabi Muhammad SAW yang bernama Sayyidatina Fatimah. Sebagaimana yang tertera di dalam sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini :

“Semua nasab itu dari laki-laki, kecuali nasab ku dari Fatimah putriku”
Lalu dari hasil pernikahan Sayyidatina Fatimah dengan Sayidina Ali ra, lahirlah 2 orang putra yang bernama Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, dan dari keduanya memiliki keturunan sampai hari Kiamat. Dari garis keturunan Sayyidina Hasan yang dikenal keturunannya yaitu Tuan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, serta dari garis keturunan Sayyidina Husein seperti diantaranya disebut dengan Assegaf, Al Haddad, Al Idrus, Al Atthos, Syekh Abu Bakar, Al Habsyi dan masih banyak lagi yang lainnya, mereka semua itu disebut dengan Habaib.

Habaib adalah penerus mutlak cucu Nabi Muhammad SAW, Habaib di seluruh dunia ini diakui ilmunya yang rata-rata bermazhab Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan lebih banyak bermazhab kepada Imam Syafi’I, rata-rata beliau berasal dari Negeri Yaman. Ilmu-ilmu beliau banyak dan cepat diterima oleh masyarakat dunia, khususnya di negeri indonesia.

Di Hadhromaut (Yaman Selatan) kita mengenal Al Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad, yang mana kitab karangan beliau ini banyak digunakan oleh para ulama dari seluruh penjuru dunia khususnya di Indonesia. Kitab karangan beliau yang sering kita jumpai dan kita kenal adalah Nasahdiniyah yang artinya nasihat-nasihat agama. Begitu banyak ilmu-ilmu Rosululloh SAW yang dikarang oleh para habaib yang berdasarkan kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits. Ketahuilah mencintai mereka para habaib adalah wajib dan haram hukumnya membenci mereka sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

”Barangsiapa yang mencintai keluargaku maka wajib bersamaku di dalam syurga dan barang siapa yang membenci keluargaku maka haram baginya mendapatkan syafa’atku nanti di hari kiamat”

Ingatlah mereka para habaib bagaikan bintang-bintang tanda aman ahli langit dan keluarga Nabi Muhammad SAW adalah tanda pangaman untuk ummatnya, maka kita tidak aneh bila ada para habaib pengikut mereka atau pencinta mereka makin bertambah di seluruh penjuru dunia karena mereka adalah karunia yang besar untuk ummat Nabi Muhammad SAW sebagai jalan menuju ridho Allah SWT dan tiada jalan yang lebih baik kecuali jalannya para habaib yang mengikuti kakek moyang beliau dan salaf-salaf beliau yang terpancar kebenarannya di muka bumi ini.

Sebutan/gelar habib di kalangan Arab Indonesia dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah AzZahra dan Ali Bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Fatimah binti Muhammad. Diperkirakan di Indonesia terdapat sebanyak 1,2 juta orang yang masih hidup yang berhak menyandang sebutan ini.Di Indonesia, habib semuanya memiliki moyang yang berasal dari Yaman . khususnya Hadhramaut .Berdasarkan catatan organisasi yang melakukan pencatatan silsilah para habib ini, Ar-Rabithah,ada sekitar 20 juta orang di seluruh dunia yang dapat menyandang gelar ini (disebut muhibbin) dari 114 marga. Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib.

Dalam perkembangannya, khususnya di kalangan masyarakat muslim indonesia, gelar ini tidak hanya disandang oleh para da’i dari Yaman saja, karena warga telah memuliakan mereka sebagai pemimpin mereka tanpa melihat asal-usul keturunan dengan alasan seorang menjadi alim tidak diakibatkan oleh asal keturunannya. Selain itu terjadi pula pelanggaran terhadap aturan, dengan menarik garis keturunan secara matrlineal(keturunan dari perempuan juga diberi hak menyandang “habib”) walaupun akhirnya pernyataan ini hanyalah sebuah fitnah dari kaum orientalis untuk menghilangkan rasa hormat masyarakat ndonesia terhadap kaum kerabat Nabi Muhammad.

Para habib sangat dihormati pada masyarakat muslim Indonesia karena dianggap sebagai tali pengetahuan yang murni, karena garis keturunannya yang langsung dari Nabi Muhammad. Penghormatan ini sangat membuat gusar para kelompok anti-sunnah yang mengkait-kaitkan hal ini dengan bid’ah.

Para Habaib (jamak dari Habib) di Indonesia sangatlah banyak memberikan pencerahan dan pengetahuan akan agama islam. Sudah tak terhitung jumlah orang yang akhirnya memeluk agama islam ditangan para Habaib. Gelar lain untuk habib adalah Sayyid. Syed, Sidi (Sayyidi), Wan (Ahlul Bait) dan bagi golongan ningrat (kerajaan) disebut Syarif/Syarifah. Para habib terdapat pada golongan (firqoh) Sunni .

Kelak di akhir zaman, Imam Mahdi akan muncul dari keturunan Nabi Muhammad sendiri (habib)

Ulama habaib dan ulama NU itu satu tubuh jika ada yang berselisih itu bukan ulama NU dan diragukan kalau ulama NU memusuhi para habaib karena dari asal-usulnya, asal usul guru”orang NU dari para habaib toh….

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2018/01/gus-dur-ulama-nu-dan-ulama-habaib-itu.html#ixzz5CHjVBEmr

Innalillah, Postingan Sugi Nur Merendahkan KH Ma’ruf Amin…

Kita tentu masih ingat betul pada rentetan aksi 212 dkk., bahwa Kiai Ma’ruf Amin dulunya dipuja-puja, dijadikan tokoh mereka, hingga foto beliau dipasang dalam ajakan aksi demonstrasi itu. Tapi ketika tujuan aksi tersebut sudah tercapai, dan alumninya menghendaki demo-demo lagi, Kiai Ma’ruf sudah tidak lagi didengar.

Bahkan, nada-nada “menghina” Kiai Ma’ruf dilontarkan oleh orang-orang yang tidak sepakat kepada Kiai Ma’ruf, diantaranya adalah postingan yang diunggah Sugi Nur sebagaimana dibawah ini:

seandainya saya kritik sikap ketua MUI. Hemm… Apa kata dunia ? Bisa – bisa terjadi kiamat sughro, anak jalanan kok ngritik ketua MUI, dasar manusia gak tahu adab, anjing kurap kok neko-neko ngritik Ulama, ooh dasar ustadz abal-abal, dasar – dasar – dasar – dasar. Apalagi bagi kaum-kaum Ashobiah alias fanatik buta… Hmm pasti mereka bagaikan ulat belatung yang nemu bangkai..

Tapi entahlah, hati kecilku tetap berontak dan risih mengamati gerak gerik Ulama ketua MUI ini, akal dan adabku berusaha berkhusnudzon, tapi tetap saja sulit…

saya agak sulit untuk menggambarkan dimensi ini, menurut saya, sebagai ulama yang menjadi rujukan jutaan ummat, seharusnya faham, mana acara yang wajib didatangi dan mana tamu yang wajib ditemui. Sebaliknya harus faham juga, mana acara yang tidak boleh didatangi dan mana tamu yang tidak boleh ditemui, demi ketentraman ukhuwah itu sendiri.

Saya jadi teringat kata orang tua dulu. Nak sabarlah menghadapi orang tua, sebab kalau orang sudah sangat sepuh, itu karakternya cenderung kembali ke karakter anak-anak lagi, yang terkadang suka di alem, di gunggung, diperhatikan, mudah tersanjung, dan sebagainya…

Tragedi puisi Sukmawati, menyulut hampir mayoritas ummat islam. Lagi-lagi saya sama sekali “TIDAK KAGET”, kalau dari kaum yang dekat dengan penguasa, siapapun dia, baik aktivisnya. Menterinya. Dosenya. Pegiat Media Sosialnya. Polisinya. Ulama atau Ustadznya. Mereka kompak meremehkan tragedi puisi ini, bahkan cenderung membela dan melindungi ibu Sukmawati.

BAgaimana kalau seandainya yang membaca puisi itu adalah orang islam seperti : saya, ustadz FElix, Alumni 212, Ust Bachtiar Nashir. Ust Abdul Shomad. Apalagi kalau yang membaca puisi itu Habib Rizieq… Pasti, seluruh awak media akan dikerahkan, pasti pletonan pasukan dikerahkan, dan pasti. Nyanyian Setya Novanto tentang Puan Maharani dan Pramono, akan musnah ditelan banjir bandangnya-nya Nabi Nuh. Ya Allah segera turunkan keputusan dan keadilan-Mu

seandainya saya kritik sikap ketua MUI. Hemm… Apa kata dunia ? Bisa – bisa terjadi kiamat sughro, anak jalanan kok…

Nai-post ni Gus Nur Ngaji Ilmu Hidup noong Huwebes, Abril 5, 2018

Itulah Postingan Sugi Nur dalam akun Fanpagenya,

Sumber : http://www.muslimoderat.net/

Dihujat karena Memaafkan Sukmawati, Kiai Ma’ruf: Umat Ini Ada Apa? Jangan-jangan Pengaruh Politik

Kiai Ma’ruf heran dengan kondisi umat Islam saat ini yang mudah menuduh dan memusuhi.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, menyayangkan sikap sekelompok orang yang menganggapnya mendukung Sukmawati Soekarnoputri hanya karena mengimbau umat Islam untuk memaafkan putri Bung Karno tersenut.

” Saya heran, ada apa dengan umat itu? Wong saya cuma bilang hanya berharap kalau itu maafkan, saya dihujat membela penista agama,” ujar Kiai Ma’ruf di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Senin 9 April 2018.

Pekan lalu, Kiai Ma’ruf memang mendapat kunjungan dari Sukmawati, di kantornya. Dalam pertemuan itu, Sukmawati melakukan klarifkasi dan meminta maaf atas puisi Ibu Indonesia.

Setelah pertemuan itu Ma’ruf menyampaikan haraoan agar umat Islam memaafkan Sukmawati. Imbauan inilah yang dipersoalkan sebagian orang. Kiai Ma’ruf dianggap membela penista agama.

Meski demikian, kiai Ma’ruf tidak mempermasalahkan bila ada orang yang tak mendengarkan imbauannya tersebut. ” Enggak ada melarang, imbauan saja. Gitu lo. Setuju enggak setuju, itu enggak masalah. Yang heran itu, hujatan itu,” ucap dia.

Kiai Ma’ruf mengatakan, saat ini rasa saling sayang-menyayangi dan pengertian sudah hilang. ” Malah sekarang sudah kepada saling membenci, saling menuduh, saling memusuhi, salah pengertian. Maka itu ada apa dengan umat, saya heran. Ini harus dibetulkan lagi,” kata dia.

Kiai Ma’ruf mengaku tidak mengetahui ada faktor apa sehingga masyarakat bisa bertindak demikian. ” Saya enggak tahu (ada faktor apa). Jangan-jangan pengaruh politik masuk,” ujar Rais Aam PBNU itu.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/